Air Mata Di Atas Sajadah

Air Mata Di Atas Sajadah
Bab 27 (Membuka Hati)


__ADS_3

Happy Reading.


"Kalau begitu persiapkan acara lamaran nya, Ibu ingin lihat wanita pilihan kakak," ujar sang Ibu.


"Bu, sayangnya Amaira itu yatim piatu. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi, jadi mungkin Farhan akan segera menghalalkan Amaira secepatnya," jawab Farhan.


"Wah, Bagus kalau begitu, lebih cepat lebih baik. Kakak kan sudah hampir 30 tahun umurnya, jadi percepatan pernikahan kalian, undang Amaira makan malam besok, Kak," ujar sang Ibu yang bernama Dina.


Sungguh Dina begitu bersyukur melihat Farhan yang mau membuka hatinya kembali setelah beberapa tahun ini menutup rapat-rapat pintu hatinya.


"Iya bu, nanti Farhan hubungi Amaira, besok juga weekend, aku mau ajak Amaira nyari cincin nikah," ucap Farhan tersenyum.


Fara menyenggol lengan kakaknya, "Fara doain ya kak, mudah-mudahan semuanya di beri jalan yang gampang, mulus tanpa adanya ujian yang berat, Fara juga sayang sama Mbak Amaira," Farhan mengusap jilbab sang adik.


"Aamiin, doain kakak ya dek," Fara manyun ketika jilbabnya jadi kusut gara-gara sang kakak. Tapi nggak apa-apa, dia juga ikut senang kalau kisah cinta kakaknya kali ini berakhir bahagia.


****

__ADS_1


"Assalamualaikum, Maira!"


"Wa'alaikumsalam pak Farhan," Maira membuka pintu kontrakan dan langsung keluar menemui sang calon suami.


Amaira menunduk, rasanya berdebar ketika melihat lelaki yang menjadi calon suaminya itu berdiri dengan gagahnya.


Entah kenapa sekarang Amaira merasa jika Farhan semakin ganteng saja.


"Panggil Mas, Ra! Kan sekarang udah jadi calon suami, masa iya panggilnya masih Pak," ujar Farhan tidak terima.


"Iya mas, jadi nyari cincinnya?"


Setelah Amaira masuk, Farhan langsung berlari memutar menuju pintu bagian kemudi dan membukanya.


"Jangan lupa pasang sabuk pengaman," bisik Farhan.


Amaira lagi-lagi merasakan debaran yang tidak biasa ketika mendengar Farhan berbisik seperti itu. Meskipun tidak dekat tapi tetap saja bisa membuat Amaira tersipu.

__ADS_1


'Astagfirullah!' Amaira beristighfar dalam hati. Mengagumi lelaki yang masih belum menjadi mahramnya. Tapi entah kenapa debaran itu tidak kunjung hilang meskipun Farhan sudah melajukan mobilnya sejauh pandangan.


"Ra, gimana perasaan kamu?" Tanya Farhan tiba-tiba.


Amaira menoleh menatap Farhan, sungguh Allah maha membolak-balikkan hati. Lagi-lagi Amaira menunduk, hatinya tidak kuat jika harus menatap Farhan lama-lama.


Inikah yang dinamakan cinta, doanya dalam sujudnya tiap malam. Ketika dia meminta agar Allah membukakan pintu hatinya, agar bisa memperoleh kebahagian. Doanya di atas sajadah tadi malam, meminta agar hatinya ikhlas menerima Farhan dan juga memohonkan agar ditumbuhkan perasaan cintanya untuk lelaki yang melamarnya kemarin di kantin kantor.


Kini sepertinya langsung dikabulkan oleh Allah, lihatlah sekarang bagaimana perasaan Amaira yang tidak karuan saat melihat Farhan. Lelaki itu semakin menarik dimatanya.


"Ra, apa kamu masih meragu?" Tanya Farhan kembali.


"Tidak, eh maksud Maira sudah mantap mas, Maira juga sudah memiliki perasaan yang sama dengan Mas Farhan, jujur. Allah sepertinya telah membuka pintu hati Maira, perasaan ini begitu menyenangkan," jawab Amaira sejujurnya.


Farhan tersenyum lebar, padahal hatinya sejak tadi sudah deg-degan, tapi ternyata mendapatkan jawaban seperti ini saja sudah membuat hatinya membuncah bahagia.


"Terima kasih, aku memang bukan lelaki yang romantis, tapi aku janji akan selalu ada buat kamu, aku akan menjadi suami yang siap menjagamu dalam suka maupun duka, aku ingin kamu resign dari kantor, jadi ibu dari anak-anakku saja di rumah, itu sudah cukup, Ra!" Ujar Farhan tanpa bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya.

__ADS_1


"Insya Allah, mas!"


Bersambung.


__ADS_2