Air Mata Di Atas Sajadah

Air Mata Di Atas Sajadah
Bab 24 (Kerja)


__ADS_3

Ada yang kangen sama kisah Amaira nggak?? Maaf othor sibuk banget jadi baru bisa nulis 🙏


Happy Reading.


Amaira baru saja membersihkan ruangan sang bos. Dengan membawa peralatan ember serta alat pel untuk Amaira bekerja, wanita itu langsung masuk ke dalam lift yang diperuntukkan untuk karyawan.


Amaira keluar dari dalam lift sambil tersenyum karena berpapasan dengan dua karyawan yang akan masuk ke dalam lift.


"Kamu OB baru yang katanya dekat dengan Presdir kita ya?" tanya seorang itu.


Amaira terkejut, apakah yang mereka maksud adalah kedekatannya dengan Farhan. Tapi menurut Amaira, dia tidak sedekat itu. Mereka kebetulan memang kenal dan terbiasa berinteraksi karena Farhan ingin bertanggung jawab atas apa yang telah menimpanya yang disebabkan oleh pria itu.


Dan mungkin masih berlanjut sampai sekarang karena memang Farhan orang yang sopan dan ramah. Jadi mungkin itulah yang membuat sebagian orang merasa kalau dia dekat dengan Presdir mereka.


"Padahal yang datang mencari pak Farhan dikantor itu banyak, cantik-cantik semuanya, dia juga jarang berinteraksi dengan karyawannya kalau bukan masalah pekerjaan, seperti dia berinteraksi sama kamu, dan seluruh perusahaan sudah tahu kalau perlakuan Pak Farhan sama kamu tuh 'beda' apalagi posisi kamu cuma OB di sini!"


Amaira mengeratkan tangannya pada alat pel yang dia bawa. Sungguh dia tidak tahu jika sikap Farhan yang seperti itu membuat seluruh karyawan berpikiran yang tidak-tidak.


"Saya dan Pak Farhan tidak dekat mbak, kamu memang sudah saling mengenal sebelumnya, permisi saya harus kembali," Amaira ingin segera pergi dari hadapan dua orang itu. Pintu lift tertutup dan Amaira pun merasa lega.


Dalem waktu seminggu ini sudah tiga orang yang mengatakan hal itu. Amaira jadi tidak enak sendiri.


Setelah dia keluar dari pekerjaan yang sebelumnya bersama Kemal, Amaira mendapatkan pekerjaan lagi yang menurutnya sangat cocok untuknya yang hanya memiliki ijazah SMA.


Dia ditawari pekerjaan oleh Farhan di perusahaannya, padahal awalnya Farhan berniat meletakkan dia di lantai 8 dan menjadi asisten pribadinya tapi tentu saja Amaira menolak karena jabatan itu terlalu tinggi. Dia cuma lulusan SMA yang belum berpengalaman sama sekali.

__ADS_1


Jadi, menjadi OB adalah pilihan yang tepat karena hanya memerlukan ketrampilan saja.


Amaira meletakkan peralatan kerjanya di gudang tempat penyimpanan. Pekerjaannya tidak terlalu melelahkan karena itu memang tugasnya setiap hari ketika masih menjadi istri dari Azka.


Amaira berjalan menuju dapur untuk membuat teh hangat, dia memang ditugaskan khusus untuk membersihkan ruangan Presdir dan khususnya lantai 8.


Ruangannya tidak banyak, hanya ada beberapa ruang untuk wakil presiden dan dan sekretaris nya. Ruangan disana sudah nampak bersih meskipun belum dibersihkan, beda dengan rumah Amaira di kampung, harus dibersihkan ekstra setiap hari.


Mengingat rumah yang dikampung, Amaira jadi rindu dengan kampung halaman nya, tapi dia juga tidak mau kembali lagi ke tempat itu. Lagian rumahnya juga sudah disewakan, jadi mau menginap di mana dia.


Keputusannya untuk kerja di kota memang keputusan terbaik.


Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Amaira bersiap-siap untuk pulang. Jam pulang para karyawan lain jam 4 sore. Kalau OB bisa lebih karena ada yang harus bersih-bersih dulu.


Amaira melihat langit mendung gelap, jarak kontrakan dengan kantor memang tidak lumayan jauh, hanya sekitar 15 menit kalau naik ojek.


Hujan semakin deras, entah kenapa hal itu membuat ingatan tentang masa lalu kelam itu muncul kembali.


Tidak, dia tidak boleh mengingat-ingat lagi, Amaira sudah belajar untuk bisa mengendalikan diri dan tidak depresi. Dia sempat belajar mengaji pada seorang ustadzah untuk ketenangan jiwa dan batinnya.


"Astaghfirullah, astaghfirullah."


Sebuah dering ponsel membuat Amaira berjingkat kaget. Kemudian wanita berhijab itu segera mengangkat panggilan dari driver ojolnya.


"Mbak Amaira ya? Maaf mbak ini ban motor saya bocor, jadinya nggak bisa jemput Mbaknya, gimana kalau di cancel aja dan Mbak Maira nyari taksi online saja."

__ADS_1


"Oh, baik Bang, nggak apa-apa."


Amaira menghela nafas, kenapa juga nasibnya sial begini. Saat wanita berhijab itu akan memesan taksi online tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna putih berhenti di depannya.


"Maira, ayo ikut pulang bersama saya, hujan semakin deras!" Seru Farhan.


Farhan langsung keluar dari dalam mobil sambil membawa payung. Sedikit berlari untuk mencapai lobby dari menjemput Amaira.


Sebenarnya wanita itu ingin sekali menolak dia tidak enak karena Farhan sudah seringkali mengantar jemput dirinya. Dan hal itulah yang membuat gosip menyebar di seluruh perusahaan begitu cepat.


"Jangan menolak, hujan-hujan gini kamu bakal susah nyari ojek," ujar Farhan yang tau kalau wanita yang sudah menyita perhatian nya itu akan menolaknya.


"Tapi Pak ...!"


Farhan langsung menggandeng tangan Amira dan menariknya untuk segera berjalan menuju ke arah mobil. Keduanya berjalan di bawah payung Farhan yang tidak terlalu besar sehingga harus saling berdempetan agar tidak terkena air hujan.


Kilatan petir tiba-tiba menggelegar.


"Aaakkkk!" Amaira reflek memeluk Farhan. Sungguh dia tidak sengaja melakukan hal itu. Amaira hanya mengikuti nalurinya yang ingin berlindung dengan orang yang ada didekatnya.


"Tidak!! Tidak!!"


Farhan hanya diam, dia tidak membalas pelukan itu, tapi Farhan bisa merasakan jika tubuh Amaira bergetar di dalam pelukannya.


Apakah wanita itu punya pengalaman menakutkan tentang petir?

__ADS_1


Bersambung.


Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏


__ADS_2