
Happy Reading.
Azka menemui Kemal di Cafe nya, dia ingin bertemu dengan sang mantan istri yang selama Lima bulan ini tidak pernah dia temui. Karena setahu Azka amaira masih bekerja di tempat Kemal. Padahal semenjak kejadian dimana Azka mengetahui tempat kerja Amaira, setelah itu Amaira mengundurkan diri.
"Mau apa lo kesini bro?" Tanya Kemal sok sibuk dengan laptopnya. Pria itu masih kecewa dengan kelakuan Azka yang ternyata menikahi wanita yang dia cintai.
Sebenarnya bukan hanya karena itu, teman sohibnya itu melakukan poligami dan menurut Kemal sangat tidak adil. Amaira bekerja, sedangkan Icha hanya ongkang-ongkang dirumah.
Padahal Kemal sudah benar-benar jatuh cinta kepada wanita berhijab itu, ternyata Amaira sudah memiliki suami yang tidak lain adalah Azka, sohibnya sendiri.
Kemal harus menekan rasa itu ketika mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Dia bukan seorang pebinor yang bisa saja merebut Amaira dari tangan Azka. Lagi pula belum tentu juga Amaira menerimanya.
"Gue mau ketemu sama Amaira," jawab Azka.
Kemal langsung menengadahkan kepalanya menatap Azka dengan kening yang mengkerut. "Lo nyari Amaira kok di sini?"
Azka menarik kursi di depan meja kemudian duduk di sana. "Bukannya Amaira kerja di sini?"
Kemal menggeleng, "dia udah resign setengah tahun yang lalu, apa lo nggak tau lagi? Lo sibuk sama Icha jadi Amaira di anggurin!"
"Gue udah cerai, Maira gugat cerai gue, Mal!"
__ADS_1
"What!!"
*****
Hari-hari Amaira berjalan semakin banyak kesulitan. Setelah dimana dia diantar pulang oleh Farhan dan mendengar petir waktu itu, Farhan jadi semakin perhatikan dengannya.
Amaira ingin rasanya keluar dari pekerjaannya yang sekarang, dia merasa tidak nyaman karena tatapan mata karyawan di perusahaan itu selalu menatapnya dengan penuh iri dengki.
Apalagi Fara, adik dari Presdir di perusahaan mereka begitu dekat dengan Amaira, membuat wanita itu jadi di asingkan alias tidak punya teman.
Saat ini Amaira tengah menikmati makan siangnya di kantin. Dia tidak memperdulikan banyak pasang mata yang menatap ke arahnya sambil berbisik. Memang orang-orang itu tidak melukai Amaira secara fisik karena peraturan di kantor ini begitu ketat. Mereka masih menyayangi pekerjaan daripada harus keluar dengan cara tidak terhormat, tapi tetap saja Amaira bisa mendengar selentingan-selentingan yang tidak mengenakkan.
Beberapa karyawan ada yang bersikap ramah tapi ada juga yang dengan terang-terangan memusuhinya.
"Boleh nggak kita duduk gabung sama kamu disini? Namaku Ira, dan temanku Fina," ujar seorang wanita berhijab menyodorkan tangannya dan disambut Amaira dengan senang.
Baru kali ini di perusahaan ini ada orang yang mau berkenalan dengannya. Biasanya mereka memanggil Amaira karena melihat tag name-nya.
"Aku Amaira, salam kenal mbak."
"Kita tau kalau sekarang kamu lagi trending di perusahaan, soalnya pak direktur natap kamu beda banget," ujar wanita yang bernama Fina.
__ADS_1
Amaira tidak kaget lagi mendengar hal itu. Dia juga merasa jika Farhan yang tidak lain adalah presiden direktur di perusahaan nya itu begitu perhatian dengan nya.
"Aku nggak tau mbak, sebelum masuk kesini, aku dan Mas Farhan udah saling kenal," ujar Amaira yang membuat Ira dan Fina melotot tajam.
"Tadi kamu manggil Pak Farhan dengan panggilan 'Mas' dan segampang itu kamu ngucapinnya?"
Amaira langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia tadi keceplosan, sungguh tidak bermaksud apa-apa.
"Sebenarnya siapa sih kamu, kok spesial banget buat Presdir?"
Amaira langsung melambaikan kedua tangannya. "Kami cuma temen kok, beneran!"
Kedua wanita itu membelalakkan matanya menatap belakang Amaira.
"Kami memang teman, tapi sebentar lagi saya akan menjadikan Amaira sebagai teman hidup," suara bariton keras di belakang Amaira membuat seluruh pengunjung kantin menatapnya.
Amaira langsung menoleh ketika melihat Farhan berdiri dengan senyum lebarnya.
"Pak, apa maksudnya?" Tanya Fina penasaran.
Farhan berjalan mengitari kursi dan menarik satu kursi di samping Amaira.
__ADS_1
"Buat semuanya, saya akan mengatakan pada kalian, para karyawan perusahaan bahwa hari ini saya Farhan Alfarizi melamar Amaira Maulida untuk menjadi istri saya, apakah kamu bersedia Amaira?"
Bersambung.