Air Mata Di Atas Sajadah

Air Mata Di Atas Sajadah
Bab 9 (Kemal Kesemsem)


__ADS_3

Happy Reading.


Azka dan Icha keluar dari dalam kamar pada waktu jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. Sungguh pasangan pengantin baru ini benar-benar menikmati momen mereka menjadi pengantin baru.


"Laper," ujar Icha.


"Iya, Mas juga laper. Kamu mau masak atau kita makan diluar?"


Icha terlihat berpikir, "delivery aja mas, aku males masak, lagian kalau keluar juga capek akunya, kamu sih nggak biarin aku tidur semalaman!" Icha mengerucutkan bibirnya


Azka gemas dengan sang istri lalu mencium bibir Icha dengan gerakan cepat.


"MAS!! Jangan gitu, nanti kalau dilihat Maira kan nggak enak!" Seru Icha menahan bibir Azka yang mau menciumnya lagi.


"Dia nggak ada, mungkin masih dikamarnya!" Azka kesal karena Amaira, Icha jadi tidak mau dicium nya lagi.


Akhirnya Azka memesan makanan delivery. Saat pesanan sudah sampai, Icha berniat mengambil piring dan sendok di dapur. Tapi dia melihat ada penutup makanan di meja. Icha membuka penutup makanan itu dan melihat semur jengkol dan udang goreng ada di sana.


"Mas! Mas, kesini deh!" Teriak Icha.


Azka yang sedang bersantai menunggu Icha mengambil piring akhirnya bangkit menuju dapur saat mendengar teriakan dari istri keduanya itu.


"Ada apa sih sayang? Kok teriak-teriak?"


"Sepertinya tadi Maira masak, ini ada semur jengkol sama udang goreng di atas meja makan," Azka melihat dua makanan yang disebut oleh istri keduanya itu.


"Jadi Maira udah masak? lah terus dia di mana sekarang?" Tanya Azka spontan.


"Ya mana aku tahu, di kamarnya mungkin, coba kamu panggil mas, mungkin Maira masaknya tadi pagi, soalnya ini udah dingin," ucap Icha mengambil satu udang goreng berbalut tepung itu.


"Ah, nggak usah dipanggil, biarin aja! Sebaiknya kita segera makan, Mas udah lapar!"


"Cobain deh mas, masakan Maira ternyata enak banget loh, nih!" Icha menyodorkan udang goreng yang baru dia makan separuh itu di mulut Azka.

__ADS_1


"Nggak ah, aku nggak suka masakan dia!"


"Eh masa Mas nggak suka, ini beneran enak loh, ternyata Maira itu jago masak!" Icha mengambil satu udang goreng lagi dan langsung memakannya.


Azka hanya bisa menelan salivanya ketika melihat Icha yang begitu menikmati udang goreng buatan istri pertamanya itu.


Apa iya masakan Maira itu enak? Begitulah kira-kira yang ada dipikiran Azka.


Akhirnya kedua pasangan yang saling mencintai itu menghabiskan masakan Amaira dengan lahap.


Sepertinya Azka kali ini harus mengakui jika masakan Amaira lebih enak dari masakan Icha.


*****


"Maira ya?"


"Iya Mas, saya baru diterima kerja, kata Arumi saya boleh kerja hari ini," jawab Amaira tersenyum.


Kemal berdehem untuk menetralkan detak jantungnya yang sudah ingin melompat dari tempatnya. Hanya melihat kecantikan Amaira sudah membuat hati pria itu berbunga-bunga.


"Eghem!" Kemal mengambil air putih diatas meja dan meminumnya sedikit. Hanya untuk membasahi tenggorokan yang tiba-tiba saja kering.


"Jadi kamu temannya Arumi?" Tanya Cowok itu sambil menatap wajah Ayu wanita berhijab itu.


"Iya Mas, saya teman SMA Arumi," jawab Amaira menunduk.


Entah kenapa Amaira merasa kikuk di tatap begitu intens oleh atasannya ini. Apakah Kemal ini tipe cowok yang suka mengintimidasi lawan jenis.


"Jadi kamu sudah tahu jam kerjanya 'kan? Di Resto&Cafe ini ada jam shift nya. Pagi kamu berangkat pukul 7 sampai 2 siang, kalau Shift dua dari jam 2 siang sampai 10 malam, bagaimana? Apa kamu sanggup?" Tanya Kemal.


Amaira terlihat berpikir, dia tadi sudah mengirimkan pesan pada Azka kalau dia akan pergi mencari kerja. Entah di lihat atau tidak oleh suaminya itu, yang penting Amaira sudah meminta izin.


'Sepertinya Mas Azka nggak akan peduli aku mau kerja atau enggak, jadi aku memang harus mengatur hidupku sendiri mulai saat ini, lebih baik aku menyanggupi, pulangnya juga jam 10, tapi pasti mas Azka juga nggak akan negur kan?'

__ADS_1


"Sanggup Mas, saya butuh kerjaan ini, saya juga suka masak, jadi saya merasa cocok kerja di Resto & Cafe ini," jawab Amaira mantap.


Entah kenapa hatinya merasa senang bisa mendapatkan pekerjaan yang mudah, apakah ini adalah langkah awal untuk mendapatkan kebahagiaan di hidupnya?


Amaira tahu jika dia hanya berdiam diri di rumah, hatinya pasti akan nelangsa. Dulu ketika Azka belum menikah lagi, nelangsanya tidak seberapa. Tapi sekarang setelah melihat Azka bahagia bersama Icha, membuat Amaira juga ingin mendapatkan kebahagiaan nya sendiri. Meskipun tanpa Azka, dia harus bisa. Sudah cukup Azka selalu membuatnya menangis.


"Jadi kamu bisa masak juga? Bagaimana kalau kamu nyoba masak?"


Amaira terkejut mendengar ucapan Kemal, "nanti di kasih siapa yang jaga, Mas?"


"Kalau itu gampang, Fira juga bisa gantiin kamu, yang penting tempat Fira nggak kosong," jawab Kemal.


"Alhamdulillah, makasih ya Mas, saya senang bisa kerja di sini."


"Saya juga senang kamu kerja di sini," Amaira mengerjab pelan.


"Maksud, saya senang karena bisa mendapatkan pegawai cepat, karena memang butuh, dan kebetulan Arumi kenal kamu, dan saya senang kamu ternyata bisa langsung bekerja," sela Kemal cepat.


Niatnya mau buat klarifikasi, tapi tetap saja ucapannya membuat Amaira agak aneh. Tapi Amaira kan tidak tahu apa-apa dengan pikiran Kemal, jadi dia hanya bisa mengangguk dan tersenyum.


Kalau ada yang tahu apa yang dirasakan Kemal saat ini, dia sudah deg-degan sejak tadi. Bisa bicara seperti ini dengan Amaira saja, membuat perut Kemal seperti digelitiki ribuan kupu-kupu. Darahnya berdesir-desir, bisa-bisa Kemal bisa gila karena menggilai istri orang.


*****


Sore ini hujan turun begitu deras, Azka menatap teh panas yang baru saja dibuatkan oleh Icha, sedangkan wanita itu sudah masuk kamar karena akan tidur. Icha kelelahan, ya jelas dia melayani nafsu suaminya semalaman suntuk.


Azka mengambil teh panas itu dan menyesapnya perlahan, sesekali matanya mendongak melihat ke arah pintu kamar Amaira.


Azka merasa janggal jika Amaira ada di dalam kamarnya, pasalnya dia tidak melihat sendal sepatu Amaira di rak. Itu Artinya istri pertamanya itu tidak ada dirumah sejak tadi.


Bisa dipastikan jika Amaira pergi sebelum mereka bangun pagi.


"Ck, memangnya dia pergi ke mana? selama ini dia kan nggak pernah pergi jauh-jauh dari kompleks!" Aska bermonolog sendiri menepis rasa khawatir yang tiba-tiba muncul di hatinya mungkin Maira sedang main di rumah tetangganya

__ADS_1


"Kenapa aku jadi kepikiran dia!"


Bersambung


__ADS_2