
Di salah satu butik ternama, Vivian bersama dengan Clara dan Aksa sedang memilih gaun yang akan di kenakan saat pernikahan nanti.
"Hai Vi ?" sapa Diva pemilik butik sekaligus sahabat Clarisa
"Hai kak Diva"
Kedua wanita yang sudah berumur namun masih tampak muda itu pun saling mengecup pipi satu sama lain. Setelah itu, Diva mengajak tamu nya untuk menuju ke tempat gaun - gaun yang sudah Clarisa pesan sebelumnya.
"Mommy kemana bang ?" tanya Diva
"Di ajak daddy ke kantor tan, paling bayi gede nya minta mimik. Tau sendiri, tingkat kemesuman daddy kan di atas rata - rata laki - laki normal."
"Sama kaya kamu" kali ini Clara ikut menimpali
"Wajar dong yank, makanya aku buru - buru mau nikahin kamu. Biar sah kalo mau mimik tiap hari."
PLAK
Satu pukulan yang tidak terlalu kasar, Vivian daratkan pada lengan calon menantu nya."Udah jangan ngomongin mimik disini, papah Reno loh lagi keluar kota. Kering kerontang ini mamah."
Aksa menjadi orang pertama yang tertawa paling keras setelah mendengar punuturan calon mertuanya. Diva yang mendengar pun ikut menggelengkan kepala dengan bibir yang tersenyum.
"Kemarin Clarisa udah kasih tau tante konsep pernikahan kalian. Tante juga udah kasih beberapa contoh gaun untuk akad dan resepsi."
"Nah ini, ada 4 gaun yang di pilih mommy kamu." lanjut Diva dengan menunjuk 4 manequin yang mengenakan gaun rancangan miliknya
Terpajang 2 gaun berwarna putih yang pasti nya akan di gunakan untuk acara akad nikah, dan ada 2 gaun lagi berwarna biru langit, yang Clarisa tau itu adalah warna kesukaan calon menantunya yang akan di gunakan dalam acara resepsi.
"Emang acara sampai jam berapa sih bang. Aku gak mau lama - lama ah, katanya kalo resepsi pasti berdiri terus. Capek nanti aku nya bang." keluh Clara
"Iya ya, nanti kalo kamu capek, selesai acara langsung tidur. Kering deh si Pablo gak jadi buka puasa sama Maria Marcedez."
PLAK
Lagi, pukulan kembali Aksa dapatkan. Namun kali ini pelakunya adalah calon istri tercinta nya.
__ADS_1
"Udah jangan menjurus kesana mulu kenapa sih, malu banget aku tau."
Akhirnya Aksa diam agar fitting baju kalo ini cepat selesai, pasalnya dia sudah tak sabar mengajak calon istrinya kembali ke kantor. Entah hormon apa yang ada pada diri Clara, sampai membuat Aksa bersemangat setiap kali mereka bersama.
"Akad nya aku pilih yang ini deh, kaya si Bella pas nikah sama Edward Cullen." ucap Clara
"Kalo resepsi yang ini aja gimana bang, lebih simple juga." kali ini Clara bertanya
Aksa membulatkan matanya melihat gaun malam yang akan di kenakan Clara pada saat pesta resepsi. Pasalnya, gaun itu tanpa lengan, dengan belahan dada yang dapat membuat aset Clara menyembul, bagian belakang yang sedikit terbuka, dan belahan di kakinya yang sampai sebatas paha, menunjukkan kulit putih mulus wanita pujaan hatinya.
"Enggak deh, aset kamu terpampang nyata nanti. Yang ada jadi konsumsi publik, itu kan punya aku pribadi."
"Seksi bang" goda Clara
"Pake baju seksi nya di kamar aja kalo lagi sama aku, cuman dan hanya aku yang boleh liatin aset kamu itu."
Jakun Aksa sedang naik turun, dengan tatapan yang mengarah ke Clara. Dia merasa tergoda karna membayangkan Clara memakai baju itu dan berlenggak lenggok di hadapannya.
"Udah jangan di bayangin, nanti si Pablo nekat jebol Maria Marcedez lagi." ucap Vivian
Akhirnya, gaun resepsi Clara jatuh di pilihan kedua, dengan bagian lengan yang transparan, yang dipadukan dengan aksesori minim. Gaun pengantin putih itu tampak elegan dengan aplikasi bunga tiga dimensi di bagian lengan dan dada. Gaun itu juga ditambah dengan detail ikat pinggang mini berwarna senada yang membuatnya tampil lebih manis.
Gaun ini juga memiliki ekor gaun yang panjang, lebar, dan berat. Namun, tak dimungkiri kalau ekor gaun inilah yang membuat gaunnya terlihat makin elegan.
(Bayangkan saja gaun resepsi Raisa dan Hamish tapi warna nya biru langit)
"Yasudah akan tante persiapkan, untuk ukurannya nanti di H-2 tante sendiri yang akan datang ke sana untuk mengukur ulang, dan di hari H nya juga nanti tante ikut andil dalam pemakaian dua gaun yang sudah Clara pilih."
"Makasih banyak ya kak Diva" ucap Vivian dengan menggenggam tangan Diva
Diva hanya membalas dengan anggukan, dan setelahnya Aksa pamit bersama dengan Clara untuk kembali ke kantor. Sementara Vivian juga kembali ke rumahnya dengan mengendarai mobil.
"Bang, kemarin kan waktu tunangan mommy udah keluar banyak buat biaya cincin. Masa sekarang mommy lagi yang keluarin sih, miskin banget emang kamu." tanya Clara setelah mobil melaju menuju N.G GROUP
"Sembarangan, semua juga abang yang bayar. Cuman memang uang nya abang kasih ke mommy. Gak mungkin lah abang biarin nikahin anak orang pake uang orang tua, percuma jadi calon direktur kalo gak punya uang."
__ADS_1
Clara tersenyum dengan menampilkan sederetan gigi putihnya, bergeser untuk memeluk lengan sang calon suami yang sedang fokus menyetir mobil.
"Jangan mancing, 2 minggu lagi juga jadi alumni perawan kamu. Oh ya, kapan mau mulai perawatan, biar nanti abang minta mommy hubungin orang salon." tanya Aksa
"Tiga hari sebelum hari H aja bang, kan kita lagi di pingit tuh, jadi pas ketemu aku makin cantik, abang makin cinta deh."
"Nanti video call ya kalo lagi perawatan, apalagi kalo lagi luluran sebadan - badan. Terus itu gunung nya di pakein minyak bulus biar makin ekhem gede." ucap Aksa menaik turunkan alisnya
PLAK
"MESUM"
Satu kata yang terucap bersamaan dengan pukulan kecil di lengan Aksa, Clara daratkan karna gemas akan mulut kekasihnya yang tidak pernah bisa di jaga.
Sesampainya di kantor, Clara mengekori Aksa yang sedari tadi menggenggam tangannya.
"Lepas ih, udah sampai juga. Sana gih kerjain kerjaan kamu, aku tiduran di sofa aja sambil dengerin BTS, ngantuk banget."
Aksa melepas genggaman tangannya yang membuat Clara berjalan menuju sofa yang ada di ruangan calon suaminya. Tapi, kegiatannya terhenti saat dia hendak merebahkan tubuhnya di sofa yang berukuran panjang.
"Mau charge dulu, lemes banget ini aku." ucap Aksa dengan menaik turunkan alisnya
"Gak boleh lebih"
Aksa hanya menyeringai sesaat, sebelum akhirnya dia menyambar bibir pink Clara yang sudah menggoda nya sedari tadi.
Mereka saling berpagutan, saling bertukar saliva, beradu lidah hingga mengeluarkan suara decakan dari kegiatan mereka. Sedangkan tangan Clara, sudah melingkar indah di leher Aksa.
"Udah bang" ucap Clara mencoba menyudahi
Aksa berpura - pura tidak mendengar dan kembali ******* bibir seksi calon istrinya. Dengan perlahan, Aksa mendorong Clara agar merebahkan dirinya di sofa. Tangannya mulai bergerilya memainkan dua gunung Clara, sementara di bawah sana, Pablo sudah mendesak ingin keluar. Hingga, Clara tersadar dan mendorong tubuh Aksa dari atas tubuhnya.
"Kenapa sih, aku tuh gak pernah bisa tahan kalo dekat kamu Cla." tanya Aksa
"Karna Tuhan menciptakan aku dari tulang rusuk abang"
__ADS_1