
Sudah 18 tahun berlalu! 18 tahun!
Akhirnya Wahyu pulang kembali.
Pak Tua itu dan ketujuh kakak perempuannya baik-baik saja, bukan?
Di atas jalan bebas hambatan dari Kota Jakarta menuju Kota Yogyakarta, bus bernomor 1038 melaju dengan sangat cepat.
Wahyu Winata yang berada di dalamnya sedang dalam suasana hati yang bersemangat.
Wahyu Winata adalah seorang yatim piatu, dia sejak kecil sudah diadopsi oleh Raja Pengemis, selain Wahyu, masih ada tujuh gadis lain yang diadopsi di saat yang bersamaan dengan Wahyu.
Meskipun mereka tidak mempunyai hubungan darah. Namun, hubungan mereka lebih dekat dari saudara kandung.
Mereka tumbuh bersama, membuat Wahyu mempunyai masa kecil yang bahagia. Namun, ketika Wahyu berumur lima tahun, terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Pada suatu hari, saat Wahyu sedang bermain di depan rumah, dia dibius oleh seseorang lalu diculik ke luar negeri.
Wahyu masih ingat dengan jelas apa yang terjadi pada saat itu.
Dia tinggal selama delapan hari penuh di sebuah rumah yang gelap dan juga dingin di luar negeri, kelaparan, dan juga kedinginan.
Tepat ketika Wahyu benar-benar sudah merasa putus asa, hal yang mengejutkan kembali terjadi.
Di hari kedelapan ketika dia sedang tidur nyenyak, seekor semut berwarna emas merangkak masuk ke mulutnya, setelah semut itu menggigit lidah Wahyu yang menyebabkan Wahyu tidak dapat bergerak sama sekali, semut itu masuk ke tenggorokan Wahyu.
Pada saat Wahyu bangun lagi, dia menemukan bahwa tubuhnya telah berubah.
Hari pertama, tenaganya menjadi sangat kuat.
Hari kedua, dia bisa terbang dan merayap di dinding.
Hari ketiga, matanya memiliki kemampuan tembus pandang.
Hari keempat, dia membunuh penjahat yang menculiknya lalu keluar dari ruangan yang gelap itu, sejak saat itu Wahyu mulai melarikan diri ke tempat yang sangat jauh.
Wahyu sudah membunuh orang sejak berumur lima tahun, setelah melarikan diri dari perdagangan manusia, dia perlahan-lahan tumbuh dewasa, dia pernah menjadi seorang pengawal pribadi, pembunuh bayaran, tentara bayaran, dia juga pernah bekerja serabutan, pernah menjadi kurir, berulang kali hidup di bawah belas kasihan orang lain.
Sampai pada suatu hari, dia tiba-tiba mempunyai keinginan untuk menjadi yang terkuat tanpa tanding, kemudian sebuah nama yang berpengaruh diam-diam muncul ke permukaan.
Nama itu adalah “Sang Penakluk”, Sang Penakluk Dunia, akulah yang terhebat.
Pak Tua, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk padamu, aku belum berbakti kepadamu, dan kakak-kakakku, saat ini kalian pasti sudah dewasa, apakah kalian cantik, aku masih belum mempunyai istri!
Pikiran Wahyu melayang-layang, tatapannya tertuju keluar jendela. Di mata orang lain, dia sedang melamun dan kehilangan kewaspadaannya.
Seorang pencopet yang ada di samping Wahyu juga berpikir demikian, di saat Wahyu tidak memperhatikan, satu tangannya diam-diam merogoh ke saku celana Wahyu, tetapi sebelum dia sempat menarik tangannya, tiba-tiba terdengar suara teriak kesakitan.
Diikuti dengan suara patah tulang yang mengerikan.
Krek!
“Ampuni aku, ampuni aku, Kak.”
__ADS_1
Pencuri itu berlutut di samping Wahyu, air matanya hampir mengalir keluar, satu tangan yang memegang pergelangan tangannya bagaikan tang besi, mematahkan tulang yang ada di pergelangan tangannya.
Wahyu tertawa mengejek: “Ini adalah yang kesebelas kalinya kau beraksi, bukan? Dasar serakah, 20 juta masih belum bisa membuatmu puas, ini adalah akibat yang harus kau tanggung.”
Bugh!
Wahyu tiba-tiba mengayunkan kakinya lalu menendang lutut pencuri itu, pria itu kembali berteriak kesakitan, lalu jatuh ke lantai.
Pada saat ini, kebetulan busnya sudah sampai di stasiun, Wahyu bangkit berdiri dari atas tempat duduknya “Para penumpang sekalian, orang ini adalah pencuri, siapa yang tadi kehilangan sesuatu, mintakan saja padanya.”
“Uangku.”
“Oh Tuhan! Kalungku.”
Suara teriakan dari dalam mobil mengejutkan semua orang, pada awalnya tidak ada yang tahu apa yang membuat mereka berdua bertengkar, tetapi setelah mendengar perkataan Wahyu, mereka segera memeriksa barang masing-masing, barulah mereka menyadari kalau barang mereka hilang.
“Tangkap pencuri itu.”
“Hajar dia.”
Semua orang mengelilingi pencuri itu lalu menghajarnya, kemudian mereka menggeledah tubuh pencuri yang sudah hampir mati itu dan mengambil kembali barang mereka yang hilang.
“Oh iya, mana anak muda yang sudah menangkap pencuri itu?”
“Loh, tadi masih ada di sini, kenapa sekarang sudah menghilang?”
Pada saat semua orang sedang mencari Wahyu, Wahyu sudah berada beberapa ratus meter dari bus.
Dia berjalan sambil bergumam “Perubahannya besar sekali, apakah rumah yang dulu masih ada?”
Wahyu hanya bisa berjalan sambil mencari tahu.
Tiba-tiba ponsel yang ada di saku celananya berbunyi, Wahyu membukanya lalu dari dalamnya terdengar suara yang seperti mesin. “Bos, tadi Wira sudah memeriksa semua penduduk yang tinggal di Yogyakarta.”
Rumah lama Tuan Besar sudah dibongkar, sekarang beliau tinggal di rumah yang baru, alamat pastinya sudah aku kirimkan kepada Anda.
Ting tong!
Segera setelah itu Wahyu menerima sebuah SMS, di dalamnya ada sebuah alamat: Jalan A.Yani no 18.
Kota Yogyakarta bukanlah kota terbesar di Indonesia, tetapi luasnya ada sekitar 30an kilometer persegi, jika Wahyu hanya mengandalkan kakinya saja, dia harus berjalan selama 2 jam perjalanan, jadi dia terpaksa naik taksi, setengah jam kemudian dia muncul di depan sebuah rumah yang mewah.
Wahyu turun dari taksi , perasaannya sedikit emosional, sudah 18 tahun, saat Pak Tua melihatnya untuk pertama kalinya mungkin saja seluruh darahnya akan naik ke kepala lalu dia mati.
Haha!
Setelah berpikir cukup lama, Wahyu melangkah maju lalu menekan bel. Yang membuka pintu adalah seorang wanita tua yang masih terlihat menarik, menurut pengamatan Wahyu, dia dapat melihat kalau wanita tua ini setidaknya sudah berumur lebih dari 60 tahun, tetapi dia mengenakan baju kebaya berwarna merah.
__ADS_1
“Anda mencari siapa?”
Wanita tua menatap Wahyu dengan bingung.
Wahyu juga bingung, Raja Pengemis memang mempunyai seorang istri, akan tetapi istrinya meninggalkannya karena dia miskin.
Apa jangan-jangan Pak Tua itu menikah lagi?
Wahyu berkata,“Aku mencari Raja Pengemis.”
“Kamu mengenalnya?”
Bisa dibilang begitu, kamu akan tahu setelah memanggilnya keluar.
Wanita tua itu menatap Wahyu kemudian berbalik dan tidak lama kemudian kembali lagi. “Pak Tua menyuruhmu masuk, di ruang tamu di lantai 3.”
Wahyu tertawa jahat. “Pak Tua, kamu tidak keluar untuk menyambutku? Aku akan membuatmu kaget setengah mati.”
Setelah dia bergumam sendiri, Wahyu tidak masuk dari pintu depan, namun dengan cepat muncul dari halaman belakang rumah, kemudian memanjat di atas dinding yang licin.
Jika saat ini ada orang yang melihatnya, pasti dia akan mengira Wahyu adalah seorang monster.
Kaki dan tangannya seolah-olah mempunyai alat penghisap yang membuatnya melekat erat di dinding, Wahyu terus memanjat ke lantai tiga, kemudian membuka jendela dan melompat masuk ke dalam lalu muncul di tengah ruang tamu tanpa bersuara sedikit pun.
Di tengah-tengah ruang tamu diletakkan sebuah meja, di samping meja itu ada seorang Pak Tua yang sedang duduk, tangan kirinya memegang sebuah kotak rokok, tangan kanannya sedang memegang kepalanya.
Di hadapannya ada sebuah papan catur yang sedang dimainkan, Pak Tua sedang menelitinya dengan serius.
“Bocah kecil, siapa yang menyuruhmu naik kemari?”Reaksi Pak Tua cukup cepat, seketika setelah Wahyu muncul di ruang tamu, kotak rokok yang ada di tangannya berubah menjadi petir yang terbang ke arah Wahyu.
Wahyu tertawa terbahak-bahak. “Pak Tua, kamu mau membunuh seseorang?” Wahyu sedikit bergeser ke samping, lalu menangkap kotak rokok itu dengan tangannya, kemudian dia melesat maju dan sesaat kemudian sampai di hadapan Pak Tua untuk menonjoknya.
Saat ini Pak Tua sudah berdiri. “Bocah kecil, kamu memukul ke arah mana?”
Pukulan yang diberikan sangat cepat, Pak Tua tidak bisa menghindarinya, hanya bisa melihat kepalan tangan Wahyu mampir ke depan celananya.
Haha!
“Pak Tua, jika aku memukulnya, “adikmu” tamat riwayatnya.”
“Minggir!”Pak Tua sangat kesal sekali, dia melayangkan tamparannya kepada Wahyu, Wahyu menghindar dengan mudahnya. “Pak Tua, aku sudah tidak pulang selama 18 tahun, memangnya kau tidak takut aku mati di luar sana?”
Pak Tua memelototinya “Takut apanya, dari kecil kamu tidak pernah melakukan hal yang baik, mana mungkin mati dengan begitu mudahnya?”
“Pak Tua! Maksudmu aku bukan orang baik jadi panjang umur?”
Wahyu memutar matanya, kemudian dia tiba-tiba berlutut di atas lantai dengan ingin menangis “Pa, aku adalah Wahyu, aku sudah pulang.”
__ADS_1
“Minggir, minggir, minggir, jangan menangis di sini.” Pak Tua berteriak, tetapi wajahnya sudah penuh dengan air mata, dia mendekat dan memeluk Wahyu lalu membantunya berdiri.