Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Bab 47. Sabrina Memutuskan untuk Membantu Wahyu


__ADS_3

Laila dan Salma tidak setuju, Wahyu pun membelalakkan mata dan berkata, “Kalau begitu kita sudahi saja urusan ini. Kakak pertama dan kakak keempat, kalian juga jangan memaksaku, aku tidak akan menerima perusahaan itu.”


Setelah berdiskusi sebentar, pada akhirnya mereka tidak sepakat.


Monita kemudian mengingat sepeda yang dibawa Wahyu, dia lalu berkata, “Wahyu, kamu sempat bilang kalau ingin membawa sepeda itu keluar, kamu mau pergi ke mana?”


Wahyu melihat semua orang sudah selesai makan, dia lalu berkata, “Kakak sekalian, aku ingin pergi ke sebuah desa kecil di Kalimantan Barat.”


Kemungkinan aku akan menetap beberapa hari di sana, karena jalan gunung yang sulit, aku tidak bisa membawa mobil ke sana.


“Pergi sejauh itu?” ucap Monita tertegun.


Salma tiba-tiba berdiri, “Aku tidak setuju, aku tidak mengizinkan kamu pergi.”


“Wahyu, apa kamu pernah mendengar sebuah kidung?”


“Kidung apa?”


Salma berkata, “Sebuah kidung tentang Desa Sukajadi.”


“Desa Sukajadi, sangat suram seperti hantu, burung-burung tidak berani berterbangan, mobil juga rusak. Tidak ada yang hidup dalam radius lima kilometer, tidak ada hasil olahan desa yang bisa dijual, tidak ada pengangkutan bahan makanan. Melihat ke langit untuk menanti hasil panen, hidup menua dalam kesuraman ….”


“Jalan gunung di sana sangat aneh dan sering terjadi kecelakaan. Selain itu, kehidupan di desa sangat miskin, mereka tidak mendapatkan bahan makanan dan hanya bisa mengharapkan hasil panen dari Langit.”


Lima tahun yang lalu, sebuah kekuatan misterius menguasai daerah itu. Selain memutus jalan gunung, mereka juga menguasai perekonomian desa itu.


Ucapan Salma membuat beberapa wanita cantik tercengang.


Burang tidak dapat hidup dan bahkan kehidupan yang sangat suram, semua ini terasa mengerikan.


Ditambah kehidupan yang sulit, tidak ada bahan makanan, serta muncul kekuatan jahat yang misterius.

__ADS_1


Wahyu tidak boleh pergi.


Setelah Salma selesai berbicara, Laila ikut berdiri dan berkata, “Tidak boleh pergi.”


Sialan!


Wahyu menjadi canggung, dia tidak menyangka reaksi kakaknya akan begitu besar.


Sepertinya, kalau Wahyu memaksakan diri pergi dari sini, beberapa kakak yang cantik ini akan kesulitan makan dan tidur karena khawatir.


Untungnya Sabrina tiba-tiba berkata, “Kita bicarakan saja di lain hari, makan dulu.”


Sepuluh menit selanjutnya, mereka hanya terdiam sambil menyantap makanannya. Setelah selesai, Monita lalu berkata, “Kalian cuci piringnya dulu, aku ingin berbicara dengan Wahyu.”


“Baik, kak Monita.”


Setelah beberapa orang itu keluar, Monita baru bertanya, “Wahyu, cepat katakan kepada kakak, apakah kamu menyembunyikan sesuatu?”


Semua itu tidak bisa dilakukan oleh orang biasa, sehingga dia juga mulai curiga kepada Wahyu.


Namun, Wahyu tidak boleh mengatakannya. Dia lebih memilih beberapa kakaknya curiga, daripada menceritakan identitasnya. Kalau sampai kakak-kakaknya tahu, mereka pasti tidak bisa hidup dengan tenang.


Bahkan mereka akan terus mengikuti Wahyu sampai ke toilet sekali pun.


Wahyu berkata, “Kakak, aku tidak menyembunyikan sesuatu. Kali ini aku pergi karena permintaan dari seseorang untuk mengunjungi keluarganya. Bagaimanapun orang itu sudah minta tolong, tidak baik kalau aku tidak menepati janji, bukan?”


Monita berkata dengan ekspresi masam. “Serius?”


“Kakak, aku bersumpah!”


“Wahyu, kamu tidak boleh menipu kakak, kalau tidak, kakak tidak akan memaafkanmu.”

__ADS_1


Setelah itu, Monita pun berjalan pergi.


Setelah beberapa saat, Salma berjalan masuk dan berkata, “Wahyu, apa yang kamu katakan kepada Kak Monita? Dia sedang menangis sekarang. Aku tidak pernah melihat kak Monita menangis seperti itu, dia bahkan tidak pernah menangis ketika ditipu sampai bangkrut dalam dunia bisnis. Cepat katakan dengan jujur, apa yang terjadi?”


Raut wajah Wahyu menjadi dingin, dia lalu berkata, “Kak Salma, apa yang kamu katakan tadi? Siapa yang menipu kak Monita sampai bangkrut?”


Salma langsung menyesal setelah mengatakannya, dia lalu berkata, “Tidak, aku salah bicara, tidak ada yang menipu kak Monita. Pokoknya kamu tidak boleh pergi, kalau tidak, aku akan bunuh diri.”


Salma pun berjalan pergi.


Kemudian kali ini gantian Laila.


Wahyu melambaikan tangannya. “Kak Laila, kamu jangan menasehatiku lagi. Sebagai seorang polisi, kamu juga tahu ada beberapa hal yang harus dilakukan walaupun kita tidak bersedia dan juga sebaliknya.”


Laila dibuat diam oleh Wahyu, dia menghentakkan kaki dengan kesal dan berkata, “Aku malas mempedulikanmu. Tapi aku tetap berharap kamu tidak pergi.”


Pada akhirnya, Sabrina berjalan masuk, dia menarik tangan Wahyu dan berkata, “Ayo, temani aku jalan-jalan.”


Mereka berdua bergandengan tangan dan berjalan keluar.


Tidak ada tempat untuk pergi pada siang hari, ketika melihat sebuah pohon willow yang rindang, mereka pun duduk di bawah pohon itu.


Setelah beberapa saat, Sabrina baru berkata, “Wahyu, katakan dengan jujur, apakah perjalananmu kali ini akan berbahaya?”


Sabrina sudah mengetahui semua tentang Wahyu, karena itu Wahyu pun berkata dengan jujur, “Ada, tapi aku tetap harus pergi. Tenang saja kakakmu juga tahu dengan kemampuan tempurku. Jangankan orang awam, bahkan pasukan elite juga harus menghindar ketika melihatku.”


“Wahyu, walaupun begitu, kakak juga tidak mungkin tidak khawatir.”


“Begini saja, aku akan membantumu untuk menasehati kakak yang lain, tapi kamu harus berjanji kepadaku. Setiap hari, kamu harus menelepon tiga kali dan wajib pulang dalam sepuluh hari.”


“Kalau tidak, aku akan memberitahu semua hal kepada kakak yang lain, kamu juga tahu akibatnya.”

__ADS_1


__ADS_2