Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Bab 48. Aku Harus Pergi


__ADS_3

Melihat Sabrina ingin membantunya, Wahyu pun menghela napas lega. “Kakak, terima kasih atas pengertiannya.”


“Kalau begitu, aku akan pergi sekarang, karena kalau kakak mereka menyadarinya, aku tidak akan bisa pergi.”


“Iya! Pergilah,” ucap Sabrina sambil mengangguk.


Namun, ketika Wahyu naik ke atas sepeda, dia tidak bisa menahan diri lagi. Sabrina pun berlari ke arah Wahyu, dia langsung memeluk pinggangnya sembari berkata, “Wahyu, kamu harus menepati janjimu kepada kakak.”


“Kamu harus pulang dalam 10 hari. Kalau tidak, kakak juga tidak bisa bertanggung jawab kepada kakak yang lain. Walaupun kamu pulang setelah 10 hari, kamu hanya akan melihat sosok mayat yang sudah mendingin.”


“Wahyu, 18 tahun! Berapa kali kita bisa memiliki 18 tahun lagi? Kakak tidak berharap ada 18 tahun yang kedua. Kalau kamu tidak pulang, kakak kedua dan adik ketujuh juga tidak akan bisa bertahan ….”


“Kakak! Aku cinta kalian selamanya! Selamanya!”


Wahyu melepaskan sepeda dan memeluk Sabrina dengan erat, dia mulai mencium bibir Sabrina dengan mesra.


Sabrina juga tidak menghindar, mereka berdua mulai berpelukan dengan erat.


Sepuluh menit kemudian, Sabrina tertegun melihat ke depan, tubuhnya seperti orang yang mengalami kejang-kejang. Tekanan ini terlalu besar baginya, dia ingin sekali memberi tahu semua kepada Monita dan yang lain.


Pada akhirnya, dia tetap menahan diri.


Wahyu harus pergi. Monita dan yang lain adalah kakaknya, tapi Wira juga merupakan saudaranya sendiri. Sekarang dia hanya memiliki satu pilihan, jalan terus!


10 menit kemudian, Wahyu menelepon Yitno, suara Yitno yang lantang terdengar dari seberang telepon, “Bocah, sekarang kamu sudah ada waktu? Apa kamu ingin menemaniku ke tempat judi batu?”


Wahyu berkata dengan nada dingin. “Tidak usah omong kosong! Aku membutuhkan mobil militer dengan daya tahan goncangan yang kuat. Selain itu, aku juga butuh sepeda lipat, semakin kecil semakin baik.”


“Tiga jam kemudian, aku berharap barang bisa sampai di bandara Kalimantan Barat.”


“Bocah, kamu mulai berani memerintahku?”

__ADS_1


Wahyu tertawa terbahak-bahak, “Bukan aku yang memerintahmu, melainkan Token Naga Hitam. Kenapa? Kalau kamu tidak mau juga tidak masalah.”


“Jangan! Bocah, kamu harus mengubah sikap pemarahmu itu! Tenang saja, kamu pasti akan melihat barang yang kamu inginkan setelah mendarat.”


“Sama-sama.”


Wahyu memutuskan teleponnya, kemudian menggunakan sepeda untuk pergi ke bandara Kota Yogyakarta.


Dia baru saja pulang, tapi beberapa jam kemudian sudah harus kembali ke bandara dengan tujuan yang berbeda.


Ketika sampai di bandara, Ahli Strategi langsung menelepon Wahyu. “Bos, di mana kamu sekarang?”


“Aku sedang berada di bandara Kota Yogyakarta untuk berangkat ke Kalimantan Barat.”


“Bos, segera hentikan perjalananmu! Berdasarkan sumber terpercaya, hujan badai sedang terjadi di wilayah Kalimantan Barat. Jalan menuju Desa Sukajadi juga dipenuhi oleh pegunungan di kedua sisi, bagaimana kalau terjadi tanah longsor? Cepat hentikan!”


“Kamu jangan menakutiku! Aku pemberani, cerdas dan tidak kenal takut ….”


Suara dari seberang telepon menjadi suara Wira.


Wahyu berkata, “Sejak kapan kamu boleh berbicara? Diam kamu! Aku yang memutuskan ingin pergi atau tidak.”


“Tenang saja, aku bukan orang bodoh. Aku tidak akan mati, tenang saja.”


“Bos, kamu harus hati-hati! Walaupun adikku penting, tapi ….”


Sebelum menyelesaikan ucapannya, Wahyu sudah memutuskan teleponnya.


Dia harus pergi.


Karena dia sudah berjanji kepada kakak keempat untuk pulang dalam 10 hari, pasti akan terjadi sesuatu jika dia terlambat.

__ADS_1


Kemudian, Wahyu lebih khawatir dengan adiknya Wira. Seorang gadis kecil yang lumpuh dan tidak memiliki keluarga, bagaimana dia bisa hidup sendiri di daerah pegunungan?


Wira meninggalkan banyak utang ketika kabur keluar negeri, kita tidak tahu apakah para rentenir akan mempersulit adik dari Wira atau tidak? Wahyu sangat khawatir dengan hal ini.


Walaupun khawatir, Wahyu juga tidak bisa melakukan apa pun karena jarak Kalimantan Barat dengan Kota Yogyakarta cukup jauh. Ketika Wahyu mendarat, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Lalu hal yang membuat Wahyu semakin marah, yaitu dia tidak melihat mobil militer yang disiapkan Yitno. Dia segera menelepon Yitno dengan nada sinis. “Yitno, sepertinya Token Naga Hitam tidak berguna, bukan? Apa aku harus menelepon Pak Tua?”


Yitno menjawab dengan nada gemetar. “Jangan! Kamu jangan sampai mengganggu Pak Tua! Kalau tidak, Pak Tua pasti akan membunuhku.”


“Aku yang lalai karena terlalu sibuk di pagi hari, tapi barangnya sudah sampai di Kalimantan Barat. Hanya saja tidak berada di bandara, kamu harus pergi ke tempat Santika untuk mengambilnya.”


“Santika Hutomo?”


“Iya, selain dia ada siapa lagi?”


“Kenapa dia bisa berada di sini?”


“Aku sedang sibuk, kamu tanya sendiri saja. Aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu.”


Yitno pun memutuskan teleponnya.


Wahyu menerima sebuah pesan, “Jalan Bahagia nomor 108.”


Kemudian ada sebuah nomor telepon di belakangnya juga.


Wahyu sebenarnya ingin menelepon Santika, tapi dia memilih untuk langsung pergi ke sana untuk mengambil mobilnya. Karena menurut Wahyu, ucapan Wahyu tidak enak di dengar.


Ketika keluar dari bandara, dia tidak melihat taksi. Dia menyewa satu sepeda dan pergi ke jalan Bahagia.


10 menit kemudian.

__ADS_1


Wahyu tersenyum dingin, dia tiba-tiba menambah kecepatannya.


__ADS_2