
Pagi harinya.
Wahyu mengantar Sabrina ke rumah sakit lalu berencana untuk memperbaiki mobilnya.
Lamborghini termasuk mobil mewah, Wahyu tidak tenang jika membawanya ke bengkel biasa, dia berencana mencari sebuah bengkel mobil resmi yang bagus, tapi dia tidak kenal dengan kota Yogyakarta, setelah berkeliling selama setengah jam penuh, barulah dia menemukannya.
Saat dia baru saja membawa mobilnya masuk ke dalam bengkel, ada panggilan masuk dari Monita. “Wahyu, sedang sibuk tidak?”
Wahyu mengerem mobilnya lalu keluar dari dalam mobil. “Kak, aku tidak sedang sibuk, katakan saja apa yang ingin kamu katakan.”
“Wahyu, temani aku keluar sebentar.”
“Boleh, Kak, kamu di mana?”
“Aku di perusahaan.”
“Oke! Aku segera sampai.”
Setelah Wahyu memberitahu keadaan mobilnya secara singkat, dia meninggalkan Lamborghininya di bengkel dengan tergesa-gesa, kemudian dia naik taksi ke perusahaan Monita. “Kak, pergi ke mana?”
Monita sudah menunggunya di depan pintu. “Wahyu, ayo pergi ke Surabaya untuk mencari teman baikku, ada sedikit masalah, aku berpikir lagipula kamu sedang santai, jadi aku akan membawamu melihat dunia luar, kenalan dengan beberapa orang, aku sudah memesan tiketnya.”
Kota Surabaya adalah kota yang letaknya dekat dengan kota Yogyakarta, karena di sebelah utara kota ada Laut Baya yang sangat terkenal di dunia, maka kota ini dinamakan Surabaya.
Wahyu bertanya. “Kak, apa malam ini kita bisa kembali?”
“Bisa, kita pergi dengan pesawat, pulang pergi hanya beberapa jam, meskipun ada keterlambatan beberapa jam, 1 hari harusnya sudah cukup, kenapa, kamu masih ada urusan?”
“Bukan hal yang penting juga, kakak kelima berkata malam ini dia mau mengajakku pergi menghadiri jamuan bisnis.”
“Itu adalah hal yang bagus, tidak apa-apa jika kamu tidak bekerja, tapi kamu harus berpartisipasi dalam lebih banyak kegiatan-kegiatan sosial, sebelum malam hari kita pasti sudah pulang.”
“Baiklah kalau begitu.”
Mereka berdua mengobrol sambil memanggil taksi untuk pergi ke bandara, kemudian mereka naik ke dalam pesawat dan lepas landas.
Satu jam kemudian mereka sudah muncul di langit Surabaya, Monita menelepon. “Nona Yara cantik, kami sudah mau turun dari pesawat.”
Dari sebelah sana terdengar suara tawa yang memikat. “Nona Monita cantik, aku sudah dari tadi menunggu kedatanganmu di bandara.”
Wahyu berkata santai. “Suaranya terdengar berat dan juga serak, wajahnya pasti lumayan cantik.”
Dari dalam telepon terdengar suara yang terdengar bingung. “Monita, kenapa ada suara pria?” Monita segera menjelaskan. “Itu adikku.”
__ADS_1
Setelah Monita menutup teleponnya, Wahyu bertanya, “Kak, apa pekerjaan teman baikmu itu? Dia bukan orang biasa!”
Monita tertawa. “Sudah tertebak olehmu, dia memang bukan orang biasa, dia menjalankan usaha perhotelan, selain itu dia juga adalah bartender top dunia, desainer perhiasan, dia juga mahir memainkan berbagai macam alat musik. Yang paling mengagumkan adalah teman-temannya sangat banyak sekali, dia dikenal sebagai sosialita cantik yang tidak pernah layu, tapi aku tidak merasa seperti itu, aku tahu dia adalah sekuntum bunga mawar berduri. Jangan melihat ada begitu banyak pria yang mengelilinginya sepanjang hari, tapi tidak ada satupun yang bisa benar-benar dekat dengannya.”
Sambil keduanya mengobrol, pesawat sudah mendarat dengan stabil, mereka berdua turun dari pesawat sambil bergandengan tangan.
Baru saja turun dari pesawat, mereka langsung mendengar ada orang yang menggoda mereka. “Nona Monita cantik kita ternyata sudah ada yang punya ya?”
Wahyu mendongak dan melihatnya…
Yang pertama-tama dilihatnya adalah sepasang kaki yang putih dan jenjang, dia mengenakan gaun berwarna merah tua yang mempunyai belahan sangat tinggi di bagian samping serta sepasang sepatu hak tinggi merah yang serasi dengan gaunnya, dirinya yang berdiri di sana terlihat seperti api yang terbakar.
Wajahnya sangat amat cantik, agak sedikit mirip dengan karakter yang dilukiskan di dalam novel, alis yang melengkung sempurna dan mata yang indah, bibir kecilnya yang seperti buah ceri, dia memiliki keindahan klasik yang khas.
“Wow! Kakinya indah sekali.”
Wahyu benar-benar sangat kagum.
Tidak disangka-sangka, terdengar suara tawa dari orang yang di seberang sana. “Jika kakak tampan suka, aku bisa meminjamkannya untuk kamu mainkan selama dua hari.”
Uhuk uhuk!
Monita terbatuk-batuk, sebagai seorang wanita yang kolot, meskipun dia tidak sekolot Sabrina, tapi dia termasuk tipikal wanita yang pemalu, godaan yang saling mereka lontarkan membuat wajahnya memerah, dia langsung mengalihkan pembicaraan. “Wahyu, aku perkenalkan padamu sebentar, dia adalah teman kuliahku, juga adalah teman baikku, Yara Permadi. Yara, ini adalah adikku, Wahyu, dia baru saja kembali dari luar negeri.”
Mereka bertiga naik ke dalam Ferrari berwarna biru, setengah jam kemudian mereka sampai di depan hotel yang menjulang tinggi, ada petugas keamanan yang datang untuk mengambil mobilnya, Yara membawa mereka berdua masuk ke dalam gedung hotel.
Monita berjalan sambil memperkenalkan. “Ini adalah markas besar kak Yara mu, namanya adalah Long Beach Hotel, ada 10 lantai, di bagian belakang setiap lantai ada balkon terbuka, di belakang hotel ada pantai, kemudian laut Baya yang tidak berujung.
Kita dapat menikmati keindahan laut Baya jika duduk di balkon…”
Bagus sekali!
Wahyu berdecak, dia sudah membayangkan adegan dirinya dan dua wanita cantik memakai pakaian renang sambil berlarian di atas pasir, kemudian masuk ke laut dan bermain air…
Tentu saja, jika dia bisa memeluk kaki indah di hadapannya ini akan lebih bagus lagi!
Hahaha!
Membayangkan hal itu membuat Wahyu tanpa sadar tersenyum lebar, senyuman yang sangat mesum.
Monita menendang bokongnya. “Apa yang sedang kamu pikirkan?”
Yara juga tertawa. “Kelihatannya adikmu ini juga memiliki karakter yang menarik.”
__ADS_1
Mereka bertiga tidak naik ke hotel, tetapi Yara langsung membawa mereka ke pantai di belakang hotel.
Sudah ada pelayan yang mempersiapkan kursi santai, berbagai macam sunblock dan juga minuman yang berwarna-warni untuk mereka.
Bahkan di atas kursi santai yang nyaman sudah disediakan pakaian renang.
Akan tetapi Yara jelas tidak menyangka kalau akan kedatangan seorang tamu lelaki, dia segera menyuruh pelayan untuk menyiapkan satu set pakaian renang lagi.
Jadi beberapa menit kemudian adegan yang Wahyu bayangkan tadi menjadi kenyataan!
Mereka bertiga berbaring di atas kursi santai yang nyaman sambil melihat pasangan-pasangan yang ada di sana, Monita langsung menuju pokok pembicaraan.
Monita bertanya, “Ada apa kamu memintaku datang kemari dengan tergesa-gesa?”
Yara menatap lautan, setelah berlalu cukup lama barulah dia berkata, “Monita, aku berencana untuk keluar dari bisnis ini, menjual hotelku lalu menjadi seorang wanita yang sesungguhnya! Sebelum aku membereskan semua hal ini, undang teman-teman kita kemari untuk berkumpul bersama, setelah itu kita menjalani hidup kita masing-masing.”
“Yara, kenapa? Kamu tidak sedang bercanda bukan? Ini adalah karirmu.”
Monita langsung bangkit dan duduk di atas kursinya.
Yara berkata, “Tidak apa-apa, pada akhirnya wanita harus kembali ke balik layar, selain itu jika sering bermain di samping sumur pasti sepatunya akan ikut basah, aku sudah menjalankan bisnis ini selama bertahun-tahun, memberi makan banyak orang dan juga menyinggung banyak orang, sudah saatnya aku mundur.”
Monita berkata, “Aku mengerti sekarang, apakah orang itu kembali memaksamu?”
“Monita!”
Suara Yara tiba-tiba terdengar sedikit sengau, dia memegang tangan Monita dengan sangat erat. “Ada beberapa hal yang sudah ditakdirkan untuk terjadi, tidak peduli sebenci apapun kamu terhadapnya, tetap tidak akan bisa lepas dari kendalinya!”
“Yara, nasib bisa diubah.”
“Monita, orang yang bisa merubah nasibku masih belum muncul.”
“Baiklah! Kapan kamu berencana untuk memanggil teman-teman kemari?”
“Besok lusa saja! Ada beberapa teman yang sudah aku kabari, ada beberapa yang belum, mereka tinggalnya cukup jauh dari sini, jadi butuh waktu.”
“Baiklah! Besok lusa jam 11 pagi aku akan tiba di sini tepat waktu.”
“Terima kasih Monita, ayo kita pergi berenang.”
Kedua wanita cantik itu berjalan menuju laut sambil saling bergandengan tangan.
__ADS_1