Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Bab 58. Aku Adalah Kakekmu


__ADS_3

Pak Tua langsung menolak. “Tidak bisa.”


Wahyu tersenyum jahat. “Beneran tidak bisa?”


“Tidak bisa.”


Wahyu berkata, “Baiklah, aku akan mengajak kamu minum nanti setelah pulang nanti. Sekalian beristirahat di tempatmu.”


Pak Tua langsung berkata, “Jangan! Karena menghargaimu, aku akan menyetujui hal ini.”


Pak Tua memiliki tiga kesukaan di dalam hidupnya. Jenggot, minuman alkohol dan tanaman herbal yang unik.


Dia memiliki kebiasaan buruk. Setiap kali minum minuman beralkohol, dia pasti akan mabuk. Sampai sekarang, dia tidak bisa memperbaiki kebiasaan ini.


Pernah suatu hari, Pak Tua tidak memberikan obat yang diminta oleh Wahyu. Setelah itu, Wahyu pun membawa dua botol minuman beralkohol dan mengajak Pak Tua minum. Dia membuat Pak Tua mabuk, lalu ketika bangun, jenggot Pak Tua sudah menghilang.


Pak Tua menangis selama tiga hari tiga malam, dia merasa sangat sedih karena kehilangan jenggot. Setelah itu, dia memutuskan untuk berhenti minum. Tetapi setelah satu minggu, jenggotnya yang baru tumbuh dipotong lagi oleh Wahyu.


Hal ini membuat Pak Tua trauma. Setiap kali Wahyu membicarakan tentang minuman beralkohol, Pak Tua akan ketakutan.


Kamu jangan mengira kalau Pak Tua gampang ditindas dengan tiga kelemahannya itu. Pak Tua membunuh orang seperti memotong semangka, dia tidak pernah mengedipkan matanya.


Hanya Wahyu yang tahu apa yang dilakukan Pak Tua sebelum berumur 50 tahun.


Dia adalah seorang raja pembunuh yang terkenal.


Orang-orang tidak mengenal namanya. Namun ketika mengungkit nama Pembunuh Bangsawan, organisasi bawah tanah di negara barat pasti akan ketakutan.


Kenapa dinamakan Pembunuh Bangsawan?


Pak Tua mengatakan bahwa setiap kali menjalankan misi, sama seperti membunuh diri sendiri.


Sebelum dia mati, dia harus berpakaian dengan sopan. Jadi, setiap kali dia pergi membunuh orang, Pak Tua akan berpakaian layaknya seorang bangsawan.


Namun, dia tidak mati setelah bertahun-tahun, justru orang yang mati di tangannya tak terhitung jumlahnya.


Setelah berumur 50 tahun, Pak Tua tidak tahu kenapa tiba-tiba mundur dari dunia pembunuhan. Lalu menjadi seperti sekarang.


Mendengar Pak Tua setuju untuk memberikan obat, Wira hampir saja meloncat ke atas saking senangnya. Walaupun Pak Tua adalah seorang pemabuk, dia sangat menepati janjinya. “Terima kasih senior. Terima kasih senior.”  


Pak Tua membelalakkan mata. “Jangan berterima kasih kepadaku. Kamu harus berterimakasih kepada bocah ini. Kalau bukan dia, aku tidak akan membantu.”


Wahyu melambaikan tangannya. “Sudahlah, tidak usah bicara sungkan. Aku akan memutuskan teleponnya. Kalau ada waktu, aku akan mengirimkan tanaman herbal yang kamu minta. Aku ingin melihat obat dalam lima hari.”

__ADS_1


Setelah memutuskan teleponnya, Wahyu berjalan ke depan pintu.


Santika masih sedang berjongkok di sana sambil muntah. Wahyu mendekat dan menendang bokongnya. “Oi oi, jangan muntah lagi. Cepat carikan baju untuk gadis kecil ini.”


“Sialan kamu! Apakah kamu boleh membunuh orang hanya karena memiliki Token Naga Hitam?”


Santika bangkit berdiri dan menatap Wahyu dengan tatapan dingin. Walaupun begitu, dia tetap mengeluarkan pakaian dari dalam tas dan masuk ke dalam. Setelah sesaat, dia berjalan keluar dan berkata, “Sudah selesai.”


Iya.


Wahyu mengiyakan dan melihat ke arah Santika. Dia lalu berkata, “Tidak ada urusanmu lagi. Kamu boleh mengerjakan urusanmu sendiri. Kamu bukan sengaja datang untuk menemaniku, ‘kan?”


“Mimpi kamu! Aku memang ada urusan lain, tapi aku tetap harus mengikutimu. Bagaimana kamu kamu membunuh orang tidak bersalah lagi?”


“Pergi pergi, lakukan urusanmu sendiri sana.”


Wahyu benar-benar salut dengan wanita keras kepala ini! Dia kembali ke dalam rumah untuk melihat Wini.


Gadis itu sudah duduk di atas ranjang kayu dengan gaun berwarna merah gelap. Karena terlalu besar, pakaian ini terlihat sedikit longgar. Dia melihat Wahyu dan bertanya, “Kakak, orang yang mengganti bajuku tadi adalah kakak ipar?”


Kakak ipar?


Sudut bibir Wahyu terlihat berkedut. Dia lalu kembali bertanya hal lain. “Ceritakan padaku, siapa dua orang di depan rumah?”


Wini berkata, “Kakak, Wira tidak memberitahu namaku, bukan? Nama kami sangat jelek. Dia bernama Wira dan aku Wini.”


“Orang tuaku memanggil Wira, dan aku Wini.”


“Pada suatu hari, orang tua kami yang sedang menambang batu bara meninggal karena kecelakaan. Aku hidup berdua dengan kakak kelima, lalu cerita selanjutnya kakak harusnya sudah tahu.”


“Aku mendengar bahwa setelah ini, aku akan menjadi anggota Sang Penakluk Dunia.”


“Setelah kakak pergi, para rentenir memaksaku untuk membayar utang. Aku yang tidak punya cara akhirnya menciptakan sebuah game, kemudian menggunakan game untuk menghasilkan untuk dan membayar utang kepada mereka sampai hari ini ….”


“Kakak, aku sebenarnya sudah tidak berutang kepada mereka. Game hasil pengembanganku dapat menghasilkan banyak uang, tapi karena orang-orang itu sangat serakah, mereka memaksaku untuk terus menjalankan game itu.”


“Karena takut aku kabur, mereka mengikatku di kursi dan menyuruh dua orang untuk menjagaku ….”


Wahyu bertanya, “Apakah dua orang itu selalu datang setiap hari?”


Willen menggelengkan kepala, “Tidak, mereka akan berganti shift. Aku pernah mendengar cerita mereka bahwa jumlah mereka cukup banyak. Mereka juga bersembunyi di atas gunung.”


“Baiklah, sekarang semuanya sudah berakhir. Kita tidak bisa tinggal di sini lagi, aku akan menggendongmu keluar.”

__ADS_1


“Kakak, aku bisa jalan sendiri.”


Willen walaupun tidak pendek, tapi kondisinya sangat lemah. Wahyu mengangkat dengan mudah dan menggendongnya di punggung.


Tidak ada barang apa pun di dalam rumah, beberapa program komputer juga terekam di otak Willen. Jadi dia tidak perlu membawa komputer usang itu.


Ketika keluar dari rumah, Wahyu bertemu dengan Santika. Dia lalu bertanya, “Apakah ada tempat yang bisa ditinggali?”


Santika berkata, “Ada sebuah tempat. Sekolah.”


20 menit kemudian, Wahyu menggendong Willen dan sampai di sekolah.


Sekolah yang dimaksud adalah sebuah rumah kayu. Di dalamnya terdapat tujuh orang anak dan seorang guru wanita yang sedang mengajar.


Para guru dan murid langsung senang ketika melihat Santika datang. “Kakak, kamu sudah datang.”


“Halo, Bu Guru.”


“Halo, Tante Santika.”


“Halo, anak-anak.”


Santika menurunkan tas dan membawanya ke dalam kelas. Dia berkata, “Ada beberapa buku komik yang aku belikan untuk para murid di sini.” Dia lalu membuka tasnya, di dalamnya terdapat beberapa buku anak-anak.


Wahyu terkejut melihat Santika, dia tidak menyangka wanita ini memiliki sisi seperti ini. Santika bersusah payah untuk datang ke tempat ini, hanya demi memberikan buku komik kepada anak-anak.


Setelah meninggalkan Willen di kelas, Wahyu meminjam pena dan kertas dengan guru. Setelah itu, dia kembali ke rumah Wira, lalu duduk di sana sambil menunggu dengan sabar.


Sekitar siang hari, dia melihat dua orang berjalan ke arah sini. Satu orang membawa botol minum, dia berbicara sambil minum. “Sialan! Lebih baik kita bunuh saja gadis kecil itu, daripada harus menjaganya setiap hari.”


Orang yang satunya berkata, “Kamu tidak mengerti. Gadis kecil itu sama seperti produk-produk di gunung. Dia adalah pohon uang bagi bos kita.”


Setelah berjalan sampai pintu masuk, mereka tiba-tiba berkata, “Oi, siapa kamu?”


Wahyu menunjuk tanah kosong di sampingnya dan berkata, “Sini, kalian berdua. Aku ingin menanyakan sesuatu.”


“Oi! Sialan kamu. Aku sedang bertanya kepadamu, siapa kamu?”


“Aku adalah kakekmu.”


Wahyu bangkit berdiri.


“Bocah, apa kamu sedang mencari gara-gara dengan kami?”

__ADS_1


Reaksi salah satu anak muda sangat cepat, dia mengangkat botol minuman dan ingin memukul Wahyu. Wahyu langsung menangkapnya dan memukul kepala anak muda itu dengan botol.


Anak muda yang satunya lagi langsung kabur, tapi Wahyu berhasil menjatuhkannya.


__ADS_2