Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Bab 59. Nafsumu Semakin Besar


__ADS_3

Dua orang anak muda tumbang dengan cepat. Wahyu menarik kerah baju mereka dan masuk ke dalam pekarangan. Dia melemparkan kedua anak muda ini ke depan mayat itu.


Walaupun sering melakukan perkelahian, dua orang anak muda ini tidak pernah melihat mayat yang sesungguhnya.


Ditambah kematian dua orang sangat mengenaskan, darah mengalir di sekujur tubuh mereka. Dua anak muda itu langsung kencing di celana, mereka bersiap kabur dari sini.


Wahyu berkata dengan nada dingin, “Sini.”


“Bos, tolong ampuni kami.”


“Bos, kami tidak pernah membunuh orang, tolong ampuni kami.”


Wahyu mengangguk, “Jawab dua pertanyaanku. Setelah itu, kalian boleh pulang.”


“Tanya saja, bos,” ucap seorang anak muda dengan raut wajah tersanjung.


Wahyu lalu memberikan pena dan pensil kepadanya, “Tuliskan jumlah anggota, senjata dan strategi kalian. Setelah itu, kalian boleh pulang.”


“Bos, aku anak baru, aku tidak tahu tentang ini.”


Ekspresi anak muda itu langsung berubah, dia berteriak dengan raut wajah panik, “Aku akan bertarung denganmu.”


Dia mengeluarkan sebilah pisau dari belakang, kemudian menusukkan pisau ke arah perut Wahyu.


“Benar-benar tidak tahu diri.”


Wahyu mengangkat alisnya, kemudian maju ke depan dan merebut pisau di tangan anak muda itu. Dia langsung menusuk perut anak muda dengan pisau, kemudian menarik pisaunya dan membuat darah menyembur keluar.


“Kamu kamu ….”


Anak muda itu menutup perut untuk menekan pendarahan. Sayangnya, tubuhnya mulai tumbang ke tanah dengan perlahan.

__ADS_1


Walaupun tusukan di perut tidak mematikan, dia juga harus diselamatkan secepatnya. Kalau pendarahannya semakin parah, dia tetap akan mati.


Sehingga ketika tertusuk, jangan sampai mencabut pisaunya. Karena ukuran pisau dan luka tusukan sama, sehingga bisa menutup luka dengan baik.


Ketika pisaunya dicabut, orang itu pasti akan mati.


Wahyu sengaja memberikan contoh, sehingga mencabut pisaunya. Setelah berguling dua kali di tanah, anak muda itu pun berhenti dan tidak bergerak lagi. Warna kulit wajahnya pun berubah menjadi pucat, kedua matanya pun tertutup.


“Bos, aku akan menjawabnya. Apa pun yang kamu tanyakan, aku akan menjawabnya.”


Anak muda yang tersisa langsung berlutut di lantai.


“Baiklah! Sekarang, tuliskan jawaban yang aku tanya tadi. Lalu, tuliskan semua kejahatan yang pernah kamu lakukan.”


Wahyu melemparkan pena dan kertas ke hadapannya, anak muda itu langsung mengambil pena dan mulai menulis.


Dia menjelaskan dengan sangat jelas.


Di dalam grup ini juga terdapat penembak jitu, tiga senapan mesin, dua peluncur roket dan belasan senapan mesin ringan, sisanya ada juga pistol dan parang.


Grup ini bertempat di pegunungan sisi barat Desa Sukajadi. Ada sebuah jalan kecil menuju markas mereka, ada dua orang yang berjaga di depan pintu masuk jalan itu. Setelah masuk dan berjalan sekitar lima kilometer, terdapat tiga orang penembak jitu yang bersembunyi di dalam hutan semak belukar.


Ketika ada orang yang ingin naik ke gunung, kedua penjaga di jalan masuk akan membawanya. Tanpa kedua orang itu, penembak jitu akan menarik pelatuknya.


Setelah melewati hutan semak belukar, kita akan melihat sebuah dinding yang dibangun dengan batu. Dua buah senapan mesin berat dipasang di atas dinding batu, seperti sebuah benteng yang dijaga dengan ketat.


Sialan! Mereka sudah sebesar ini!


Wahyu melanjutkan untuk membacanya. Setelah itu, tatapannya menjadi sangat dingin.


Tulisan di bawah adalah riwayat kejahatan yang pernah dilakukan anak muda itu. Walaupun dia tidak pernah membunuh orang, anak muda ini pernah melakukan pemerkosaan beberapa kali terhadap gadis desa.

__ADS_1


Wahyu langsung memukul kepala anak muda itu dengan kuat. Anak muda itu langsung mati mengenaskan tanpa sempat menutup kedua matanya.


Walaupun sudah mati, dia terus menatap Wahyu dengan kedua mata yang terbelalak. Yang artinya, “Bos, bukankah kamu sudah bilang tidak membunuhku?”


Wahyu tersenyum dan berkata, “Kawan, aku tidak pernah berjanji untuk tidak membunuhmu. Aku hanya bilang kalau kamu boleh pulang setelah menjawab pertanyaanku. Sekarang, pulanglah dengan tenang.”


Puft!


Setelah mendengar ucapan Wahyu, mayat itu seolah-olah menghembuskan napas terakhir dan menutup matanya dengan pelan. 


“Wahyu, kamu membunuh orang lagi?”


Setelah Wahyu pergi, Santika terus merasa tidak tenang. Dia menitipkan Willen di ruang kelas, kemudian mengikutinya pulang. Namun, dia tetap terlambat dan melihat Wahyu membunuh orang.


Melihat empat mayat di tanah, Santika bergidik dan menggigil.


Walaupun dia memiliki ilmu bela diri, juga pernah mendengarkan cerita perang. Namun, dia pertama kali melihat pembunuhan. Bahkan empat orang sekaligus.


Hal ini benar-benar meruntuhkan pemahamannya. Hidup dicabut dengan mudah seperti jerami. Seperti bunga yang sudah terjatuh ke bawah tanpa sempat bermekaran.


“Kenapa kamu datang ke sini?”


Wahyu menatap Santika dengan dingin. Santika melangkah ke depan. “Wahyu, kamu tidak boleh membunuh orang lagi. Mulai sekarang, aku akan terus mengikutimu.”


Wahyu menatap Santika dengan tatapan sinis, kemudian berjalan keluar. Pada saat yang sama, Wahyu mengeluarkan ponsel dan menelepon Yitno, “Aku butuh satu helikopter, lokasi Desa Sukajadi, harus sampai sebelum matahari terbenam.”


Terdengar suara Yitno yang terkejut. “Bocah, nafsumu benar-benar semakin besar. Kamu baru saja meminta mobil militer, sekarang mau helikopter lagi. Di mana mobilku? Kamu membawanya ke mana, sialan!”


Wahyu mengetuk ponsel sambil berkata, “Bawel banget kamu, kayak perempuan saja. Kalau tidak mau, ya sudah.”


“Jangan, jangan! Aku masih belum selesai bicara. Aku juga tidak bilang kalau tidak kasih, helikopternya akan sampai sebelum matahari terbenam ….”

__ADS_1


Wahyu sudah memutuskan teleponnya. Dia melihat kertas di tangan, lalu melirik ke empat mayat di pekarangan rumah.


__ADS_2