Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Jangan Biarkan Orang Luar yang Mendapatkan Keuntungan


__ADS_3

Hari yang panas ini membuat air laut menjadi hangat.


  Apakah yang dinamakan dengan puncak kehidupan?


  Inilah yang dinamakan dengan puncak kehidupan.


  Tangan kiri Wahyu menggandeng tangan Monita, tangan kanannya menggandeng tangan Yara, berjalan selangkah demi selangkah menuju ke arah lautan sambil meneteskan air laut yang baru saja menerjangnya.


  Yara sebentar sebentar menoleh ke arah Wahyu, menatap Wahyu dengan penasaran.


  Dia merasa sedikit bingung.


  Ketika dia pertama kali bertemu dengan Wahyu, dia merasa Wahyu seperti seorang playboy, tetapi kemudian dia merasa Wahyu seperti seorang pengangguran, hanya tahu bermain saja.


  Tapi ketika tatapan Wahyu berubah dingin tadi, Yara merasa takut, dia sepertinya mencium bau kematian yang sangat pekat.


  Yang membuat Yara semakin sulit mempercayainya adalah kulit di sekujur tubuh Wahyu sangat halus dan lembut, tingkat kehalusan kulit Wahyu bahkan melebihi dirinya dan Monita.


  Dia juga tidak melihat otot di tubuh Wahyu.


  Tubuh Wahyu membentuk garis yang sempurna tanpa cela, namun justru orang yang seperti ini bisa membuat Henry dengan bobot 100 kg lebih terbang melayang dengan sekali tinjuan.


  Seberapa besar kekuatan yang tersembunyi di dalam tubuh ini?


  “Bocah, bagaimana kamu bisa sekuat itu?”


  Semakin lama Yara semakin penasaran, dia tanpa sadar berbalik lalu mencubit lengan Wahyu dengan menggunakan jarinya yang lentik.


  Terasa sangat lentur, tidak ada otot yang menyembul keluar.


  Hehe.


  “Gadis cantik, jangan menggodaku.”


  Wahyu merasa sedikit terbakar karena dicubit oleh Yara.


  ……


  Setengah jam kemudian, mereka bertiga sampai di atas lautan yang berada sejauh dua kilometer dari bibir pantai.


  Perlahan-lahan muncul gelombang kecil.


  Kemampuan berenang mereka bertiga sangat baik.


  Monita sering pergi berenang.


  Yara menjalankan bisnis di dekat laut, maka dari itu tidak usah disebutkan lagi.


  Mengenai Wahyu, tubuhnya mempunyai kemampuan khusus, ditambah lagi pekerjaannya membutuhkannya, jadi kemampuan berenangnya jauh melampaui kedua wanita cantik itu.


  Wahyu berbaring telentang tiga meter di bawah permukaan air, menjaga tubuhnya agar tetap mengambang di bawah sana, dia tidak tenggelam juga tidak naik ke permukaan, hanya diam berbaring saja.


  Dua wanita cantik yang ada di sampingnya bagaikan dua putri duyung, berenang ke sana kemari dengan sepuasnya.


  Karakter Yara berani dan tidak suka dikekang, gaya berenangnya sangat memikat, terutama saat kedua kakinya yang panjang dan putih bergerak di dalam air, benar-benar membuat jiwanya seperti melayang.


  Monita anggun dan berkelas, biasanya dia sangat serius, tapi hari ini dia menunjukkan sisinya yang lain, santai, bebas dan tidak terikat.


  Kadang-kadang terjadi kontak fisik di antara mereka bertiga, hal itu membuat wahyu berfantasi liar. “Kenapa harus saat sedang musim kemarau, kenapa bukan saat airnya sedang dingin, kenapa kaki wanita cantik itu tidak kram!”


  Jika kedua wanita cantik itu tahu apa yang dia pikirkan, mereka pasti akan sangat kesal.


  Kenapa bisa ada rekan setim yang sebrengsek ini, malah mengharapkan kaki mereka kram.


  Sambil mereka berenang, jarak mereka bertiga perlahan-lahan menjauh, Yara berenang ke laut yang lebih dalam, Monita malah berenang ke samping.


  Wahyu merasa bosan, dia berenang ke atas permukaan laut.

__ADS_1


  Hanya dalam waktu yang sebentar saja, jarak antara Yara dan dirinya sekitar ratusan meter.


  Tiba-tiba saja kondisi Yara terlihat tidak beres.


  Tubuhnya dengan cepat muncul ke permukaan lalu dengan cepat tenggelam kembali, lalu kembali muncul ke permukaan.


  Bagaikan sebuah bola yang ditekan oleh sesuatu, naik dan turun tanpa henti.


  “Shit, jangan-jangan tenggelam? Mana mungkin.”


  Wahyu segera berenang ke arah Yara.”


  Kebetulan dia melihat Yara melambaikan tangannya ke arah Wahyu. “To… tolong, kakiku keram.”


  Sambil berteriak, Yara yang ada di atas permukaan laut sudah menghilang.


  Shit!


  Wahyu segera datang ke tempat Yara menghilang, matanya tiba-tiba mengeluarkan cahaya emas, dia menemukan Yara berbaring tidak bergerak 10 meter di bawah permukaan air.


  Kakinya yang indah terbuka dan wajahnya menghadap ke atas, matanya tertutup rapat, sepertinya dia kehilangan kesadarannya.


  Wahyu segera turun ke bawah dan sampai ke samping Yara.


  Tenggelam itu artinya kekurangan oksigen, Wahyu memutuskan untuk segera memberikan Yara napas buatan.


  Baru saja dia naik ke atasnya untuk memberikan napas buatan, tiba-tiba tangan Yara yang seperti gurita itu langsung memeluk Wahyu.


  Dikerjai!


  Reaksi Wahyu sudah cukup cepat, tapi dia sudah tidak dapat bergerak, di saat yang bersamaan, sinyal kuat yang dikeluarkan Yara dari dalam tubuhnya, membuat Wahyu tidak dapat menghentikan dirinya.


  “Ambillah, ambil segala yang aku punya.”


  Mata Yara yang indah terpejam erat, bulu matanya sedikit bergetar, mengeluarkan sinyal yang sangat kuat…


  ……


  Yara menatap Wahyu sambil tersenyum nakal. “Kamu bukan seorang lelaki.”


  Enak saja!


  Wahyu hampir meledak, tapi jika hanya dalam satu kali pertemuan dia sudah meniduri teman baik kakaknya, Monita pasti akan membunuhnya.


  Tapi mulutnya tetap tidak mau mengaku kalah, Wahyu meluruskan lehernya dan berkata. “Aku adalah seorang lelaki.”


  “Sudahlah, kamu bukan, jika tidak buktikan padaku.”


  Tatapan Yara mengandung tawa, dia segera berenang ke samping Wahyu kemudian menangkapnya.


  Wahyu segera mengelak darinya seperti belut. “Jangan bercanda lagi, aku ingin membicarakan hal yang penting denganmu.”


  Hehe!


  “Masih malu saja, aku hanya bercanda denganmu, masalah apa, katakan saja.”


  Wahyu berkata. “Apakah kamu tadi ingin bunuh diri?”


  Yara menggeleng. “Tidak, aku sedang melepaskan stres.”


  “Caramu melepaskan stres benar-benar istimewa sekali.”


  “Iya, aku juga merasa begitu, saat tekanan yang dirasakan seseorang sudah hampir mencapai batasnya, cara biasa sudah tidak ada gunanya lagi, cara ini cukup berguna.”


  Setelah Yara selesai bicara, dia menambahkan lagi. “Tadi aku benar-benar berterima kasih.”


  Sesungguhnya tadi Yara memang berniat untuk bunuh diri, meskipun kecenderungan ke arah sana tidak begitu besar, tapi dia memang mempunyai pemikiran seperti itu.

__ADS_1


  Tapi pada saat Wahyu memeluknya, keinginannya langsung menghilang, kemudian dia memeluk Wahyu dengan erat, mengeluarkan segala rasa sedih dan tidak terima yang dirasakannya.


  Mereka berdua kembali saling menggoda, setelah itu Wahyu mengalihkan pembicaraan. “Yara, kamu berkata kalau ingin menjual Long Beach Hotel, prosedurnya sudah selesai belum?”


  “Belum, aku baru mempunyai pemikiran ini, masih belum sempat melakukan apapun.”


  “Kalau begitu ini mudah.” Wahyu tertawa dan berkata, “Bagaimanapun kamu ingin menjualnya, jadi lebih baik kamu menjualnya kepadaku saja, jangan biarkan orang luar yang memperoleh keuntungan, jual padaku, aku yang akan merubah kehidupanmu.”


  Yara berkata ambigu. “Boleh, asalkan kamu bersedia, kamu bisa mengambilnya kapanpun kamu mau.”


  Wahyu berkata, “Berapa harganya?”


  “Harga apanya, adik Monita adalah adikku juga, membicarakan uang bisa merusak hubungan.”


  “Tetap saja tidak bisa begitu, bagaimana aku bisa mengambil proyek sebesar ini secara cuma-cuma? Bagaimana kalau 60 triliun?”


  “Kenapa? Kamu benar-benar berencana untuk membelinya?”


  “Kamu kira aku sedang bercanda denganmu?”


  “Baiklah kalau begitu, tapi 60 triliun terlalu banyak, tidak semahal itu, 20 triliun sudah cukup.”


  Wahyu menghentikannya. “Kamu dengarkan aku dulu, aku memberikan 60 triliun dengan sebuah syarat.”


  “Syarat apa?”


  “Kamu tidak boleh berhenti dari pekerjaanmu, mulai saat ini hotel ini bisa dibilang adalah milik kita berdua, aku tidak ada waktu untuk mengurusnya, kamu yang akan mengurusnya, tapi jika terjadi masalah, kamu tidak usah turun tangan, aku yang akan mengurusnya, bagaimana menurutmu?”


  Yara tertawa. “Maksudmu adalah kamu mau menghidupiku?”


  Wahyu menaikkan bibirnya. “Jika kamu ingin berpikir seperti itu juga boleh!”


  “Bocah, kakakmu ini sulit untuk dihidupi.”


  “Hehe, jika aku bisa memeluk sepasang kaki yang indah setiap hari, aku sudah puas.”


  “Sudahlah, jangan bercanda terus, itu 60 triliun!”


  Yara tersenyum.


  Dia tidak menganggap serius perkataan Wahyu, meskipun wahyu adalah adik Monita, tapi Yara mengetahui berapa kira-kira keuntungan tahunan Monita, hampir sama dengan dirinya, dia tidak mungkin menjual seluruh miliknya lalu meminjamkannya pada Wahyu untuk membeli hotelnya.


  Yara menganggap itu hanyalah candaan saja.


  Setelah mereka berdua sampai ke pantai, Wahyu berkata. “Kak, add line aku.”


  “Ok, siapa takut.”


  Ting tong!


  Mereka berdua berhasil menjadi teman.


  Selanjutnya ponsel Yara berbunyi sekali lagi.


  Ting tong!


  Kemudian Yara benar-benar terkejut, dia terheran-heran menatap pesan yang diterimanya. “Anda memperoleh transferan sebesar 60 triliun rupiah.”


  Saat Wahyu melihat wajah Yara yang terkejut, dia tersenyum culas dan berkata, “Kak, mulai saat ini hotel ini adalah milikku, dan juga sepasang kaki putih itu, kamu harus menjaganya dengan baik untukku.”


  Yara berkata kesal. “Apakah kamu sudah merencanakan hal ini sejak awal?”


  “Tentu saja, sebagai pemilikmu, aku mau berkata sesuatu, mulai saat ini segala sesuatu yang ada di tubuhmu adalah milikku, siapa yang berani menyentuhnya, aku akan mencari perhitungan dengannya.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2