
Santika menghentakkan kaki karena kesal, “Cari mati, lepaskan bantalku.”
Ah?
Wahyu menundukkan kepala dan baru sadar ada yang salah. Bantal orang lain yang harum itu diletakkan olehnya di ************, siapa yang tidak marah?!
“Aku akan meletakkannya.”
Wahyu langsung melemparkan bantal tersebut ke lantai.
Astaga, salah lagi.
Ketika bantalnya terjatuh, angin dingin langsung menyelimutinya. Wahyu langsung menarik bantalnya kembali.
“Bajingan, tidak tahu malu, sampah, aku akan membunuhmu.”
Santika benar-benar sangat marah.
Pedang dihunuskan ke kening Wahyu, Wahyu tidak bisa menghindar karena dia menjepit bantal di ************, sehingga tidak bisa bergerak.
Karena kaget, dia langsung mengangkat Token Naga Hitam untuk menahannya.
Tring!
Bahan Token Naga Hitam sangat berbeda, walaupun ditusuk langsung oleh pedang, tapi sama sekali tidak ada goresan dan malah muncul percikan api.
Ketika pedang menusuk Token Naga Hitam, sebuah tenaga yang besar memantulkannya. Pedangnya hampir terbang dari tangan Santika. Santika langsung mundur selangkah dan menatap Wahyu dengan kaget.
Pertama karena tenaga yang dikeluarkan oleh Wahyu, kedua karena barang berwarna hitam di tangan Wahyu.
“Apa yang kamu pegang di tanganmu itu?” tanya Santika.
Wahyu menggosok hidungnya dan berkata, “Sepertinya ini bernama Token Naga Hitam.”
Santika bertanya, “Kamu dapat dari mana?”
Wahyu berkata, “Aku juga tidak tahu, waktu itu aku sedang minum dengan seorang pria tua. Setelah sadar, benda ini sudah berada di tanganku. Tetapi aku sudah menelepon Yitno, sepertinya pria tua yang memberikannya.”
Santika berkata dengan nada dingin, “Ketika pria tua memberikannya, apakah dia mengatakan sesuatu?”
Wahyu menggelengkan kepala, “Tidak.”
Santika menunjuk Wahyu dengan pedang, “Bawa ke sini.”
__ADS_1
Wahyu berkata dengan nada dingin, “Tidak mau, kamu jangan keterlaluan. Bukannya aku tidak bisa melawanmu, kamu kalau memaksaku, aku bisa membunuhmu.”
Santika menyimpan pedang dan menahan amarahnya, lalu berkata, “Aku tidak menginginkan Token Naga Hitam, aku hanya ingin melihatnya sebentar dan akan aku kembalikan. Aku tidak lagi meminta pertanggungjawaban karena tidur di tempat tidurku.”
“Serius?”
“Serius.”
“Baik!”
Wahyu memberikan Token Naga Hitam kepada Santika. Santika menerimanya dan melihatnya sebentar, kemudian dia mengembalikannya kepada Wahyu, Dengan wajah dingin dia berkata, “Kenapa kamu bisa masuk ke kamarku?”
Wahyu berkata, “Aku tidak tahu, setelah sadar aku sudah berada di sini. Aku tidak tahu siapa yang membawaku kesini. Oh iya, di sana ada kertas.” Dia mengambil kertasnya dari meja.
Santika mengambil kertas dan membacanya, garis hitam langsung turun dari kepalanya.
Ini adalah tulisan Nanang, dia langsung bisa menebaknya, seharusnya Ayah angkatnya yang membawa orang ini ke sini.
Santika hanya bisa merasa sedih.
Sepertinya memang salah paham, tapi salah paham yang sangat gila! Tubuhnya yang mulus putih ini dilihat sampai habis oleh bocah ini, mau taruh dimana mukanya ini?
“Ka ka kamu…pakai bajumu sana.”
Santika hampir saja ketawa karena terlalu kesal. Dia berkata, “Coba cari di mesin cuci, seharusnya ada di dalam sana.”
“Oke.” Wahyu berjalan ke arah kamar mandi sambil memegang bantal.
Santika berkata dengan dingin dari belakang, “Jaga baik-baik matamu itu, jangan lihat sana sini.”
Di dalam kamar mandi ada dalaman Santika, Santika sudah bisa membayangkan ketika Wahyu melihat dalaman itu, dia pasti akan mengambil dan menciumnya.
Namun, Wahyu memiliki mata tembus pandang sepertinya tidak akan begitu. Setelah menemukan baju di dalam mesin cuci, entah itu basah atau tidak, dia langsung memakainya. Kemudian memasukkan Token Naga Hitam ke dalam kantongnya, dan berjalan kembali ke kamar tidur dengan bantal tadi.
Saat ini Santika sudah memakai pakaian.
Dia memakai gaun batik yang press badan, kain halus gaun batik yang menempel di badan, membuat tubuh seksi itu menggetarkan hati para pria, sepasang kaki putih terlihat memakai sepatu hak tinggi.
Ini pertama kalinya Wahyu melihat wanita cantik yang dingin sampai maksimal.
Walaupun Santika sudah memaafkan Wahyu, tapi dia tetap tidak menunjukkan wajah ramah. Dia langsung mengusirnya keluar tanpa ragu, “Kamu sudah boleh pergi sekarang.”
Pergi ya pergi, tapi sekarang dia harus pergi ke mana?
Wahyu bertanya dengan sedikit malu, “Kamu punya mobil ngak? Tolong antar aku ke bandara.”
__ADS_1
Santika menggelengkan kepalanya: “Tidak ada, tapi aku punya nomor taksi, kamu boleh menelponnya.”
Boleh juga.
Wahyu berkata, “Oke.”
Setelah beberapa menit, Wahyu mulai menunggu taksi dengan sabar.
Santika juga menelepon seseorang di saat yang sama. Setelah setengah jam kemudian, Nanang muncul bersamaan dengan sebuah mobil taksi tua.
Nanang bertanya kepada Wahyu dengan ekspresi kaget: “Bocah, kamu sudah bangun?” Dia tahu efek Dewa Mabuk sangat besar, jadi dia penasaran dengan kemampuan Wahyu.
Wahyu menunjukkan ekspresi “aku tidak mengenalmu”, dia hanya mengiyakannya. Dia memang tidak ingat Nanang, kalau sampai dia tahu bahwa Nanang juga ikut andil dalam jebakan ini, dia mungkin akan memotong kepala Nanang.
Kalau bukan Nanang tidak mengeluarkan pakaian Wahyu dari mesin cuci, dia juga tidak perlu membuat lelucon sebesar ini.
Namun, Wahyu tidak terlalu menolak lelucon seperti ini, malahan dia berharap bisa bertemu lagi lain kali. Sekarang kalau diingat lagi, pas di kamar mandi tadi pagi, ucapannya sangat keren,“Halo, cantik, selamat pagi!”
Lalu ketika Santika masuk ke dalam mobil BMW berwarna putih dengan santai, Wahyu langsung merasa kesal. Katanya ngak punya mobil? Terus, itu apa?
Santika punya mobil sendiri, kenapa dia bilang tidak ada. Dia malah menyuruhnya mencari taksi sendiri, keterlaluan.
Santika tidak mempedulikan Wahyu sama sekali. Dia masuk ke dalam BMW dan pergi dari sini.
Wahyu menunjuk Santika dengan kesal, kemudian masuk ke dalam taksi dan menyuruh supirnya untuk jalan.
Setelah hampir 1 jam kemudian, mereka sampai di bandara Soekarno-Hatta. Wahyu mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya.
Kalau Nanang melihatnya, pasti akan sangat kaget.
Semalam dia sudah melepaskan semua pakaian Wahyu sampai telanjang bulat. Selain ada hp di badan Wahyu, bahkan satu batang korek api saja tidak ada. Ketika pakaiannya dimasukkan ke dalam mesin cuci, Nanang juga sudah mengeceknya, sakunya lebih bersih dari pantat bayi.
Sejak kapan tiba-tiba ada sebuah kartu?
Sayangnya Nanang tidak berada di sini.
Supir taksi melihat meterannya, “Nak, kita sudah sampai. Total 136.000”
Oh!
Wahyu memberikan 200.000 kepadanya.
Supir taksinya merasa bingung, “Nak, total 136.000, ini kebanyakan.”
Wahyu berkata, “Maaf, tidak ada uang kecil, kembaliannya simpan saja.” Kemudian, dia membuka pintu mobil dan berjalan keluar.
__ADS_1