
“Pria brutal.”
Santika bangkit berdiri, dia langsung menutup mulut dan berlari keluar setelah melihat mayat yang mati mengenaskan itu.
Setelah membunuh dua orang, emosi Wahyu menjadi lebih tenang. Dia kembali ke dalam rumah, lalu berjalan ke belakang kursi untuk melepaskan ikatan di kaki gadis itu, Wahyu pun berkata, “Siapa namamu? Namaku Wahyu, temannya Wira.”
Namun, dia tidak menjawab.
Melihat ke layar monitor, Wahyu melihat sebuah game yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Gadis ini terlihat melihat layar monitor dengan kedua mata yang redup, kedua tangannya juga sibuk mengetik di keyboard tanpa mempedulikan suara Wahyu.
Wahyu belajar cara membunuh orang, lalu dia juga harus mempelajari psikologi. Setelah melihat tatapan gadis ini, kemudian memperhatikan permainan yang ada di layar komputer, dia langsung merasa ada yang salah.
Tekanan dalam waktu lama menyebabkan autisme pada gadis ini, dia menutup diri ke dalam game di layar monitor.
“Adik, aku adalah temannya Wira, siapa namamu?”
“Adik ….”
Wahyu terus memanggilnya dari samping, tetapi si gadis tetap tidak bergerak.
Wahyu terpaksa mengeluarkan ponsel, setelah memeriksa sinyal, walaupun sedikit lemah, tetap bisa digunakan. Dia membuka whatsapp untuk melakukan panggilan video.
Setelah sesaat, di layar ponsel muncul seseorang dengan rambut berantakan yang sedang makan permen. Ketika melihat Wahyu, dia langsung membuang permen di mulut dan bertanya, “Bos, di mana kamu sekarang? Kamu tidak apa-apa, ‘kan?”
Wahyu menggelengkan kepala, “Kawan, maafkan kakak, kakak datang terlambat.”
Wira terkejut, suaranya juga ikut bergetar hebat. “Bos, adikku ….”
Wahyu melambaikan tangannya. “Tenang saja, adikmu tidak apa-apa, hanya saja dia mengalami sedikit gangguan mental. Sepertinya tidak terlalu parah, aku membutuhkanmu untuk menyadarkannya.”
__ADS_1
Berdasarkan analisis Wahyu, ketika Wira pergi dari rumah, kondisi adiknya masih normal. Autisme tidak disebabkan dalam waktu singkat, penyakit ini membutuhkan waktu yang lama.
Ketika Wira pergi, adiknya sudah hampir dewasa, sehingga kemungkinan dia terjangkit autisme sangat kecil, seharusnya tidak terlalu parah.
Namun sekarang, tiba-tiba sinyal ponsel menghilang, Wahyu yang kesal hampir saja melemparkan ponselnya.
Untungnya, Wira adalah raja komputer, tidak tahu cara apa yang digunakannya, dia bisa memperkuat sinyal ponsel. Namun, sinyalnya tidak sekuat yang tadi, sehingga tidak bisa melakukan panggilan video, dia hanya mengirimkan sebuah pesan. “Bos, ini bukan salahmu. Adikku memiliki kesadaran ketika terkena autism, kamu bisa menggunakan tiga kata ini untuk menyadarkannya. Ketiga kata itu adalah, Wira, bocah, berani.”
Setelah melihat pesannya, Wahyu meletakkan ponselnya. Dia memegang kedua pipi gadis itu dan memaksanya untuk tidak melihat layar komputer, setelah mereka saling bertatapan, Wahyu baru berkata, “Wira, bocah, berani.”
Dia tidak berhasil pada percobaan pertama.
Percobaan kedua, kedua mata gadis kecil ini mulai bersinar.
Percobaan ketiga, dia mulai mengikuti Wahyu. “Wira, bocah, berani.”
Setelah itu, tatapan gadis tiba-tiba menjadi cerah, dia menatap wahyu dengan ekspresi kaget. Wahyu tahu kesempatan ini tidak boleh dilewatkan, dia segera berkata, “Dengarkan aku, aku adalah Wahyu, teman kakakmu, Wira. Aku datang menyelamatkanmu.”
Gadis kecil ini bergumam sendiri, tiba-tiba dia memeluk Wahyu dan mulai menangis dengan kencang.
Wahyu juga berkeringat dingin, kalau saja gadis ini tidak bisa kembali seperti semula, bagaimana dengan Wira, bagaimana dengan dirinya?
Setelah menangis selama lima menit, gadis kecil ini baru berhenti dan melepaskan diri dari pelukan Wahyu. Dia menatap Wahyu dan tersipu malu. “Namaku Wini, terima kasih kakak telah menyelamatkanku. Bagaimana dengan kondisi kakakku?”
Wahyu terus mengangguk, “Baik, baik, aku akan menyuruhnya untuk berbicara denganmu.”
Wahyu kembali melihat ponselnya, Wira yang genius berhasil memperkuat sinyal ponselnya.
Ketika panggilan video tersambung, kakak dan adik ini pun menangis bersama.
__ADS_1
Wahyu memberikan ponsel kepada Wira, kemudian berjalan keluar dari rumah dengan tatapan yang dingin.
5 menit kemudian, dari dalam rumah terdengar suara Wini. “Kak Wahyu, masuklah, kami sudah seleai berbicara.”
Wahyu masuk ke dalam, lalu mengambil kembali ponselnya. Dia berkata kepada Wira, “Wira, tarik Pak Tua sialan ke dalam panggilan video ini.”
Pak Tua sialan yang dimaksud Wahyu adalah Penguasa Agung Keluarga Hutomo.
Wahyu juga tidak tahu berapa umur Pak Tua itu, dia hanya terus memanggilnya Pak Tua sialan.
Mendengar ucapan Wahyu, Wira sangat senang sekaligus terkejut. “Bos, kakak, Wira akan bersujud kepadamu. Terima kasih, terima kasih kakak.”
Dia tahu apa yang ingin dilakukan oleh Wahyu, Wahyu ingin meminta obat dari Pak Tua itu. Pak Tua yang angkuh jarang mengobati orang lain, bahkan orang dari Sang Penakluk Dunia juga tidak boleh.
Selain para petinggi yang hampir mati, Pak Tua baru akan mengobati mereka. Menyuruh Pak Tua sialan untuk mengobati orang yang tidak dikenalnya, hal itu tidak mungkin terjadi.
Wira segera menyambungkan panggilan video Pak Tua, setelah sesaat, muncul seseorang yang membuat orang kesal di layar ponsel.
Pak Tua terlihat sangat berantakan!
Pakaiannya terlihat seperti seorang pengemis, rambutnya lebih berantakan dari Wira, dia tidak tahu sudah berapa hari tidak mandi. Namun, ada sebuah tempat yang sangat unik, jenggotnya.
Jenggotnya sangat putih dan panjang, bahkan lebih indah dari jenggot Jenderal perang di masa lalu.
Melihat Wahyu, Pak Tua berkata dengan tatapan dingin, “Bocah, apa kamu sudah mengumpulkan tanaman herbal yang aku minta?”
Khuk khuk!
Wahyu tentu saja sudah melupakan hal itu, dia langsung berkata, “Aku sedang mengumpulkannya, apa kamu tidak melihat aku sedang di mana sekarang? Demi tanaman herbalmu itu, aku hampir saja dibawa pergi oleh tanah longsor.”
__ADS_1
“Aku ingin meminta tolong, coba lihat adik kecil di sampingku ini, berikan obat untuknya. Dia kekurangan darah dan aura di tubuhnya, kondisi polio juga membuat tubuhnya bermasalah.”
“Tidak bisa,” ucap Pak Tua dengan kejam.