
Wahyu berjalan ke belakang dan membuka bagasi mobil.
Yitno sudah menyiapkan sepeda lipat untuknya.
Namun, Wahyu bingung ketika melihat dua buah sepeda lipat, lalu ada sebuah tas besar yang sepertinya berisi pakaian.
Wahyu tidak memperhatikannya, dia langsung menutup bagai dan masuk ke dalam mobil.
Santika memasukkan kunci, kemudian duduk di kursi sebelah pengemudi.
Ketika masuk ke dalam mobil, Wahyu berkata sambil terkekeh, “Wanita yang cantik, saya sangat bangga bisa menyetir untuk Anda, Anda ingin pergi ke mana?”
Santika menjawab dengan nada dingin, “Terserah.”
“Kamu sendiri yang bilang, ‘kan? Kalau begitu, jangan salahkan aku.”
Wahyu tersenyum jahat dan langsung membawa mobil pergi dari sini. Setelah 20 menit, dia berhenti di depan sebuah hotel.
Santika yang waspada langsung bertanya, “Apa yang ingin kamu lakukan?”
Wahyu berkata, “Kamu meninggalkan kunci di rumah dan tidak bisa masuk, apa yang bisa aku lakukan? Apakah kita harus tidur di pinggir jalan?”
Setelah melontarkan ucapannya, dia langsung masuk ke dalam lobi.
Seorang anak muda berdiri di depan meja resepsionis, ketika melihat Wahyu membawa seorang wanita cantik, dia langsung menyambutnya sambil tersenyum. “Bos tampan, ingin buka kamar? Silahkan kartu identitasnya.”
Setelah Wahyu mengangguk, tiba-tiba di tangannya bertambah segepok uang senilai dua juta. Dia segera memberikan uang itu kepada pelayan hotel.
Pelayan pun tersenyum dan menunjukkan ekspresi penuh pengertian. Dia tidak meminta kartu identitas dan segera kembali ke meja resepsionis.
__ADS_1
Santika yang baru berjalan masuk melihat Wahyu tidak berbicara, dia langsung berkata, “Dua kamar standar single.”
Pelayan membungkuk dan menjawab, “Maaf nona, kamar single sudah penuh.”
Santika mengerutkan keningnya, “Kalau begitu, dua kamar double standar.”
Pelayan pun membungkuk kembali, “Maaf nona, kamar double juga hanya tersisa satu kamar saja.”
Santika melirik ke arah Wahyu, Wahyu segera menjawab, “Ya sudah satu kamar saja. Tenang saja, aku tidak akan mengganggumu. Santika, bayar.”
Setelah itu, dia langsung berjalan ke arah tangga.
Setelah berpikir sebentar, Santika ternyata tidak menolak. Dia membayar biaya kamar dan mengikuti pelayan naik ke atas.
Di koridor tangga berdiri dua orang pelayan wanita. Ketika melihat Wahyu dan Santika, mereka segera datang menyambutnya. Pelayan tadi segera memberikan kode kepada dua orang pelayan wanita ini, kedua orang ini juga langsung mengerti. Mereka membawa Wahyu dan Santika ke sebuah kamar standar dengan ranjang besar.
Setelah pelayan keluar, Wahyu segera mengitari kamar. Dia merasa lebih tenang ketika menyadari tidak ada hal yang aneh.
Wahyu juga takut kamera tersembunyi yang dipasang oleh hotel.
Untungnya hotel ini adalah sebuah hotel yang aman.
Setelah selesai memeriksa, Wahyu berkata kepada Santika, “Kamu mandi dulu, aku keluar sebentar.”
Wahyu pun keluar dari kamar setelah berbicara.
Dia kembali ke mobil dan membuka pintu bagasi. Setelah melihat dengan fokus, dia akhirnya melihat jelas barang di dalam tas besar itu.
“Apa wanita itu ingin pergi denganku?”
__ADS_1
Di dalam tas terdapat beberapa pakaian olahraga ketat yang digunakan atlet untuk bertanding.
Wahyu tertegun beberapa detik di depan bagasi. Setelah itu, dia menutup mobil dan berjalan ke jalan raya.
20 menit kemudian, Wahyu sampai di sebuah toko pakaian dalam wanita, dia membeli dua set baju tidur dan beberapa pakaian dalam wanita. Setelah itu, dia pergi ke toko barang serba guna. Wahyu membeli tas hitam, tisu khusus wanita dan beberapa barang kebutuhan harian. Ibu penjaga toko menatap Wahyu dengan tatapan tidak percaya.
Ketika Wahyu pulang, waktu telah menunjukkan 11.30.
Santika bengong di atas ranjang.
Ini pertama kali dia tidur bersama dalam satu ruangan dengan seorang pria.
Walaupun Wahyu pernah tidur di rumahnya, Santika tidak berada di rumah. Sekarang mereka berada dalam satu ruangan dan tidur satu ranjang, bagaimanapun, Santika tidak akan bisa tertidur.
Bagaimana dia bisa tidur? Dia bahkan tidak punya baju tidur, apa dia harus tidur telanjang? Apa dia tidak perlu mandi?
Ketika Santika sedang tertegun, Wahyu pun berjalan masuk. “Hai! Wanita cantik, ini baju tidurmu. Aku membeli dua set karena tidak tahu kamu menyukai tipe seperti apa.”
Baju tidur berwarna merah muda dan merah gelap terbang ke arah Santika, dia langsung menangkap keduanya dengan cepat.
Wahyu berkata sambil tersenyum, “Tidak perlu berterima kasih, karena kamu sudah mentraktirku tadi, jadi impas.”
“Huh! Siapa yang ingin berterima kasih?”
Santika bergumam dan masuk ke dalam kamar mandi, dari belakang masih terdengar suara Wahyu, “Aku sarankan kamu jangan mandi air dingin, kalau tidak kamu akan tahu akibatnya nanti.”
“Aku mau mandi air dingin, bukan urusanmu!”
Santika langsung membanting pintu kamar mandi.
__ADS_1
“Aduh! Benar-benar wanita yang tidak tahu diri.”
Wahyu menghela napas, dia menggunakan belanjaan sebagai bantal dan tidur di atas sofa.