
Sekitar pukul sembilan lewat setengah jam, Wahyu sampai di jalan Bahagia nomor 108.
Wahyu melihat sebuah bangunan lantai dua dengan pekarangan kecil di depannya. Namun, kondisi rumah terlihat gelap dari luar, pintu utama juga terkunci dan tidak ada orang di dalam rumah.
Apakah orangnya sudah tidur?
Setelah mengetuk pintu beberapa kali dan tidak mendengar jawaban dari dalam, Wahyu terpaksa mengeluarkan ponsel dan menghubungi Santika.
“Santika, di mana kamu sekarang?”
“Siapa kamu?”
“Aku Wahyu.”
“Siapa Wahyu? Aku tidak kenal.”
Gadis ini terlihat sangat kesal.
Wahyu membelalakkan kedua mata dengan kesal. “Aku adalah pacarmu, aku sedang di depan rumahmu sekarang.”
Santika menjawab, “Sekitar 100 meter ke arah utara, kamu akan melihat sebuah restoran barbeku.”
Wahyu berjalan sekitar 100 meter ke arah utara, dia lalu melihat sebuah mobil militer offroad terparkir di pinggir jalan.
Yitno menjalankan tugas dengan baik kali ini, mobil militer itu sudah dimodifikasi. Selain sasis yang tinggi, goresan pada ban juga sangat dalam, mobil seperti ini sangat cocok untuk digunakan di jalan berlumpur atau untuk mendaki.
Setelah menghampiri mobilnya, Wahyu tidak menemukan kunci mobil di dalam. Dia mengerutkan kening dan bergumam dalam hati, ‘Gadis sialan, apa yang dilakukan dia dengan mobil pinjamanku ini?’
Wahyu yang kesal pun menendang ban mobil, dia lalu melihat sebuah restoran kecil yang berada tidak jauh dari mobil ini.
Lampu di dalamnya sangat terang, ada seorang wanita cantik yang duduk di dekat jendela, orang itu adalah Santika yang sedang makan. Dia selalu melirik ke arah mobil militer setiap beberapa saat.
__ADS_1
Padahal dia sudah melihat Wahyu, tapi tetap berpura-pura tidak melihatnya dan melanjutkan menyantap makanannya.
Wahyu juga sedang kelaparan, dia segera meletakkan sepeda di pinggir jalan, kemudian berjalan masuk ke dalam restoran. Wahyu lalu berkata, “Santika, di mana kunci mobil?”
Santika mengangkat kepala, dia menatap Wahyu dengan raut wajah bengong. “Kunci mobil apa?”
“Kunci mobilku di depan sana.”
“Mobilmu? Apa tertulis namamu di atas sana?”
Wanita ini benar-benar mengesalkan.
Wahyu juga tidak berdaya, dia melanjutkan, “Santika, aku juga malas mempedulikanmu, tapi lebih baik dengarkan aku, di sini bukan seperti kota Jakarta. Apa kamu tidak takut terjadi sesuatu karena keluar sendiri di malam hari? Coba lihat orang-orang di sekitarmu.”
Wahyu tidak sedang menakuti Santika.
Santika benar-benar sangat cantik, ditambah sikap angkuh, dia membuat pria memiliki hasrat untuk menaklukkannya.
Pakaian Santika hari ini juga sedikit unik.
Dia memakai celana jins pendek yang berbulu, sehingga paha mulus yang putih itu terpampang. Atasannya sebuah rompi dengan kerah yang rendah, sehingga dada yang mulus juga akan terlihat ketika dia menunduk.
Wahyu berdiri di samping Santika, dia bisa mengintip dari celah baju karena lebih tinggi.
“Dasar preman.”
Melihat tatapan genit Wahyu, Santika segera menutup dada dan berkata, “Sudah makan?”
Aneh, kenapa wanita ini bisa memperhatikan diriku?
Namun, Wahyu memang sudah lapar, dia duduk di seberang Santika. “Belum, hari ini kamu yang traktir.”
__ADS_1
Setelah itu, dia mulai mengambil makanan di depan dan menyantapnya.
Suasana hati Wahyu menjadi lebih baik, dia melihat ke Santika dan bertanya, “Apa yang terjadi? Seharusnya kamu tidak akan berada di sini pada jam segini, bukan?”
Santika hanya menjawab Wahyu dengan tatapan sinis, kemudian kembali menunduk untuk makan.
“Wanita ini perlu diberi pelajaran.”
Semakin Santika bersikap dingin, Wahyu semakin penasaran dan ingin mempermainkannya. Dia tiba-tiba berteriak, “Santika, di bawah itu ada apa? Cepat lihat.”
Ketika Santika menunduk, bagian dada yang mulus kembali terlihat. Wahyu tertawa terbahak-bahak.
Kamu … sampah.
Santika yang kesal ingin mencekik Wahyu.
Namun, sebelum dia marah, Wahyu kembali mengubah topik pembicaraan, “Sudah sudah, kita harus serius, kenapa kamu bisa berada di sini?”
Kamu ….
Santika menahan diri, dia lalu menjawab dengan ekspresi masam, “Bukan urusanmu. Aku ketinggalan kunci di rumah.”
Wahyu tersenyum jahat, “Kamu hebat juga, ketinggalan kunci di rumah, kenapa kamu tidak meninggalkan paha mulus ini di rumah juga?”
“Lagian dengan kemampuanmu, jangan bilang kalau dinding tiga meter itu sanggup menahanmu, bukan? Kenapa kamu tidak langsung meloncat ke dalam?”
“Dasar bodoh, kunci pintu utama tertinggal di dalam, semua jendela juga tertutup. Namun karena kamu datang, kamu harus memikirkan cara.”
Kali ini gantian ekspresi Wahyu yang menjadi masam.
Walaupun Santika bukan anak kandung Abraham, dia tetap anaknya. Abraham memiliki kekuasaan yang besar, memiliki aset properti yang berada di seluruh dunia dan bisa disebut sebagai orang super kaya.
__ADS_1
“Pulang dari kantor setelah lembur, aku baru menyadari ketinggalan kunci di rumah. Karena lapar, aku mencari tempat makan dulu.”