Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Dia Pacarku


__ADS_3

Wahyu masih tidak ingin pergi, kedua pramugari langsung menariknya kembali ke tempatnya.


Setelah sesaat, wanita cantik itu keluar dari toilet dengan wajah kesal. Dia mengayunkan tinju kepada Wahyu dari belakang, “Dasar bajingan, jangan sampai jatuh ke tanganku.”


Akhirnya, selama penerbangan itu, wanita cantik ini tidak pernah muncul lagi.



Surabaya.


Matahari sudah melewati garis tengah dan mulai bergerak ke arah barat, sekarang sudah jam 12 siang.


Hotel Surabaya, di sebuah aula yang luas dan mewah.


Total ada belasan meja dan 80 lebih tamu.


Tidak semuanya adalah teman sekolah Monita. Temannya hanya sekitar 60 orang, sisanya adalah keluarga tamu, suami, tunangan, istri ataupun pacar.


Waktu menunjukkan pukul 12.30 dan acara masih belum dimulai, ada yang sudah kelaparan dan tidak tahan. Akhirnya, ada yang menyarankan, “Yara, kak Mon, kita sudah harus mulai. Kita tidak boleh membiarkan semuanya ikut kelaparan hanya demi menunggu Santika seorang kan?”


“Iya, Yara, kak Mon, Santika orangnya acuh tak acuh, dia bukan orang yang satu jalan dengan kita. Tidak masalah kalau kurang dia seorang, ayo kita mulai.”


“Iya, wanita yang begitu cantik, tapi tidak ada lelaki yang menyukainya, sayang sekali.”


Semuanya mulai berbicara sana sini.


Monita hanya menggelengkan kepala, “Jaga baik-baik mulut kalian, kita tunggu sebentar lagi, dia akan segera sampai. Kalian juga tahu, di dalam kelas, aku, Yara dan Santika punya hubungan yang paling baik. Kami tidak mungkin meninggalkannya.”


“Yara, sini bentar.”


Selesai bicara, Monita menarik baju Yara dan berjalan ke depan pintu. Monita bertanya, “Yara, apa yang terjadi?”


Yara juga bingung, “Aku mana tahu, semalam aku memberitahunya dan dia bilang tidak masalah, kenapa sekarang belum sampai? Lalu, mana pria ganteng itu? Kenapa juga belum datang?”


Monita menjawab, “Seharusnya sudah mau sampai. Gini saja, kita telepon mereka lagi.”


Yara langsung menjawab, “Oke, aku telepon Wahyu dan kamu telepon Santika.”


Mereka mulai mengeluarkan hp dan menelepon.


__ADS_1


 


Bandara Juanda, Surabaya, Wahyu dan Santika jalan keluar bersamaan. Ketika keluar bandara, telepon mereka berdering di waktu yang sama.


Wahyu melihat layarnya dan mengangkatnya,“Halo! Paha putih, aku segera tiba.”


Lalu Yara menjawab dengan nada dingin, “Aku kasih tahu ya, kalau kamu terlambat datang, paha putihmu akan menjadi milik orang lain.”


“Jangan dong, aku segera sampai.”


Wahyu langsung berlari ke arah taksi.


Santika juga sama, terdengar suara Monita yang berkata, “San, kok masih belum sampai?”


Santika langsung menjawab, “Kak, tunggu bentar, aku terlambat karena sesuatu. Sekarang aku sudah turun pesawat dan akan segera tiba.” Setelah menutup teleponnya, dia berlari ke arah depan, “Oi, tunggu aku.”


Taksi yang dia panggil sama dengan taksi yang dipanggil oleh Wahyu. Wahyu sudah masuk ke dalam, dan bersiap untuk pergi. Pada akhirnya dia menyerah dan berkata,“Tunggu dia.”


“Terima kasih, Hotel Surabaya.”kata Santika begitu masuk ke dalam mobil.


Wahyu berkata, “2 kata itu bisa keluar dari mulutmu? Tidak perlu terima kasih.”


Wahyu terdiam.


Sepanjang jalan, Wahyu dan Santika tidak berbicara. Ketika sampai di hotel Surabaya, mereka berdua turun dari mobil dan merasa bingung. Mereka sama-sama bertanya, “Kamu juga datang ke sini?”


Wahyu sedikit marah, datang ke tempat yang sama, tapi wanita ini malah tidak memberitahunya, juga tidak membelikan tiket untuknya, bahkan mobil saja tidak boleh ditumpangi.


Saat dia ingin memarahi Santika, tiba-tiba dari jauh terdengar suara orang berteriak, “Wahyu, Santika, kok kalian bisa datang bareng?”


Monita dan Yara yang sudah menunggu dengan panik, keluar untuk menjemput mereka dan menatap dengan ekspresi penasaran.


Raut wajah Wahyu langsung berubah, kenapa bisa datang bareng? Mana kutahu, pokoknya sudah datang bareng. Dia melihat ke arah Santika, wajah Santika dingin seperti bongkahan es, dia tidak berbicara sama sekali, seketika suasananya menjadi sangat canggung.


Yara mengedipkan matanya, “Sudahlah sudahlah, malas juga tanya kalian. Cepat, semuanya sudah lama menunggu.” Dia menarik tangan keduanya dan masuk ke dalam lift. Lalu, muncul di aula yang besar dan mewah tadi.


“Semuanya, semuanya tenang dulu, ada yang mau akuperkenalkan.”


Yara menggandeng 2 orang, sedangkan Monita mengikuti dari belakang. Saat mereka berempat sampai di tengah aula, Yara berteriak, “Kalau Santika tidak perlu kita kenalkan lagi, sekarang kita perkenalkan pria ganteng ini.”


“Dia, pacarku.”

__ADS_1


Dor!


Seluruh aula menjadi heboh.


Monita, Yara, dan juga Santika saling menatap satu sama lain. Wajah mereka seketika menjadi merah.


Wahyu juga kaget sampai hampir terjatuh ke lantai. Apa yang terjadi, drama seperti apa ini? Apakah mereka bertiga sudah berdiskusi dan ingin mempermainkanku?


Karena ucapan yang terakhir itu dikatakan bersamaan oleh Monita, Yara dan juga Santika, “Dia pacarku.”


Berita ini membuat seluruh aula menjadi heboh.


“Apa yang terjadi? Monita punya pacar? Kok ngak pernah dengar?”


“Astaga, orang sedingin Santika juga bisa punya pacar?”


“Apa yang terjadi dengan Yara, bukannya dia bilang kalau ada orang luar negeri yang akan datang melamarnya?”


“Sialan, walaupun bocah itu terlihat sedikit ganteng, tapi lihat saja penampilannya itu, dia jelas-jelas sampah tidak berguna.”


“Iya, kenapa 3 wanita cantik ini bisa jatuh hati kepada sampah ini?”


Seketika suasana aula menjadi sangat heboh.


Yara, Monita dan Santika ingin sekali mencari lubang dan bersembunyi di dalamnya sekarang. Mereka saling menatap satu sama lain dengan wajah canggung.


Wahyu juga termasuk pintar, tapi dia tidak bisa menjelaskannya. Dia bisa mengerti kalau Monita berkata seperti itu, Yara juga berkata begitu karena menggunakan dirinya sebagai tameng. Tapi, kenapa Santika berkata seperti itu?


Apa dia sedang minta maaf atas kesalahannya? Tapi sama sekali tidak mirip!


Untung dia bereaksi dengan cepat, melihat suasananya tidak benar, dia langsung berkata, “Haha, semuanya, ini adalah acara pertama yang dibawakan oleh 3 wanita cantik ini. Bercanda doang kok. Sekarang reuni resmi dimulai, semuanya silakan duduk.”


Ucapannya itu berhasil menyelamatkan 3 wanita cantik dan membuat semua orang tertawa dan melupakannya.


Monita dan yang lain juga duduk, tapi kursi mereka sudah disiapkan duluan.


Karena tahu Santika akan datang, dan para pria tidak bisa menahan aura dinginnya, jadi tidak ada pria yang duduk di sini.


Saat Wahyu dan 3 wanita cantik itu duduk, di meja itu hanya Wahyu satu-satunya pria.


Monita dan Yara duduk berdekatan, Yara duduk di samping Wahyu, lalu Santika duduk di samping Wahyu yang satu lagi.

__ADS_1


__ADS_2