
Arghh…
Pemuda itu mungkin mati pun benar-benar tidak menyangka.
Kaki meja sangat tebal, tidak tajam seperti pisau, bagaimana bisa menembus perutnya?
Tangan kanan Wahyu menahan kaki meja yang dilayangkan kepadanya, kemudian maju dan muncul di belakang orang itu, setelah itu dia memegang kaki meja yang tiba-tiba muncul dari balik punggung orang itu dan menusukannya sekuat tenaga, kaki meja terlempar keluar dari tubuh orang itu.
Tapi dari perut sampai punggung orang itu ada lubang yang menganga, sangat mengerikan.
Tapi dia sama sekali tidak kesepian, temannya datang dengan cepat.
Wahyu tidak berhenti, dia membawa kaki mejanya lalu mengayunkan kaki mejanya dengan sangat keras ke belakang kepala pemuda yang satu lagi.
Bugh!
Pemuda itu roboh tanpa sempat mengatakan apapun.
2 nyawa, tadi masih baik-baik saja, dalam sekejap sudah menemui ajalnya.
Kedua kaki Hanna terasa lemas, dia hampir jatuh ke lantai, dia mana pernah melihat hal yang seperti ini, karena itu dia segera keluar secara diam-diam dengan gemetar lalu masuk ke Lamborghininya untuk melarikan diri.
Segera setelah dia masuk ke dalam Lamborghininya, pemuda ketiga sudah berbaring di dalam genangan darah.
Setelah Hanna pergi, Faisal berdiri perlahan-lahan dari atas kursinya, dia meraba pinggang belakangnya untuk mengeluarkan sebuah pistol. Dia berjalan ke depan sambil tertawa mengejek, kemudian mengangkat tangannya untuk menembak.
Keahlian menembaknya sangat akurat, hasil latihan selama bertahun-tahun, tidak bisa dibilang akurat 100 persen, tapi 9 dari 10 bidikannya tidak pernah meleset, terdengar suara letusan tembakan, pelurunya melesat cepat ke punggung Wahyu.
Selanjutnya terdengar jerit kesakitan.
Tapi yang tertembak bukan Wahyu, seorang pemuda secara mengejutkan muncul di belakang Wahyu, menggantikan Wahyu menerima peluru itu.
Faisal tidak mengerti apa yang terjadi, matanya tiba-tiba buram, dia menggerakkan jarinya lagi, peluru meluncur kembali, akan tetapi pemandangan selanjutnya membuat dia benar-benar terkejut.
Kembali terdengar jeritan kesakitan, tapi yang jatuh tetap bukan Wahyu.
Faisal menembakkan pelurunya berulang kali, 5 orang pemuda jatuh di atas genangan darah, dari belasan orang, dalam seketika hanya 5 orang yang tersisa.
5 orang yang tersisa ketakutan setengah mati, mereka melarikan diri sambil berteriak ketakutan, bahkan meninggalkan mobilnya di sana.
“Huh! Kali ini aku mau lihat siapa lagi yang akan kamu jadikan tameng.”
__ADS_1
Ekspresi Faisal terlihat dingin, dia berulang kali menarik pelatuknya, peluru bagaikan lebah yang keluar dari dalam sarang.
Kali ini tidak ada orang yang menggantikan Wahyu untuk menghadang peluru, namun gerakan Wahyu sangat cepat, dia bagaikan ilusi yang tidak nyata, melesat ke depan seperti busur, dalam sekejap mata sampai di hadapan Faisal.
Karena jaraknya terlalu dekat, pistolnya tidak berguna lagi. Selain itu, pistol Faisal kebetulan sudah kehabisan peluru, dia tidak punya waktu untuk mengisinya kembali. Dia menunduk, lalu dengan secepat kilat mengeluarkan tendangan ke arah Wahyu.
“Reaksimu lumayan, tapi kecepatan dan tenagamu masih sangat kurang.”
Wahyu tersenyum dingin lalu menunduk dan mengeluarkan tendangan juga, kaki mereka berdua bertemu di udara, “krek” tulang betis Faisal langsung patah, tubuhnya melayang keluar bagaikan plastik kain.
“Kamu adalah orang pertama yang berani menggunakan senjata dan menyerangku secara diam-diam.
Wahyu menundukkan tubuhnya lalu memungut senjata yang dilemparkan Faisal ke atas tanah, di dalamnya sudah tidak ada peluru lagi, Wahyu memegang moncong pistol itu dengan tangannya lalu berjalan ke hadapan Faisal, dia memutar-mutarkan pistol itu lalu menghantamkannya ke kepala Faisal dan membuat sebuah lubang di sana, darah mengalir keluar dari kepalanya.
“Ampuni aku.”
Saat Wahyu mengangkat pistol untuk yang ke 2 kalinya, Faisal langsung berlutut di atas tanah.
Sudah menyerah!
Tidak mungkin tidak menyerah, Faisal dapat melihat kalau saat membunuh orang Wahyu tidak berkedip sama sekali, dia pasti akan membunuhnya.
Bugh!
Wahyu menghantamkan pistol itu kepala Faisal, langsung membuat sampah ini pingsan, setelah itu barulah dia menoleh.
Yang datang adalah Laila dan juga kakak keempatnya Sabrina yang tadi baru berpisah dengannya.
Mereka berdua datangnya benar-benar tepat waktu, jika terlambat 1 menit saja, mungkin Faisal sudah bertemu dengan malaikat maut.
Kenapa mereka bisa datang kemari?
Setelah Wahyu pergi, Laila sangat gembira, dia menelepon saudara-saudaranya satu per satu, ketika dia bertanya kepada Ningrum, Ningrum berkata kalau Wahyu tidak meneleponnya, bahkan dia juga memberitahu Laila soal PK yang dilakukannya tadi pagi.
Kepekaannya sebagai seorang polisi membuat Laila segera mengaitkan hal itu dengan Wahyu, kemudian dia teringat akan insiden berdarah yang disebabkan oleh perselisihan di antara host itu, terutama Hanna, Hanna sangat populer, penggemarnya sangat banyak, diantaranya ada banyak anak orang kaya, orang-orang ini berani melakukan apapun.
Namun saat dia mencari Wahyu lagi, Wahyu sudah tidak bisa ditemukan, dia terpaksa menelepon Sabrina, untung saja mobil Sabrina dipasangi GPS, mereka berdua bergegas datang kemari dan dapat menyelamatkan Faisal tepat waktu.
“Cepat pergi.”
__ADS_1
Laila melihat Faisal yang berbaring di atas tanah, lalu melihat mayat-mayat yang bergelimpangan di atas tanah, hatinya gemetar, dia dan Sabrina tanpa banyak bicara langsung membawa Wahyu pergi dari sana lalu memasukkannya ke BMW yang dikendarai Laila, Sabrina mengendarai Lamborghininya lalu sosok mereka bertiga menghilang dari sana.
Mereka bertiga tidak kembali ke rumah Monita karena takut bertemu dengan Monita, jadi mereka pulang ke rumah Sabrina lalu memarkirkan kedua mobil itu di dalam garasi basement, setelah berada di rumah, barulah mereka menghela napas lega.
Kemudian kedua gadis cantik itu memeriksa seluruh tubuh Wahyu. “Bocah, kamu tidak apa-apa, bukan?”
Setiap orang tua pasti akan berusaha melindungi anaknya.
Di pihak sana ada 7 orang yang mati dan 1 orang terluka parah, namun mereka tidak perduli sama sekali, mereka malah memutari Wahyu dan memeriksanya.
Wahyu tersenyum pahit dan berkata, “Tidak apa-apa, tubuhku sangat kuat.”
Laila diam-diam menghela napas lega. “Tubuhmu memang cukup kuat, tapi masalah datang, apa kamu tahu yang tadi kamu pukul itu siapa?”
“Siapa?”
“Faisal Hutomo, di Indonesia ada berapa banyak orang yang mempunyai nama belakang Hutomo, kamu pasti sudah bisa menebak identitasnya, bukan?”
Wahyu menggeleng.“ Keluarga Hutomo? Aku benar-benar tidak tahu.”
“Kamu benar-benar membuatku kesal.”
Laila menghentakkan kakinya dengan kesal. “Keluarga Hutomo adalah salah satu keluarga orang kaya lama di Indonesia, meskipun kamu berpikir dengan dengkulmu pun kamu seharusnya sudah bisa mengingatnya.”
“Maksudmu dia adalah keluarga Hutomo yang itu?”
“Akhirnya kamu sadar juga, dia bukan hanya anggota keluarga Hutomo, dia juga adalah keturunan langsung dari Yuda Hutomo, cucu kandung, jadi masalahmu sangat besar. Selain itu apakah kamu tahu orang yang ingin aku kenalkan padamu itu siapa? Dia adalah paman dari Faisal, kamu sudah memukul Faisal sampai menjadi seperti itu, apa dia masih mau membantumu? Takutnya 10 menit kemudian surat perintah penangkapan sudah dikeluarkan.”
Sial!
Wahyu memukul dahinya. “Aku mana tahu hal ini? Akan tetapi karena dia adalah keluarga Hutomo, hal ini menjadi mudah diatasi, kita tidak perlu mengurusnya, mereka sendiri yang akan membuat masalah ini selesai sampai di sini.”
Laila dan Sabrina bertanya secara bersamaan. “Kenapa?”
Wahyu tertawa dan berkata, “Coba kalian pikir, keluarga Hutomo itu siapa? Jika sampai terseret dalam kasus pembunuhan, bagaimana cara mereka mengatasinya? Selain itu hal ini dimulai karena Hanna, Hanna adalah artis yang saat ini sedang naik daun, sama dengan kakak ketujuh. Begitu hal ini tersebar keluar, nama baik Hanna akan jatuh, perusahaan mereka juga tidak akan mengizinkan hal ini terjadi. Karena itulah! Tidak peduli dilihat dari sisi mana pun, kita tidak perlu mencemaskan hal ini, ayo ayo ayo, kita bertiga tidak mudah untuk bisa bertemu seperti ini, ayo kita pergi minum-minum.”
“Minggir sana, dasar manusia yang tidak punya hati.”
Laila dan Sabrina memarahinya, namun mereka berdua diam-diam merasa sangat terkejut, tidak peduli kehebatannya dalam bertarung maupun jalan pikirannya, bocah yang berada di hadapan mereka ini sangat jauh melebihi mereka.
Dia dapat menganalisa hal ini dengan sangat sempurna dan masuk akal.
__ADS_1