
Sejak Wahyu memeluk Yara dengan erat saat itu, perasaan aneh di dalam hati Yara pun mencapai puncaknya. Untuk pertama kalinya, ketidaktahuan yang paling primitif dan kebutuhan yang paling mendesak muncul.
Entah apakah ini adalah kelainan psikologi atau bukan, saat tahu dirinya akan menikah dengan orang yang tidak dicintainya, dia ingin sekali memberikan dirinya kepada orang yang dicintainya ini.
Membuat sikapnya sedikit tidak wajar, bahkan kehilangan akal sehat.
Wahyu merasakan sikap Yara yang tidak wajar, tapi dia tidak boleh menceritakannya. Kalau dia menceritakan kejadiannya dengan Santika, kemungkinan besar Santika akan mengulitinya hidup-hidup.
Dia terpaksa menahan diri dan berkata, “Kalau kamu ngak memberitahuku kamu cemburu atau tidak, aku ngak akan memberitahumu bagaimana kami saling kenal.”
“Ngak mau, kamu yakin ngak mau bilang?”kata Yara sambil menggigit bibir dan mencubit paha Wahyu seperti tadi.
Nona, siapa suruh kamu pegang?
Wahyu langsung menangkap tangan Yara dan diarahkan ke wortel yang sudah disiapkan tadi.
Astaga…
Yara langsung menggigil.
Seolah-olah memegang sesuatu, telapak lembut itu seolah menyentuh sesuatu yang sangat panas, dia mencoba menariknya kembali, tapi Wahyu memegangnya dengan erat. Wajahnya sangat merah karena malu, dia bingung dan tidak berani berteriak. Dia menghentakkan kaki karena marah dan tangan satunya lagi langsung mencubit Wahyu dengan kuat.
Wahyu juga tidak mempedulikannya, dia tertawa dengan lantang, “Siapa suruh kamu pegang, aku tidak mau lepas.”
Mereka berdua terdiam seperti ini selama 2 menit, setelah itu barulah Wahyu melepaskannya dan lanjut makan.
“Bajingan.”
Yara langsung menarik tangannya kembali, detak jantungnya terdengar begitu cepat. Melihat tidak ada yang melihat dirinya, dia baru merasa lega.
Namun, setelah sesaat, Yara merasa ada yang salah.
Wanita ini memang pintar, kalau tidak, mana mungkin dia bisa tetap menjaga kesuciannya sampai detik ini?
“Eh, ada yang ngak bener?” Dia melihat Wahyu yang duduk di sampingnya. Bocah ini masih bisa makan dan minum dengan enak.
“Ngak.”
Semakin dipikir semakin tidak benar. Yara berpikir, kalau barang milik pria digenggam seperti tadi, mana mungkin masih bisa bersikap santai?
Ada yang tidak beres di sini.
Yara sengaja menjatuhkan sumpit ke lantai dan berpura-pura mengambil sumpitnya. Kemudian dia menunduk dan berusaha melihatnya.
Ternyata, posisi yang dipegang tadi tidak benar, bukan posisi tengah, barang apa itu?
Yara memasukkan tangan kecilnya ke dalam saku Wahyu…
__ADS_1
Sialan!
Wahyu, dasar sialan kamu.
Mata Yara langsung menghitam.
Ternyata barang yang hampir membuatnya kaget setengah mati adalah sebatang wortel.
Bajingan! Kenapa ada bajingan sejahat ini di dunia.
Yara hampir saja muntah darah.
Namun, dia tidak mengatakannya, saat ini dia sedang menunduk ke bawah, dan tiba-tiba dia mendapatkan sebuah ide. Dia mengulurkan tangan melewati Wahyu dan sampai di paha Santika, kemudian dia mencubit paha Santika dengan pelan dan langsung berdiri kembali.
Wahyu duduk di antara Santika dan Yara, jadi Santika tidak bisa melihat pergerakan Yara. Karena pahanya tiba-tiba sakit, dia langsung berpikir negatif.
Dia merasa Wahyu sedang mempermainkannya, jadi dia langsung menginjak kaki Wahyu.
Ahh!
Wahyu kena telak.
Dia sama sekali tidak bersiap.
Sepatu hak tinggi yang tajam dan tipis itu langsung menusuk kakinya, membuat Wahyu sakit setengah mati. Dia melepaskan sumpit di tangan dan mencubit paha Santika dengan kuat.
“Sialan, berani ya kamu mencubitku.”
“Kamu yang mempermainkanku duluan.”
“Kamu yang menginjak dulu.”
Mereka langsung ribut.
Namun, mereka tidak berani ribut dengan keras di hadapan banyak orang. Melainkan, menundukkan kepala dan ribut dengan suara kecil, mereka saling mencubit satu sama lain, seperti sedang pacaran.
Gerakan mereka tidak berlebihan, tapi orang-orang di satu meja itu tidak mungkin tidak sadar. Teman yang duduk di samping Santika menatapnya dengan aneh, “San, ngapain kamu?”
Ekspresi Santika langsung menjadi tegang, dia berkata, “Ngak kenapa-napa kok, aku digigit anjing tadi, lagi garuk saja.”
“Kamu yang anjing, semua keluargamu anjing.”
Wahyu yang kesal sekali lagi mengulurkan tangan ke arah Santika.
Karena ada yang berbicara, Monita juga memperhatikan mereka. Ketika dia menoleh ke arah sini, pas sekali dia melihat gerakan Wahyu yang tidak benar, “Wahyu, ngapain kamu?”
Wahyu kaget, “Kak, tanganku gatal, pengen kugerakin saja.”
__ADS_1
“Wahyu, ke sini kamu, ganti tempat denganku.”
Monita benar-benar tidak berdaya, adiknya ini benar-benar sangat hebat. Setiap kali melihat wanita cantik, dia harus mencubitnya satu per satu.
Lelucon ini akhirnya berhenti. Yara tertawa dengan senang karena itu. Semua yang hadir makan dengan senang di aula ini.
Awalnya tidak ada masalah lagi.
Siapa sangka ketika acaranya akan selesai, sesuatu kembali terjadi.
Setelah semuanya merasa kenyang, lalu berdiri dan ingin mencari tempat lain untuk bersenang-senang, tiba-tiba terdengar suara melodi yang indah.
Suara itu datang dari luar pintu, kemudian pintu aula dibuka. 2 wanita cantik berjalan masuk sambil memegang bunga di tangan mereka. Mereka juga mendorong kereta, dan di atasnya terdapat kue besar yang berwarna warni.
Di belakang kereta ada 2 baris pelayan dalam setelan jas dan sepatu kulit yang sedang memegang berbagai alat musik di tangan mereka.
Di antara para pelayan, ada seorang pria muda dengan wajah arogan dan pakaian formal, dengan bunga kecil di dadanya berjalan masuk sambil bertepuk tangan.
“Yang akan datang pasti akan datang juga!”
Melihat pria dengan wajah arogan berjalan masuk ke aula, Yara pelan-pelan berdiri dengan tubuh yang sudah kaku.
Ini adalah hal yang diceritakan oleh ahli strategi kepada Wahyu.
Yara sejak kecil memiliki hubungan pernikahan dengan keluarga Lazuardi, tapi karena dirinya tidak menyukai Andre Lazuardi, jadi dia tidak mau mengakuinya. Karena kejadian ini, dia bertengkar dengan keluarganya dan kabur dari rumah, kemudian membangun bisnis sendiri.
Namun, tangan kecil tidak bisa melawan raksasa, beberapa hari lalu dia mendapatkan pemberitahuan dari keluarganya. Dia diwajibkan untuk menikah dengan Andre. Kalau tidak, Yara akan dikeluarkan dari keluarga mereka.
Karena beberapa alasan, Yara terpaksa menahan air mata dan menyetujuinya.
Itu juga alasan dia ingin bunuh diri di Laut Baya waktu itu.
“Tenang saja, sudah kubilang, biar aku yang mengubah kehidupanmu ini.”
Ketika Yara sedang merasa linglung, sebuah tangan besar merangkul pinggangnya dan menahan Yara agar berdiri tegak. Kemudian berjalan keluar dengan tenang.
Di saat yang sama, aula perjamuan juga mulai heboh.
Semua teman-teman pernah mendengar tentang pertunangan Yara.
Melihat Andre dan aura yang dipancarkan oleh Andre, sebuah aura mendominasi yang kuat seketika membuat semuanya heboh.
“Astaga, inikah kekuatan 4 keluarga besar di Indonesia?”
“Kuat sekali, dia Andre Lazuardi?”
“Ganteng banget!”
__ADS_1
“Aku sangat iri dengan Yara, bisa mendapatkan suami yang ganteng dan juga kaya.”
“Kasihan si bocah itu, masih ingin menikmati sesuatu di luar kemampuannya. Emang dia bisa dibandingkan dengan 4 keluarga besar?”