Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Bab 46. Monita Ingin Memberikan Perusahaan Kepada Wahyu


__ADS_3

Wahyu menyuruh Salma tidak usah bekerja lagi, tapi Salma hanya memutarkan bola mata dan berkata, “Kalau tidak kerja, aku mau makan apa?”


“Aku akan menghidupimu, aku punya uang.”


“Sudahlah, kakak pertama sudah menceritakannya kepadaku bahwa kamu menjadi orang kaya baru. Tapi, kamu tidak boleh menghabiskan uangnya, karena kamu perlu menikah, punya anak dan membayar biaya sekolah anak. Semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.”


“Kakak masih muda, masih bisa bekerja beberapa tahun lagi.”


“Kakak, kamu jangan bekerja lagi, aku tidak berharap kamu bertemu dengan orang sepertiku lagi. Hari itu, aku memiliki maksud lain dan bukan benar-benar ingin menggodamu, tapi aku tidak ingin kamu bertemu sampah seperti itu.”


“Kamu adalah kakakku, aku punya tanggung jawab dan kemampuan untuk menghidupimu. Lagian pak tua sudah bilang kalau kalian semua adalah istriku, jadi wajar saja kalau aku menghidupi kalian semua.”


“Tidak bisa juga, kalau kamu menikahi kami bertujuh, kamu akan tidur di kamar siapa? Siapa pun yang kamu tiduri, yang lain pasti akan sedih.”


“Kak, aku bisa membangun rumah yang besar dan memasang ranjang yang besar.”


“Hehe, bukankah kamu akan kecapean?” ucap Salma sambil tersenyum manis.


Karena kecantikannya yang luar biasa, satu senyuman dari Salma bisa membuat semua pria jatuh cinta. Senyuman yang terlihat menggoda itu membuat napas pria mana pun menjadi semakin cepat.


Karena terlalu bersemangat, Wahyu segera memeluk Salma dan mendorongnya ke dinding.


“Wahyu ….”


Salma berusaha melawan, tapi tubuhnya tidak bisa dikendalikan dengan baik. Pelukan mereka semakin erat.


Melihat situasi yang mulai tak terkendali, tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara Laila, “Wahyu, kakak ketiga, aku sudah pulang.”

__ADS_1


Wahyu dan Salma segera melepaskan diri. Saat ini, rambut Salma terlihat berantakan, dia berlari ke kamar mandi dengan wajah yang memerah.


Laila membawa pulang daging lima kilo, ketika melihat Salma tidak ada, dia menatap tajam ke Wahyu dan berkata, “Bocah, apa kamu menggoda kakak ketiga lagi?”


“Kakak kelima, apa aku orang seperti itu? Kenapa aku harus menggodanya? Kalian semua adalah istriku, aku hanya perlu mendatangi kalian kalau perlu.”


“Pergi sana,” teriak Laila yang marah.


Melihat Laila tidak curiga, Wahyu menghela napas lega dan membuka televisi.


Setelah sesaat, Sabrian juga pulang dengan mi di tangannya. Dia juga membeli ayam bakar, satu ekor ikan dan juga dua botol Lafite tahun 82.


Diikuti Monita yang juga baru pulang, dia pun bertanya ketika berada di pekarangan luar, “Kenapa di depan sana ada satu sepeda? Siapa yang membawanya?”


Wahyu segera menjawab, “Aku.”


“Kakak, aku ada urusan lain dua hari ini, jadi aku perlu menggunakan sepedanya.”


“Kamu bisa memakai mobilku dan mobil kakak yang lain, kenapa harus membawa sepeda? Cepat pulangkan sepedanya.”


“Kakak, kita makan saja dulu. Setelah itu, aku akan menjelaskannya.”


Wahyu merasa kalau beberapa kakaknya pasti tidak akan bisa makan kalau tahu dia mau pergi jauh, sehingga dia tidak menjelaskannya sekarang.


Dengan kelincahan empat orang wanita cantik ini, mereka menyajikan masakan yang enak dalam satu jam. Lima orang ini mulai mencicipi Lafite dan menyantap makanannya. Setelah itu, mereka kembali membicarakan Wahyu.


Monita berkata, “Adik ketiga, adik keempat dan kelima. Coba kalian dengarkan pendapatku ini.”

__ADS_1


Sabrina berkata sambil tersenyum, “Kakak pertama, kamu tidak perlu mengatakannya, karena aku sudah tahu. Apa kamu ingin memberikan perusahaan kepada Wahyu?”


“Kita berdua memiliki pemikiran yang sama, aku juga ingin memberikan rumah sakit kepada Wahyu. Wanita memiliki banyak kelemahan dalam berbisnis, sehingga membutuhkan pria dalam beberapa hal. Lagian, kita juga sudah lelah dan waktunya untuk istirahat.”


Monita tersenyum dan berkata, “Benar tebakanmu! Aku memang memiliki maksud itu, bagaimana menurut Salma dan Laila?”


Salma dan Laila pun mengangkat tangan. “Kami juga setuju! Kita tidak bisa membiarkan bocah ini tidak ada kerjaan setiap hari, kita harus mengikatnya dengan pekerjaan agar tidak membuat masalah.”


Wahyu segera mengayunkan tangan dan berkata, “Tidak bisa! Perusahaan dan rumah sakit itu adalah hasil kerja keras kalian, aku tidak boleh mengambilnya.”


“Lagian, kalau kalian memberikan perusahaan dan rumah sakit kepadaku, apa yang akan kalian lakukan?”


Monita tersenyum dan berkata, “Kami tidak bilang kalau tidak ingin mengurusnya lagi. Setelah perusahaan dan rumah sakit menjadi milikmu, kamu bisa menjadi Direktur Utama di balik layar. Kamu hanya perlu muncul ketika ada urusan penting, selain itu, aku dan adik keempat yang akan menjadi CEO untuk membantu operasional perusahaan.”


Wahyu berkata, “Baiklah kalau begitu, tapi aku punya satu syarat.”


Sabrina lalu bertanya, “Apa syaratnya?”


Wahyu melihat ke arah Laila, kemudian melihat Salma dan berkata, “Kalau ingin aku menjadi Direktur Utama, maka aku juga menyarankan kakak yang lain juga harus ikut serta dalam perusahaan.”


“Perusahaan ini akan menjadi milik bersama, sehingga kita bisa mendapatkan uang bersama.”


“Ternyata kamu punya hati nurani juga, tapi aku dan Sabrina sudah membicarakan hal ini dengan mereka, tapi mereka tidak setuju.”


Laila pun berkata, “Aku bisa menjadi saksi, kakak pertama sudah menceritakan hal ini kepadaku. Namun, aku masih tidak ingin bergabung dengan perusahaan, aku tetap ingin menjadi polisi saja.”


Salma juga berdiri, “Aku juga tidak setuju, aku ingin menjadi pramugari selama beberapa tahun lagi.”

__ADS_1


__ADS_2