
Wahyu sedang menikmati dua buah pemandangan indah yang tersaji di hadapannya.
Pakaian renang kedua wanita cantik itu berwarna merah gelap, semakin menunjukkan kecantikan mereka.
Baju renang itu sangat serasi untuk mereka, warna merah yang menakjubkan sangat kontras jika dipadukan dengan kaki yang seputih salju, cerah tapi sama sekali tidak norak.
“Benar-benar cantik tiada taranya.”
Wahyu menelan ludah, hatinya bergetar. “Dari tadi aku hanya sibuk menikmati pemandangan wanita cantik, hampir saja lupa hal yang penting.”
Dia bangkit berdiri dan berjalan menuju kedua wanita cantik itu.
Tadi Yara berencana untuk menjual hotelnya, Wahyu sedikit tertarik.
Jika Sang Penakluk Dunia ingin berkembang di dalam negeri, maka harus secepat mungkin menunjukkan kekuatannya, jika harus membebaskan lahan dulu lalu membangunnya, kemudian menarik lini produksi, dia tidak tahu harus sampai kapan baru bisa selesai.
Jadi yang terbaik adalah membeli dan mengakuisisi beberapa perusahaan, sekalian membangun jaringan ekonominya sendiri.
Wahyu ingin membeli Long Beach Hotel dan membuat franchise nya di dalam negeri.
sambil berjalan, Wahyu mengeluarkan ponselnya, dia memencet serangkaian nomor telepon yang sangat panjang.
Terdengar jawaban dari seberang sana. “Bos.”
Wahyu berkata, “Aku butuh informasi tentang Yara Permadi, bos Long beach Hotel yang ada di Surabaya, semakin detail semakin baik.”
“Baik bos.”
Dua menit kemudian, ponsel Wahyu berbunyi, dari seberang sana terdengar suara yang seperti mesin. “Yara Permadi, pewaris dari salah satu keluarga dari empat keluarga paling berpengaruh di Indonesia. Desainer pakaian profesional, bahkan mahir mendesain perhiasan, dia adalah Desainer pakaian dan perhiasan terkenal di dalam negeri. Karakternya berani dan tidak suka dikekang sekaligus sentimental, dia sangat setia kawan. Pernah bertunangan dengan pewaris dari keluarga Lazuardi yang juga merupakan salah satu dari empat keluarga berpengaruh di Indonesia, tapi karena tidak menyukai karakter dari keluarga Lazuardi, pernikahan mereka sampai sekarang masih belum dilaksanakan… karena ibunya bukan istri sah, dia dikucilkan oleh saudara-saudaranya yang lain, setelah lulus keluar dari rumah dan membangun bisnisnya sendiri, karena karakternya yang mudah bergaul, bisnisnya berkembang dengan sangat cepat. Dikarenakan wajahnya yang cantik, banyak pria yang tertarik padanya, tapi sampai saat ini belum ada pria yang bisa mendapatkan perhatiannya. Keuntungan dari Long Beach Hotel sangat baik, ruang lingkup bisnisnya termasuk pantai laut Baya dengan pasir yang berwarna keemasan itu, keuntungan tahunan melebihi ratusan miliar…”
“Sudah cukup!”
Wahyu mematikan teleponnya lalu berjalan cepat ke arah belakang dua wanita cantik itu.
Monita dan Yara benar-benar sangat cantik.
Kecantikan Monita adalah kecantikan yang elegan dan berkelas, Yara terkenal dengan karakternya yang mudah bergaul, dia sangat menarik dan seksi, seluruh tubuhnya seperti memancarkan api yang berkobar, membuat orang-orang tidak dapat berhenti memandangnya.
Bukan hanya Wahyu saja yang tertarik, orang lain juga tertarik kepada mereka.
Tepat Ketika Wahyu sampai di belakang kedua wanita cantik itu, dari arah samping datang satu orang asing.
Badannya tinggi besar.
Wahyu sudah cukup tinggi, orang asing ini masih lebih tinggi lagi dibandingkan Wahyu, sekitar 1.9 meter, selain itu dia juga sangat berotot, seluruh otot di tubuhnya menyembul keluar, kulitnya agak sedikit hitam, sekali lihat sudah bisa tahu kalau dia sangat kuat.
“Halo!”
Orang asing itu menyapa Monita dan Yara, Yara menoleh dan tersenyum. “Halo, Henry.”
Orang asing itu berkata, “Yara sayang, bagaimana dengan saran yang aku berikan?”
Yara berkata, “Maaf, aku tidak tertarik.” Setelah berkata seperti itu, dia berpaling dan pergi dari sana.
__ADS_1
Orang asing itu berkata, “Yara sayang, kamu akan menyesal, jangan pergi, kita diskusikan dulu.”
Sambil berbicara, orang asing itu maju, ingin menarik tangan Yara.
Wahyu langsung bergeser ke belakang Yara, tangan orang asing yang sedang memegang tangan Yara itu ditahan oleh Wahyu. Wahyu tersenyum mengejek. “Brother, kamu benar-benar menyebalkan, dia tidak menyukaimu, kenapa masih terus mengganggunya?”
Orang asing itu menunjuk Wahyu dengan jarinya. “Apa hubunganmu dan Yara?”
Wahyu tertawa. “Aku adalah pacarnya.”
Orang asing itu tertegun. “Tidak mungkin, Yara tidak mempunyai pacar, aku ingin berduel denganmu.”
Setelah berkata seperti itu, dia langsung ingin memukul Wahyu.
Saat Monita dan Yara melihat situasinya memanas, mereka segera membujuk Wahyu.
Yara berkata, “Wahyu, orang ini adalah runner up di kejuaraan dunia Eurasia tahun ini, kamu tidak akan bisa menang melawannya.”
Monita berkata, “Wahyu, dia adalah orang asing, kita harus bersikap ramah terhadap orang asing.”
Wahyu terkekeh, hanya seorang runner up, jika aku berkata pemenangnya adalah Sonny dari Sang Penakluk Dunia apakah kalian akan percaya?
Sedangkan Sonny sama sekali bukan tandingannya Wahyu.
Mengenai bersikap ramah.
Hehe! Maaf.
Di dalam kamus Wahyu tidak ada kata ini, apa itu ramah? Saat dia berada di Amerika, tidak pernah ada orang yang bersikap ramah terhadapnya.
Tidak ada yang tahu berapa banyak penderitaan yang sudah dilaluinya.
Siapa yang bisa merasakan perasaan seseorang yang berada di dalam air dengan suhu minus 30 derajat hanya demi menunggu untuk membunuh seseorang?
Siapa yang bisa merasakan perasaan seseorang yang berada di gurun yang tak berujung dan tidak tidur selama tujuh hari tujuh malam demi membunuh seseorang?
Siapa yang pernah merasakan penderitaan bertahan selama 28 hari di dalam hutan yang dipenuhi dengan ular beracun dan binatang buas yang berkeliaran.
Jadi bagi Wahyu sikap bersahabat hanya ditujukan pada situasi memiliki kedudukan yang setara, sedangkan sikap bersahabat yang ditunjukkan pada orang yang kedudukannya jauh di bawahnya, hanyalah rasa kasihan dan simbol mutualisme saja.
Akan tetapi Wahyu menatap pasir keemasan yang ada di hadapannya ini, akhirnya dia tidak melakukannya, karena hal itu akan membawa masalah bagi Yara.
“Kita pergi.”
Wahyu tersenyum simpul lalu berbalik dan berjalan ke depan.
Begitu Henry melihat Wahyu tidak menerima tantangannya, dia mengulurkan jempol kanannya lalu membalikkannya ke bawah, kemudian berkata meremehkan. “Kamu tidak mampu.”
“Apa yang barusan kamu katakan?”
Wahyu yang sudah berjalan menjauh tiba-tiba berbalik, tatapannya seketika berubah dingin, bibirnya menyunggingkan senyuman dingin.
“Wahyu, jangan memedulikan dia.”
__ADS_1
Yara kaget melihat aura membunuh yang dikeluarkan oleh Wahyu, dia mengulurkan tangannya untuk menahan Wahyu.
Dia menahan pergelangan tangan Wahyu, tapi dia seolah-olah sedang memegang sebatang pegas yang sebesar lengan yang membuat tangannya terpental dengan sangat cepat.
Wahyu bergeser ke depan Henry. “Apa yang baru saja kamu katakan?”
“Kamu tidak mampu.”
“Cari mati.”
Monita dan Yara tidak melihat Wahyu bertindak, saat mereka bergegas menghampirinya, semua sudah terlambat.
Henry bagaikan sebuah boneka kain yang terbang ke langit, terbang setinggi lebih dari dua meter, kemudian jatuh dengan suara yang keras di atas pasir.
Orang itu memiliki bobot seberat 110 kg, membuat pasir membentuk sebuah lubang berbentuk manusia.
Begitu ditinju oleh Wahyu, hampir saja dagunya hancur tidak berbentuk.
Wahyu melangkah maju dan menginjak leher Henry. “Minta maaf padaku.”
“Aku tidak mau, kamu menyerangku secara diam-diam.”
Aku menyerangmu secara diam-diam!
Wahyu mengayunkan tangannya lalu menamparnya.
Plak!
Gigi belakang Henry terbang keluar.
“Minta maaf.”
“Aku tidak mau.”
“Dasar brengsek, kamu kira aku tidak berani membunuhmu.”
Wahyu menginjak dengan lebih keras, Henry langsung mengeluarkan teriakan kesakitan, tulang rusuknya mengeluarkan bunyi tulang patah, dia langsung buang air kecil. “Aku minta maaf, ampuni aku.”
“Bagus, bagus sekali.”
“Matikan dia, orang asing berani mencari masalah di Indonesia.”
Di pantai masih ada orang, cukup banyak orang yang mendekat untuk melihat pertunjukan, melihat Wahyu memukul orang asing itu, seketika banyak orang yang mendukung wahyu.
Yara berkata dengan cemas. “Wahyu, jangan membunuh orang, jika benar-benar terjadi sesuatu, bisnis kita akan terkena imbasnya.”
“Baiklah!”
Apa yang Yara katakan benar juga, dia mengangkat kakinya lalu berkata dingin. “Enyahlah dari sini, jangan sampai aku melihatmu lagi di sini.” kemudian Wahyu menarik tangan Monita dan Yara lalu pergi dari sana.
“Kamu…”
Orang asing itu menunjuk punggung Wahyu, berniat untuk memakinya, tapi dia tidak berani melakukannya.
__ADS_1