
Kondisi velg mobil telah berubah bentuk karena benturan keras, bahkan terdapat lubang-lubang besar di velg itu.
Santika yang turun dari mobil langsung muntah.
Mata tidak bisa digunakan untuk membunuh, kalau tidak, Wahyu sudah dibunuh ratusan kali oleh tatapan Santika.
Setelah muntah hampir lima menit, Santika baru menunjuk ke Wahyu dan berteriak, “Kamu kamu … kenapa kamu menghancurkan mobil ini? Tidak tahu malu, liar, tidak tahu diri.”
Kelopak mata Wahyu terus berkedut, dia berpikir, ‘Kenapa? Bukankah aku melakukannya demi kamu? Kamu masih memarahiku, sepertinya harus diberi pelajaran.’
Wahyu akhirnya mengerti dengan Santika.
Wanita ini sangat polos dan terus terang, dia memiliki sikap keras kepala sehingga tidak ada orang yang menyukai sifatnya ini.
‘Santika, kamu tidak boleh terus bersikap seperti ini, sepertinya aku harus mengajarimu.’
Kedua bola mata Wahyu terlihat berputar, dia lalu berkata sambil tersenyum, “Santika, aku terlalu buru-buru tadi, tapi aku juga terpaksa. Kamu lihat jalan gunung yang masih jauh, lalu kondisi cuaca yang tidak menentu, sangat berbahaya kalau kita tidak berhasil keluar hari ini.”
Wahyu tersenyum sambil menjelaskan, kemudian mengeluarkan kedua sepeda lipat. Ketika Santika tidak memperhatikan, Wahyu langsung menaikkan posisi tempat duduk menjadi lebih tinggi.
Penambahan ketinggian 10 cm akan membuat Santika yang memiliki tinggi 170 cm menderita nanti.
Santika juga tidak bodoh, setelah selesai ganti baju dan mengangkat semua barang bawaannya, dia langsung menyadarinya ketika naik ke atas sepeda.
Biasanya posisi tempat duduk sangat enak, tapi hari ini, dia harus berjinjit agar dapat menyentuh pedalnya.
Ketika dia ingin turun membetulkan posisi sepeda, Wahyu yang sedang ganti baju tiba-tiba berbicara, “Aduh, aku lupa kalau kamu lebih pendek. Sini sini sini, aku turunin dulu posisi tempat duduknya.”
Santika memiliki sifat angkuh dan harga diri yang tinggi, sehingga Wahyu dengan gampang dapat memprovokasinya. Dia lalu berkata, “Huh! Siapa yang bilang aku pendek.”
__ADS_1
Setelah mendengus, Santika langsung naik ke atas sepeda dan melaju ke depan.
Dia memiliki tubuh yang sangat indah, ditambah bokong wanita akan segera bergoyang ketika mengayuh sepeda. Wahyu yang berada di belakang merasa sangat senang.
Puas sekali!
Wahyu berteriak senang dalam hati, dia terus memperhatikan goyangan bokong dari belakang. Setelah sesaat, dia tiba-tiba teringat sesuatu. Wahyu langsung mengeluarkan ponsel, untungnya masih ada sinyal, dia langsung menelepon Sabrina. “Kakak, aku sudah sampai. Tenang saja, tempat ini tidak sesulit yang kalian katakan, lingkungannya tidak buruk.”
“Oh iya, sinyal ponsel di sini tidak terlalu baik, jadi terkadang aku tidak bisa menelepon kalian, jadi jangan terlalu khawatir denganku.”
Wahyu segera memutuskan telepon karena takut salah bicara, setelah itu dia langsung melaju ke arah Santika.
Ramalan cuaca sekarang sangat akurat, ditambah kondisi cuaca pegunungan juga terus berubah.
Setelah berjalan sekitar 20 km, langit berubah.
Awan mendung tiba-tiba menyelimuti langit di atas mereka.
Karena posisi tempat duduk yang tidak benar, Santika harus menggunakan sekuat tenaga untuk menginjak pedalnya, kalau sebentar saja tentu tidak masalah.
Kondisi sepeda yang melewati pegunungan membuat sepeda naik turun, sehingga bagian paha dalam harus terus bergesekan dengan tempat duduk sepedanya.
Ditambah cuaca yang panas, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup. Setengah jam kemudian, sebuah bekas merah terlihat di paha dalamnya dan membuat Santika kesakitan.
Wahyu sialan.
Dada montok Santika terus naik turun, dia sangat ingin memukul Wahyu.
Namun, dia harus menjaga kebanggaan dan harga dirinya, kedua hal ini benar-benar bisa merenggut nyawa seseorang. Walaupun sangat marah, Santika harus menjaga harga diri dan tidak mau mengalah.
__ADS_1
“Harusnya sudah cukup!”
Wahyu yang terus mengikuti dari belakang memiliki gambaran tertentu di dalam benaknya.
Paha Santika pasti sudah terluka, bagaimana kalau dia menyuruhku untuk mengoleskan obat? Apakah aku harus setuju atau setuju?
Haha!
Wahyu tersenyum dengan genit, melihat cuaca yang mulai berubah, dia menambah kecepatan dan datang ke samping Santika. Dia langsung memegang tangan Santika dan melaju ke depan.
“Lepaskan aku, lepaskan aku.”
Santika terus memberontak, tapi karena tenaga Wahyu lebih besar, setelah beberapa kali, dia pun membiarkan Wahyu menariknya.
Suara gemericik air hujan mulai terdengar.
Bahkan kondisi langit terlihat sangat gelap.
Mereka masih berjarak sekitar 80 km dari Desa Sukajadi, kondisi langit yang gelap membuat jalan yang tidak rata semakin sulit dilewati.
Air hujan juga membuat jalan menjadi lebih licin, mereka terpaksa menurunkan kecepatan.
Kalau hanya Wahyu sendiri, dia pasti akan meninggalkan sepeda dan berjalan kaki ke Desa Sukajadi. Namun, dia tidak bisa melakukannya karena ada Santika, selain sedang menstruasi, dia juga terluka, sehingga tidak bisa berjalan jauh.
“Kamu pergi saja! Aku akan mengikutimu pelan-pelan dari belakang.”
Ucap Santika yang mulai merasa kalau masalahnya menjadi serius.
Wahyu mendengus dingin dan berkata, “Apa yang kamu katakan? Walaupun aku bukan orang baik, aku tidak akan meninggalkan seorang teman. Dulu tidak pernah, sekarang dan kedepannya juga tidak akan pernah. Sini, naik ke atas.”
__ADS_1
Wahyu langsung menggendong Santika turun dari sepeda, meninggalkan dua buah sepeda. Dia menyuruh Santika membawa dua tas, lalu dia sendiri juga membawa dua tas. Setelah itu, dia menggendong Santika di punggungnya.