
Sederhana, langsung, dan penuh kekerasan.
Yang paling mengerikan adalah kecepatan pukulan ini, sudah jauh melebihi batas yang bisa dilihat oleh manusia.
Laila telah bergegas kurang dari 3 meter dari Wahyu, tetapi masih tidak ada cara untuk mencegah hal ini terjadi.
Pong!
Terdengar sebuah suara keras di aula.
Saat ini, di aula masih terdengar suara permainan musik yang indah secara perlahan, tetapi langsung tertutup oleh suara tadi dan membuat semua orang menoleh.
Tubuh pelayan itu pelan-pelan terjatuh ke belakang. Tujuh lubang inderanya mengeluarkan darah, nampan di tangannya sedang berputar di lantai, yang terjatuh dengan nampan tersebut juga ada sebuah pisau, pisau yang lebih panjang dari pisau buah biasanya.
“Pembunuhan.”
Ada yang berteriak kaget, dan membuat suasana menjadi heboh.
“Wahyu…”
Laila benar-benar kaget, dia lebih paham dari siapapun mengenai Yitno. Seberapa besar nyali Wahyu sampai berani membunuh orang di kediamannya?
Sejak Wahyu kembali, dia sudah membunuh orang 3 kali. Pertama dan kedua kali Laila tidak melihatnya, hari ini akhirnya dia bisa melihatnya.
Teknik sederhana tetapi kejam, satu serangan yang mematikan.
“Wahyu.”
“Kak, tidak perlu panik. Mari bersulang.”
Wahyu tersenyum tipis kepada Laila sambil mengangkat gelas alkohol dan meneguknya.
“Wahyu, cepat pergi.”
Laila berjalan ke samping Wahyu dengan panik, wajahnya pucat melihat mayat di lantai.
Wahyu berkata dengan bangga, “Kenapa harus pergi? Tenang saja, Yitno tidak akan mempersulit kita, malahan akan berterima kasih kepada kita.”
__ADS_1
“Wahyu, kamu sedang mimpi? Kamu membunuh orang di rumahnya dan pemilik rumah malah berterima kasih kepadamu?”
“Kak, tenang saja. Kalau aku bilang tidak apa-apa, pasti tidak apa-apa. Kalau tidak salah, Yitno sebentar lagi akan turun.”
“Oke, kakak juga akan bertarung mati-matian kalau ada yang terjadi.”
Laila mengerti, walaupun Wahyu kabur, kejadian ini tidak akan selesai begitu saja. Jadi lebih baik menerima kejadian ini, paling buruknya dia harus bertarung dengan mereka, hidup mati sudah ditentukan oleh takdir.
…
Aula lantai 2.
Yitno sedang duduk di sofa dan berbincang dengan beberapa teman. Seorang pelayan masuk dari depan dan berbisik di telinga Yitno.
“Apa?”
Yitno mengerutkan keningnya dan berkata kepada beberapa teman itu, “Maaf, aku ada urusan sebentar.” Dia kemudian turun ke lantai 1 mengikuti pelayan itu.
Laila mengira Yitno akan marah besar dan menyuruh orang menangkap Wahyu. Kemudian dia akan mencari cara untuk menyelamatkannya.
Tapi tidak disangka, ternyata hasilnya di luar dugaan. Sama seperti perkiraan Wahyu, Yitno tidak marah dan malah berkata kepada Wahyu, “Terima kasih.”
Wahyu tersenyum dan melangkah ke depan, lalu berkata dengan nada rendah, “Kamu juga tahu siapa yang melakukannya tanpa perlu aku jelaskan. Mohon beritahu dia, aku, Wahyu bukan tidak bisa bersabar, tapi jika dia menganggap kesabaranku sebagai modal untuk tidak tahu malu baginya, aku tidak masalah menambahkan 1 mayat di dunia ini.”
Yitno mengangguk, “Tenang saja, aku tidak akan membiarkan kejadian serupa terjadi lagi. Kalau tidak, aku akan memotong tangannya langsung tanpa perlu kamu bertindak. Orang ini ingin membunuh orang di tempatku, untung saja Wahyu menghabisinya, bawa keluar mayatnya dari sini.”
Kemudian 2 orang pelayan keluar dari kegelapan, mereka langsung membawa mayatnya keluar tanpa basa-basi.
Orang-orang yang datang hari ini semuanya tidak kampungan, mereka sudah tahu kemampuan Yitno. Kalau Yitno bilang tidak apa-apa, berarti memang tidak apa-apa.
Pelayan membersihkan lantai, musik dansa bergema kembali di aula, dan melodi yang indah langsung mengubur adegan berdarah dingin tadi.
Tetapi jurus Wahyu tadi sudah memberi kesan mendalam kepada orang-orang.
Orang ini hanya bisa dijadikan teman, tidak boleh menjadikannya musuh!
“Anak muda, boleh minta nomor WhatsApp?”
__ADS_1
“Kakak tampan, aku ingin mengajakmu berdansa.”
“Wahyu, kamu hebat sekali.”
Beberapa bos perusahaan langsung meminta kontak dengan Wahyu. Beberapa wanita juga mendekat dan menatap Wahyu dengan ganas.
Untung Yitno bergerak cepat, “Semuanya, semuanya, mohon bersabar sebentar. Aku dan Wahyu harus membicarakan sesuatu, kita akan mengabari kalian lagi nanti. Ayo Wahyu, kita bicara ke lantai atas.”
Wahyu memberi hormat, “Terima kasih.”
Kemudian mereka berdua berjalan ke lantai atas.
Laila merasa pusing, setiap hari dia memecahkan kasus, semua kasus sudah pernah ditemuinya. Dia adalah detektif yang terkenal, tapi kenapa bisa begini?
Dia merasa kepintarannya ditekan habis-habisan oleh Wahyu, pada akhirnya dia hanya bisa bergumam, “Adikku ini memang hebat.”
Wahyu dan Yitno melewati lantai 2 dan langsung ke lantai 3.
Sambil berjalan, Yitno bertanya, “Nak, kamu tidak takut aku menangkapmu? Atau langsung membunuhmu?”
Wahyu menggelengkan kepala dan melihat ke arah Yitno, “Kamu tidak berani.”
“Kenapa?”
Wahyu berkata, “Biar kuberitahu, ada tiga alasan. Pertama, walaupun kamu sudah melewati kematian, tapi kamu belum cukup kejam, hatimu tidak cukup jahat. Kedua, kalau aku tidak salah tebak, keluarga Hutomo sedang banyak masalah. Jika masalah ini tersebar luas, maka akan mendatangkan masalah untuk keluarga Hutomo. Ketiga, juga merupakan alasan yang paling penting, kamu tidak akan sempat bertindak. Di dalam rumahmu ini, total ada 8 orang pasukan khusus. Mereka tersebar di beberapa tempat, pintu masuk 2 orang, atap lantai 3 ada 2 orang, aula lantai 2 ada 2 orang, aula lantai 1 ada 2 orang.
Lalu di halaman total ada 12 penembak jitu dan 118 kamera pengawas inframerah. 118 kamera pengawas ini bisa melihat seluruh area halaman dan memberikan informasi kepada 12 penembak jitu agar mereka dapat menembak target.
Tetapi hal-hal ini hanya cukup menghadapi ahli yang biasa.
Kalau aku bertindak, aku akan menahanmu dalam setengah detik, kemudian menggunakan waktu 1 menit untuk membereskan ruangan rahasia yang berada di timur laut lantai 3. Kemudian memberikan perintah kepada 12 orang penembak jitu dan menyuruh mereka berkumpul di satu tempat lewat ruang rahasia.
Jadi aku tidak perlu tahu lokasi mereka, hanya dengan satu perintah, aku bisa menghabisi mereka dalam waktu 2 menit. Kemudian aku akan membunuh 2 orang dan melemparkannya ke pintu belakang untuk membuat alibi kalau di pintu belakang ada orang, agar para tamu undangan tidak berani kabur dari pintu belakang. Kemudian menggunakan pistol dan membunuh 2 orang. Untuk masalah pistol, itu ada di mana-mana.”
Sambil berkata, Wahyu mengulurkan tangan dan membuat Yitno kaget. Karena dia merasakan ada yang bergerak di bagian bokongnya, lalu pistolnya sudah berada di tangan Wahyu.
Sambil memegang pistol, Wahyu berkata, “Setelah terdengar suara pistol, pasukan khusus akan bereaksi. Mereka punya 2 pilihan, kabur menyelamatkan diri, atau berkumpul di aula untuk melindungimu. Berdasarkan analisis pekerjaan mereka, tugas mereka adalah melindungimu, jadi mereka tidak akan mundur. Lalu ketika mereka berkumpul di aula, aku punya 3 cara untuk memusnahkan mereka. Pertama, pilihan terburuk, berhadapan langsung dengan mereka. Setiap dari mereka bisa bertahan 3 detik di hadapanku. Jadi tidak perlu sampai setengah menit, seluruh lantai akan penuh dengan mayat.”
__ADS_1