
Wahyu mengerutkan kening melihat empat sosok mayat di tanah.
Desa berbeda dengan kota, di kota ada polisi yang bisa membereskan mayat ketika ada laporan.
Namun, tidak ada yang mengatur hal seperti ini di desa. Walaupun suhu pegunungan lebih dingin, setelah beberapa hari, kondisi mayat juga akan membusuk dan dilalatin. Pemandangan seperti itu sangat jijik.
Wahyu berkata kepada Santika, “Sini, bantu aku angkat mayat-mayat ini ke dalam rumah.”
“Aku tidak mau.”
Santika sangat jijik dengan mayat itu, dia langsung mundur ketika disuruh membantu.
Wahyu menatap Santika dengan kesal, dia terpaksa bolak balik dua kali untuk membawa mayat-mayat ke dalam rumah. Lalu, dia berdiri di luar dan menendang dinding rumah dengan kuat.
Kondisi kayu yang sudah rusak tentu tidak sanggup menahan tendangan Wahyu, seluruh ruangan langsung runtuh dan mengubur empat mayat di dalamnya. Wahyu melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang.
“Kamu mau ke mana?”
Santika terus mengikuti dari belakang.
Wahyu menjawab dengan nada dingin. “Membunuh orang.”
“Membunuh siapa?”
“Kamu lihat ini dulu.”
Wahyu memberikan gambar kepada Santika. Santika membelalakkan kedua mata dengan besar, “Kamu ingin mencari masalah dengan Grup Serigala Hutan?”
Dia kemudian melihat ke bawah, dan semakin dia melihat, Santika semakin ketakutan. Senapan mesin berat, senapan mesin ringan, peluncur roket individu dan penembak jitu?
Mereka bukan lagi perampok biasa, melainkan pasukan tempur!
Wahyu melirik ke Santika, “Takut? Pulanglah kalau takut.”
Mana mungkin tidak takut, tapi dengan sikap Santika, dia tidak mungkin mengakuinya. Walaupun merasa ketakutan, dia tetap memelototi Wahyu, “Kamu sendiri yang takut.”
__ADS_1
Gadis ini tidak begitu dingin lagi, dia mulai bersikap hangat.
Wahyu tiba-tiba mengingat sesuatu, dia lalu bertanya, “Santika, aku ingin bertanya.”
“Apa?”
Wahyu berkata, “Aku sangat penasaran, kenapa kamu mengakuiku sebagai pacar di acara reuni?”
Wajah Santika langsung menjadi merah. “Bukan urusanmu. Aku yang mengatakannya, jadi tidak ada urusannya denganmu.” Setelah itu, dia mengembalikan kertas kepada Wahyu dan berjalan pergi.
Sialan, dia masih saja suka marah.
Setelah Santika menjauh, Wahyu segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor yang panjang itu. Dari seberang telepon terdengar suara dengan nada ingin membunuh. “Sang Penakluk Dunia yang terhormat, kalau kepalamu tidak bermasalah, seharusnya kamu ingat kalau sekarang malam hari di negara barat.”
Khuk khuk!
Ekspresi Wahyu terlihat masam. “Maaf, Ahli Strategi. Aku tiba-tiba teringat satu hal. Ahli Strategi, aku memiliki sebuah ide, aku ingin membawa Grup kita masuk ke Indonesia. Menurutmu, apakah kita harus mengumumkannya?”
“Jalan dari Desa Sukajadi menuju Kalimantan Barat ….”
“Sambil mengembangkan jalan ini, kita juga perlu mengembangkan Desa Sukajadi menjadi tempat baru, membangun Vila dan menciptakan tempat wisata ….”
“Sekarang kamu hanya perlu memikirkan, bagaimana cara untuk menghabisi beberapa grup penjahat di pegunungan itu. Selain itu, kamu tidak perlu khawatir.”
“Sialan! Bagaimana kamu bisa tahu apa yang ingin aku lakukan?”
Dari seberang telepon terdengar suara dengan nada dingin. “Kamu bukan Wahyu lagi kalau tidak menghancurkan Grup Serigala Hutan itu.”
“Kamu adalah Ahli Strategi terhebat. Kamu selalu merencanakan semuanya dan memastikan kemenangan bagi kita. Ahli Strategi, aku akan melakukan panggilan video sebentar, ada yang ingin aku bicarakan.”
Mendengar Ahli Strategi sedang tidur, Wahyu mulai bertingkah aneh. Dia memutuskan telepon dan melakukan panggilan video.
Ting!
“Nomor tujuan sedang sibuk dan tidak dapat menerima permintaan panggilan video Anda”
__ADS_1
Ting!
“Nomor tujuan sedang sibuk dan tidak dapat menerima permintaan panggilan video Anda.”
Ting!
“Pemilik nomor tujuan sedang tidak ditempat dan tidak dapat menerima panggilan video Anda.”
Wahyu melakukan panggilan video selama 18 kali. Pada akhirnya, Ahli Strategi mematikan ponselnya.
“Dasar pelit. Kenapa tidak boleh melihatnya?”
Pada akhirnya, Wahyu membelalakkan mata dan memutuskan panggilannya.
…
Wahyu dan Santika berjalan keluar dari Desa Sukajadi. Pegunungan juga mulai terlihat jelas.
Wilayah pegunungan di dekat desa relatif datar dan rendah, tidak semuanya batu, terdapat sebagian besar tanah juga.
Meskipun tanahnya buruk, jika ada air hujan yang cukup, juga bisa menghasilkan bahan makanan.
Jadi di tempat-tempat dekat desa pegunungan, terdapat beberapa tanaman dalam jumlah tidak banyak.
Wahyu menelusuri tanaman dan melewati satu gunung. Setelah itu, jalan di depannya mulai sulit.
Setelah melewati dataran rendah, muncul gunung yang relatif lebih tinggi dan curam di kedua sisi, hanya ada jalan kecil antara pegunungan.
Berdasarkan gambar di atas kertas, setelah berjalan sedikit lebih jauh, mereka akan melihat anggota Grup Serigala Hutan yang sedang berjaga.
Wahyu melihat Santika yang berjalan di depannya, dia langsung tersenyum jahat. Wahyu tiba-tiba berteriak, “Ular.”
“Ah!”
Wanita paling takut dengan ular, cecak, kadal ….
__ADS_1
Setelah berteriak, Santika langsung berbalik dan berlari. Tapi dia justru menabrak Wahyu, kedua wajah langsung melakukan kontak yang mesra.