Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Aku duduk di atas tempat tidur dengan kakiku yang melingkar di pinggang John. Tangannya memegang wajahku. Di saat itu aku tahu apa yang harus aku bicarakan dengannya dan apa yang ingin aku lakukan.


'Apakah aku harus membuka semua pakaiannya?'


Aku mendorong jauh semua pikiran hormonal yang ada di dalam kepalaku. Ini adalah waktu yang tepat bagi kami untuk bisa bicara dengan serius.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya John saat aku melihat ke arahnya dengan serius.


"Baiklah dari mana aku harus memulai semuanya." Ucapku berpikir lantas menghela nafasku.


"Pertama tentang fakta bahwa kau adalah Papa dari anak-anakku, fakta bahwa aku menjemputmu dari dalam kantor polisi dan fakta bahwa ada orang aneh yang mencoba untuk membunuh aku dan dia tahu siapa dirimu. Lalu fakta bahwa aku belum pernah mendengar hal itu darimu dalam satu atau dua tahun ini. Fakta bahwa teman satu kamarmu berpura-pura untuk menjadi Papa dari anak-anakku dan fakta bahwa....."


John menyela ucapan ku dengan langsung mencium aku, sama seperti yang dia lakukan sebelumnya di saat itu. Pada saat dimana aku mengetahui bahwa diriku tengah hamil.


Aku bukannya menarik diriku atau mendorong dia menjauh dariku, aku malah melingkarkan lenganku di lehernya dan menarik dia ke atas diriku. Kami bercumbu begitu lama dan. Aku merasa bahwa tangannya perlahan ingin membuka pakaianku. Tangannya terus bergerak. Namun dengan cepat dia menghentikan aksinya dan matanya melihat ke arahku. Dia seolah bertanya padaku apakah ini yang memang aku inginkan.


Tanganku beralih kepada celana jeans yang dia gunakan dan aku tersenyum. Aku tahu bahwa hal ini tidak tepat untuk kami lakukan, tapi aku tidak bisa menahan diriku lagi. Apalagi saat aku mengetahui bahwa dia juga mencintai aku, sama seperti yang aku rasakan untuknya. Terlebih lagi dia adalah Papa dari ketiga bayi kembar yang aku lahir kan dan bukanlah pria lainnya.


Kali ini kami bisa mengingat apa yang kami lakukan dan rasanya sangat menakjubkan. Faktanya aku memang pernah melakukan semua ini dengannya bahkan sampai membuat aku hamil dan melahirkan. Tapi, aku sama sekali tidak mengingat bagaimana rasanya dan juga sensasinya.


Jadi kali ini, bagiku semua terasa seperti pertama kali aku melakukannya. Dan rasanya sangat menakjubkan. Aku seolah lupa akan dunia di sekelilingku, dan yang ada hanya John bersamaku.


...****************...


Aku bangun pada keesokan paginya dan merasakan sesuatu yang hangat dan juga berat berada di atas perutku. Aku lantas melihat ke bawah dan menyadari bahwa itu adalah lengan John yang tengah memelukku. Aku tersenyum dan mencium pipinya dengan lembut. Dengan malas dia membuka matanya dan dia tampak masih begitu mengantuk.


"Selamat pagi cantik." Ucap John dengan wajah yang tampak sangat masih mengantuk.


John mengusap matanya. Kemudian dia berguling naik ke atas tubuhku dan mulai mencium aku. Kami berdua seperti sudah terbiasa melakukannya. Namun tiba-tiba ada terdengar suara ketukan di pintu. Aku tahu bahwa itu pasti adalah salah satu dari bayi kembar tiga ku yang membuat aku lantas tersenyum.


"Itu pasti adalah salah satu dari ketiga anak-anak kita yang berdiri disana." Ucapku kepada John.


John lantas melihat ke arah pintu dengan tatapan yang terlihat tidak percaya.


"Sangat hebat." Ucap John dengan tertawa kecil. "Aku rasa aku punya masalah hormonal yang tidak bisa diselesaikan pagi ini." Lanjut John dengan malu.


"Pergilah berganti pakaian dan aku akan membuatkan sarapan untuk mereka." Ucapku yang juga ikut malu.


Kami berdua pun tertawa dan segera memisahkan diri.


Beberapa saat kemudian, aku menaruh makanan dari ketiga bayi kembar itu di kursi mereka. Saat John berjalan ke arah dapur menggunakan hanya celana pendeknya, aku melihat ke arahnya tanpa bisa berkata apa-apa pun. Dia terlihat begitu seksi.


"Apa menu untuk kita sarapan Mama sayang?" Ucap John dengan suara seperti bayi yang kemudian duduk di atas meja.


Aku tertawa dan menaruh secangkir kopi di depan John. Wajahnya tampak ceria seperti anak kecil dan itu terlihat sangat menggemaskan bagiku.


"Kau mau makanan, maka kau harus mengambilnya sendiri." Ucapku dengan suara seperti seorang Mama yang tengah memerintahkan anaknya.


John melihat ke arahku tersenyum dan sekaligus menggodaku, sama seperti yang dia lakukan tadi malam. Aku membalikkan tubuhku dan menatap ke arah ketiga bayi kembar ku, kemudian mulai menyuapi mereka yang masih belum bisa menyuapi diri mereka sendiri dengan baik.


Aku menyadari bahwa mereka sudah semakin besar, dan entah kenapa semua itu terasa semakin menakuti aku. Aku tahu bahwa mereka tentu saja akan tumbuh lebih besar lagi, namun aku hanya ingin lebih lama melihat mereka dalam bentuk menggemaskan seperti ini.


Aku lantas tersenyum memikirkan pada saat mereka sudah tumbuh besar nanti, maka mereka tidak akan lagi membutuhkan bantuan ku untuk membawa mereka pergi ke toilet, memandikan mereka, menyuapi mereka makan, dan menggantikan pakaian mereka diwaktu yang bersamaan.

__ADS_1


...****************...


Semalam aku dan John memutuskan bahwa hari ini kami akan menghabiskan waktu sebagai sebuah keluarga. Ini pasti akan menjadi hari terbaik yang pernah aku miliki dalam satu tahun ini.


Aku masih mengingat bahwa semalam aku kembali berada bersama dengan seorang pria yang penuh senyuman dan dengan tubuhnya yang sangat seksi berada di sisiku. Kenapa semua itu bisa terasa jauh lebih hebat lagi? Itu semua karena aku mencintainya dan dia juga mencintai aku.


Apapun yang terjadi di antara aku dan John menjadi sangat hebat. Sebagai sebuah keluarga aku tidak bisa jauh lebih bahagia lagi. Bulan, Berlian dan Bintang, mereka semua mempunyai seorang Papa yang bisa diajak bermain dan John juga terlihat senang menjalani harinya menjadi seorang Papa.


Namun, rencana hanyalah sebuah rencana saja. Kita tidak pernah tahu bahwa rencana yang sudah begitu matang dipersiapkan malah gagal untuk terlaksana. Aku dan John gagal keluar bersama anak-anka. Jadi, ketiga bayi kembar dan aku hanya bisa keluar rumah untuk berbelanja hari ini. Sementara John harus pergi bersama Olivia ke sebuah kantor seorang pengacara untuk mendengar bahwa ada kerabat mereka yang kabarnya tidak pernah mereka dengar tiba-tiba muncul dalam hidup mereka.


John berpikir bahwa itu adalah berita yang lucu, karena seseorang dari masa lalu yang tidak pernah ditemuinya malah meninggalkan sesuatu untuknya. Namun Olivia berpikir bahwa berita itu adalah hal keren.


Aku dan ketiga bayi lantas memutuskan untuk liburan hari ini dan kami hanya akan berbelanja bersama.


Saat kami pergi untuk mengantri membeli makan siang, aku melihat sosok Jefri, teman sekolah ku dulu. Dia melihat ke arahku dan menyadari bahwa aku tengah menatap ke arahnya. Dia lantas tersenyum dan berjalan ke arahku.


"Wow, Adela Dwitara Lolata.... Sudah lama tidak bertemu denganmu bahkan aku tidak mendengar kabarmu dalam satu tahun ini." Ucap Jefri.


Suaranya sama seperti di masa lalu yang terdengar selalu menyebalkan itu.


"Iya... Hai Jefri." Balas ku berharap bahwa dia tidak akan melanjutkan obrolannya denganku yang akan membuat semuanya berjalan semakin lama.


"Iya, ada beberapa rumor yang terdengar mengatakan bahwa kau hamil saat kau keluar dari sekolah." Ucap Jefri.


'Apakah dia bodoh atau dia mencoba untuk menjadi orang yang lebih bodoh. Aku tengah hamil 6 bulan atas ketiga bayi kembar ku saat aku keluar dari sekolah. Jadi tidak mungkin orang-orang tidak membicarakan aku.'


Aku lantas melihat ke arah ketiga bayi kembar ku itu.


"Iya, aku hamil." Ucapku.


"Kau hamil dari ketiga bayi ini? Wow Adel, itu semua di luar dugaan ku." Balas Jefri.


"Iya. Tapi semua ini tidak seburuk yang kau pikirkan." Balas ku jengkel.


Aku melihat dari raut wajahnya seolah dia tengah mengejek padaku karena keluar dari sekolah dalam keadaan hamil, terlebih karena hamil bayi kembar tiga.


Kami lalu berdiri di sana dalam keheningan yang terasa begitu aneh untuk beberapa menit lamanya.


"Baiklah Jefri, senang melihatmu. Tapi aku rasa, aku harus pergi sekarang." Ucapku yang mencoba untuk pergi.


Tapi sebuah tangan memegang pundak ku dan menghentikan langkahku.


"Dengar Adel, aku minta maaf karena menjadi pria yang tidak sopan saat kita masih SMA dulu. Apakah aku boleh untuk berkunjung ke rumahmu untuk melihat bagaimana kehidupanmu sekarang? Aku sudah tidak mempunyai kontak dengan teman-teman lainnya sejak aku tamat sekolah. Pasti akan sangat menyenangkan jika aku bisa berkunjung ke rumahmu." Ucap Jefri.


Sejujurnya aku tidak menyukai dirinya. Tapi aku tahu dari pengalaman selama di masa sekolah, bahwa dia tidak akan berhenti untuk terus mengganggu aku sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan dan aku sedang tidak ingin berdebat dengan hal seperti itu. Aku pun hanya bisa menghela nafasku.


"Baiklah, tapi aku harus meninggalkan anak-anak di rumah Oma mereka." Ucapku..


Oma yang aku maksudkan adalah Mama dari John dan Olivia.


Sejak dia tahu bahwa dia adalah seorang Oma dari ketiga anak-anakku, dia terus saja mau melihat ketiga bayiku hampir setiap harinya. Tapi karena ketiga bayiku itu juga terlihat bersenang-senang dengan Oma mereka, jadi aku tidak mempunyai masalah dengan hal itu. Aku pun setuju untuk membiarkan mereka tinggal beberapa saat untuk bermain dengan Oma mereka.


"Wah terima kasih Adel. Apa kau masih tinggal di tempat yang sama?" Tanya Jefri dengan antusias.

__ADS_1


Aku menganggukkan kepalaku dan kembali hanya bisa menghela nafas.


"Oke, baiklah. Aku akan berada di rumahmu dalam waktu 1 jam. Apakah boleh?" Tanya Jefri lagi..


"Iya Jefri, aku akan menemui mu satu jam lagi." Balas ku seraya dengan cepat mengambil makanan untuk ketiga bayi kembar ku dan beranjak pulang ke rumah Mama.


...****************...


Aku akhirnya tiba di rumah 5 menit lebih cepat untuk menunggu Jefri sampai tiba di sana. Tapi apa yang aku lihat malah mengejutkan aku karena Jefri sudah ada di sana memarkirkan mobilnya dengan memegang sebuah buket bunga dan satu keranjang buah.


'Apa yang sudah aku lakukan?' ucapku dalam hati.


Aku sedikit merasa lucu melihat Jefri membawa barang seperti itu. Dia seolah tengah mengunjungi seseorang yang tengah sakit. Aku kemudian turun dari dalam mobil dan langsung menyapa Jefri.


"Sekali lagi terima kasih Adel karena sudah membiarkan aku mampir ke rumahmu. Lihat lah, aku membelikan mu beberapa hadiah. Aku harap hadiah ini bisa kau sukai." Ucap Jefri.


Aku melihat ke arah hadiah yang dibawa Jefri itu dan langsung menerimanya.


Aku memang tidak menyukai Jefri, namun dia terlihat begitu senang dan aku tidak suka melihat orang-orang merasa kecewa ataupun kesal. Aku lantas berjalan dan membuka pintu rumah. Jefri pun mengikuti aku dari belakang.


"Anggap saja rumah sendiri. Tunggu sebentar, aku akan pergi mengambil minuman untukmu." Ucapku.


Jefri menganggukkan kepalanya mengangguk atas apa yang aku katakan. Dia lalu duduk di kursi. Tak lama setelah itu, aku datang dengan membawa secangkir Kopi untuknya dan beberapa potong sandwich.


"Jadi bagaimana kehidupanmu selama ini Jefri?" Aku bertanya dengan wajah ceria yang penuh kepalsuan.


"Kau tidak menyukai aku bukan?" Ucap Jefri dengan pelan.


Aku merasa begitu bersalah, sepertinya dia mengetahui bahwa aku memang tampak tersenyum palsu dan terpaksa menerima kedatangan dirinya. Aku memang tidak menyukai dirinya, terlebih bagaimana sikap yang dia tunjukkan saat kami masih bersekolah bersama dulu.


"Tidak bukan seperti itu. Aku hanya tidak mengetahui dirimu dengan baik saat kita masih sekolah dulu. Kau bukanlah orang yang paling baik yang pernah aku kenal." Ucapku dengan tersenyum kecil.


"Aku berharap bahwa aku akan lebih baik dulu. Aku mungkin akan membuat pertemanan yang benar. Setelah lulus, tidak ada dari orang-orang yang aku sebut sebagai teman mau mengobrol atau menghabiskan waktu denganku. Aku merasa begitu buruk memikirkan bahwa aku mempunyai orang-orang yang aku pikir adalah teman dalam waktu 4 tahun yang lalu dan kemudian menyadari bahwa mereka tidak mengetahui diriku atau bahkan menyukai diriku sama sekali." Ujar Jefri dengan wajah yang tampak sedikit murung.


"Sebenarnya aku tidak pernah mengenal dirimu dengan baik, sehingga aku tidak bisa memutuskan untuk menyukaimu atau membencimu. Aku akan mengakui bahwa kau adalah orang yang paling menyebalkan bagiku dan orang lainnya tapi kau tahu itu bukan?" Ucapku dengan jujur.


Dia melihat ke arahku dengan senyuman tulus yang terlihat dari wajahnya dan aku merasa sedikit lega melihatnya seperti itu. Itu membuatku merasa bahagia dan aku bisa membuat teman-teman baru yang sebenarnya adalah orang yang tidak aku sukai di masa lalu. Tentu saja karena itu aku tidak terlalu mengenalnya di masa lalu.


"Jadi apa yang kau lakukan sekarang?" Tanyaku dan Jefri hanya tertawa.


"Tidak banyak yang bisa aku lakukan. Aku bekerja paruh waktu di sebuah bank swasta dan aku harus menghadiri beberapa kelas di kampus lokal yang ada di sini." Balasnya.


"Hebat! Apa yang kau pelajari?" Tanyaku.


"Bisnis." Balasnya singkat.


Obrolan kami terus berlanjut beberapa saat dengan membicarakan tentang kehidupan kami, bagaimana semua hal berubah bagi kami dalam waktu beberapa tahun ini. Kami kemudian mengobrol selama hampir satu jam setengah.


Entah kenapa aku mulai merasakan bahwa kepalaku mulai terasa sakit.


Aku mencoba memijat kepalaku dan mencari cara untuk membuat aku merasa lebih nyaman. Tapi rasa sakit itu semakin memburuk. Aku mencoba berdiri untuk mencari obat pereda rasa sakit. Namun semuanya terasa begitu berat, pandanganku bahkan semakin memudar dan aku merasa seolah dunia tengah berputar di sekelilingku.


Setelah itu, aku tidak bisa merasakan apapun lagi saat tubuhku mulai terjatuh. Semua yang bisa aku dengar hanyalah saat Jefri memanggil namaku secara terus menerus.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2