
PoV Adel
Saat aku terbangun, aku menyadari bahwa aku kini kembali berada di tempat tidur rumah sakit lagi. Hal seperti ini sudah mulai menjadi kebiasaan ku, dan aku sama sekali tidak menyukainya. Aku pun lantas mencoba mengingat hal terakhir yang telah terjadi kepadaku sebelum aku berada di rumah sakit ini.
Aku mengingat bahwa aku berada di sebuah mall tengah berjalan-jalan dengan ketiga bayi kembar ku. Saat membeli makan siang aku bertemu dengan Jefri. Setelah itu aku kemudian meninggalkan ketiga bayi kembar ku di rumah Mama John dan kemudian kembali ke rumah bertemu Jefri dan mulai mengobrol dengannya. Kemudian tiba-tiba kepalaku terasa begitu sakit. Lalu aku terjatuh di lantai.
Aku masih bisa mengingat bahwa Jefri terus memanggil namaku. Aku juga mendengar suara Mama yang memanggilku. Kemudian terlihat dokter dan juga perawat yang menuntunku, lalu semuanya gelap, dan aku tak mengingat apapun lagi.
Aku melihat sebuah tombol yang digunakan untuk memanggil perawat ada di samping tempat tidurku dan aku meraihnya, kemudian menekan tombol itu. Seorang perawat berusia cukup dewasa berjalan dalam waktu beberapa menit kemudian setelah aku menekan tombol itu.
Dia mendekat ke arahku dengan cepat. Dan saat dia melihat aku terbangun, dia tampak tersenyum lembut kepadaku.
"Kau akhirnya bangun." Ucap perawat itu seraya melihat ke arah mesin yang ada di sekelilingku.
Aku baru menyadari bahwa selain selang infus ditangan ku, di hidungku juga terpasang selang oksigen dan di jemariku terdapat sebuah jepitan yang entah apa itu fungsinya, aku juga tidak tahu.
"Iya, aku sudah bangun." Balas kepada perawat itu. "Oh ya di mana aku sekarang?" Tanyaku. "Mmmm... Maksudku aku tahu aku berada di sebuah rumah sakit, tapi rumah sakit yang mana?" Tanya ku lagi.
"Rumah Sakit swasta, hanya berjarak 5 menit dari rumahmu. Kau begitu beruntung karena jaraknya tidak terlalu jauh. Semua dokter mengatakan kau begitu beruntung karena bisa datang tepat waktu di kondisimu yang kritis." Ucap perawat itu.
Aku tersenyum kepadanya dan kemudian melihat ke sekeliling. Semua kamar yang ada di rumah sakit selalu terlihat sama bagiku. Dengan warna tembok di cat putih yang sama, lantai keramik putih yang sama, dan juga bau obat-obatan yang sama.
Apakah tidak ada rumah sakit yang di cat dengan warna pelangi agar para pasien yang di rawat bisa lebih semangat untuk bisa sembuh? Atau bisakah aroma di rumah sakit itu diganti dengan aroma bunga saja, bukannya obat-obatan yang membuat para pasien merasa semakin stress. Bahkan orang-orang yang datang menjenguk pasien, akan ikut sakit jika berlama-lama berada di rumah sakit.
'Bagaimana jadinya ya, jika rumah sakit di cat dengan warna-warni yang begitu cerah?'
Aku tersenyum membayangkan semua itu.
__ADS_1
"Mamamu ada di luar sana." Ucap perawat itu membuyarkan lamunanku. "Bisakah dia masuk sekarang?" Tanya perawat itu dengan sopan kepadaku.
Aku lalu duduk, dan aku merasa begitu terkejut dengan kepalaku yang terasa begitu sakit.
"Owww...." Ucapku menahan sakit. "Sudah berapa lama Mama menunggu diluar sana?" Tanyaku.
"Sejak kau dibawa kemari. Jadi itu sudah kurang lebih selama dua puluh jam sampai sekarang. Kau begitu beruntung karena mempunyai keluarga dan teman-teman yang sangat peduli kepadamu." Ucap perawat itu.
"Teman? Siapa lagi yang ada di sini?" Tanyaku penasaran.
Perawat itu terlihat berpikir beberapa saat.
"Mamamu terus berada di sini menunggumu, dan ada seorang gadis dengan rambut ikal dan juga seorang pria yang juga ada di sini sebelumnya. Tapi dia sudah pergi sekitar 5 jam setelah kau tiba di sini." Ujar perawat itu.
"Kalau begitu biarkan Mama masuk." Ucapku.
Perawat itu tampak tersenyum dan aku membalas senyumannya.
"Ma.... Mama terlihat begitu kacau." Ucapku saat Mama langsung memelukku dengan begitu erat.
"Diam lah dasar kau putri yang selalu membuat Mama mu ini khawatir." Ucap Mama mengusap air matanya. "Bagaimana keadaanmu? Bagaimana dengan kepalamu?" Tanya Mama.
"Baik... Baik... Baik... Tenanglah Ma." Ucapku tertawa melihat tingkah Mama yang begitu panik itu.
Kami mengobrol beberapa saat dan mama menjelaskan tentang semuanya. Bagaimana aku bisa berada di sini. Itu semua begitu mengejutkan bagiku pada awalnya, tapi aku mulai mengerti akan semua hal itu.
"Di mana John?" Tanyaku dengan ceria.
__ADS_1
Aku tidak melihatnya dengan waktu yang cukup lama dan aku tahu bahwa dia pasti sangat khawatir dengan keadaanku saat ini.
John memang selalu khawatir dengan begitu berlebihan. Mama melihat menjauh dari arahku dan tampak melihat ke arah jendela yang berada di ruangan ku. Aku melihat kesedihan yang terpancar di mata mama.
"John sedikit sibuk sekarang sayang." Ucap Mama dengan wajah yang terlihat murung.
Aku mulai merasa bingung dan khawatir yang membuat perutku terasa sakit.
"Sibuk dengan hal apa Ma?" Tanyaku.
"Mama tidak yakin sayang. Tapi itulah yang dia katakan kepada Mama. Mama yakin bahwa dia akan berada di sini secepatnya." Ucap Mama dengan suara yang sama seperti sebelumnya. "Sekarang ayo kita fokus kepada hal lainnya. Biarkan Mama berpikir. Oh ya, bisakah Mama mengatakan kepadamu tentang obat yang kau minum sekarang?" Ucap Mama yang mulai membicarakan hal lainnya, tapi aku tidak mendengarkan Mama.
'Kenapa John tidak ada di sini?' pikirku.
Aku tengah berbaring di tempat seperti ini, dan tidur dalam keadaan seperti ini. Maksudku siapa yang bisa melihat orang dicintai dalam hal seperti ini. Mereka pasti sedih dan begitu khawatir dan akan memberikan perhatian. Tapi kenapa John tidak seperti itu?
...****************...
Aku sudah berada di tempat tidur rumah sakit ini selama dua hari dan aku begitu bosan. Aku hanya bisa menghilangkan kebosanan ku dengan menonton acara televisi.
Obat yang diberikan dokter kepadaku sekarang membuat aku merasa begitu aneh. Aku pernah bertanya kepada dokter tentang hal ini. Dokter pun mengatakan bahwa ini semua normal.
Aku selalu tertidur sepanjang hari dan hanya beberapa jam terbangun. Aku lebih sering merasa sakit kepala. Aku merasa lelah dengan cepat dan juga lemah. Aku benar-benar merasa tidak nyaman dengan hal ini.
Mama selalu berada di sini, hampir sepanjang hari dan aku bahkan harus memaksa Mama untuk kembali bekerja dan akhirnya Mama pun pergi. Jefri sering datang beberapa kali. Sementara Olivia hanya datang sekali. Dia mengatakan bahwa dia sangat sibuk saat ini. Namun aku tidak mempercayai dirinya. Aku tahu bahwa sesuatu yang salah telah terjadi.
Aku merasa begitu dipaksa untuk berada di tempat tidur ini. Hal itu membuat aku berpikir tentang kehidupan ku dan hal lainnya. Aku tahu bahwa sesuatu yang salah tengah terjadi. Apalagi dengan John yang tidak pernah datang mengunjungi aku sama sekali, termasuk Olivia dan juga Mama mereka.
__ADS_1
Aku yang merasa lelah, mulai tidur kembali.
Bersambung....