
Aku mulai membersihkan ruangan itu dan Justin mendekat ke arahku.
"Kau mulai membersihkan ruangan yang sudah bersih dan itu sering kau lakukan saat sesuatu yang salah sudah terjadi padamu. Apa sebenarnya yang sudah terjadi?" Tanya Justin kepadaku dengan mendekat dari belakangku dan melingkarkan lengannya di pinggangku.
Tubuhnya terasa begitu hangat dan aku bahkan bisa merasakan ototnya dari balik baju yang dikenakannya itu. Aku lantas berbalik dan merasakan kehangatan itu dari pelukannya.
"Aku baru saja menabrak seseorang yang sudah lama tidak aku lihat dan itu semua terasa menyulitkan bagiku." Ucapku kepada Justin.
"Siapa itu?" Tanya Justin seraya mengusap pipiku lembut.
Aku menghela nafas dan menaruh mainan yang tadinya aku bersihkan kembali ke tempatnya.
"Orang itu adalah Papa dari ketiga anak-anak kembar ku." Balas ku.
Aku lalu melihat Justin terdiam dan aku tahu bahwa aku seharusnya tidak mengatakan semua itu. Aku sudah pernah mengatakan kepadanya tentang semua cerita masa laluku dan dia begitu marah akan hal itu.
"Apakah dia menyakitimu?" Tanya Justin.
"Tidak." Balasku dengan cepat. "Sebenarnya secara fisik tidak. Tapi sangat sulit bagiku untuk melihat dia kembali, itu saja." Balas ku lagi.
Justin lalu duduk di sampingku. Jadi kami bisa saling berpegangan tangan begitu erat. Aku pun merebahkan kepalaku di pundaknya.
"Aku berharap bahwa aku tidak akan pernah bertemu dengannya, karena aku rasa aku akan meledakkan kepalanya." Ucap Justin seraya terdengar menghela nafas.
"Dia mempunyai kepala yang sangat keras sayang. Kau mungkin akan mematahkan tanganmu jika memukuli kepalanya." Ucapku tersenyum, berusaha untuk membuat suasana yang ada menjadi ceria.
"Kau tidak berpikir bahwa aku tidak bisa melawan dia bukan?" Tanya Justin dengan wajah marah.
"Tidak... tidak sayang, bukan seperti itu." Balas ku dengan cepat. "Aku hanya.... Ah sudahlah... Ayo kita pergi tidur saja. Ini masih terlalu pagi atau juga terlalu larut aku rasa bagi kita untuk membicarakan tentang hal ini. Bisakah kita membicarakan hal ini besok pagi saja?" Ucapku.
Aku melihat Justin tampak sedikit kesal lalu dia pun menyetujui ucapan ku. Kami berdua lantas beranjak menuju kamar dan berpelukan di atas tempat tidur. Namun, semua yang bisa aku pikirkan adalah bahwa aku melihat John malam ini dan dia masih terlihat seksi seperti biasanya. Tapi aku harus jauh lebih kuat. Aku tidak bisa menerima jika aku ditinggalkan lagi olehnya. Aku hanya tidak bisa menerima semua perlakuan seperti itu lagi.
Saat aku bangun keesokan paginya, aku merasa sakit kepala yang begitu menyakitkan.
__ADS_1
Aku berusia 19 tahun sekarang dan semalam adalah pertama kalinya aku keluar untuk bersenang-senang seperti itu. Aku tidak pernah mabuk di pesta sebelumnya, kecuali saat malam pesta ulang tahun Olivia dulu. Itu pun terjadi karena aku memang sama sekali tidak mengingat semuanya. Mungkin aku pernah minum satu atau dua teguk saja. Tapi semalam, bagaimanapun aku sepertinya terlalu banyak minum sampai membuat kepalaku begitu sakit sekarang.
Untuk beberapa saat aku berpikir tentang merayakan semuanya bersama Sofia. Tapi saat aku bangun, aku menyadari bahwa mungkin merayakan semua itu tidaklah tepat untuk aku lakukan.
Aku lalu bangun dari tempat tidur dengan berhati-hati agar tidak membangunkan Justin. Tapi aku tahu dari pengalaman yang selama ini aku rasakan bahwa hampir tidak mungkin bagiku untuk melakukan hal itu, karena Justin benar-benar seorang penidur.
Saat aku berjalan keluar ke arah dapur, aku melihat bahwa Sofia sudah bangun dan dia tengah duduk di meja dengan memegang kepala menggunakan tangannya.
"Bagaimana kepalamu?" Tanyaku.
Aku membayangkan bagaimana perasaannya sekarang. Apakah sama dengan yang aku rasakan?
"Diam lah." Uapnya dan aku pun tertawa.
Aku lalu melihat ke arah jam di dinding dan sekarang sudah jam 11.00 pagi.
"Apakah anak-anak sudah bangun?" Tanyaku lagi pada Sofia dengan sedikit penasaran.
Mereka biasanya bangun paling telat jam 08.00 pagi.
Aku bisa mengatakan bahwa Sofia tidak terlalu sehat hari ini. Aku lantas tersenyum kepadanya dan berjalan menuju kamar ketiga anak kembar ku. Saat aku berjalan, aku melihat keempat anak-anak itu. Anak-anakku dan juga anak Sofia yang tengah bermain dengan beberapa mainan mereka.
"Selamat pagi anak-anak." Ucapku dari depan pintu.
"Hai Mama." Ucap ketiga anakku dan kembali bermain tanpa melihat ke arahku.
Wow, rasanya aku sudah tidak penting lagi bagi mereka. Aku pun memutuskan untuk berjalan kembali ke arah dapur dan melihat hal paling lucu, yaitu Justin dan Sofia tengah bertengkar memperebutkan ketel kopi. Aku bersandar di tembok untuk melihat mereka bertengkar. Itu semua sama seperti aku melihat anak-anakku tengah bertengkar memperebutkan mainan mereka.
"Aku mau ini." Teriak Justin.
"Dasar kau pria bajingan, berikan itu kepadaku." Teriak Sofia yang membuat sakit kepalanya menjadi lebih parah lagi.
"Aku baru saja bangun dan jangan memanasi aku. Kau bahkan tidak mengenal siapa aku jika sidah marah." Teriak Justin mencoba menarik ketel kopi itu ke arah dirinya.
__ADS_1
"Aku sedang sakit kepala, dan aku pantas mendapatkan yang lebih banyak." Ucap Sofia lagi.
"Itu kesalahanmu sendiri karena kau minum terlalu banyak dan itu tidak ada hubungannya denganku." Balas Justin.
Melihat pertengkaran lucu mereka, aku menyadari bahwa mereka tidak akan pernah bisa berhenti sampai ada yang mengalah. Namun dilihat dari keduanya yang keras kepala, maka tidak akan ada yang mau mengalah. Mereka berdua benar-benar seperti anak kecil yang tengah bertengkar. Aku pun lalu menaruh jemariku di dalam mulutku dan mulai bersiul. Mereka berdua lantas berhenti berdebat dan melihat ke arahku.
Aku mengangkat alisku dan mereka berdua langsung melepaskan ketel kopi itu dan keduanya sama-sama mencoba untuk terlihat tidak bersalah. Ketel kopi itu pun terjatuh ke lantai menyebabkan pecahan kaca berserakan dilantai, begitu juga dengan cairan panas kopi yang memenuhi lantai dapur.
Mereka berdua melompat begitu tinggi dari pecahan kaca yang terdengar keras itu dan juga air panas yang hampir saja membakar kaki mereka.
"Ya Tuhan, kalian pikir, apa yang kalian berdua sudah lakukan itu?" Ucapku dengan suara yang terdengar seperti seorang ibu yang tengah marah kepada anak-anaknya.
Mereka berdua mulai berteriak di waktu yang bersamaan.
"Dia bisa saja memberikan aku kopi itu. Tapi dia tidak mau, padahal aku sangat membutuhkan kopi itu." Teriak Sofia.
"Aku yang membuat kopi itu dan aku baru saja bangun. Dia sudah mengambil sebagian dan dia malah mau menghabiskan semuanya. Dia tidak adil." Teriak Justin lagi.
Aku menaruh tanganku di udara untuk memperingatkan mereka berdua agar berhenti dan mereka pun melakukan apa yang aku inginkan.
"Berapa usia kalian berdua?" Tanyaku.
"Dua puluh." Balas Justin.
"Sembilan belas." Balas Sofia.
"Kalian berdua bisa saja membodohi aku. Tapi aku rasa, bahwa aku mempunyai dua anak kecil lagi di rumah ini." Ucapku dengan suara yang mengejek.
Mereka berdua lantas melihat ke arahku dan aku mulai tertawa keras. Aku lalu berjalan ke arah dapur dan mengambil kopi instan dan mulai membuatnya untuk diriku sendiri.
"Oh ya, akan adil jika kalian berdua yang membersihkan semua itu." Ucapku seraya menunjuk ke arah gelas dan cairan panas kopi yang ada di lantai.
Setelah itu aku berjalan keluar dan duduk di depan komputer ku. Ada banyak hal yang harus aku lakukan untuk perkuliahan ku minggu depan. Aku akan menghadapi ujian.
__ADS_1
Beberapa hari berikutnya, aku pun mulai belajar, pergi ke kelas dan juga menjaga anak-anak sepanjang hari dan juga tetap diam di dalam rumah bersama Sofia siang hari dan bersama Justin di malam harinya.
Bersambung.....