Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
6 Anak (Akhir)


__ADS_3

Sekarang, sudah 8 tahun sejak aku tidak lagi punya suara tangis bayi kecil yang terdengar di dalam rumah yang menarik perhatian kami semua. Aku tidak yakin apa yang harus aku lakukan sekarang. John sudah berusia 27 tahun sementara aku sudah berusia 25 tahun.


Entah kenapa semuanya berjalan tidak mudah bagiku, dengan apa yang memang sudah kami pilih untuk kami lalui. Tapi aku tidak pernah merasa begitu bahagia di sepanjang hidupku. Aku mempunyai lima orang anak dan aku tentu sangat bersyukur karena hal itu. Aku juga mempunyai seorang suami yang selalu memberikanku tatapan penuh cinta dan kasih sayang sepenuhnya.


Aku sudah mendapat predikat sarjana beberapa tahun yang lalu. Tapi tugasku hanya tetap berada di rumah sebagai seorang ibu rumah tangga.


Aku selalu duduk di dalam rumah menunggu kedatangan anak-anak pulang dari sekolah dan juga menunggu saat John kembali setelah pulang bekerja. Dan aku sudah melakukan hal itu selama bertahun-tahun. Jujur saja, aku ingin memiliki sebuah pekerjaan lainnya dibandingkan hanya berdiam diri di rumah tak ada yang bisa aku lakukan selain mencuci piring, pakaian, memasak dan membersihkan rumah. Aku juga ingin punya kegiatan sendiri yakni dengan bekerja. Tapi sepertinya semua itu hanya angan-angan saja, mengingat John yang selalu tidak mengizinkan aku untuk bekerja.


Dan hari ini, aku mendengar pintu depan terbuka kemudian tertutup kembali. Aku melihat seorang pria yang berdiri di depan pintu.


"Anak-anak sudah sampai di sekolah?" Tanya ku kepadanya.


"Hmm...." Balasnya yang tetap melihat ke arahku.


"Ada apa?" Tanyaku dengan rasa canggung memikirkan bahwa di wajahku mungkin terdapat kotoran atau apapun itu sehingga dia terus menatap aku seperti itu.


"Tidak aku hanya mau menatapmu dan aku juga tengah memikirkan sesuatu." Ucap John dengan tersenyum dan berjalan ke arahku.


Dia lalu duduk di sofa yang ada di sampingku dengan lengannya memeluk pinggangku kemudian kepalanya bersandar di pundak ku lalu wajahnya mulai mencium leherku.


Hari ini John memang tidak pergi bekerja karena dia sudah lembur semalam. John bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan traveling secara online. Aku sebenarnya tidak terlalu mengerti akan hal itu. Tapi aku tahu, pekerjaan yang dia jalani saat ini memang sudah sesuai dengan keinginan dan kesukaannya.


John terus mencium leherku yang membuat aku tersenyum dan mencium kepalanya. Tidak peduli sudah berapa lama berlalu waktu berlalu, cintaku kepadanya tidak pernah memudar. Malah semakin bertumbuh besar.


"Kau tahu bagaimana besarnya rasa cintaku padamu bukan?" Ucap John padaku.


"Tentu saja aku tahu. Kenapa memangnya?" Tanyaku dengan penuh kebingungan.


"Kau tahu benar bahwa sejak si kembar lahir aku pernah berjanji padamu untuk menjaga dan merawat mereka sepenuh hatiku, dan mereka akan menjadi buah hati terakhir kita. Kau pasti masih ingat itu kan?" Ucap John padaku.


"Iya balas ku perlahan.


Aku memohon kepada Tuhan bahwa obrolan kami ini tidak akan mengarah seperti apa yang aku pikirkan.


"Hei mungkin aku sedikit berbohong padamu waktu itu...." Ucapnya seraya mulai mencium aku.


Aku tahu bahwa sebenarnya dia tengah mencoba untuk mengalihkan pikiranku aku pun berpindah ke ujung sofa.


"John jika kau hendak mengatakan seperti apa yang aku pikirkan sekarang, maka kau bisa melupakan saja tentang kau yang mau berhubungan intim denganku lagi, selamanya." Ucapku dengan sadis.


"Sebenarnya aku rasa itu sedikit terlambat, aku tetap akan mengatakannya. Kapan kau terakhir kali datang bulan?" Ucap John yang membuat aku duduk dalam kebisuan.


"Tidak... tidak... tidak John." Ucapku dengan penuh peringatan.


"Ayolah, kumohon." Ucap John memelas.


Aku menghela nafas dan mulai memikirkan tentang aku yang harus mengerjakan apa yang dia inginkan, lalu berhenti sesat dan mulai lagi, seperti yang dia inginkan saat ini.


"John, aku akan membunuhmu dengan penuh kekerasan dan juga perlahan. Tidak.... Tunggu dulu... Aku tidak akan mau lagi membesarkan banyak anak sendirian dan aku akan meyakinkan dirimu bahwa kau tidak akan pernah bisa memiliki anak lagi dan aku akan lebih baik untuk pergi mengoleksi garpu saja." Ucapku dengan tatapan penuh kemarahan.


"Garpu?" Ucap John bingung. Apa hubungannya garpu dengan semua ini?" Tanya John.


"Baiklah, pertama bahwa kau sudah setuju saat aku mengatakan padamu bahwa kita akan berhenti bereproduksi secara permanen. Kedua, saat aku pergi ke kamar Maria aku menemukan sebuah koleksi garpu."


'Sejujurnya aku memang masih belum yakin untuk apa garpu itu disimpan disana?' pikirku dalam hati.

__ADS_1


"Ketiga, kau membuat aku terus-terusan hamil." Teriakku.


"Lalu apa hubungannya semua itu dengan mengoleksi garpu?" Tanya John tampak bingung.


"Oh ya Tuhan John, aku hamil dan kau malah membicarakan tentang garpu itu!'' Ucapku semakin kesal.


"Bukannya kau yang memulai membahas tentang garpu itu?" Balas John dengan santai.


"John......!!!!" Teriakku sangat kesal.


"Baiklah aku mengerti, tapi mereka mau mengambil pisau bedah dan memotong telur ku jika aku tidak memberikan mereka adik lagi." Ucap John dengan wajah seolah ketakutan.


"Oh begitu." Balasku santai.


"Kau tidak punya telur jadi kau tidak mengerti." Ucap John.


"Dan sudah berapa lama kau merencanakan semua ini John?" Ucapku dengan begitu kecewa.


John melihat ke arahku dengan ekspresi sedih di wajahnya. Dia kemudian berjalan ke arah dapur. Aku hanya bisa menatap ke arahnya saat dia meninggalkan aku dalam keheningan.


"Hei... Aku lah yang memenangkan pertengkaran ini." Teriakku dan mengikuti dirinya.


Saat aku melihatnya berada di dalam dapur, aku pun berhenti melangkah. Dia tampak tengah bersih-bersih. Sangat sulit untuk melihat dia mau membersihkan rumah, kecuali dia benar-benar tengah kesal. Aku pun menghela nafas dan berjalan mendekat ke arahnya dan melingkarkan lenganku di pinggangnya. Aku mulai mencium pundaknya meski sebenarnya aku tidak bisa mencapai pundaknya itu.


"Aku minta maaf oke." Ucap John dengan masih sibuk membersihkan wastafel yang ada di dapur.


"John, tolong lihat aku." Ucapku dengan lembut.


Tapi dia tetap tidak mau berbalik.


John pun lantas melihat ke arahku dengan air mata yang tampak di matanya.


"Dengar, aku minta maaf. Oke sayang." Ucap John dengan lembut.


Melihatnya seperti itu membuat aku merasa bersalah.


"Kemari lah." Ucapnya dan kami berdua pun memeluk satu sama lain.


Kami berdua tetap dalam posisi seperti itu seolah semuanya sudah berlalu selama berjam-jam.


Akhirnya kami berdua saling melepaskan pelukan kami. Tapi kami tetap tidak bergerak dan berpindah ke arah lain terlalu jauh. Kami berdua tetap diam untuk beberapa saat sebelum aku mematahkan semua keheningan yang ada di antara kami.


"Jadi kau mau menambah anggota keluarga kita lagi, hah?" Tanyaku.


"Hei... Oh Tuhan, kau tahu aku berharap bahwa itu hanya satu bayi saja." Ucap John dengan suara tawanya.


"Ah terserah saja. Aku rasa bahwa kita bisa menghadapi dengan berapa banyak pun mereka nantinya." Ucapku dengan bahagia.


Semakin banyak aku memikirkan tentang memiliki anak lainnya semakin berkurang rasa ketakutan itu.


"Iya sayang, mungkin itu akan menjadi seorang anak laki-laki, karena kau tahu hal seperti itu jauh lebih banyak dariku." Ucapku padanya.


"Kedengarannya memiliki anak lainnya tidak terlalu buruk bagimu sayang." Ucap John dengan wajah penuh harapan.


John pastinya sudah tahu benar bahwa aku memang sudah tidak ingin menambah anak lagi di dalam keluarga kami. Dia tahu bahwa aku sangat ingin memulai karirku dengan bekerja, mengingat anak-anak sudah mulai besar. Tapi John selalu meyakinkan aku bahwa akan lebih baik bagiku untuk tetap berada di rumah mengurus semuanya. Karena baginya jika aku sampai bekerja, maka aku aku akan kehilangan momen kebersamaan ku dengan anak-anak.

__ADS_1


"Cukup aku saja yang harus bekerja dari pagi sampai malam yang membuat aku tidak bisa melihat tumbuh kembang anak-anak kita setiap hari. Jika kau ikut sibuk bekerja, bagaimana dengan mereka? Siapa yang akan mengurus keperluan mereka di rumah nantinya? Apakah kau merasa uang bulanan yang aku berikan kepadamu selama ini tidak cukup?" Ucap John kala itu kepadaku.


Apa yang diberikan John pada kami keluarganya selama ini jauh lebih dari cukup. Jadi aku sebenarnya hanya memikirkan bahwa aku bosan dengan rutinitas ku yang terus berada di rumah tanpa bisa melakukan pekerjaan lainnya. Tapi sekarang, sepertinya dengan memenuhi permintaan John untuk memiliki anak lagi, tentu akan membuat aku memiliki kesibukan lagi dengan mengurus bayi kami.


"Dengar aku mungkin sudah bertingkah berlebihan tadi." Ucapku.


John hanya mengangguk, tapi aku tidak menghiraukan dia dan terus bicara.


"Tapi John, aku hanya sedikit terkejut. Kau pasti tahu bahwa aku tidak berencana untuk mempunyai anak lagi." Ucapku.


"Iya aku minta maaf tentang hal itu. Kita bisa melakukan apapun jika kita berdua mau melaluinya bukan?" Ucap John dengan penuh keyakinan.


"Iya John, kita tentu bisa." Balas ku dengan tersenyum.


Kami berdua lalu menghabiskan sepanjang hari hanya bersantai di dalam rumah. John mengambil cuti bekerja untuk beberapa hari berikutnya. Jadi kami bisa mulai melakukan program kehamilan itu.


Beberapa minggu kemudian setelah aku melakukan 5 kali tes kehamilan secara langsung dan hasilnya membuktikan bahwa aku positif hamil lagi.


Aku dan John memutuskan untuk menunggu sampai usia kehamilanku menginjak 13 minggu atau trimester pertama sebelum kami mengatakan semua hal itu kepada orang-orang lainnya.


Berita kehamilanku itu sangat diterima dengan baik dan penuh kebahagiaan oleh Mamaku, kakakku, keluarga John dan juga kelima anak kami yang lain.


Semua hal menjadi berubah saat kami memutuskan untuk memiliki sebuah keluarga yang lebih besar lagi. Kami harus kembali pindah ke sebuah rumah yang lebih besar dan aku akhirnya mulai bekerja untuk membantu perekonomian kami, meski sebenarnya John melarang ku. Tapi aku tidak bisa berdiam diri di rumah begitu saja, karena sejak awal aku memang ingin bekerja. Pekerjaanku itu pun tidak membuat aku harus keluar rumah, yakni aku memutuskan untuk membuka usaha pembuatan kue tart secara online. Dan hasilnya cukup memuaskan.


Beberapa bulan kemudian, lahirlah anak terakhir dari anggota keluarga kami.


Meski kami mengharapkan seorang bayi laki-laki yang akan lahir, tapi pada kenyataannya yang lahir adalah bayi perempuan yang sangat cantik. Kami pun memberikan dia nama dengan sebutan Viola.


'Oh ya Tuhan, aku harap bahwa aku tidak akan hamil lagi setelah ini.'


TAMAT...


Note Author:


*Hai semuanya.....


Terima kasih ya sudah terus ikutin cerita ini sampai akhirnya bisa selesai tepat di akhir tahun ini. Terima kasih sudah terus mendukung dengan menanti setia episode yang author up setiap harinya*... 😘😘


Jangan lupa untuk baca kisah lainnya juga ya. Ada banyak genre lainnya yang gak kalah menarik untuk kalian baca.... 😊😊


Sekali lagi terima kasih untuk semua dukungannya. Sampai ketemu di karya selanjutnya... 🥰🥰


Oh ya, satu lagi...


Happy New Year 2023.....


*Segala doa terbaik untuk kita semua di tahun baru ini...


Love you all...


Salam sayang*,


La-Rayya


^^^^^^31 Desember 2022 (04:06 WITA)^^^^^^

__ADS_1


__ADS_2