
Saat aku tengah berpikir tentang semuanya, aku tidak menyadari bahwa seseorang tengah berjalan masuk ke dalam kamar mandi menuju shower dimana aku berada. Aku merasa begitu terkejut apalagi saat aku merasakan ada dua lengan yang melingkar di pinggangku.
Aku pun lantas berteriak dan melompat karena terkejut sekaligus ketakutan.
"Ini hanya aku." Ucap John berbisik di telingaku.
Aku pun tersenyum dan berbalik menatap ke arah dirinya.
"Ayolah jangan seperti ini, aku malu." Ucapku kepadanya.
"Kenapa harus malu, aku sudah pernah melihat semuanya." Bisik John lagi. "Ngomong-ngomong, apa yang akan kita lakukan hari ini?" Tanya John lagi.
"Aku tengah berpikir bagaimana jika kau menunjukkan kepadaku apa yang begitu indah dari danau yang sering kau kunjungi itu." Ucapku pada John dengan wajah penuh harap.
"Baiklah." Balas John yang membuat aku senang.
Aku memang sangat ingin pergi untuk melihat danau dan juga sungai yang sering di kunjungi John itu. Aku sangat penasaran bagaimana indahnya pemandangan disana hingga sampai membuat John betah untuk berlama-lama ada disana beberapa hari ini.
...****************...
Setelah selesai mandi, kami berdua pun berpakaian yang nyaman digunakan untuk berjalan menyusuri hutan menuju ke danau itu. Kami sama-sama menggunakan celana jeans dan baju kaos.
Kami akan pergi menuju danau dengan membawa keranjang berisi sarapan kami dan sekaligus juga makan siang untuk nanti. Aku yakin bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangat sempurna.
Kami berjalan menurun ke arah danau dengan perlahan. Kami berjalan seraya bergandengan memegang tangan satu sama lain. Kami seolah membuat momen ini menjadi momen yang paling baik yang pernah kami lakukan bersama dan juga sekaligus bersenang-senang melewati waktu yang selama ini sudah menghilang diantara kami.
Aku bisa melihat bahwa ini semua adalah permulaan baru bagi hubungan kami. Aku lantas tersenyum dan menatap ke arah John yang terus menampilkan senyum bahagia di wajahnya juga.
Beberapa saat kemudian, setelah berjalan sekitar sepuluh menit kami tiba di danau itu. Ternyata pemandangan danau itu terlihat begitu menakjubkan.
Air sungai yang berada dekat dengan danau itu juga tampak begitu jernih dengan warna yang biru kristal. Ada banyak rumput berwarna hijau yang menutupi setiap inci dari dataran dengan pepohonan yang sangat besar di mana-mana.
'Pantas saja John betah berlama-lama disini. Pemandangannya begitu menyejukkan mata.' ucapku dalam hati.
Aku mengalihkan pandanganku menatap ke arah John yang tampak sedikit sibuk dengan menata tikar piknik dan juga makanan di atasnya. Aku lantas berlari kecil di sekitar danau itu untuk mendekat ke arah John.
"Tempat ini sangat menakjubkan." Ucapku dengan penuh kejujuran.
"Iya, itu adalah kesan pertama yang aku katakan saat aku pertama kali datang ke tempat ini juga. Dan pemandangannya akan jauh lebih baik setelah beberapa saat nanti." Ucap John dengan wajah penuh misterius.
"Kenapa memangnya? Apa yang akan terjadi nanti?" Tanyaku dengan begitu penasaran.
John hanya tersenyum kepadaku dan duduk kemudian membuka sebuah hampers dari dalam keranjang piknik.
"John.... Aku benci kejutan. Katakan kepadaku, kumohon." Ucapku.
Tapi John hanya tertawa dan terus bertingkah aneh yang membuat aku tidak bisa mengatakan apapun lagi.
Aku lalu memutuskan untuk duduk di atas tikar yang dia tata rapi di atas rerumputan. Aku kemudian melipat lenganku. Aku tidak mau bergerak atau mengatakan sesuatu kepadanya sampai dia mau mengatakan apa yang akan terjadi nantinya padaku.
"Adel, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya John dengan penuh humor.
Tapi aku hanya duduk di sana. Aku tidak bicara apapun dan bahkan aku seolah tidak mau tahu bahwa dia tengah mengatakan sesuatu padaku. Aku benar-benar ingin cuek padanya sekarang ini.
"Adel." Ucap John yang terus mencoba bicara padaku.
Aku masih tidak mau bergerak sedikitpun. Aku merasa kesal karena dia tidak mau mengatakan padaku yang sejujurnya.
"Aku yakin bahwa aku akan bisa membuatmu bergerak." Ucap John lagi.
John sekarang duduk di hadapanku dengan wajahnya yang semakin mendekat ke arahku. Dia memiringkan kepalanya seolah dia tengah berusaha mencium ku yang pastinya tindakannya itu akan membuat aku menjadi luluh. Tentu saja aku tidak mau hal itu terjadi. Aku pasti akan menghindar jika dia memang mau mencium ku.
Namun, sesuatu tampak terjatuh dari dalam sakunya. Dia membeku dan mencoba untuk menyembunyikan apapun benda yang terjatuh dari sakunya itu.
Aku merasa begitu penasaran hingga membuat aku sedikit mendekat hanya untuk melihat ke arah kotak kecil itu, sebelum dia duduk di atasnya.
"John, apa yang kau duduki itu?" Tanyaku begitu penasaran.
"Tidak ada." Jawab John dengan cepat.
__ADS_1
"Omong kosong. Ayo katakan padaku, apa itu sebenarnya?" Tanyaku lagi.
"Tidak ada." Ucap John lagi.
"John....!!!" Ucapku dengan nada penuh ancaman dan dia malah menjulurkan lidahnya ke arahku.
Dia benar-benar membuat aku sangat kesal.
"Adel...." Ucapnya memanggil aku dengan suara yang penuh kekanak-kanakan.
"Oh apa itu?" Teriakku dengan begitu kesal.
"Apaaaa?" Teriaknya lagi dengan bodoh dan langsung berdiri untuk menatapku.
Saat dia berdiri, aku langsung dengan cepat mengambil kotak itu dan membukanya. Setelah melihat isi dari kotak itu, aku pun mematung.
"Adel.... tidak ada apapun di sana." Ucap John dan berbalik menatapku yang tengah membeku. Dan sama seperti yang aku lakukan, dia juga ikut membeku saat dia menyadari bahwa aku sudah melihat isi dari kotak itu.
Sebenarnya dialah orang yang seharusnya tidak membeku apalagi terkejut, mengingat dialah orang yang membawa kotak ini.
"Adel...." Ucap John dengan pelan dan kembali duduk ke atas tikar di depanku dengan tangannya yang ada di lutut ku.
"Apa-apaan ini John?" Tanyaku dengan begitu tidak percaya.
"Iya, aku rasa itu sudah sangat jelas." Ucap John dengan santai.
"Tapi.... ini adalah sebuah..... kau tidak bisa.... Apakah kau? Ini berarti bahwa kau..... Tapi apa...." Ucapku dengan terbata-bata tidak tahu apa yang harus aku katakan saat ini.
"Iya, sebenarnya aku sudah merencanakan semua ini dengan cara yang sedikit berbeda. Tapi karena kau begitu penasaran, jadi seperti inilah hasilnya." Ucap John dengan cepat. "Adel akku mencintai dirimu. Maukah kau menikah denganku?" Tanya John.
Aku menatapnya dengan tajam, kemudian pandanganku beralih ke arah cincin yang tampak begitu indah yang ada di dalam kotak itu.
"Apa?" Ucapku penuh keterkejutan.
Aku benar-benar tidak bisa mencerna semua ini dengan cepat.
"Aku baru saja menanyakan kepadamu. Adel, maukah kau menikah denganku?" Ucapnya dengan lembut lagi.
"Tapi kita baru saja kembali bersama. Kita kita...." Ucapku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku katakan saat ini kepadanya. Semuanya begitu mendadak dan tak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiranku bahwa dia akan melamar ku hari ini juga.
Aku menatapnya, mencoba melihat apakah semua ini hanyalah suatu kesalahan yang besar atau dia tengah memberikan sebuah candaan saja padaku. Tapi wajahnya tampak begitu terluka. Aku pun merasa bersalah.
"John." Ucapku dengan lembut, mencoba untuk menenangkan pikiranku.
"Tidak apa-apa. Tidak masalah." Ucap John dengan cepat menyela ucapan ku. "Aku mengerti jika kau tidak mau menikah denganku." Lanjut John lalu berdiri dan mulai berlari kecil sebelum aku bisa mengucapkan hal sebenarnya yang ingin aku katakan kepada dirinya.
Aku masih duduk di sana membeku dalam semua rasa terkejut ku. Aku mencintai John. Aku memang sangat mencintainya. Sekarang, dia memiliki sebuah cincin untuk diberikan kepadaku. Dia bahkan membeli cincin ini di saat dia masih membenci aku.
'Kenapa aku harus masih berpikir?' tanyaku dalam hati.
Aku menatap ke arah cincin itu yang masih ada di tanganku. Cincin itu tampak sangat indah dan John ingin memberikannya padaku sebagai tanda lamarannya untukku. Aku tahu bahwa semua ini memang akan terjadi disaat waktu yang tepat. Tapi saat ini, aku rasa ini semua bukanlah ide yang baik.
'Aku tahu bahwa aku mencintainya dan aku tentu saja mau menikah dengannya. Tapi semua ini terlihat begitu terburu-buru untuk dilakukan, bukan begitu?' aku kembali bertanya dalam hati.
Aku lalu berdiri dari atas tikar yang disiapkan oleh John itu dan meninggalkan makanan yang sudah ada di atas tikar yang ditata dengan begitu rapi untuk momen lamaran romantis yang ingin dilakukan oleh John padaku. Aku lalu berjalan ke arah sungai, menyusuri air sungai itu dan membiarkan air sungai itu mengenai kakiku dengan rindangnya pepohonan yang membuat aku merasa nyaman.
'Apakah aku mau menikah dengan John?' lagi-pagi pertanyaan itu aku ajukan untuk diriku sendiri.
Itulah pertanyaan utamaku dan jawabannya tentu saja iya, aku mau menikah dengannya. Tidak peduli dengan apa yang sudah kami lalui di masa lalu kurang lebih selama dua atau tiga tahun ini. Tapi aku tetap saja masih mencintai dirinya. Itu artinya bahwa aku memang sangat mencintai dirinya tanpa syarat atau aku bahkan memang tergila-gila kepadanya.
Saat ini aku benar-benar bingung memikirkan semuanya dengan begitu banyak pertanyaan lainnya yang terus berlarian di kepalaku yang membuat aku mulai merasa sakit kepala.
'Sial.' umpat ku dalam hati.
Inilah Kenapa aku tidak mau berpikir terlalu banyak. Kepalaku tidak cocok untuk memikirkan banyak hal dalam satu waktu saja, karena itu hanya akan membuat kepalaku terasa begitu sakit.
Aku menyadari bahwa tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini. Jadi aku memutuskan akan berjalan kembali ke arah rumah untuk melihat jika John ada di sana yang mana aku memang yakin bahwa dia ada di sana, maka kami bisa bicara dengan baik. Aku tahu bahwa aku akan menikah dengannya. Tapi ada beberapa hal yang ingin aku jelaskan padanya lebih dulu.
__ADS_1
Akan menjadi sebuah kesalahan jika aku langsung mengambil keputusan sekarang ini juga, tidak peduli sebagaimana besarnya aku mencintai dirinya.
Perjalanan kembali ke arah tempat keranjang piknik berada memerlukan waktu lebih panjang dibandingkan dengan yang aku pikirkan. Ternyata aku berjalan terlalu jauh saat menyusuri sungai itu. Dan pasti nanti saat aku tiba di rumah, suasananya sudah gelap. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan begitu lama berada di luar. Tapi aku yakin bahwa matahari tidak bisa berbohong padaku dengan menunjukkan bahwa hari mulai gelap.
Aku mengemasi barang-barang ku dan aku mulai berjalan kembali dengan cepat karena tidak mau kegelapan nantinya mendatangi aku. Aku sudah berada setengah jalan sampai ke rumah, saat aku merasa ada tetes air yang jatuh ke hidungku. Aku melihat ke atas berpikir bahwa mungkin ada beberapa binatang yang buang air kecil padaku. Tapi aku begitu terkejut karena melihat bahwa tidak ada binatang apapun.
Langit tampak tertutup dengan begitu gelap oleh awan. Area ini memang terkenal menjadi tempat yang paling sering dilanda hujan badai di seluruh negara ini dan memang paling sering terjadi. Badai itu bisa terjadi dalam beberapa menit atau bahkan bertahan sampai beberapa hari dan merusak hampir semua yang dia sentuh.
Jantungku mulai berdetak begitu kencang saat aku berpikir bagaimana jadinya jika aku menghadapi badai itu saat ini dengan aku yang berada di luar area ini. Jadi aku harus berada di rumah secepatnya.
Aku mulai berlari dengan begitu cepat dibandingkan dengan yang pernah aku lakukan di sepanjang hidupku. Aku terus berlari sampai ada rasa sakit yang amat sangat di kepalaku. Aku terjatuh dan melihat ke arah tanah sebelum semuanya menjadi begitu gelap.
...****************...
John PoV
"Adel." Ucapku dengan cepat duduk kembali di depan dirinya dengan tanganku yang memegang lututnya.
"Apa-apaan ini?" Tanya Adel kepadaku dengan wajah yang tampak begitu penasaran.
"Ya, aku rasa semua itu sudah sangat jelas." Ucapku tidak mau menyangkal fakta yang ada bahwa itu adalah cincin lamaran ku untuknya.
'Oh ya Tuhan, apa yang akan dia lakukan saat ini? Aku rasa aku tidak akan bisa menghadapinya, jika dia mengatakan tidak padaku.' ucapku dalam hati.
"Tapi ini adalah sebuah.... Kau tidak bisa... Apakah kau... Maksudku ini semua.... Tapi apa....?"
Dia terus mengatakan kata-kata yang terbata-bata yang membuatku berpikir bahwa itu semua merupakan tanda tidak yang baik.
"Ya, aku memang sudah merencanakan semuanya dengan sedikit berbeda. Tapi karena kau sudah begitu penasaran, jadi seperti inilah." Ucapku dengan cepat.
Aku berharap bahwa aku memang benar dengan berpikir bahwa dia memang masih mencintai aku, sehingga aku memutuskan untuk mau melamarnya seperti ini karena aku yakin jika dia akan setuju. Tapi jika tidak, aku malah akan membuat diriku malu sendiri karena sudah terlalu percaya diri.
"Adel, aku mencintaimu. Maukah kau menikah denganku?" Tanyaku padanya.
Dia melihat ke arahku kemudian kembali menatap ke arah cincin yang ada di dalam kotak itu. Aku begitu gugup dengan apa yang akan dia katakan kepadaku.
"Apa?" Teriaknya kepadaku.
"Aku baru saja menanyakan kepadamu, maukah kau menikah denganku?" Ucapku lagi dengan perasaan yang tidak suka dengan cara dia menanggapi semua ini.
Itu bukanlah reaksi yang aku inginkan atau aku harapkan darinya.
"Tapi kita baru saja kembali bersama. Kita... Kita...." Ucapnya dengan gugup dan terlihat begitu bingung.
Dia terus menatap ke arahku dengan tatapan penuh pertanyaan dan aku tahu bahwa aku seharusnya tidak pernah menanyakan padanya tentang hal itu karena ternyata dia memang tidak mencintai aku.
"John...." Ucapnya dengan lembut melihat ke arahku dengan penuh kebingungan.
"Sudah tidak apa-apa." Ucapku dengan cepat menyela ucapannya. "Aku mengerti jika kau tidak mau menikah denganku." Ucapku lagi.
Aku lalu berdiri dan berlari menjauh sebelum air mataku turun di hadapannya. Aku sudah berpikir sejak apa yang terjadi semalam bahwa semuanya sudah berbeda dengan hubungan kami. Aku berpikir bahwa semuanya akan berjalan dengan baik.
Aku pun berlari ke arah rumah karena aku tidak tahu ke mana lagi aku bisa pergi. Adel akan pulang sebentar lagi dan aku tidak siap untuk melihat dirinya setelah membuat kebodohan pada diriku sendiri seperti ini. Tapi semua itu tidak bisa membuat aku melakukan apapun lagi dan hanya bisa berdiam diri di dalam rumah.
Aku langsung masuk ke dalam rumah dengan begitu cepat dan pergi untuk mengambil minuman. Aku benar-benar ingin mabuk sekarang. Aku tidak percaya bahwa aku melakukan semua itu dan dia menolak ku. Aku duduk di kursi ruang tamu dengan kaleng bir di tanganku dan menunggu Adel untuk pulang ke rumah.
Tapi semuanya terasa begitu lama. Jadi aku pun memutuskan untuk keluar rumah dan berdiri di teras rumah. Tapi apa yang aku lihat sekarang adalah pemandangan yang sangat menyeramkan.
Aku melihat salah satu badai yang begitu besar yang akan segera datang. Badai yang membuat semua orang takut karena tidak mau berada di dalam badai itu.
Aku melihat sekeliling dengan penuh kepanikan. Tapi aku tidak melihat tanda-tanda adanya Adel. Aku tahu benar bagaimana akibat dari badai ini meski aku memang belum pernah melihatnya dan mengalaminya secara langsung. Aku lalu berlari masuk ke dalam rumah dan mengambil jaket ku, pengeras suara dan juga senter.
Aku mencoba memanggil Adel beberapa kali, tapi pengeras suara itu malah tidak bisa digunakan.
"Sial." Ucapku dengan rahang yang mengeras karena rasa frustrasi.
Aku memutuskan untuk berlari ke arah danau di mana aku melihat Adel terakhir kali. Aku hampir setengah jalan tiba di sana, aku melihat Adel dan apa yang aku lihat membuat darahku menjadi dingin. Aku begitu gemetar dan juga ketakutan.
"Adeeelll....." Teriakku.
__ADS_1
Bersambung.....