Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
Rumah Sakit Lagi


__ADS_3

Adel PoV


"Selamat pagi Adel." Ucap seorang perawat dengan suara yang terdengar begitu penuh keceriaan.


Aku melihat ke arahnya dan mulai merintih.


"Aku kembali ke sini lagi." Ucapku dengan perasaan kesal.


"Iya, aku mulai berpikir bahwa pihak rumah sakit akan memberikanmu sebuah kamar permanen di rumah sakit ini, karena kau sering berada di sini." Ucap perawat itu dengan tersenyum padaku.


"Aku juga mulai berpikir bahwa itu mungkin memang ide yang bagus, mengingat bahwa rumah sakit sepertinya sudah menjadi rumah kedua bagiku." Ucapku dengan tertawa.


Aku lalu mencoba untuk duduk. Namun aku mulai merasakan ada rasa sakit di bagian area pinggulku. Aku lantas melihat ke arah wajah perawat yang tampak familiar itu dan dia menatapku dengan wajah yang penuh simpati juga seolah tampak iba kepadaku.


Aku mulai berpikir kenapa aku bisa berada di rumah sakit ini lagi. Dan perlahan semua kejadian itu mulai aku bisa ingat lagi. Pria asing itu! Di sebuah gang buntu....


Air mata mulai terjatuh berlinang ke pipiku.


"Ini semua cukup mengejutkan sayang. Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya wanita itu penuh perhatian kepadaku.


"Apakah dia sudah?"


Aku tidak bisa melanjutkan ucapan ku. Suara ku begitu gemetar membayangkan hal buruk yang sudah terjadi pada diriku.


"Maaf sayang, pria jahat itu sudah pergi di saat seseorang menemukan dirimu. Dan kau sudah berada di sini beberapa hari." Ucap perawat itu.


"Apakah Mama atau Sofia sudah di beritahu?" Tanyaku gemetar.


"Tidak, belum. Apakah kau mau kami menelpon seseorang untukmu?" Tanya perawat itu.


"Tentu." Balas ku dengan air mata yang perlahan turun ke pipiku.


Setelah itu perawat itu meninggalkan ruangan ku dan pergi untuk menemui pasien lainnya dan dia juga mengatakan akan menelpon keluargaku untuk membiarkan mereka tahu bahwa aku baik-baik saja.


Tapi....... aku sudah dinodai oleh pria menyeramkan itu.


Aku bersyukur bahwa aku tidak mengingat apapun yang sudah terjadi atas apa yang dilakukan pria itu pada tubuhku. Tapi aku tetap saja merasa begitu kotor. Dengan membayangkan tubuhku sudah disentuh oleh pria itu, membuat aku marah dan juga kecewa pada diriku sendiri.


'Kenapa aku bisa salah mengambil jalan?'


'Kenapa aku tidak bisa melawannya?'


'Kenapa aku tidak bisa kabur dan lepas dari cengkeramannya saat aku berhasil menendang alat sensitifnya itu?'


'Oh Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi kepadaku?'


Jika saja aku tidak memikirkan ketiga anak kembar ku yang masih kecil itu, aku lebih baik memilih untuk mati saja daripada harus hidup dengan menanggung rasa malu ini. Namun, memikirkan bahwa aku akan pergi meninggalkan mereka bertiga lantas membuat aku berusaha kuat dan menerima takdir memilukan yang sudah Tuhan berikan padaku ini.


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya ketiga anak kembar ku jika aku sampai mati. Mereka memang masih punya Mama ku yang tentu saja bisa merawat mereka. Tapi bagaimanapun, Mama tidak lagi muda dan tentu akan merepotkan bagi Mama untuk mengurus ketiga cucunya yang masih kecil. Walaupun juga sebenarnya mereka punya Papa mereka, tapi tentu saja tidak akan bisa menyayangi mereka seperti yang aku lakukan. Buktinya saja, Papa mereka malah pergi meninggalkan mereka begitu saja.


Aku menaruh tangan di kepalaku karena mulai merasakan sakit pada bekas luka yang ada di balik perban karena terjatuh dengan keras saat itu.


Aku lalu duduk beberapa menit hanya untuk meratapi diriku sendiri. Sebenarnya semuanya tidak terlalu menyakitkan, jika mengingat senyuman di wajah ketiga anak-anak kembar ku. Tapi hal yang paling sakit saat ini justru adalah bekas luka di kepalaku.


"Adel sayang, apa kau masih bangun?" Ucap perawat itu saat kembali masuk ke ruangan ku.


Aku melihat ke arahnya dan tersenyum.


"Iya aku masih bangun. Apakah kau sudah menelpon keluargaku?" Tanyaku padanya.


"Iya, aku sudah menelpon Mamamu. Dia akan berada di sini secepatnya. Dia sepertinya terdengar begitu lega setelah mengetahui bahwa kau ada di sini." Ucap perawat itu.

__ADS_1


"Sepertinya begitu. Aku rasa itu semua karena seperti aku sudah tertidur untuk beberapa hari disini. Tentu saja Mama pasti merasa khawatir. Mmmm kapan Mama akan ada di sini?" Tanyaku.


"Oh sekitar 15 menit, ucap Mamamu." Kata perawat itu.


Aku lalu berterima kasih kepada perawat itu dan dia pun pergi dari ruangan ku.


...****************...


Aku duduk di sana, di dalam ruangan rumah sakit di mana aku tengah dirawat dengan kembali terus memikirkan tentang apa yang sudah terjadi padaku. Tiba-tiba sebuah ketukan terdengar di pintu ruangan ku. Itu belum 15 menit dan aku tampak penasaran dengan siapa yang datang, karena itu sepertinya bukanlah Mama.


Aku lalu meminta orang di luar itu untuk masuk dan saat pintu terbuka tampak dua orang petugas polisi masuk ke dalam dengan ekspresi datar di wajah mereka.


"Nyonya Adela Dwitara Lolata?" Ucap salah seorang petugas polisi itu.


"Iya." Balas ku seraya menghela nafas.


"Kami ada di sini untuk bicara kepada anada tentang apa yang sudah terjadi. Apakah anda tidak masalah dengan hal itu?" Tanya salah seorang dari mereka lagi.


Aku melihat ke arah mereka berdua dan menganggukkan kepalaku. Ini semua tidak akan menjadi obrolan yang menyenangkan bagiku.


"Baiklah. Apakah anda mengingat apa yang sudah terjadi kepada diri anda?" Tanya mereka.


Aku pun menghela nafas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian ku untuk mengingat semua yang sudah terjadi. Aku lantas mulai menceritakan semuanya sejak awal.


"Aku bertengkar dengan teman sekamarku dan dia juga merupakan baby sitter untuk anak-anakku. Setelah itu, aku memutuskan untuk keluar rumah untuk berpikir beberapa saat. Aku tidak mau bertemu dengan seseorang yang aku kenal. Jadi aku pergi ke sebuah tempat di mana aku biasanya tidak sering pergi ke sana." Ujar ku.


Para petugas polisi itu melihat ke arahku dan seolah meminta aku untuk terus melanjutkan ceritaku.


"Aku masuk ke dalam sebuah kafe yang sepertinya baru saja dibuka. Disana ada seorang pria yang duduk di sudut ruangan. Dia terus menatap ke arahku dan hal itu membuat aku merasa takut. Setelah aku memtuskan untuk meninggalkan kafe itu, dia sudah tidak ada di meja tempat dia duduk. Saat aku sudah setengah jalan dari arah pulang ke apartemenku, aku menyadari bahwa dia mengikuti aku. Karena takut, aku pun berbelok ke arah yang salah dan dia... dia.... ah... dia mengikuti aku." Ucapku mencoba untuk tidak menangis.


"Apakah anda mengingat bagaimana rupa dari laki-laki itu?" Tanya mereka dengan baik.


"Ah maaf, baiklah, maksudku dia terlihat seperti orang biasa saja. Dia mempunyai rambut yang hitam dan sedikit ikal. Matanya juga begitu hitam. Dia menggunakan pakaian yang biasa. Tapi semua itu membuat dia terlihat begitu menakutkan." Ucapku dengan suara yang sedikit gemetar.


"Baiklah, terima kasih. Jika kami sudah mendapat petunjuk lainnya, kami akan menghubungi anda." Ucap petugas polisi itu.


"Hei tunggu dulu..." Ucapku memanggil mereka dengan bingung saat mereka hendak pergi dari ruangan ku. "Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku akan mengajukan tuntutan." Ucapku.


"Memang tidak. Tapi suami anda yang mengatakan bahwa anda... Apakah dia salah?" Tanya petugas polisi itu seraya menatap satu sama lain dengan wajah kebingungan.


"Suami?" Ucapku.


Sekarang aku lah orang yang menjadi kebingungan dengan siapa orang yang mereka sebut sebagai suami itu.


"John. Dia ada di luar menunggu bersama dengan Mama anda." Ucap petugas polisi itu seolah menyadari kebingungan dari wajahku.


"John ada di sini?" Ucapku saat duduk.


Aku mencoba untuk mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh kedua petugas polisi itu.


'John ada di luar dan menunggu diriku dengan Mama?' ucapku dalam hati.


'Kenapa harus nama John yang disebut yang tengah berada di luar sana?' Tanyaku lagi dalam hati.


'Mungkin karena kau sudah menghilang selama beberapa hari.' ucap sebuah suara di dalam kepalaku.


"Apakah kalian bisa memintanya untuk bisa masuk ke dalam?" Tanyaku kepada petugas polisi itu dengan sopan.


"Tentu saja Nyonya." Ucap mereka kemudian pergi.


Aku berbaring di sana di atas tempat tidur untuk beberapa menit sebelum Mama tampak berlari masuk melalui pintu.

__ADS_1


"Adel sayang.... Kau sudah sadar....!!!" Teriak Mama.


Aku tertawa dan memeluk Mama balik, saat lengan Mama melingkar di tubuhku.


"Hei Ma, aku baik-baik saja." Ucapku dengan menunjukkan sikapku yang berani agar Mama tidak terlalu khawatir padaku.


"Adel, apakah kau benar-benar baik-baik saja?" Tanya sebuah suara yang terdengar begitu familiar di telingaku dari arah pintu.


Aku melihat dari balik punggung Mama dan mendapati bahwa John tengah berdiri di pintu. Wajahnya hampir terlihat sama seperti yang selalu aku ingat. Tapi senyuman di wajahnya itu sudah menghilang. Bahkan dari tatapan matanya, dia itu terlihat begitu sedih. Untuk beberapa saat, aku bisa merasakan rasa sakit yang ada di dalam dirinya. Tapi kemudian aku menyadari bahwa dia sendirilah yang membawa rasa sakit itu dalam dirinya.


"Hai John, bagaimana kabarmu?" Ucapku dengan lembut.


Dia melihat ke arahku dengan tatapan yang sama seperti yang aku lakukan kepadanya beberapa menit yang lalu.


"Kepalamu terlihat benjol." Ucapnya yang membuat aku tertawa.


"Iya, memang sedikit benjol. Tapi aku baik-baik saja." Balasku.


"Mama akan pergi untuk mengambil es teh atau minuman yang lainnya untuk kita. Mama mungkin juga akan membeli beberapa potong kue. Apakah kau mau itu sayang?" Tanya Mama kepadaku.


Aku pun menganggukkan kepalaku ragu. Bukan karena aku tidak mau kue ataupun es teh itu. Tapi karena itu berarti bahwa aku akan ditinggal oleh Mama berduaan hanya bersama dengan John. Kami sudah tidak pernah berduaan untuk waktu yang sangat lama sejak kami masih bersama dulu. Akan lebih baik jika ada orang lain di ruangan ini untuk menemani kami agar tidak ada keheningan yang membuat semuanya menjadi canggung diantara kami berdua.


"Bu Helen, aku bisa melakukannya. Tetaplah di sini bersama dengan Adel." Ucap John yang terdengar ragu.


Tentu saja dia mengambil solusi seperti itu karena dia sepertinya juga memikirkan apa yang aku rasakan.


Aku tahu bahwa aku tidak mau menghabiskan waktu bersamanya. Tapi entah kenapa aku merasa sedikit kesal karena dia tidak mau menghabiskan waktunya bersamaku. Perasaanku ini memang aneh.


'Dasar hati!'


"Jangan bodoh John! Biar aku saja yang akan pergi." Ucap Mama yang setelah itu tidak ada ucapan apapun lagi.


Mama pun langsung pergi keluar dari ruangan itu untuk mengambil es teh dan juga kue seperti yang dikatakan.


Setelah Mamaku pergi, keheningan yang aku pikirkan sejak tadi mulai datang. Kami berdua duduk dan berharap bahwa satu sama lain akan memulai obrolan itu. Aku terus berharap bahwa seseorang akan mulai bicara. Tapi tidak ada dari kami yang melakukannya.


"Baiklah, aku akan menjadi orang dewasa. Bagaimana kabarmu John?" Tanyaku dengan kesal karena akhirnya harus memulai lebih dulu obrolan kami.


"Apa yang membuatmu merasa menjadi orang dewasa?" Tanya John dengan kasar.


"Faktanya karena aku bukanlah orang yabg berlari menjauh dari keluarga saat aku pikir bahwa semuanya menjadi begitu buruk tanpa bicara kepada seseorang." Balas ku juga tak kalah marah.


"Hei, aku memang membuat kesalahan. Kau juga membuat kesalahan yang sama dan lihatlah hasilnya yaitu mereka bertiga." Ucap John.


"Maaf? Apa yang kau katakan? Mereka bukanlah suatu kesalahan. Mereka memang tidak direncanakan, tapi juga bukan suatu kesalahan dan siapa yang membantu mereka selama ini hah? Mereka bukan hadir hanya karena sebuah keajaiban dan membuat mereka bisa lahir begitu saja." Ucapku.


John melihat ke arah lantai menyadari bahwa dia memang bersalah. Wajahnya tampak memerah, entah karena rasa marah atau pun malu, aku tidak yakin. Tapi aku harap bahwa itu karena dia merasa malu.


"Ya Tuhan Adel, dengar.... Aku minta maaf, oke. Aku minta maaf karena aku tidak bisa mengingat bahwa akulah Papa dari anak-anak itu. Aku minta maaf karena aku tidak bisa membuat semuanya berjalan dengan baik. Aku minta maaf karena aku selalu membuat kesalahan dan langsung membuat keputusan sendiri tanpa bertanya lebih dulu. Aku minta maaf karena aku pergi begitu saja. Tapi percayalah padaku kalau aku tidak mau hal itu terjadi dan aku benar-benar sangat minta maaf atas semuanya." Teriak John kepadaku.


Aku melihat ke arahnya karena dia tampak marah.


"Baiklah John, aku mengerti." Ucapku dan mengalihkan perhatianku.


"Kau tahu, aku bukanlah yang menjadi akar masalahnya di sini Adel. Kau juga tidak sempurna. Semuanya ini intinya membawa dua kepala di dalam satu hubungan dan itu artinya kau dan aku." Ucap John.


Rahang ku terasa mengeras.


"Kau pikir ini semua salahku karena semuanya tidak berjalan dengan baik? Apakah kau pikir bahwa itu semua adalah masalahku sehingga kau berpikir bahwa aku selingkuh darimu? Apa yang sudah aku lakukan sampai membuatmu tidak bisa percaya kepadaku? Aku jatuh cinta padamu John. Aku duduk di dalam rumah sakit berpikir di mana perginya pria yang mencintai aku. Kenapa dia tidak ada di sana? Aku pikir bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirimu. Aku pikir kau pasti sakit atau suatu hal yang buruk terjadi kepadamu. Tapi tidak kau malah menjadi pria pecundang." Ucapku begitu marah melampiaskan semua emosi yang selama ini terpendam di dalam dadaku.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2