
John PoV
Aku duduk di dalam kamar ku tengah memikirkan tentang apa yang sudah terjadi pada minggu lalu. Aku tahu bahwa aku sekali lagi mengacaukan semuanya dengan Adel. Saat aku pergi pertama kali, saat itu aku merasa begitu kecewa dan juga terluka. Aku pikir bahwa dia sudah berselingkuh dariku.
Tapi setelah melihat ke belakang, sekarang aku merasa begitu malu. Dia lah orang yang seharusnya meninggalkan aku, bukan malah sebaliknya. Aku bahkan sudah menyelidiki pria yang bernama Jefri itu dan juga bertanya kepadanya, tentang apa yang sebenarnya terjadi di saat aku melihat adegan yang melibatkan mereka berdua di hari itu.
Jefri pun mengatakan semuanya, dan hal itu semakin membuat aku merasa begitu bersalah dengan apa yang sudah aku lakukan. Aku begitu bodoh dan emosional karena langsung percaya begitu saja dengan apa yang aku lihat. Padahal pada kenyataannya semua yang aku lihat tidak seperti yang aku pikirkan.
Aku seharusnya bertanya padanya apa yang sudah terjadi dan bukan malah langsung meninggalkan dia begitu saja. Terlebih lagi, aku meninggalkan dia disaat dia berada dalam masa sakitnya. Dan sakit yang dia alami itu, tidak lain juga karena diriku.
'Aku benar-benar bodoh!'
Malam itu, saat aku menyadari bahwa aku tengah berdansa dengannya pada di sebuah klub malam, aku merasa sangat bahagia karena aku berada di tempat yang sama dengan dirinya.
Aku sebenarnya punya kesempatan untuk membuat semuanya antata aku dan Adel kembali membaik. Tapi aku begitu mabuk dan seperti biasanya semua yang aku pikirkan hanyalah tentang bagaimana untuk bisa menyakiti dirinya karena aku selalu merasa bahwa dia sudah tidur dengan pria bernama Jefri itu. Padahal aku sudah mengetahui kebenarannya.
Tapi entahlah, aku juga tidak tahu apa yang sudah merasuki diriku sampai aku terus saja memikirkan hal yang sebenarnya sama sekali tidak pernah terjadi. Mungkin semua itu karena aku terlalu mencintai dirinya dan hal itu membuat aku selalu saja murka jika melihat dia bersama dengan pria lainnya.
Aku terbiasa untuk meluapkan amarahku kepadanya karena memikirkan hal yang tidak-tidak. Tapi saat wanita itu, aku rasa dia merupakan salah seorang dari teman Adel, menyiram segelas minuman ke wajahku, itu langsung membuat aku merasa tersadar.
Keesokan paginya saat aku menyadari semuanya, aku merasa gelisah dan itu semua benar-benar begitu kacau. Aku sudah mencoba untuk menemukan Adel di hari berikutnya dan hari berikutnya lagi. Tapi aku tidak menemukan apapun tentang dia.
Malam itu, saat aku melihat dia bersama dengan temanku di bar favorit kami, membuat aku begitu terkejut. Aku merasa begitu bahagia dan juga gugup. Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku sudah melakukan semua kesalahan itu. Aku juga ingin mengatakan kepadanya bahwa aku masih mencintainya.
Namun, kemudian dia diperkenalkan sebagai kekasih dari Justin, salah seorang sahabatku. Itu membuat aku marah, tapi bukan kepada Adel, sama sekali bukan kepadanya. Aku marah kepada Justin.
Aku sudah menceritakan kepada Justin tentang semua yang berhubungan dengan Adel, cintaku. Dan Justin pasti sudah menyadari bahwa wanita yang sering aku ceritakan kepadanya yang bernama Adel itu adalah gadis yang sama dengan yang dia pacari saat ini.
Dia tahu bahwa aku selalu mencari Adel setelah malam aku bertemu dengan Adel pertama kali di klub malam itu karena aku memang selalu menceritakan semuanya kepadanya. Tapi ternyata selama ini dia malah berkencan dengan Adel, bahkan mungkin saja dia sudah tidur dengan Adel.
Aku bisa mengatakan bahwa Justin tahu dari dalam lubuk hatinya bahwa Adel itu adalah wanita yang sama dengan sosok wanita yang sering aku ceritakan kepadanya. Itulah yang menjadi alasan kenapa pertengkaran kami dimulai. Aku merasa begitu marah. Aku dikhianati oleh salah seorang dari sahabat baikku.
Aku tahu semua itu tidak membantu apapun agar hubunganku dengan Adel membaik. Dan yang terjadi bahkan semakin kacau karena Adel akhirnya harus membayar jaminan bagi kami berdua untuk bisa keluar dari penjara. Aku tahu bahwa dia tidak punya cukup uang. Namun, dia tetap mau membebaskan aku.
Hal itu memberikan sebuah harapan bagiku, bahwa semuanya akan baik-baik saja dengan hubungan kami. Saat aku keluar dari dalam sel, sangat menyakitkan bagiku untuk melihat ketiga anak-anakku memanggilku dengan sebutan 'Papa'. Mereka ternyata masih mengingat aku dan mereka tampak begitu bahagia karena melihat aku.
Aku ingin sekali memeluk mereka semua dan mencium mereka dan juga menggendong mereka. Tapi aku tahu bahwa Adel sedang tidak senang. Sehingga hal itu pasti akan terlalu beresiko bagiku jika aku sampai melakukannya. Terlebih saat Adel mengajak paksa anak-anak untuk segera pulang.
Sejujurnya aku tidak pernah mau untuk meninggalkan mereka pada awalnya. Aku berpikir bahwa aku akan pergi hanya untuk sementara saja. Tapi semuanya menjadi kacau dan aku malah semakin menjauh.
Aku hanya tidak mau mereka menjadi tidak bahagia lagi karena kehadiranku. Aku juga takut jika aku adalah alasan kenapa mereka sampai tidak bahagia nantinya. Aku tidak mau menyakiti mereka lagi.
Aku kemudian mencoba untuk menelpon Adel hari berikutnya dan hari berikutnya dan seterusnya. Tapi, aku tetap tidak bisa menghubunginya. Aku pun menyadari bahwa dia memblokir panggilan dariku karena dia tidak mau bicara denganku lagi.
Aku tidak bisa menenangkan diriku dan terus berpikir jika Justin berada di apartemen Adel, dan itu membuatku marah sekaligus kecewa.
Saat ini, aku tengah duduk di dalam kamarku berpikir tentang semua yang sudah terjadi dan bagaimana aku bisa memperbaiki semuanya. Tapi tidak ada apapun yang terlintas di pikiranku yang bisa membuat Adel mau bicara lagi denganku.
Ponselku tiba-tiba berdering dan itu membuat aku keluar dari dalam lamunan ku.
__ADS_1
"Halo!" Ucapku.
"Hai, apakah ini John?" Ucap seorang wanita yang terdengar dari seberang telepon.
"Iya siapa ini?" Tanyaku.
"Hai ini aku Sofia. Mmm.... kau mungkin tidak mengingat aku. Aku adalah teman baik dari Adel dan juga baby sitter nya." Balas wanita itu.
"Iya kau adalah gadis yang sering bersamanya itu kan? Kau adalah gadis yang menyirami wajahku dengan minuman di klub malam itu dan kau juga adalah yang berada bersamanya di kantor polisi itu." Balasku.
"Iii... iya, itu aku." Balasnya dengan suara yang terdengar sedikit gugup. "Dengar, aku tidak mau mengganggu dirimu atau terserahlah apapun itu. Mmmm... tapi aku mau bertanya, apakah Adel kemungkinan ada di sana?" Tanya wanita bernama Sofia itu padaku dengan suara yang terdengar semakin gugup.
"Kau pasti tahu jika Adel tidak mau mengangkat telepon dariku. Lalu bagaimana mungkin dia bisa ada di sini bersamaku?" Tanyaku dengan perasaan mulai khawatir memikirkan tentang Adel.
"Sial, mmm.... baiklah. Terima kasih John." Ucapnya hendak mengakhiri pembicaraan kami.
"Hei.... Tunggu dulu. Apakah ada sesuatu yang sudah terjadi? Apakah dia baik-baik saja?" Tanyaku lagi.
"Adel pasti akan membunuhku jika dia tahu bahwa aku bicara denganmu. Tapi aku rasa aku memang butuh bantuan." Ucap Sofia dengan suara yang gemetar.
"Katakan kepadaku apa yang terjadi? Aku bisa bantu." Balas ku.
"Baiklah, sebenarnya Adel dan aku sedikit berdebat kemarin tentang apa yang sudah terjadi antara kalian semua dan dia pun kesal. Jadi dia memutuskan untuk keluar dari apartemen, tapi dia belum kembali sampai sekarang." Ujar Sofia dengan suara yang terdengar seperti orang yang tengah menangis.
"Maksudmu Adel belum juga kembali ke rumah selama 12 jam? Bukankah diluar sana cuacanya sangat dingin karena hari tengah hujan?" Ucapku dengan marah.
"Aku tahu! Itu lah kenapa aku merasa khawatir. Oh Tuhan....! Aku sudah menelpon setiap orang yang aku tahu. Dan Mamanya akan berada di sini secepatnya dan aku masih belum menemukan keberadaan Adel." Ucap Sofia dengan panik lagi.
"Saat Aku menelpon Mama nya dan bertanya apakah Adel ada di sana dan kemudian mamanya berkata bahwa Adel tidak ada di sana. Dia pun menyadari bahwa sesuatu yang buruk mungkin sudah terjadi. Jadi dia bilang bahwa dia akan berada di sini secepat yang dia bisa." Balas Sofia.
"Baiklah, dengar ya... Aku akan ke sana sekarang juga, oke." Ucapku.
"Entahlah, tapi aku sejujurnya tidak tahu. Adel pasti tidak akan senang dengan hal ini." Balas Sofia lagi.
"Dengar, sekarang ini aku hanya mau meyakinkan bahwa Adel baik-baik saja, oke." Ucapku penuh penekanan.
"Baiklah, kami tinggal di sebuah gedung apartemen yang berada di seberang toko bunga yang dekat dengan kampus di apartemen Nomor 22 B." Ujar Sofia.
"Baiklah, aku akan ada di sana dalam waktu 10 menit." Ucapku dan setelah itu aku langsung menutup sambungan telepon.
Pikiranku tentang Adel yang mengalami suatu masalah membuat aku begitu gugup. Aku hanya berharap bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi kepadanya. Aku harap dia baik-baik saja.
...****************...
Aku akhirnya tiba di apartemen milik Adel dan di saat yang bersamaan Mama Adel juga tiba. Mama Adel menatapku dan tampak mematung.
"John!" Ucap Mama Adel dengan wajah yang tampak terkejut.
"Hai Bu Helen." Ucapku gugup.
__ADS_1
Mama Adel langsung berlari ke arahku dan memeluk aku dengan hangat. Dia lebih dari seorang Mama bagiku dari Mama yang aku pernah miliki.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Bu Helen saat kami memasuki lift.
"Aku sudah bertemu Adel beberapa kali. Beberapa saat yang lalu, teman sekamarnya menelpon aku dan aku rasa bahwa aku bisa menolong sesuatu." Balas ku dengan sedikit malu.
"Aku bisa tebak bahwa kau tidak mau Adel mengetahui jika kau ada disini bukan?" Ucap Bu Helen.
Aku mengusap belakang leherku karena gugup.
"Dia mungkin saja akan membunuhku jika dia tahu bahwa aku berada dekat dengan apartemennya." Balas ku.
Bu Helen menatap diriku dengan ekspresi yang seolah dia sudah mengetahui tentang sesuatu dan itulah apa yang aku suka dari dirinya. Dia tahu saat aku tidak mau untuk mengatakan semua hal lebih jauh, dia sudah lebih dulu mengetahui semuanya tanpa bertanya apa yang terjadi.
"Apakah Bu Helen sudah sering berada di sini sebelumnya?" Tanyaku basa-basi.
"Tidak terlalu sering." Balas Bu Helen dengan wajah yang tampak sedih. "Aku hanya membantu mereka pindah kemari dan aku tinggal di sini selama seminggu. Dan itulah terakhir kali aku melihat mereka." Balas Bu Helen dengan raut wajah yang tampak sedih.
"Bu Helen tahu bahwa aku tidak mau pergi bukan?" Ucapku dengan suara pelan.
"Iya John, aku tahu bagaimana kau sangat mencintai Adel dan anak-anak itu. Aku hanya berharap bahwa kau bisa pulang." Ucap Bu Helen dengan suara tulus yang membuat aku merasa malu.
"Setidaknya kau sedang mencoba sekarang Ucap Bu Helen lagi. "Itulah inti dari semuanya. Kau akan selalu menjadi keluarga bagiku, tidak peduli apa yang kau dan Adel sudah lalui atau akan kalian lalui di masa depan nanti." Ucap Bu Helen lagi.
Aku lantas melihat ke arahnya dengan penuh haru.
"Terima kasih Bu Helen." Ucapku.
"Baiklah tidak perlu lagi merasa begitu melankolis sekarang. Ayo temukan putriku dan cinta dalam hidupmu itu." Ucapan saat kami keluar dari dalam lift.
Aku hanya tertawa saat aku mengikuti dirinya dia selalu membuat aku tertawa. Dan aku selalu merindukan rasa kekeluargaan yang dia berikan ini padaku.
Kami lantas berjalan masuk ke dalam apartemen Adel dan melihat bahwa Sofia dan Justin tengah duduk di meja dengan ketiga anak-anak kembar ku yang tampak tengah bermain di lantai. Aku merasa begitu bahagia dan dadaku berdegup begitu kencang saat aku melihat ke arah anak-anakku itu.
'Oh Tuhan, aku sangat merindukan mereka.'
...****************...
Kami sudah mencari Adel selama 5 jam. Aku bisa mengatakan bahwa semua orang, termasuk diriku, saat ini merasa begitu khawatir. Adel tidak akan pergi begitu saja dan tidak memberi kabar apapun seperti ini.
"Aku rasa ini waktunya bagi kita untuk menelpon polisi." Ucapku dengan cepat setelah kami semua kembali di apartemen milik Adel.
Kami semua tengah duduk di meja makan dengan melihat satu sama lain. Kami semua sudah berpencar dan mencari Adel di mana-mana. Tapi dia tidak ada di manapun.
"Aku setuju." Ucap Bu Helen dengan air mata yang menggenang di dalam matanya.
Aku lantas melihat ke arah Sofia dan Justin dan mereka berdua pun menganggukkan kepala mereka. Aku lantas mengeluarkan ponselku dan langsung menelpon nomor polisi. Ini adalah waktunya kami untuk bisa menemukan Adel dengan meminta bantuan polisi.
'Adel, semoga kau baik-baik saja.'
__ADS_1
Bersambung....