Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
Merawat Adel


__ADS_3

John PoV


Sebuah dahan pohon yang berukuran cukup besar terjatuh dan tampak menutupi separuh kaki Adele dan ada begitu banyak darah di kakinya dan juga di kepalanya. Aku lantas berlari berharap dan memohon kepada Tuhan agar Adel baik-baik saja.


"Adel." Ucapku dengan suara yang gemetar saat aku mendekat ke arahnya.


Aku melihat dan juga memeriksa apakah dia masih sadar atau tidak.


Angin bertiup dengan sangat kencang yang membuat aku harus berusaha untuk tetap bisa memaksa diriku agar bisa tetap berdiri di posisiku saat ini. Daun-daun dan puing-puing bangunan yang aku tidak tahu datangnya entah dari mana tampak mulai bertiup dan mulai mengenai pohon dan objek lainnya. Aku melihat ke bawah ke arah Adel dan menyadari bahwa dia benar-benar tidak sadarkan diri sekarang.


Aku mencoba untuk memindahkan dahan pohon yang menimpa kaki Adel itu, tapi dahan pohon itu sangat berat. Aku terus mencoba dan setelah setengah jam terus berusaha menggunakan kekuatan otot ku, aku akhirnya bisa memindahkan dahan pohon itu. Dan semua usahaku itu akhirnya cukup untuk bisa membuat Adel terbebas dari dahan pohon itu.


Saat ini, hujan mulai turun dengan begitu deras yang bahkan membuat aku merasakan sakit di kulitku saat terkena tetesan hujan itu.


Aku membuka jaket ku dan menaruhnya di tubuh Adel. Aku kemudian menggendongnya dengan perlahan, dan begitu berhati-hati agar tidak membuat dirinya mendapat luka yang jauh lebih parah dibandingkan dengan luka yang sudah dia rasakan sekarang.


Aku berpikir untuk bisa kembali ke rumah dengan cepat. Namun, cuacanya berubah menjadi jauh lebih buruk dibandingkan yang tadi.


Saat kami akhirnya bisa sampai di rumah dengan selamat, aku berusaha dengan cepat membawa Adel masuk ke dalam kamar dan menaruh tubuhnya di atas tempat tidur dengan begitu berhati-hati. Setelah itu aku pun dengan cepat pergi untuk mencari kotak P3K agar bisa segera mengobati luka yang ada di tubuh Adel.


Aku tengah berada di kamar mandi mencoba mencari kotak P3K ke semua lemari dan laci yang ada disana, saat aku tiba-tiba mendengar suara Adel memanggilku dari arah kamar. Aku lantas menjatuhkan apapun barang yang ada di tanganku dan berlari masuk ke dalam kamar. Aku melihat mata Adel tampak terbuka dan dia mencoba untuk duduk.


"Hei, berbaringlah. Kau mendapat luka yang cukup parah di kepalamu dan aku rasa kakimu juga mungkin patah." Ucapku dengan tenang.


Adel melihat ke arahku dengan tatapan yang begitu panik. Aku benci untuk melihat dia seperti itu. Aku benci melihat dia yang selalu saja terluka. Entah sudah berapa kali dia mengalami hal buruk seperti ini.

__ADS_1


'Kenapa kami tidak bisa memiliki hidup yang normal? Hidup yang tidak mendapatkan masalah dan kami bisa bersama dan bahagia sebagai sebuah keluarga besar bersama anak-anak kami.' ucapku dalam hati.


"Apa yang terjadi?" Tanya Adel dengan suara yang sedikit bergetar.


Dia tidak menghiraukan saran ku yang memintanya untuk tetap berbaring. Aku mendekat padanya lalu menaruh tanganku di pundaknya dan dengan perlahan memaksa dirinya untuk bisa kembali berbaring di atas tempat tidur.


"Kau itu begitu memaksa." Ucap Adel.


Tapi dia tetap berbaring dan mengikuti perintahku. Saat ini aku menertawakan dirinya. Bahkan di situasi yang seperti ini dia tetap bisa terus tampak begitu lucu dan menggemaskan, hal itulah yang membuat aku semakin mencintai dirinya.


"Baiklah, kau harus tetap berbaring dan jangan mencoba untuk bangun. Sementara aku akan pergi dulu untuk mencari kotak P3K." Ucapku dengan nada penuh perintah.


Aku kemudian pergi untuk mencari kotak P3K itu di seluruh ruangan yang ada di dalam rumah ini.


"Adel.... Apa yang kau lakukan? Bukankah aku memintamu untuk tetap berbaring?" Ucapku dengan marah.


"Aku menjadi bosan dan kau juga pergi begitu lama. Jadi aku berpikir bahwa aku mungkin bisa duduk saja sembari menunggumu." Ucapnya dengan memberikan aku tatapan wajah yang tampak begitu menggemaskan.


'Sial! Dia selalu berhasil melakukan hal seperti ini padaku dan dia tahu bahwa hal itu memang selalu bisa berhasil untuk dia lakukan kepadaku.' ucapku dalam hati.


"Dengarkan aku, pertama kau jangan pernah memperlihatkan wajah menggemaskan mu itu padaku karena semua itu tidak adil bagiku. Kedua, aku minta maaf karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa mendapatkan kotak obat ini. Kau pasti tahu sendiri meski rumah ini kecil, namun memiliki banyak lemari dan laci kecil yang bisa menyimpan banyak barang. Dan tentu saja membutuhkan waktu yang cukup lama bagiku untuk bisa menemukannya mengingat bahwa aku bukanlah orang yang menata semua benda yang ada di dalam rumah ini, dan yang ketiga aku minta kepadamu untuk segera kembali tidur di kasur itu sekarang." Ucapku penuh perintah.


Adel melihat ke arahku seolah dia ingin mengatakan kepadaku agar aku pergi saja dari hadapannya. Tapi dia tetap mengikuti perintahku dan kembali tertidur. Dia tampak mencoba untuk menyembunyikan rasa sakit di kepalanya dari diriku.


Aku hanya bisa menghela nafas melihat bagaimana dia bisa menjadi begitu bodoh.

__ADS_1


Aku lantas mendekat kearahnya dan duduk diatas tempat tidur membuka kotak P3K yang aku bawa.


"Jadi...." Ucapnya saat aku mulai untuk membersihkan luka di kepalanya.


"Jadi apa?" Balas ku bertanya padanya.


"Hah, aku tidak tahu. Menurutmu apa yang bisa kita bicarakan sekarang?" Tanya Adel padaku.


"Bagaimana jika tentang, kenapa kau bisa berada di luar sana, berada di dalam badai yang begitu besar? Apakah kau tidak bisa sedikit berpikir bahwa kau mungkin saja bisa pulang ke rumah lebih cepat." Ucapku begitu marah.


Aku tidak habis pikir, kenapa dia bisa terjebak di dalam badai seperti itu. Seharusnya dia bisa pulang lebih cepat saat melihat badai itu akan segera datang.


"Hei...!" Teriaknya dengan begitu marah dan membelalakkan matanya. " Itu semua bukan seperto yang kau pikirkan. Asal kau tahu ya, aku tengah berada di jalan untuk pulang ke rumah saat badai itu tiba-tiba datang dengan begitu cepat. Apa kau pikir aku mau dengan sengaja terjebak di dalam badai yang bisa membunuh semua orang itu?" Ucapnya dengan tatapan yang terluka.


Aku benci melihat dia yang merasa terluka dan berdebat dengannya selalu membuat dia merasa terluka.


Aku menatap luka yang ada di kepalanya yang tampak kotor dan cukup dalam. Tapi sepertinya luka itu tidak akan berbekas selamanya.


Kami berdua terdiam untuk sekitar waktu dua puluh menit atau bahkan lebih saat aku akhirnya selesai membersihkan semua lukanya. Aku berbalik untuk menaruh kotak P3K itu diatas meja, dan sekarang merasa bahwa matanya hanya fokus menatapku. Tapi saat aku beralih untuk menatap ke arah dirinya, dia pun mengalihkan kepalanya untuk menatap ke arah lain.


Aku bisa menyadari bahwa wajahnya tampak memerah saat dia beralih menatap ke arah yang lain. Aku merasa tubuhku menghangat saat dia melihat ke arahku tadi dan membuat aku ingin mencumbunya. Tapi aku tahu bahwa dia tidak sedang ingin berada dalam situasi intim saat ini. Bahkan kalaupun dia ingin aku sangat yakin bahwa dia tidak mencintai aku, tidak seperti aku mencintai dirinya.


Jika dia memang mencintai aku, maka dia pasti akan mengatakan iya untuk menikah denganku. Tapi pada kenyataannya, dia sama sekali tidak mengatakan iya saat aku melamarnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2