Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
Perasaan Adel


__ADS_3

Adel PoV


Ini sudah beberapa jam sejak John pergi meninggalkan kamar setelah membersihkan lukaku. Aku tahu bahwa aku seharusnya mencoba untuk bicara kepadanya tentang lamaran yang dia berikan kepadaku. Tapi saat ini aku masih merasa bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Aku belum mengatakan kepada John bahwa dia tidak perlu mengkhawatirkan aku. Tapi aku tahu benar bahwa aku tengah mendapat luka yang cukup parah.


Aku merasa heran dengan kondisiku. Kenapa aku terus saja terluka? Dan setiap kali aku terluka, kepalaku yang tetap mendapatkan luka yang cukup parah. Dimulai sejak kejadian di kantor polisi yang bahkan membuat aku kehilangan ingatanku. Kedua dengan kejadian yang jauh lebih memilukan, saat pria menyeramkan itu melecehkan aku. Dan sekarang, aku kembali mendapatkan luka di kepala dan sayangnya semua ini terjadi di hari dimana aku seharusnya merasa bahagia karena John melamar aku. Tapi sekali lagi, Tuhan terus saja mentakdirkan aku mengalami hal sial seperti ini.


Siapa yang bisa menyangka bahwa ada dahan pohon yang begitu besar menimpaku, sampai membuat kepalaku terluka dan kakiku ini bisa saja patah.


'Kenapa nasibku sial sekali. Oh Tuhan, tidak bisakah aku hidup bahagia dan dijauhkan dari segala kesialan ini?' tanyaku dalam hati.


Aku berpikir bahwa badai akan bertahan selama beberapa jam saja, karena begitulah biasanya badai terjadi. Aku berpikir setelah badai ini usai nantinya, maka aku akan mengatakan kepada John bahwa aku mencintai dirinya.


Berada di situasi seperti ini membuat aku menyadari bahwa dengan jalan hidupku yang penuh kesialan seperti ini namun aku selalu saja diberikan keselamatan oleh Tuhan, aku seharusnya hidup penuh dengan rasa bersyukur.


Beberapa saat kemudian, aku mulai merasa lelah lagi dan aku pun memutuskan bahwa aku harus mengistirahatkan diriku dan menutup mataku setidaknya hanya untuk beberapa menit saja.


Namun sampai aku bangun, badai itu belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk mau berhenti. Setelah beberapa jam badai itu malah terus berlanjut. Aku bersyukur bahwa rumah ini cukup kokoh sehingga tidak sampai bisa di rusak oleh badai yang cukup besar diluar sana.

__ADS_1


Waktu berjalan cukup cepat....


Selama 5 hari aku menjalani perawatan yang diberikan oleh John dan kondisiku perlahan mulai membaik. Aku pun bisa berjalan di sekitar rumah dengan baik dan aku bersyukur ternyata kaki ku tidak patah seperti yang diprediksikan oleh John, tapi hanya cukup terluka parah saja.


Kami berdua menghabiskan sepanjang waktu kami terus bersama di rumah ini. Bertingkah seolah semuanya baik-baik saja. Kami tidak pernah berdebat lagi bahkan semuanya terasa begitu sempurna bagiku. John terus merawat aku dengan begitu baik.


Bagaimanapun, tidak ada satupun dari kami berdua yang membicarakan topik tentang lamaran yang dia ajukan padaku waktu itu ataupun tentang pernikahan yang mungkin saja terjadi diantara kami nantinya. Jujur saja, baik aku maupun John sepertinya sama-sama ingin membicarakan tentang lamaran waktu itu. Tapi tidak ada satupun dari kami berdua yang cukup berani untuk memulainya.


Sepertinya kami berdua hanya memikirkan apa yang ada di dalam kepala kami masing-masing sampai saat ini.


Saat ini, aku tengah berdiri di luar pintu sebuah ruangan tempat belajar. Ruangan itu tidak pernah sama sekali aku kunjungi. Ruangan itu lebih sering digunakan oleh John. Aku tidak tahu apa saja kegiatan yang dia lakukan di dalam sana selama ini. Tapi sepertinya dia hanya membaca buku saja di dalam sana.


Sebelum aku bisa menikah dengannya, aku ingin membicarakan dengannya tentang semua yang terjadi sejak awal kami bertemu sampai pada akhirnya kami bisa merasakan perasaan kami masing-masing. Aku juga ingin membicarakan tentang kejadian yang sudah terjadi kepadaku saat aku masih berusia 17 tahun, dimana kejadian itu membuat aku sampai mengetahui bagaimana perasaanku yang sebenarnya pada dirinya. Aku tahu bahwa semua itu sudah sangat lama, tapi aku masih mengingat bahwa itu semua seolah baru saja terjadi kemarin.


Saat semuanya mulai berlalu waktu itu, aku pun menyadari bahwa aku mulai mencintai John sejak dia mencuri ciuman pertamaku saat kami masih kecil dulu. Dan cinta yang aku rasakan untuknya, bukanlah tipe cinta yang akan menghilang untuk satu malam saja, atau cinta yang hanya merupakan sebuah hasrat yang hanya bertahan beberapa saat saja.


Cintaku kepadanya seperti sebuah novel romantis yang bahagia pada akhirnya, dengan merasakan lutut yang gemetar, jantung yang berdegup sangat kencang, wajah yang merah merona, cinta yang terus ada selamanya, dan seperti itulah tipe cintaku padanya. John adalah satu-satunya bagiku.

__ADS_1


Beberapa hari ini, sudah membuktikan semuanya kepadaku. Memikirkan tentang kami yang akan menjadi sebuah keluarga yang bahagia, sekarang bukanlah hanya sebuah mimpi yang berada di dalam jarak yang begitu jauh. Itu semua ada di sini dan saat ini juga.


Aku menghela nafasku setelah memikirkan semua itu. Aku lalu mengumpulkan semua keberanian ku, saat aku memutuskan untuk mengetuk pintu kayu tipis di ruangan di mana dia berada saat ini.


"Masuklah, pintunya tidak dikunci." Ucap John dari arah dalam ruangan itu.


Aku pun berjalan masuk dan tersenyum saat melihat dia seolah tampak tengah menunggu aku.


John terlihat tengah duduk di sebuah kursi kayu dengan membaca sebuah novel dewasa. Kakinya tampak naik sebelah di lututnya dan wajahnya menampilkan senyuman yang begitu indah. Aku merasa begitu canggung karena mengganggunya di saat yang seperti ini.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengganggumu." Ucapku dengan canggung seraya berjalan semakin masuk ke dalam ruangan itu.


Aku menyadari bahwa ada perapian di dalam ruangan itu dan ruangan itu tampak begitu romantis. Dia lalu menaruh novel yang dia baca itu di atas meja yang ada di sisinya dan tersenyum kepadaku.


"Tidak masalah jika itu dirimu." Ucap John.


"John, aku tengah berpikir tentang sesuatu. Apakah aku bisa untuk bicara kepadamu tentang suatu hal dan aku ingin kau terbuka tentang hal itu padaku." Ucapku mengeluarkan apa yang ingin aku katakan kepadanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2