Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
Surat Perpisahan Dari John


__ADS_3

John PoV


Aku pergi ke rumah sakit haru ini. Meski Adel menyakiti aku dan juga mengkhianati aku, aku masih terus mengkhawatirkan dirinya. Aku bahkan tidak tahu apa yang tengah terjadi kepadanya. Aku tahu bahwa Mama nya sering berada di rumah sakit untuk selalu menemaninya, yang itu artinya dia mengalami penyakit yang cukup serius.


Aku sudah bertemu dengan Olivia kemarin dan dia mengatakan bahwa kondisi Adel tidak terlalu baik. Kami tidak bicara banyak, dia hanya masuk ke dalam rumah dan langsung beranjak tidur ke kamarnya.


Aku tengah berjalan menuju rumah sakit saat aku menyadari bahwa ada seorang pria yang tampak begitu familiar bagiku. Itu adalah pria yang sama dengan yang aku lihat berada di rumah Adel waktu itu. Pria yang selalu ditemui Adel dibelakang ku. Dia melihat ke arahku, mungkin dia menyadari bahwa aku tengah menatap dirinya dengan tajam.


Jika tatapan bisa membunuh seseorang, aku rasa dia sudah mati dengan tatapan tajam yang aku berikan padanya. Aku tidak mengenal siapa dia, dan aku juga tidak perduli. Aku hanya ingin membunuhnya.


Aku merasa darahku begitu mendidih saat aku berjalan mendekat ke arahnya. Aku langsung menariknya dan mencekik lehernya menerjangnya ke arah tembok.


"Apa yang kau lakukan disini?" Ucapku dengan begitu marah.


Dia terbatuk.


"Kau dasar bajingan! Apa yang kau lakukan disini?" Teriakku lagi.


Dia hendak membuka mulutnya, dan apapun yang hendak dia katakan, Mama Adel datang dan menyela ucapannya dengan berteriak.


"John! Lepaskan dia sekarang juga!" Teriak Mama Adel padaku.


Dia juga menarik tanganku, mencoba untuk menarik tubuhku agar aku melepaskan leher pria bajingan ini. Aku lantas melepaskan pria bodoh itu ke lantai dan dia langsung berdiri seraya memegang lehernya.


'Dasar pecundang!' ucapku dalam hati.


"John, apa yang sebenarnya kau pikirkan? Aku tidak pernah melihat mu bersikap kasar seperti ini? Jefri tidak melakukan apapun yang salah tapi dia melakukan kebaikan untuk keluarga ini." Ucap Mama Adel berteriak padaku.


Tapi aku sama sekali tidak melihat ke arahnya sedikitpun. Aku melihat ke arah seorang pria bodoh, siapa tadi namanya? Oh iya, Jefri. Aku tidak mengenalnya apalagi menyukainya.


Sekarang ini, aku akan sangat senang jika aku bisa membunuhnya. Aku akhirnya bisa memiliki Adel dan dia datang sebagai pengganggu dan merebut Adel dariku. Aku mencintai Adel, aku berencana untuk menikahinya dan pria ini malah merebutnya dariku.


"John, jawab aku sekarang." Ucap Mama Adel yang membuyarkan pikiranku.


"Tentang apa Ma?" Tanyaku.

__ADS_1


"Kenapa kau memulai perkelahian di dalam rumah sakit? Dengan Jefri dibandingkan semua orang lain, dia adalah alasan bahwa Adel bisa hidup sampai sekarang." Ucap Mama Adel dengan keras.


"Aku bahagia karena Adel tidak meninggal Ma, aku tentu saja sangat bahagia. Dia, disisi lain aku tidak peduli pada pria ini. Dia sudah merebut hati A...."


"Aku tidak merebutnya darimu dasar idiot." Ucap Jefri menyela ucapan ku. "Kau masuk ke dalam rumah saat dia dalam kondisi tergeletak di lantai karena sakitnya itu dan kau malah pergi begitu saja. Padahal saat itu aku membutuhkan bantuan. Jika saja dia sampai meninggal, itu semua sudah pasti karena kesalahanmu." Teriak Jefri padamu.


"Sudah cukup kalian berdua." Ucap Mama Adel yang kini melihat ke arahku.


Mama Adel tampak melihatku dengan begitu tajam.


"Bagaimana kau bisa berpikir bahwa Adel akan melakukan suatu hal yang bisa menyakiti dirimu? Putri kesayanganku itu sangat mencintaimu. Dia membesarkan ketiga anakmu tanpa dirimu! Apakah kau tahu jika dia hampir ingin menyerah? Bagaimana sulitnya dia menghadapi kehidupannya? Bagaimana sulitnya semua yang dia jalani sampai saat ini? Dia sangat mencintaimu dan dia tidak akan pernah melakukan apapun untuk mengkhianati dirimu!" Ucap Mama Adel.


Aku menatap kearahnya dengan begitu tajam. Amarah sudah menguasai diriku. Berani-beraninya dia mengatakan hal itu padaku.


"Aku ragu jika dia mencintaimu Ma." Ucapku dengan pelan dan dengan suara yang terdengar begitu tajam. "Aku punya bukti di depan mataku. Dia hamil saat berusia tujuh belas tahun. Hanya Tuhan yang tahu ada berapa banyak pria yang sudah tidur dengannya dan kau berpikir bahwa dia adalah seorang putri yang sangat begitu berharga bagimu? Jika dia adalah salah satu dari putriku, maka aku tidak akan pernah berpikir bahwa dia adalah putri yang bisa aku banggakan."


...****************...


Adel PoV


Aku merasakan bahwa hatiku pecah berkeping-keping dan aku tidak bisa menghentikan rasa sakitnya yang sekarang menyebar ke seluruh tubuhku.


'Apa yang dia pikirkan tentang aku? Apakah dia berpikir bahwa aku ini wanita murahan dan seorang pembohong?'


Aku berjalan kembali ke arah kamarku dengan tenang. Aku terbangun untuk pergi ke mesin minuman untuk membeli minuman bersoda. Aku benar-benar ingin meminum kopi atau setidaknya minuman bersoda sejak tadi, tapi karena tidak ada seorang pun yang ada di dalam kamar, membuat aku berinisiatif untuk pergi membelinya sendiri karena aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang.


Tapi, apa yang aku dapat? Aku malah mendengar ucapan John yang begitu kasar. Itu terdengar seperti dia membenci aku.


'Dan bukti apa yang dia bicarakan itu? Bukti apa dan membuktikan tentang apa?'


Aku merasakan air mata mulai terjatuh ke pipiku dan aku tidak bisa menahannya lagi. Aku menangis seolah akan terus menangis selamanya, tapi kenyataannya aku hanya menangis sekitar kurang lebih selama satu jam.


Aku mencintai John dan mendengarkan dia mengatakan hal itu membuat aku merasa begitu terluka. Aku selalu takut jika dia sampai berpikir bahwa aku ini hanyalah seorang wanita murahan atau hal itu yang akan membuat dia tidak mau bersamaku. Dan sekarang, ketakutan itu pun menjadi kenyataan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.


Sisa hariku berjalan dengan normal. Itu artinya Mama masuk untuk mengunjungi aku dan bertingkah seolah tidak terjadi sesuatu. Jefri juga mengunjungi aku dan bertingkah seolah tidak terjadi apapun. Dan aku hanya bisa duduk disana berpura-pura bahwa hatiku tidak terluka sedikitpun.

__ADS_1


Aku akhirnya bisa keluar dari dalam rumah sakit satu bulan berikutnya, jauh lebih sehat sepanjang hidupku selama ini.


Aku tidak mendengar kabar apapun dari John dan aku menyadari bahwa aku sepertinya tidak akan bisa lagi bersamanya tapi aku tetap masih berharap. Mama ku tahu dan menyadari bahwa aku terlihat sudah mengerti tapi kami tidak membicarakan hal itu.


Mama pernah mencoba untuk membicarakannya satu kali, tapi itu semua berakhir dengan air mata yang mengucur deras di pipiku dan aku tidak mau lagi membicarakannya, jadi kami tidak membicarakannya lagi.


...****************...


"Adel..." Ucap Mama memanggilku.


Aku lantas menurunkan Berlian dari dalam gendonganku dan beralih menuju dapur untuk melihat apa yang Mama inginkan. Tapi apa yang membuat aku terkejut adalah, Mama memegang sebuah surat di tangannya dan ekspresi di wajah Mama tpak begitu khawatir.


"Apa itu Ma?" Tanyaku pada Mama dengan khawatir.


"Sebuah surat dari John." Ucap Mama dengan perlahan agar tidak membuat ketiga bayi kembar ku mendengar semuanya.


Aku menatap ke arah amplop itu dengan tajam selama beberapa saat sebelum aku memegangnya dengan tangan yang begitu gemetar saat mencoba meraihnya.


'Untuk Adel Tersayang...'


'Aku benar-benar minta maaf. Aku tahu bahwa kau ingin kita menjadi sebuah keluarga yang bahagia dan aku memutuskan bahwa aku tidak bisa melakukannya. Aku harus kembali untuk melanjutkan kuliahku, dimana aku seharusnya berada. Aku seharusnya tidak pernah kembali kemari, tidak peduli apapun alasannya. Aku akan selalu membantumu untuk membiayai kehidupan Bulan, Berlian dan juga Bintang. Tapi aku tidak akan pernah bisa bersamamu.


Aku pikir bahwa jika kita berdua mencoba untuk menjalani semuanya mungkin semuanya akan berjalan dengan baik. Tapi aku kemudian kembali pada kesadaran ku sebelum kita berdua membuat keputusan yang bodoh atau membuat keputusan yang salah. Bisakah kau mempercayai bahwa aku berencana untuk menikahi mu? Aku bahkan sudah memiliki cincin dan yang lainnya.


Aku sudah membeli sebuah cincin berlian dengan taburan permata safir biru disekelilingnya. Aku sudah memiliki rencana romantis dan semuanya, lamaran yang sangat sempurna. Tapi itu semua akan menjadi kesalahan terbesar jika sampai terjadi. Semuanya menjadi begitu jelas bahwa apapun yang ada diantara kita berdua tidak akan pernah berhasil. Kita berdua terlalu berbeda.


Aku mulai jatuh cinta padamu. Aku tahu bahwa aku mengatakan tiga kata itu padamu sebelumnya sebelum akhirnya aku menyadari bahwa apa yang aku rasakan itu bukanlah cinta. Aku begitu peduli pada dirimu, tapi sekarang aku menyadari bahwa semua itu ternyata bukanlah cinta. Aku tidak akan pernah bisa mencintai dirimu. Kau adalah seorang Mama muda yang tidak memiliki ide kemana kehidupanmu akan terus berjalan, sementara aku sendiri sudah mempunyai rencana besar. Aku ingin menjelajahi dunia ini.


Aku ingin mempunyai banyak pengalaman sebelum aku akhirnya tinggal bersama ketiga anak-anak itu dan menjaga mereka dan aku tidak pernah menginginkan mereka untuk datang lebih awal dalam kehidupanku. Ini adalah hal yang baik karena aku pergi sekarang sebelum semua hal yang lebih serius terjadi. Kita tidak akan pernah berhasil selamanya. Kau akan ada bersamaku di waktu yang tepat, dan kau akan hidup bahagia dengan siapapun yang kau pilih dalam hidupmu. Dan itu bukanlah aku.


Selamat tinggal Adel. Tetaplah bahagia.


^^^By: John^^^


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2