Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
Pria Tak Dikenal


__ADS_3

Aku bangun dari dudukku kemudian berjalan keluar dari dalam apartemen. Aku berjalan di sekitar kampus beberapa saat. Aku melihat ada banyak pasangan yang terlihat saling jatuh cinta dan yang lainnya hanya karena nafsu semata. Tapi mereka semua tampak bahagia.


'Sudah berapa lama sejak aku merasa bahagia seperti itu?' pikirku.


Aku memang bahagia bersama dengan Justin. Tapi sesuatu selalu saja terasa salah di antara hubungan kami. Pada akhirnya aku mulai menyadari bahwa dia lebih baik untuk menjadi seorang teman dibandingkan dengan menjadi seorang kekasih bagiku.


Aku memang menyayanginya tapi aku tidak pernah jatuh cinta padanya dan semua itu terasa menyebalkan bagiku. Dengan perasaan terkejut, aku menyadari bahwa aku memang tersadar jika aku tidak jatuh cinta kepadanya di saat yang bersamaan saat aku menabrak John di klub malam itu.


'Oh sial! Aku tidak mau jatuh cinta kepada John lagi. Aku seringkali membuat kesalahan seperti itu.'


Aku tidak akan mau jatuh cinta kepadanya sekarang ataupun selamanya. Aku menyadari bahwa aku butuh kepastian atas semuanya. Aku bukanlah orang yang religius dalam kehidupan ini. Tapi sekarang lebih dari segalanya, aku hanya ingin mengetahui apakah hidupku akan menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk.


'Apakah permintaanku itu terlalu banyak?'


Aku berjalan ke arah sebuah cafe baru yang ada di dekat kampus dengan kepalaku yang masih memikirkan tentang apa yang harus aku lakukan dengan Justin, John dan juga hidupku sendiri. Aku lalu mulai duduk di sebuah kursi yang membawa aku seperti terasa bermimpi di siang hari. Cafe itu cukup kecil, namun terasa penuh kehangatan. Semua orang yang bekerja di sini terlihat begitu bahagia begitupun dengan para pelanggannya.


Tapi itu kecuali untuk seorang pria yang tampak duduk di sudut cafe yang jauh dariku dan melihat ke arahku. Aku membuka jaket ku dan menaruhnya diatas kursi lainnya. Aku lalu menatap ke arah pelayan yang mendekat ke arahku.


"Hai sayang, apa yang bisa aku bantu untukmu?" Tanya wanita itu dengan penuh senyuman.


"Mmmm... Bisakah aku memesan secangkir karamel latte, ayam goreng dengan salad sandwich juga?" Ucapku dengan sopan.


Pria yang duduk di sudut ruangan itu masih terus melihat ke arahku. Matanya tampak menatapku dengan begitu tajam. Dia tampak seperti seorang pria yang sudah bekerja begitu keras hari ini. Bagiku dia terlihat begitu menyeramkan.


"Hei, apakah kau baik-baik saja sayang?" Tanya pelayan itu lagi kepadaku karena melihat aku yang tampak gugup.


Aku lantas menatap ke arahnya dengan terkejut. Aku pikir bahwa dia sudah pergi sejak tadi.


"Iya aku baik-baik saja." Balas ku dengan senyuman palsu.


"Baiklah..." Ucapnya dengan perlahan. "Jika kau butuh sesuatu, panggil saja aku, oke!"


Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku ke arahnya. Kemudian dia pun pergi untuk mengambil makan siang ku. Aku berpura-pura untuk membaca kertas yang ada di depanku. Tapi secara diam-diam aku masih menatap ke arah pria yang duduk di sudut ruangan itu dan ternyata dia juga tampak terus melihat ke arahku.


Aku merasa begitu canggung dan berpikir tentang pergi dari cafe ini. Pikiranku masih sibuk dengan masalah yang aku punya, saat pelayan itu datang dengan membawa pesanan ku.


"Ini dia pesanan mu sayang." Ucapnya dengan tampak ceria.


"Terima kasih." Balas ku.


Aku tersenyum ke arah pelayan itu saat aku menyadari bahwa dia masih ada di depanku. Dia lalu duduk di hadapanku dan berkata bahwa dia tengah beristirahat selama 10 menit.


"Baiklah, aku lihat sejujurnya kau pasti sedang tidak baik-baik saja. Kau perlu seseorang sebagai teman bicara. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya pelayan wanita itu.

__ADS_1


"Siapa kau sebenarnya?" Tanyaku dengan penasaran karena aku memang tidak mengenalnya.


"Oh iya aku lupa, maaf namaku Laila." Balasnya.


"Dengar Laila, aku tidak mau bersikap kejam. Tapi aku baik-baik saja dan bisakah kau pergi setelah ini?" Ucapku.


Pelayan itu melihat ke arahku dengan wajah yang tampak bertanya-tanya.


"Iya, baiklah. Tapi akulah pemilik dari cafe ini. Jadi aku akan selalu ada di sini kapanpun kau ingin membicarakan masalahmu." Balas Laila.


Dia lalu bangun untuk pergi dan aku merasa sedikit sedih karena dia tidak duduk di sini bersamaku. Aku langsung memegang tangannya sebelum dia pergi. Dia berbalik dan melihat ke arahku dengan wajah terkejut.


"Terima kasih atas perhatianmu." Ucapku dengan malu.


Dia tersenyum kepadaku kemudian pergi. Aku lalu menyantap semua makan siang ku dalam keheningan, mencoba untuk tidak menghiraukan pria yang terus menatapku itu. Saat aku sudah selesai, aku pergi ke meja kasi untuk membayar tagihan menu makan siang ku. Aku merasa begitu senang saat aku meninggalkan tempat itu. Aku melihat ke seluruh ruangan cafe itu, terutama di mana pria misterius itu duduk dan aku menyadari bahwa dia sekarang sudah tidak ada di sana. Aku pun merasa lega.


Aku tadinya berpikir bahwa dia mungkin saja akan mengikuti aku atau melakukan sesuatu padaku. Aku lantas berjalan di trotoar dengan melewati cuaca yang begitu dingin dan berusaha memeluk diriku sendiri. Aku mulai berjalan pulang ke apartemenku.


Saat aku sudah setengah jalan dalam perjalanan pulang, aku mendengar suara langkah kaki di belakangku. Mendengar hal itu aku lantas berjalan lebih cepat.


Saat aku berjalan dengan cepat melewati jendela sebuah toko, aku melihat bayangan di jendela toko itu dan melihat bahwa ada seorang pria yang tengah mengikuti aku. Apa yang membuat aku terkejut sampai ketakutan adalah, itu pria yang sama dengan pria yang duduk di sudut cafe tadi mengikuti diriku. Aku mulai berjalan dengan semakin cepat. Jantungku berdetak begitu kencang karena ketakutan akan sesuatu yang mungkin saja terjadi pada diriku ini.


Aku tahu bahwa aku bisa sampai di apartemen sekitar 20 menit jika aku bisa berjalan dengan cepat. Jadi aku pun mulai melakukannya. Aku berusaha berjalan semakin cepat dan mencoba untuk berbaur dengan orang-orang banyak yang ada di area itu. Tapi sayangnya aku tidak terlalu mengenal area ini dengan baik. Aku lantas berbelok ke arah kiri di sebuah gang dan menyadari kesalahanku dengan segera, bahwa itu adalah jalan buntu.


Aku semakin berjalan dengan cepat seolah berlari berharap bahwa aku bisa keluar dari gang itu sebelum pria itu menangkap ku. Tapi dia sudah tampak berdiri di ujung gang dengan senyuman yang tampak menyeramkan di wajahnya.


Suaranya terdengar begitu menyeramkan ditelingaku. Dia mulai berjalan mendekat ke arahku dan aku pun memutuskan untuk melangkah mundur. Aku terus berjalan mundur sampai punggungku menyentuh tembok di jalan buntu itu.


"Dengar, kau bisa mengambil dompetku jika itu yang kau inginkan." Ucapku dengan gemetar.


Dia menyeringai ke arahku dengan wajah yang semakin tampak menyeramkan.


"Aku tidak menginginkan hal itu." Ucapnya semakin mendekat ke arahku lagi.


Dia begitu dekat denganku sekarang dan tidak diragukan lagi, aku tahu bena tentang apa yang dia inginkan dariku.


Tangannya mulai bergerak dan mengusap pipiku. Aku gemetar karena hal itu. Aku menghela nafas dan menggigit bibirku untuk menahan diriku berteriak. Tangannya mulai bergerak ke arah bawah rok pendek yang aku gunakan.


Aku mencoba untuk melepaskan diriku. Tapi dia menolak untuk melepaskan aku. Tubuhnya terasa menekan ke tubuhku. Tangannya mulai bergerak ke arah tubuhku juga mengangkat rok yang aku kenakan. Aku bisa merasakan angin dingin yang mulai mengenai kulit pahaku.


Aku mencoba untuk melepaskan diri darinya dengan meludahi wajahnya. Tapi dia langsung meninju perutku yang membuat aku langsung terjatuh ke tanah karena rasa sakit itu. Tapi dia langsung memegang ku untuk membuat aku bisa berdiri.


"Aku sudah menunggu dirimu Adel." Ucapnya dengan tangannya yang mulai ingin bermain di area sensitif ku.

__ADS_1


Air mataku mulai terjatuh ke pipiku dia membuka resleting jaket yang aku kenakan dan mencoba mengangkat pakaian yang aku gunakan.


Aku memutuskan bahwa hal ini tidak boleh terjadi. Aku tidak mau dilecehkan olehnya. Aku tidak mau dia melancarkan aksi bejatnya padaku. Jadi aku mulai berpikir untuk mencari cara agar bisa lepas darinya.


Aku merasa lutut ku bersentuhan dengan area sensitifnya. Aku pun lalu menendang area itu dengan lutut ku. Dia merasa kesakitan dan langsung memegang area sensitifnya dan aku lantas mengambil kesempatan untuk langsung berlari.


Sayangnya aku tidak bisa berlari begitu jauh karena dia langsung memegang kakiku dan aku langsung terjatuh dengan keras. Kepalaku mengenai jalanan dengan keras dan aku melihat darah yang keluar dari kepalaku. Aku melihat dia berjalan dengan pincang mendekat ke arahku dengan wajahnya yang tampak begitu marah dan kemudian semuanya mulai gelap.


...****************...


PoV Pria Tak Dikenal


Aku duduk di sebuah cafe baru yang dekat dengan sebuah kampus. Aku sudah mengatakan kepada bos tempat aku bekerja bahwa aku tidak akan kembali lagi ke sana. Mereka memarahi aku karena aku bersikap buruk para pelanggan wanita dan karyawan mereka yang lain. Mereka semua yang bersalah karena wanita itulah yang meminta semuanya untuk aku lakukan. Mereka semua melakukan apapun yang mereka inginkan.


Aku mendengar suara bel di pintu yang terbuka menandakan bahwa ada orang lain yang berjalan masuk ke dalam kafe ini. Aku melihat ke arah pintu dan melihat sosok seorang wanita cantik. Dia masih begitu muda, mungkin berusia 19 atau 20 tahun. Tapi dia tampak begitu sedih, wajahnya tampak murung.


Dia memiliki rambut yang panjang beberapa inci di bawah pundaknya. Dia tampak berbeda dengan gadis lainnya. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak tertarik padanya. Aku benar-benar ingin menjamah tubuhnya. Dia menggunakan pakaian berwarna putih sepertinya dia itu gadis yang masih perawan. Tapi aku pikir bahwa dia bisa saja sama seperti gadis lainnya yang dengan mudah menjajakan tubuh mereka. Hal itu entah kenapa membuat aku marah.


Aku tetap duduk di dalam cafe itu melihat ke arahnya dan terus menatap dirinya. Dia pasti menyadari bahwa aku terus melihat ke arahnya karena dia juga terus melihat ke arahku. Dia tampak begitu ketakutan. Aku sangat menyukai saat para gadis yang takut kepadaku.


Seorang pelayan mendekat ke arahnya untuk menanyakan pesanannya. Tapi dia tampak terdiam beberapa saat. Aku terus menatap ke arah dirinya. Sepertinya dia tidak butuh waktu yang cukup lama seperti pelanggan lainnya dia pasti akan langsung pergi dari cafe ini. Aku terus melihat ke arah gadis itu yang tengah membaca sebuah kertas. Dia juga terlihat sesekali menatap ke arahku.


Itu membuat aku bahagia karena dia menyadari kehadiranku dan dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dariku. Aku tersenyum dan mengambil es teh milikku dan mulai meminumnya. Aku merasa begitu puas setelah meminum es itu yang terasa menyegarkan tenggorokanku dan aku terus melanjutkan menatap gadis seksi itu yang tampak menyantap makan siangnya.


Dia tampak memesan minuman dan juga sandwich. Itu terlihat makanan yang sehat, setidaknya dia makan makanan yang benar. Tidak banyak gadis saat ini yang suka makanan sehat seperti dia.


Dia akhirnya selesai makan siang dengan cepat dan tampak berdiri lalu membayar makanannya di kasir. Aku lalu berdiri mendekat ke arah mejanya untuk mengambil tasnya yang dia tinggalkan begitu saja di atas kursi di samping tempat dia duduk. Aku melihat ke arah isi tasnya dengan rasa marah. Di sana ada sebuah foto anak-anak kecil dan juga dirinya. Ada banyak anak kecil, ini semua tidak benar.


Dia seharusnya tidak menggunakan pakaian putih itu yang membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. Aku melihat foto dirinya dengan ketiga anak itu lagi. Di balik foto itu tertulis, 'Adel dan anak-anak'.


Aku dengan cepat meninggalkan meja itu saat aku menyadari bahwa dia akan kembali ke arah mejanya. Aku lantas meninggalkan cafe itu dan menunggu dirinya di sisi cafe itu. Dia kemudian keluar beberapa menit kemudian. Aku pun mengikutinya dari belakang.


Aku mau menunjukkan kepadanya bahwa dia seharusnya tidak tidur dengan pria lain. Dia adalah milikku sekarang, milikku dan bukan milik orang manapun lagi. Dia tampak menyadari bahwa aku tengah mengikuti dirinya. Beberapa saat kemudian dia pun berjalan dengan cepat. Aku pun ikut berjalan dengan cepat untuk mengikuti dirinya.


Dia tidak bisa berpaling dariku, dia bahkan tidak akan bisa walaupun dia sangat menginginkannya. Tidak ada orang lain yang bisa melakukannya dariku. Aku terus mengikuti dirinya dan dia terlihat berbelok ke arah sebuah gang buntu yang aku tahu dengan baik. Aku tersenyum dan mengikuti dirinya. Aku melihat dia berhenti dan berbalik. Dia tahu bahwa dia sudah melakukan sebuah kesalahan saat dia menatapku. Dia tampak membeku. Aku berjalan mendekat ke arahnya.


Dia menawarkan aku dompetnya. Aku tidak mau itu. Dia memukuliku pertama kali. Tapi itu tidak terasa sakit sedikitpun. Dia memohon kepadaku untuk berhenti, tapi aku tahu bahwa aku akan terus melanjutkan semuanya. Dia menghindari sentuhan yang aku berikan kepadanya dan meludahi wajahku.


'Beraninya dia....!'


Aku lalu menamparnya tepat di wajahnya. Tidak ada seorangpun yang bisa lolos dariku. Dia mencoba untuk pergi saat aku mulai memainkan bagian sensitifnya. Aku lantas memukuli perutnya dengan sangat keras yang membuat dia tidak bisa bertahan. Dia terjatuh beberapa saat namun saat dia bisa kembali berdiri, dia malah melawan aku dengan cepat.


Tidak ada gadis manapun yang bisa melawan aku seperti ini. Mereka selalu memohon untuk kehidupan mereka yang menyedihkan itu. Dia berhasil menendang bagian sensitif ku dengan lututnya dan aku merasa kesakitan. Aku melihat dia mulai berlari dan aku merasa panik.

__ADS_1


Aku tidak mau dia pergi. Jadi aku meraih kakinya dan aku berhasil melakukannya. Dia pun terjatuh dengan keras di jalanan dan darah tampak keluar dari kepalanya. Perlahan matanya tertutup. Setidaknya sekarang dia tidak akan bisa melawan aku lagi. Aku tersenyum dan mendekat ke arahnya.


Bersambung....


__ADS_2