Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Tidak aku tidak mau. Tinggalkan aku sendirian. Aku akan memanggilmu saat makan malam sudah siap." Ucapku dengan tidak menghiraukan suaraku yang terdengar gemetar.


"Bagaimana jika aku mengatakan tidak." Ucap John dengan santai.


Dia lalu menarik aku menjauh dan beralih ke arah kompor mematikan kompor dan juga oven. Aku menghela nafas karena aku menghabiskan sepanjang hari untuk membuat makanan itu.


"John, untuk apa kau melakukan hal itu?" Ucapku kepadanya dengan begitu kesal.


Dia terus saja diam dan menarik ku ke arah ruang tamu lalu mendorong tubuhku ke sebuah sofa dan kemudian dia duduk di sampingku.


"Baiklah, aku tahu bahwa kau tidak mau berada di sini apalagi bersama denganku. Tapi apa yang salah dengan semua ini? Aku sudah mencoba untuk membuat semua ini menjadi baik di antara kita. Tapi kau menolak untuk mencobanya." Ucap John kepadaku.


"Aku? Apa kau bercanda?" Ucapku dengan rasa tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan. "Aku mau membuat semua ini berhasil untuk hubungan kita berdua. Tapi kau malah menghabiskan sepanjang waktumu di sana, di sungai dan danau itu." Teriakku dengan semakin kesal.


"Adel, aku mau kau menjadi lebih tenang." Balas John menatapku dalam. "Aku mencoba untuk bicara denganmu. Tapi kau terus bertingkah selalu dingin kepadaku dan ya, aku memang tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak terbiasa untuk menghadapi seorang wanita. Kau sudah bertingkah berbeda sejak kejadian kau di serang oleh pria itu. Aku tahu bahwa kau membutuhkan waktu untuk kembali bisa menghadapi semuanya dengan baik, tapi ini sudah cukup lama." Ujar John panjang lebar.


"Waktu? Apa kau serius berpikir bahwa aku membutuhkan waktu?" Tanyaku. "Apa yang aku butuhkan saat ini adalah dirimu. Tapi tidak, kau malah memutuskan untuk mendorong aku menjauh dari hidupmu." Ucapku.


Iya, aku memang berpikir bahwa selama ini John memang menginginkan aku pergi jauh dari hidupnya. Terlebih setelah aku dilecehkan oleh pria lain, dia pasti tidak akan mau menerima untuk bisa hidup denganku lagi. Jadi, rencana Mama kali ini benar-benar buang-buang waktu saja, karena semua ini tidak akan pernah berhasil untuk menyatukan aku dan John kembali.


"Iya itulah yang memang aku ingin lakukan." Balas John dengan begitu marah.


Aku hanya bisa diam mendengar ucapannya itu.


'Jadi dia memang benar ingin aku menjauh dari hidupnya.' ucapku dalam hati dengan perasaan yang begitu terluka.


"Aku menjauh darimu agar aku tidak akan menakuti dirimu lagi Adel. Kau pasti tidak mau menjauh dari orang yang kau cintai saat mereka merasa terluka." Lanjut John.


Aku berhenti terkejut. Aku tidak tahu harus mengatakan apapun setelah mendengar ucapan John kali ini.


'Orang yang kau cintai? Apa maksudnya adalah.....'


"Kau kau mencintai aku?" Tanyaku masih sedikit terkejut.


Dia melihat ke arahku seolah berpikir bahwa aku tengah marah. Namun aku sendiri berpikir bahwa dia membenci aku. Tapi dia malah mendekatkan dirinya ke arahku, hingga aku bisa merasakan nafasnya di wajahku yang membuat aku mulai merasa pusing.

__ADS_1


Bibirnya mulai menyentuh bibirku, dia lantas mencium ku. Kemudian ciumannya itu yang pada awalnya perlahan menjadi begitu penuh hasrat. Dia mengembalikan kembali apa yang sudah lama aku rasakan padanya dan dia kembali melihat ke arahku. Aku kemudian menyadari bahwa dia memang mencintai aku dan aku juga memang masih mencintainya. Aku menarik tangannya dan mulai berjalan ke arah kamar dengan dia yang mengikuti aku dari belakang.


Saat kami setengah jalan ke arah kamar, dia menarik aku mendekat ke arahnya. Jadi dia mulai mencium leherku saat kami dalam posisi berjalan. Tidak ada dari kami yang terlihat menyadari dunia luar atau apapun yang ada di sekitar kami. Seolah saat ini, hanya ada kami berdua di dunia ini.


Saat kami membuka pintu kamar, dia memutar tubuhku jadi kami kembali saling berhadapan dan juga berpelukan mesra. Dia mencium bibir ku dengan semakin penuh hasrat dan aku pun membalas ciumannya itu.


Aku membalas ciuman John di mana hal itu memang yang aku harapkan selama ini. Dia pun semakin memperdalam ciumannya dan aku membiarkan dia melakukan hal itu.


Kami berdua benar-benar terlena dengan ciuman kami itu. John kembali beralih mencium leherku yang membuat aku mengeluarkan suara yang terdengar menjijikkan dari dalam mulutku ini. Tanganku berada di rambut lembut milik John saat dia terus melanjutkan aksinya dengan mencium leher ku.


John terus melanjutkan aksinya dengan mencium setiap inci leherku dan setelah itu beralih semakin ke bawah. Setelah dia meninggalkan tanda merah di sana yang hal itu memang membuat dirinya merasa puas. Kali ini dia pun berpindah ke arah dadaku. Dia menatapku sesaat seolah bertanya apakah dia boleh melakukannya, dan aku pun menganggukkan kepalaku. John mulai mencium area dadaku sama penuh hasratnya seperti yang dia lakukan sejak tadi.


Suara yang keluar dari mulutku semakin terdengar keras. Aku benar-benar tidak bisa menahannya. Saat John selesai, dia kembali menatap ke arah wajahku dan langsung mencium bibirku lagi. Ciuman itu semakin penuh hasrat dan lebih dari yang dia lakukan sebelumnya.


Saat dia masih mencium ku, dia lalu membawa aku menuju tempat tidur dan perlahan menaruh tubuhku di atas tempat tidur itu. Kami pun melanjutkan ciuman kami sampai akhirnya dia mengangkat pakaianku. Dia berhenti sesaat dan melihat ke arahku. Dari sorot matanya, tampak begitu penuh hasrat dan juga keinginan yang terlihat jelas di matanya.


"Apa kau menginginkan hal ini?" Tanya John seraya mengusap leher sampai ke telingaku dengan begitu lembut.


Aku mengangguk dengan cepat. Saat ini, tidak ada hal lain yang aku inginkan selain dengan ini. Ini sudah begitu lama sejak kami bersama dulu. John pun memasukkan tangannya ke arah pakaianku dan membuka penutup pakaian yang ada di dalam tubuhku. Aku merasakan sentuhan tangannya yang terasa dingin di kulitku.


John akhirnya berhasil membuka seluruh pakaianku dan dia pun mulai bermain di area dadaku. Suara rintihan ku semakin keras dibandingkan sebelumnya dan hal itu terlihat menyenangkan bagi John. Dia pun mulai melanjutkan aksinya lebih jauh.


"Kita sungguh tidak sabaran ya?" Ucapnya seraya tertawa kecil.


Aku pun tersenyum kepadanya.


"Tentu saja, aku merindukan untuk melakukan hal ini." Ucapku dengan suara yang menggodanya.


Kali ini giliran aku yang akan memanjakan tubuhnya. Aku mulai mencium wajahnya sampai ke lehernya dan membuat dia pun mengeluarkan suara rintihan saat aku mulai melakukannya. Saat aku selesai menjelajah bagian tubuhnya, aku pun turun ke bawah ke area celana nya.


John mengeluarkan suara rintihan karena rasa senangnya saat dia tahu apa yang akan aku lakukan padanya. Aku membuka celananya perlahan dan aku bisa mengatakan bahwa John tampak tidak kuat dengan apa yang aku lakukan. Aku lantas melepaskan semua yang ada di tubuh John. Dan melanjutkan aksiku. Aku pun menatap kearah wajah John yang terlihat berbeda sekarang. Aku ingin tertawa, tapi aku terus berusaha menahan diriku.


Aku terus melanjutkan aksiku yang membuat John semakin terlihat tidak bisa menahan dirinya. Aku lalu beralih kembali untuk mencium bibir John. Kami kembali saling bercumbu mesra.


Beberapa saat setelah itu, John melihat kearah wajahku dengan ekspresi penuh cinta diwajahnya. Dia menindih tubuhku dan menatapku penuh cinta.

__ADS_1


"Kau masih bisa mengatakan tidak. Aku tidak mau kau menyesali semua ini." Ucap John dengan suara nafas yang terengah-engah.


Tanganku memegang pinggangnya dan aku meraih wajahnya untuk turun menatap ke arahku.


"Aku berharap bahwa kau berhenti bertanya padaku." Balas ku memegang bibirnya. "Ini sudah cukup lama sejak kita melakukan hal ini terakhir kali. Dan inilah yang memang aku inginkan." Ucapku jujur.


"Baiklah kalau begitu." Ucapnya dengan suara nafasnya yang terasa berhembus di bibir dan wajahku.


"Aku mencintaimu." Ucapnya.


Aku pun tersenyum ke arahnya setelah mendengar apa yang dia katakan itu.


"Aku juga mencintaimu." Balasku.


John pun tersenyum kepadaku lagi dan perlahan menurunkan tubuhnya ke arahku.


Aku mulai merintih dengan nafas yang terengah-engah saat dia mulai melakukannya.


Setelah beberapa saat bercumbu mesra, akhirnya kami pun selesai dengan suara nafas yang sama-sama terengah-engah. Aku tersenyum padanya dan memeluk dirinya. Dia lantas mencium keningku. Kami pun tertidur dengan posisi seperti itu.


...****************...


Aku bangun keesokan paginya dengan rasa sakit yang terasa familiar di pinggangku. Saat aku merasakan bahwa John berada di sisiku dengan posisi memelukku, aku pun tersenyum dan mendekatkan tubuhku ke arahnya. Aku sangat merindukan hal ini.


Aku memikirkan semua hal yang terjadi semalam dan dengan semua yang sudah terjadi, aku pun menyadari bahwa dia memang mencintai aku.


Aku pun semakin mendekatkan tubuhku ke arah tubuhnya yang terasa hangat untuk beberapa menit, sebelum aku akhirnya bangun dari atas tempat tidur dan pergi untuk mandi.


Saat aku mandi, aku berpikir tentang hubungan di antara aku dan John. Itu semua sudah berubah sekarang, sangat berubah tentu saja.


'Tapi sebenarnya apanya yang berubah?' pikirku.


Akankah semuanya berjalan seperti biasanya dengan cinta dan kasih sayang seperti dulu? Atau apakah semuanya akan berubah canggung diantara kami berdua? Apakah dia akan kembali berpikir bahwa ini semua adalah kesalahan yang besar?


Kebahagiaanku yang baru saja muncul menghilang begitu saja. Aku tahu bahwa aku sama sekali tidak memikirkan bahwa apa yang terjadi semalam adalah suatu kesalahan. Tapi aku tidak bisa membaca isi pikiran John. Apakah dia merasakan hal yang sama denganku atau tidak?

__ADS_1


Aku masih berdiri di bawah guyuran shower air hangat dengan perasaan yang mulai panik.


Bersambung....


__ADS_2