Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
Kekacauan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Mereka berdua mulai sering keluar rumah dan bertemu dengan teman-teman mereka. Bahkan teman-teman mereka sering datang ke apartemenku untuk menjemput dan mengantar Justin ataupun Sofia. Tapi aku memilih untuk tetap berada di rumah. Mereka berdua terus mencoba untuk membuat agar aku mau keluar rumah bersama mereka. Tapi aku tidak yakin untuk melakukannya karena aku merasa khawatir jika nantinya aku akan bertemu dengan John lagi.


Aku tahu bahwa kemungkinan jika John tinggal di sekitar sini sangat kecil. Tapi aku tidak mau melihat dia atau mendengarkan suaranya. Justin sudah mencoba untuk membuat aku untuk terbuka padanya dan mengatakan kepadanya apa yang terjadi. Tapi aku hanya menceritakan hal yang singkat saja kepadanya. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku melihat Papa dari anak-anakku dan kami mulai bertengkar karena hal bodoh. Tapi memang itulah kenyataannya. Namun aku tidak mengatakan kepadanya bahwa John selalu ada di dalam pikiranku.


Aku tahu jika hal itu akan membuat dia kesal. Namun kenyataannya bahwa, aku tahu bahwa aku memang masih mencintai John. Tapi aku tahu untuk bisa kembali bersamanya merupakan sebuah ide yang sangat buruk.


Dia pikir bahwa aku berselingkuh darinya. Dia pikir bahwa aku akan melakukan sesuatu yang akan membuyarkan semua mimpi yang ingin aku wujudkan yang akhirnya bisa menjadi kenyataan.


Mimpi di mana aku dan anak-anak memiliki keluarga yang bahagia, dilengkapi dengan seorang suami yang mencintai aku dan juga mencintai anak-anakku tanpa syarat. Setidaknya mungkin aku harus berterima kasih kepadanya karena sudah membuka mataku. Tidak ada kebahagiaan lain selain kebahagiaan memiliki keluarga yang sempurna.


"Adel sayang, apa kau ada di sini ?" Ucap Justin yang terdengar berjalan melalui pintu depan.


"Aku ada di ruang belajar." Ucapku dengan keras agar dia bisa mendengarku.


"Apa kau masih bekerja?" Tanya Justin kepadaku.


Aku melihat ke arah jam dan melihat bahwa sudah 6 jam sejak dia pergi. Sofia sudah membawa semua anak-anak pergi ke kebun binatang. Jadi aku tidak diganggu. Dan aku rasa waktu berjalan dengan begitu cepat.


"Iya aku rasa seperti itu." Balas ku tertawa karena kelelahan.


"Kalau begitu, ayo kita keluar." Ucap Justin dengan antusias.


"Aku tidak yakin Justin." Balas ku.


"Ayolah, kau sudah tidak keluar begitu lama. Aku akan bertemu dengan teman-temanku malam ini. Ayo kita pergi ke pesta untuk sekedar minum. Kenapa kau tidak mau ikut?" Tanya Justin.


"Aku tidak mau membuat semuanya terasa canggung." Ucapku dengan jujur.


"Jangan begitu naif sayang. Teman-temanku sudah tahu bahwa aku mencintaimu dan semuanya akan menyenangkan. Aku janji padamu." Ucap Justin berusaha meyakinkan aku.


Aku melihat ke arahnya dan aku benar-benar tidak bisa menolak dengan wajahnya yang tampak begitu menggemaskan itu.


"Baiklah." Ucapku seraya mengangkat tanganku di udara. "Biarkan aku menelepon Sofia dulu sebelum dia pulang dengan anak-anak, agar kita bisa pergi tanpa diketahui anak-anak nanti." Ucapku.


Justin berlari ke arahku dan memelukku dengan begitu erat. Dia juga mencium pipiku dan berlari ke arah kamarku.


"Justin, apa yang sedang kau lakukan?" Tanyaku yang mengikuti dia dari belakang.


"Mencari gaun yang sangat bagus untukmu." Balasnya.


Saat aku berjalan masuk ke dalam kamar, aku melihat bahwa dia tengah membungkuk untuk mencari pakaian di dalam lemari ku.


"Kenapa aku harus menggunakan gaun yang indah?" Tanyaku.

__ADS_1


"Aku hanya mau memamerkan dirimu kepada teman-temanku." Balas Justin dengan pipi yang tampak memerah.


Kami akhirnya meninggalkan rumah setelah 20 menit kemudian dan pergi menuju pesta yang diadakan oleh seorang mahasiswa yang begitu populer.


Saat kami berjalan masuk ke dalam pesta itu, Justin berjalan mendekat ke arah grup beberapa orang laki-laki dan perempuan yang duduk di sebuah meja yang sangat besar dipenuhi dengan minuman dan beberapa makanan ringan. Kami pun semakin mendekat. Mereka melihat ke arah kami dan salah seorang pria bersiul.


"Dia sangat seksi Justin. Aku rasa kau sudah membuat dia tergila-gila padamu." Ucap pria itu yang membuat Justin langsung memukuli kepalanya.


"Diam lah James." Aku bisa mendengar Justin tertawa kecil dan aku tersenyum ke arah semua orang.


Justin langsung meminta aku untuk duduk dan memberikan minuman kepadaku.


"Baiklah semuanya, perkenalkan dia adalah Adel." Ucap Justin memperkenalkan aku kepada semua teman-temannya.


Hampir dari mereka semua melihat kearah ku dengan begitu penasaran tapi mereka semua terlihat tampak baik padaku.


"Baiklah sayang, ini adalah Ken dan pacarnya Emmy, James dan pacarnya Hana, Chelsea, Kelly, Nigel, Tommy dan Johan."


Aku melihat ke arah mereka semua saat Justin menunjuk ke arah mereka satu persatu. Saat aku melihat pada orang terakhir yang ditunjuk, aku langsung mematung.


"Johan!" Ucapku dengan begitu terkejut.


"Oh ya Tuhan, Adel. Bagaimana kabarmu sayang?" Ucap Johan seraya berdiri dan memeluk aku.


"Bagaimana kalian berdua bisa mengenal satu sama lain?" Tanya Justin penasaran.


"Kami bertemu beberapa tahun yang lalu. Apa kau tidak tahu bahwa dia adalah kekasih lama John." Ucap Johan.


"John!" Ucap Justin lagi saat aku melihat ke arahnya.


"Kau kenal John?" Ucapku di saat yang bersamaan. "Bagaimana kau bisa mengenal John?" Tanyaku lagi.


Johan hanya melihat ke arah kami berdua seolah kami itu orang bodoh.


"John adalah Papa dari anak-anak itu Justin." Ucap Johan.


Aku melihat ke arah Justin untuk mencerna semua informasi yang baru saja aku terima saat ini. Justin ternyata mengenal John. Bagaimana itu semua bisa terjadi?


'Mungkin ini bukanlah John yang sama.' ucapku daam hati mencoba untuk menenangkan diriku.


Tepat saat Justin hendak mengatakan sesuatu, seseorang baru saja tiba.


"Hai guys...! Maaf aku.... Adel?;Kenapa kau bisa ada di sini?" Ucap John.


Aku melihat ke arahnya dan berpikir dengan begitu keras bahwa John saat ini berdiri di depanku.

__ADS_1


'Sial!'


Di sampingku Justin tampak marah dan langsung berdiri.


"Justin duduklah." Ucapku dengan perlahan.


Aku tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak menenangkan Justin dengan cepat.


Beberapa orang yang ada di meja kami dan beberapa orang lainnya dari meja lainnya mulai melihat ke arah kami sekarang. Aku melihat ke arah Johan yang menatap ke arahku dengan tatapan penuh permintaan maaf.


" Kau adalah bajingand yang sudah meninggalkan dia."


Aku mendengar ucapan Justin yang terdengar dengan begitu kejam.


"Justin, bagaimana kau bisa mengenal Adel?" Tanya John.


"Aku berkencan dengannya dan aku adalah kekasihnya. Dasar kau pecundang." Ucap Justin penuh emosi.


"Justin kumohon duduklah atau aku akan pergi sekarang juga." Ucapku kepadanya.


Aku berusaha untuk menenangkan amarah yang terlihat jelas di mata Justin. Namun sepertinya itu tidak bekerja karena Justin melihat ke arah John dengan tatapan penuh ekspresi kemarahan di wajahnya.


"Justin....!!!" Ucapku lagi. "Aku bersungguh-sungguh, ayo duduk." Ucapku kepada Justin.


Justin melihat ke arahku sekilas kemudian dia kembali menatap ke arah John. Tangannya tampak mengepal di sampingnya.


Apa yang terjadi selanjutnya begitu cepat dan aku bahkan tidak menyadari apa yang sudah terjadi sampai semua itu benar-benar terjadi didepan mataku. Justin mengayunkan tinjuan nya mengarah pada rahang John. Aku melihat ke arah Justin dengan begitu terkejut. Dia sudah memukuli John. Aku terlalu sibuk untuk mencoba untu mencerna dengan semua apa yang baru saja terjadi saat John tampak tersungkur.


John pun berdiri dan mulai membalas dengan meninju perut Justin. Dan kemudian semuanya menjadi semakin kacau.


Aku mulai melihat Justin dan John saling memukuli satu sama lain. Ada banyak darah di wajah mereka berdua. Beberapa orang teman mereka mencoba untuk melerai mereka berdua. Sementara orang asing lainnya terus meneriaki mereka agar terus saling memukuli satu sama lain. Aku menatap semua itu dengan begitu horor. Hidung Justin mulai berdarah sementara mata John sudah tampak membiru.


"Ayolah kalian berdua hentikan. Demi Tuhan, ku mohon." Teriakku.


Tapi semua itu tidak berguna. Mereka berdua terus saling memukuli satu sama lain. Aku tahu benar tentang mereka berdua, dan aku tahu bahwa semua itu tidak akan berhenti sampai salah satu dari mereka tidak sadarkan diri atau bahkan mati.


Aku melihat manajer bar itu mendekat dan aku juga mendengar suara sirine dari mobil polisi dari kejauhan tengah mendekat ke arah bar ini. Aku mulai memegang punggung Justin untuk membuat dia mundur.


Namun aku tersenggol olehnya dan terjatuh ke arah belakang. Aku merasakan sakit di punggungku dan juga leherku. Aku juga mendengar suara teriakan yang lebih keras dari salah seorang teman Justin dan juga teman John. Aku rasa namanya adalah Hana. Dia berlari ke arahku dan membantu aku untuk duduk lagi.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Hana.


"Ah iya, aku rasa aku baik-baik saja." Balas ku seraya melihat ke arah kedua pria yang masih saling memukuli satu sama lain itu. "Aku hanya berharap bahwa mereka bisa berhenti." Ucapku dengan sedih.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2