Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Aku dan John akhirnya tiba di rumah dengan disambut oleh ketiga anak-anak kami yang tampak begitu bahagia. Terlihat jelas dari raut wajah mereka jika mereka semua sangat merindukan kami. Sofia dan juga Justin ada disana ikut menyambut kami. Keduanya tampak semakin dekat. Aku tak pernah menyangka jika mereka berdua memang terlihat serasi saat bersama.


Malam itu juga, Mama ku mengadakan pesta kecil-kecilan sebagai wujud syukur karena aku dan John bisa kembali pulang dan berkumpul bersama dengan semua keluarga dalam keadaan selamat dari terjangan badai yang terjadi hampir selama lebih dari satu minggu di lokasi dimana rumah kecil itu berada.


Semua orang tampak begitu senang saat makan malam dengan menu yang dipesan Mama dari sebuah restoran. Aku tidak pernah menyangka bahwa Mama bisa mengatur semuanya secepat ini.


"Oh ya, Tante Helen bilang kalian berdua akan segera menikah? Kapan resminya, siapa tahu kita bisa menikah di hari yang sama." Ucap Justin tiba-tiba disela-sela kami yang tengah mengobrol di ruang tamu setelah makan malam selesai.


Aku dan John saling pandang dan hanya bisa tersenyum.


"Kalian saja yang duluan." Balasku santai.


Sebenarnya aku dan John memang sudah merencanakan detail semuanya tentang acara pernikahan kami saat masih berada di rumah kecil itu. Tapi untuk tanggal pastinya, kami belum bisa menentukannya. Mengingat John dan aku sama-sama masih disibukkan dengan urusan perkuliahan, apalagi kami sama-sama akan menghadapi ujian. Terlebih John yang sebentar lagi akan mulai mengurus skripsi sebagai tugas akhirnya sebelum menamatkan kuliahnya.


"Kenapa begitu? Apa kalian tidak mau melihat anak-anak bahagia?" Ucap Sofia.


Aku melirik ke arah anak-anak yang tengah bermain di temani oleh Mama di ruang bermain mereka yang terletak bersebelahan dengan ruang tamu.


"Pertanyaan macam apa itu." Ucap John tiba-tiba dengan suara yang terdengar kesal. "Tentu saja kami mau mereka bahagia. Tapi kau tahu sendiri baik aku maupun Adel sama-sama masih disibukkan dengan perkuliahan kami. Lagipula, menikah itu tidak bisa langsung dilaksanakan begitu saja tanpa ada persiapan yang matang. Jadi, tidak bisa langsung di sebut kan mau menikah tanggal berapa sebelum semua rencananya di rampungkan." Lanjut John dengan wajah yang kesal.


"Iya-iya, aku mengerti. Kenapa kau sampai marah seperti itu? Kami kan hanya bertanya." Balas Sofia.


Aku hanya tersenyum dan mengusap punggung tangan John yang sejak tadi menggenggam erat sebelah tanganku.


"Jika kalian berdua memang sudah jauh lebih dulu siap, silahkan kalian berdua lebih dulu menikah. Kami bisa menyusul belakangan." Ucapku.


Setelah itu kami semua pun melanjutkan obrolan santai kami.


Beberapa hari kemudian, aku dan John mulai serius membahas tentang pernikahan kami dengan melibatkan semua keluarga. Orang tua John dan juga adiknya Olivia, tampak senang mendengar berita bajwa kami akan segera menikah. Setelah begitu lama aku tak mendengar kabar dari Olivia, aku akhirnya bisa kembali saling berhubungan dengannya bahkan bisa bertemu dengannya.


Aku tahu yang dilakukan Olivia selama ini dengan menghindar dariku hanya karena dia mengetahui perasaan John, kakaknya yang berpikir bahwa aku selingkuh hingga membuatnya meninggalkan aku. Setelah mengetahui semuanya, Olivia pun meminta maaf padaku. Dia pun ikut andil dalam memberikan ide dalam konsep pernikahan ku dan John.


Melaksanakan pernikahan itu merupakan impian bagi sebagian besar orang. Ada yang mempersiapkan hari besar itu jauh-jauh hari dengan persiapan yang matang. Namun ada juga pernikahan yang dilaksanakan dengan persiapan waktu yang singkat karena berbagai alasan. Kalau pernikahan dilakukan dengan persiapan cuma 2 bulan, itu mungkin masuk dalam kategori persiapan pernikahan yang singkat, termasuk aku salah satunya.


Aku dan John sepakat untuk mempercepat pernikahan kami, meski kami sama-sama masih disibukkan dengan jadwal perkuliahan kami, terlebih John yang akan menghadapi ujian skripsinya. Aku awalnya memintanya untuk memundurkan saja jadwalnya sampai dia selesai dengan dengan skripsinya itu. Tapi John terus meyakinkan aku bahwa semuanya bisa kami lewati bersama.


"Adel, jodoh itu misteri, ibarat rezeki yang sering datang di waktu yang tak disangka-sangka." Ucap Mama kala aku mengatakan kepada Mama bahwa John sudah memutuskan pernikahan kami untuk dipercepat.


Awalnya John malah meminta sebulan kemudian kami untuk menikah. Namun karena aku belum siap, jadi aku minta diundur sebulan berikutnya. Akhirnya kami berdua pun sepakat.


Menentukan tanggal pernikahan itu ternyata jauh lebih rumit dari yang kami pikirkan. Saat kami sudah sepakat untuk menentukan tanggalnya, ternyata tanggal itu pun berubah lagi. Kami tidak menyangka ternyata Sofia dan Justin diam-diam juga sudah memutuskan untuk menikah dan mereka pun memutuskan menikah di tanggal yang sama. Akhirnya semua itu jadi bahasan teman-teman kami. Dan ternyata kebanyakan dari mereka memutuskan akan pergi ke pernikahan kami, mungkin sekalian jalan-jalan ke kota asal kami.


Aku dan John pun berpikir, jika kebanyakan yang datang ke acara pernikahan kami, kasihan juga Sofia dan Justin. Kami akhirnya berunding kembali, meski sebenarnya John protes pada awalnya.

__ADS_1


"Kenapa harus kita yang mengalah dan mengganti tanggal pernikahan yang sudah kita tentukan?" Protes John padaku.


"Ayolah sayang, aku tidak enak hati pada Sofia. Bagaimanapun selama ini, dia sudah menjadi orang yang paling berjasa bagiku karena sudah membantu aku merawat anak-anak selama aku sibuk di kampus." Ucapku pada John mencoba membuatnya mengerti.


Pada akhirnya kami berdua pun menyepakati tanggal pernikahan dimajukan seminggu lebih awal dari tanggal sebelumnya.


...****************...


Satu bulan berlalu, yang kami siapkan baru sekitar tiga puluh persen dan dalam menyiapkan persiapan-persiapan itu aku dan John seringkali berbeda pendapat dan bahkan berselisih paham untuk masalah sekecil apapun. Dari mulai desain undangan sampai desain pelaminan, itu membuat aku cukup sakit kepala dan sering kebingungan. Tak hanya dengan John saja, bahkan dengan Kak Gea pun yang datang membantu untuk mengurus anak-anak ditengah ribetnya persiapan pernikahan, aku sering berselisih paham dengannya yang bahkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan persiapan pernikahanku.


Dari sana lah aku berpikir, mungkin ini yang sering dikatakan orang-orang banyak.


"Kalau mau menikah memang akan sering banyak godaannya!"


Hari ini, tinggal dua minggu tersisa persiapan pernikahan kami sudah mendekati tujuh pulu persen. Tapi seperti itulah hari-hari kami, masih banyak berselisih paham walaupun tidak sampai berhari-hari.


Aku sebenarnya tipe orang yang tidak mau susah. Aku ingin pernikahan yang simpel-simpel saja sebenarnya. Bahkan sempat terbesit di pikiranku, bagaimana kalau pernikahanku dan John hanya sebatas akad saja. Untuk resepsinya diadakan sederhana dan untuk keluarga saja. Tapi apa daya, ternyata kenyataan tak sesimpel yang aku pikirkan. John adalah anak laki-laki satu-satunya dan anak pertama di keluarganya. Akhirnya aku harus mengesampingkan keinginanku dan memutuskan ada pesta resepsi sesuai masukan dari semua keluarga.


Sejujurnya, dulu saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah, aku selalu berandai-andai dan sangat ingin merealisasikan pernikahan mewah ala-ala Disney Princess.


'Hahaha, mungkin semua wanita saat masih polos membayangkan hal seperti itu.'


Sayangnya aku yang memang masih polos saat itu, tidak tahu betapa ribetnya persiapan-persiapan pernikahan. Sekarang aku tahu bagaimana sulit dan pusingnya mempersiapkan pernikahan. Dan tidak menerapkan pernikahan impian ku kala kuliah pun tak apa, yang penting pernikahan ini terlaksana.


Menentukan konsep pernikahan dan mencari baju pengantin, make up, catering dan lain-lainnya dengan waktu dua bulan itu ternyata sangat mepet sekali. Baju pengantin sampai berkali-kali ganti konsep, aku sudah cocok tapi John tidak, belum lagi Mama ku dan orang tua John.


Kalau sudah urusan orang tua kami, itu semua paling membingungkan, karena kami tidak ingin orang tua kami kecewa. Aku dan John berpikir bahwa semua pengeluaran kalau bisa semua dari kami berdua. Kami berdua tidak ingin membebani kedua orang tua, meskipun menikahkan anak merupakan tanggungjawab kedua orang tua kami. Jujur aku sebenarnya sampai pusing mengatur budget pernikahan ini, tabungan yang aku miliki tidak besar jumlahnya, apalagi mengingat tabunganku itu selama ini aku gunakan untuk biaya ketiga anak-anakku.


Tak hanya konsep pernikahan, hal-hal kecil jika saja kami mendahulukan ego masing-masing akan berakhir dengan pertengkaran. Hal kecil seperti menentukan suvenir saja sempat ribut, namun akhirnya aku mengalah dan memilih pilihan John.


Mungkin orang lain sering merasakan saat hari-hari terakhir menjelang pernikahan ada-ada aja kejadian. Mulai dari tiba-tiba seorang wanita yang mengaku sebagai mantan pacar John yang secara tiba-tiba datang. Seakan-akan cerita mereka belum selesai, padahal dari versi John cerita mereka sudah selesai sejak lama.


Aku begitu gugup dan bahkan takut dengan akhir ceritanya karena mantan John memang lebih dariku dari segala hal. Dia lebih cantik, fashionable, badannya lebih bagus, dari keluarga berada dan masih banyak lagi hal lainnya.


"John itu sudah tidur denganku dan dia sudah berjanji untuk menikah denganku jauh sebelum kau hadir dalam hidupnya." Ucap wanita bertubuh seksi itu.


Wanita itu diam-diam datang menemui aku saat hanya seorang diri di rumah, sementara Mama tengah sibuk dengan urusan pekerjaan, Kak Gea juga ada urusan lainnya. Sementara John tengah membawa anak-anak pergi berbelanja ke supermarket.


"Maaf Nona, aku tidak tahu siapa dirimu dan aku tidak tahu apakah yang kau katakan itu benar atau tidak, tapi aku tidak perduli. Karena sekarang John sudah bersamaku, jadi biarlah semua itu menjadi masa lalunya." Ucapku santai.


Wanita itu terus saja mengoceh di depan pintu rumah. Aku tidak tahu dari mana dia mendapat alamat rumah asliku karena tempat itu berjarak cukup jauh dari kota dimana kami berkuliah.


"Heh, asal kau tahu ya. Aku bahkan sudah dua kali menggugurkan kandunganku demi John si brengsek itu. Apakah kau masih mau menikahi pria seperti dia?" Ucap wanita itu.

__ADS_1


Jujur saja, hatiku merasa begitu sakit mendengarkan pengakuan wanita yang ada dihadapanku ini. Aku terus saja berpikir apakah benar tentang yang dia katakan ini? Apakah John memang sampai begitu tega membiarkan seorang wanita untuk mengugurkan bayi yang merupakan anaknya sendiri?


Tak berhenti disitu saja, wanita itu lantas mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto antara dirinya dan John yang tengah berciuman bibir di pinggir kolam. Wanita itu tampak menggunakan bikini sementara John tampak bertelanjang dada.


Dadaku terasa sesak dan mataku mulai memanas. Aku mencoba untuk menahan agar aku tak sampai menjatuhkan air mataku di depan wanita yang berdiri dihadapanku ini. Namun dia sepertinya tahu bahwa aku tengah menahan tangis ku, bibirnya pun tampak menyeringai.


"Dengarkan aku sekali lagi. Tinggalkan John, dan biarkan dia menikah denganku. Bagaimanapun aku ini sudah dirusak olehnya. Kau masih pantas mendapatkan pria yang jauh lebih baik darinya." Ucap wanita itu lagi dengan menyeringai.


Tiba-tiba dari arah belakang wanita itu, tampak sosok John yang tengah berjalan bergandengan dengan ketiga anak kami.


"Papa cepatlah." Ucap Bintang.


Bulan dan Berlian tampak berlari di halaman depan rumah disusul Bintang yang ikut berlari dan mereka semua berteriak memanggilku.


"Mamaaaa....." Teriak mereka semua.


Aku melihat ke arah wajah wanita itu yang terlihat berubah kebingungan. Terlebih saat tatapannya melihat kearah John yang membawa banyak kantong belanjaan berisi makanan dan mainan untuk anak-anak


"Mama... Mama... Papa membelikan banyak mainan untuk kami." Ujar Berlian setelah mendekat ke arahku yang masih berdiri di pintu.


"Iya Mama." Sambung Bulan. "Papa juga membelikan kami banyak camilan." Lanjutnya.


Sementara Bintang yang tiba terakhir, menatap ke arah wanita yang mengaku sebagai mantan kekasih John itu. Bintang terus menatap kearah wanita itu, dan entah kenapa tatapan matanya seolah menunjukkan kebencian pada wanita itu.


"Siapa Tante ini? Teman baru Mama ya?" Tanya Bintang.


Aku terdiam dan melihat ke arah John yang sudah tiba di hadapan kami. Wajah John tampak terkejut saat dia melihat wanita itu. Wanita itu memberikan senyuman termanisnya pada John.


"Anak-anak, masuklah. Nanti Mama siapkan camilan kalian." Ucapku.


Ketiga anak-anak itu lantas berlari masuk ke dalam rumah. Sementara aku merampas kantung belanjaan yang ada di tangan John dengan kasar.


"Silahkan kalian selesaikan urusan kalian." Ucapku lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan kasar.


Perasaanku tak menentu memikirkan semuanya. Untungnya John ternyata tak goyah dari niatnya dan menyelesaikan masalahnya dengan mantannya. Kalau saja aku tidak teguh dengan pendirian bisa saja hal ini membatalkan pernikahan kami. Aku tidak mau membahas semuanya dan bisa menerima semuanya dan menganggap semua itu hanyalah sesuatu di masa lalu John. Kalau aku melihat satu keburukannya dan tak melihat seribu kebaikannya, itu semua tidak adil.


Setiap manusia punya masa lalu, dan dia mau berubah untuk yang lebih baik. Aku pun bukan orang yang sempurna pasti punya banyak kekurangan.


Akhirnya setelah melalui berbagai hal, pada hari yang sudah disepakati, kami pun menikah dengan sah secara agama dan hukum.


Menikah itu bukan akhir kisah percintaan tetapi awal dari kisah cinta yang sesungguhnya. Bersatunya dua orang yang berbeda, pasti tak semudah mempersatukan kedua tangan. Perbedaan pendapat dan cara pandang pasti ada, asal kita mau mendiskusikan dan tidak mendahulukan ego masing-masing. Masalah bisa diselesaikan bersama dengan berbicara menggunakan hati dan mau lebih mengenal kepribadian pasangan. Sampai sekarang aku menganggap John adalah teman hidup dan teman berbagi.


'Aku mencintaimu John....'

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2