
"Saat itu aku minum alkohol terlalu banyak bahkan lebih dari satu botol di pesta ulang tahun sahabat terbaikku dan aku tidak mengingat apapun kejadian sepanjang malam itu." Ucap ku menjelaskan semuanya kepada Justin.
"Kalau begitu, apakah kau tahu siapa Ayah dari anak-anakmu itu?" Tanya Justin.
"Setelah awalnya ada kesalahan pada identitas asli dari Ayah dari anak-anakku, aku akhirnya bisa menemukan orang yang sebenarnya. Kami lantas mencoba untuk bisa bersama beberapa saat. Tapi hal itu tidak berhasil. Dia pergi." Ucapku dan langsung merasa sedih karena mengingat semuanya.
"Kalau begitu, aku rasa dia pria yang tolol, bukan begitu?" Ucap Justin.
"Pria tolol?" Ucapku seraya tertawa.
Kami duduk di sana beberapa saat mengobrol dan tertawa dengan nyaman kemudian diam setelah beberapa saat.
"Jadi, apakah kau mau mampir dan melihat ketiga monster kecil ku?" Ucapku dengan gugup.
Justin melihat ke arahku dan tersenyum.
"Tentu saja iya. Ayo kita pergi menemui anak-anak nakal itu." Balasnya.
Justin memegang tanganku dan kami berlari ke arah lobi kemudian menuju apartemenku. Di luar ruangan apartemen ku kami berdua berhenti berjalan.
"Lalu siapa yang menjaga dan memenuhi kebutuhan mereka, jika mereka tidak mempunyai seorang Papa dalam hidup mereka?" Tanya Justin.
"Aku punya pekerjaan, jadi aku bisa membayar seorang baby sitter yang bisa menjaga mereka sepanjang waktu." Balas ku.
Justin kemudian menganggukkan kepalanya dan aku pun melangkah untuk membuka pintu.
Saat pintu terbuka, ketiga anak-anak kembar ku itu langsung berlari ke arah kakiku.
"Mama pulang..." Ucap Bulan dan Berlian.
Sementara Bintang hanya berdiri di sana dengan ibu jari berada di dalam mulutnya dan wajahnya tampak menyeringai. Itu biasanya berarti bahwa Bintang sudah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan.
'Baiklah, aku akan melihat apa yang sudah dia lakukan nanti.'
"Hai anak-anak, apakah kalian mau bertemu dengan teman baru Mama?" Ucapku seraya melihat ke arah Justin.
Justin terlihat tampak baik-baik saja. Dia tengah tersenyum. Saat aku menyebutkan nama Justin, ketiga anakku langsung melihat ke arah dirinya, memperhatikan dirinya.
"Justin, aku mau kau bertemu dengan Bulan, Berlian dan Bintang. Dan anak-anak ini adalah teman baru Mama, namanya Justin." Ucapku.
"Halo." Ucap Bulan dengan suara yang terdengar malu.
Justin lalu berlutut dan memegang tangan Bulan untuk berjabat tangan. Saat Bulan memegang tangan besar milik Justin, mereka berdua pun tersenyum.
Beberapa menit kemudian mereka semua berjabat tangan dan ketiga anak-anakku langsung menunjukkan mainan mereka kepada Justin. Aku tersenyum ke arah Justin dan dia membalas senyumanku. Aku tahu bahwa ketiga anak-anakku akan menyukai dia, tapi karena mengetahui bahwa Justin menyukai mereka, hal itulah yang semakin membuat aku sangat bahagia.
"Adel!"
Aku berbalik melihat Sofia baby sitter ku yang memanggilku. Dia sekarang sudah menjadi teman baikku. Dia tampak berjalan keluar dari arah dapur bersama dengan putrinya, Mila.
Aku tersenyum ke arah Sofia dan mencubit pipi Mila yang tertawa dengan suara tawa bayi yang terdengar begitu menggemaskan.
"Siapa seseorang yang seperti magnet untuk anak-anak itu?" Tanya Sofia dengan polos.
"Sofia jangan menyebutnya seperti itu." Ucapku tertawa.
Dia pun ikut tertawa bersamaku.
"Kalau begitu siapa pria yang tampak seksi itu? Dia terlihat sangat menggemaskan." Bisik Sofia lagi di telingaku.
"Oh ya Tuhan, kau ini ada-ada saja." Ucapku membalas ucapannya.
Kami berdua berjalan ke arah kamar arena bermain dan Sofia menurunkan Mila di tempat bermainnya.
"Justin." Ucap Bintang memanggil dirinya.
Sofia melihat ke arahku dan menaikkan alisnya dan tertawa kecil. Aku mencoba untuk tidak menghiraukan dia, tapi senyuman yang coba aku tahan keluar begitu saja.
"Kenapa Mama dan Sofia bicara lucu?" Tanya Bintang kepada Justin.
"Bintang, aku percaya bahwa Mama mu dan Sofia tengah membicarakan sesuatu yang lucu yang hanya mereka berdua yang mengetahuinya." Ucap Justin kepada Bintang.
Aku melihat ke arah Justin dan dia tampak menyeringai, kemudian aku menyadari bahwa Justin sepertinya mendengar apa obrolan yang terjadi di antara aku dan juga Sofia tadi di dapur.
Aku mulai tertawa dengan sangat keras dan aku meninggalkan ruangan itu dan berjalan ke arah dapur. Aku mendengar langkah kaki dari belakangku dan aku berbalik untuk melihat Justin yang menatapku.
Dia terus berjalan mendekat ke arahku yang membuat aku terus berjalan mundur sampai aku menabrak meja. Kami berdua tersenyum satu sama lain dan mataku melihat ke arah bibirnya. Aku kembali melihat ke arah matanya dan matanya tampak begitu indah. Namun aku juga bisa melihat ada hasrat di dalam matanya itu.
Aku membuat keputusan yang sangat cepat, saat itu juga untuk bisa move on dari John. Aku lantas meraih Justin dan menaruh tanganku di belakang lehernya dan mulai memainkan rambutnya. Matanya terus menatap ke arah mataku seolah bertanya padaku apakah semuanya akan baik-baik saja. Tangannya lalu memegang pinggangku dan juga pipiku.
__ADS_1
Semuanya terasa begitu cepat. Posisi kami sekarang begitu dekat dengan lutut kami yang menyatu. Kami pun bergerak dengan cepat dan membuat bibir kami bersentuhan.
Setelah ciuman itu, semuanya menjadi terasa begitu berbeda. Kami bertingkah seolah semua itu memang terjadi, tapi kami tidak menyebutkan tentang ciuman itu. Ciuman itu bisa saja terus berlanjut lebih intim di dapur, jika saja Sofia tidak muncul dan berteriak sesuatu tentang matanya yang terasa sakit.
Setelah kejadian itu, Justin lebih sering datang ke apartemen ku dan sering bermain dengan anak-anakku dan aku mulai mencintainya sekarang dan aku begitu bahagia karena hal itu.
...****************...
Aku tengah duduk di ruang tamu menonton acara televisi, sementara Justin menaruh ketiga anak kembar ku ke tempat tidur mereka. Akhir-akhir ini mereka akan terus berteriak dan menangis jika bukan Justin yang melakukannya.
'Sepertinya mereka tidak mencintai Mama mereka lagi.'
Aku menghela nafas memikirkan hal itu. Anak-anakku memang sudah bertambah besar sekarang.
"Kenapa kau menghela nafas seperti itu Mama nya anak-anak?" Ucap Justin dari arah belakangku.
Aku berbalik dan melihat Justin berjalan ke arah ruang tamu dengan senyuman yang terlihat di wajahnya. Dia memang selalu tersenyum.
"Apakah kau mabuk?" Tanya ku melihat ke arah Justin dengan bingung.
"Tidak." Balasnya dengan perlahan. "Kenapa aku harus mabuk?" Tanya Justin lagi.
Aku hanya bisa tertawa karena dia bicara kepadaku seolah menganggap aku itu orang bodoh. Dia memang selalu melakukan hal itu saat dia benar-benar kebingungan.
"Karena kau selalu tersenyum." Ucapku.
Dia tersenyum dan menyadari apa yang aku maksudkan. Dia lalu menjulurkan tangannya untuk membantu aku, agar bangun dari tempat duduk.
Aku berdiri dan meraih tangannya dan kami berdua berjalan ke arah tempat tidur dengan tangan kami yang saling berpegangan. Ini semua memang normal bagi kami. Tapi kami tidak melakukan hubungan yang terlalu intim, kami hanya berpelukan dan tidak lebih dari itu. Aku tahu itu terdengar kekanak-kanakan dan terlalu kuno. Tapi bagi kami berdua, itu semua terasa begitu sempurna terlebih bagiku. Karena aku tidak mau sampai kejadian yang sama terulang lagi dan aku hanya ingin berhati-hati dalam berhubungan dengan tidak sampai melakukan hubungan yang akan membuat aku menyesal nanti.
Malam berikutnya, aku keluar bersama dengan Sofia.
Justin menawarkan dirinya untuk menjaga anak-anak. Aku dan Sofia berpikir bahwa Justin adalah pria yang cukup berani. Maksudku, kami berdua bisa menjaga mereka semua tapi kami ini adalah wanita, dan itu sudah hal biasa bagi kamu. Tapi Justin, dia masih tidak bisa mengganti popok dengan cukup cepat. Anak-anak pasti akan terus berlari menjauh darinya.
Bagiku, hal itu sangat menyenangkan untuk dilihat. Tapi malam ini adalah malam bagi kami para wanita dan kami tidak perlu menjaga anak-anak kami malam ini. Kami tidak perlu mengkhawatirkan tentang tanggung jawab kami kepada mereka karena Justin ada bersama mereka malam ini.
Malam ini begitu berkesan dan akan tetap bisa diingat karena kami begitu bersenang-senang. Bahkan kami berdua bisa mengatakan bahwa malam ini kami berdua begitu bahagia. Kami berdua berakhir di sebuah klub malam. Aku bahkan tidak bisa mengingat nama klub itu. Tapi klub itu begitu besar dengan warna lampu neon yang begitu berwarna dan juga suara musik yang terdengar begitu besar. Dan hanya itulah yang kami inginkan.
"Apa kau bersiap untuk dihancurkan?" Ucap Sofia dengan tertawa.
Aku memberikan senyuman kejam ke arahnya dan kami berdua berjalan masuk ke dalam klub itu. Kami berdua mulai minum. Aku benar-benar ingin bersenang-senang malam ini. Terakhir kali aku mabuk adalah di pesta ulang tahun Olivia dimana terjadi kesalahan yang membuat aku malah mendapatkan kebahagiaan dengan memiliki tiga anak kembar yang begitu menggemaskan.
"Ayo, ini waktunya untuk menunjukkan kepada mereka bahwa kita bisa menari." Ucap Sofia tertawa.
Kami berdua lalu pergi ke arah arena lantai dansa dan menari dengan begitu baik.
Beberapa pria datang mendekat dan mulai menari bersama kami. Kami menari bersama mereka setidaknya sampai 3 lagu selesai. Sofia terlihat begitu senang. Setelah beberapa saat kami meninggalkan para pria itu dan kembali ke arah meja kami.
"Hihhh...." Ucap Sofia tertawa.
"Kenapa?" Tanyaku.
Sofia menceritakan bahwa pria yang menari dengannya bernama Josh. Sofia bilang, pria itu cukup menarik dan sepertinya juga tertarik kepadanya.
"Hai." Terdengar suara berat seorang pria yang mendekat ke arah kami.
Saat aku melihat ke arah belakang, aku melihat seorang pria yang berdansa dengan Sofia tadi, dan ternyata dialah pria bernama Josh yang diceritakan Sofia tadi. Dia lantas duduk di meja kami dengan duduk di samping Sofia.
"Jadi, aku dengar namamu adalah Josh." Ucapku dengan suara yang keras agar bisa didengar olehnya karena suara musik yang begitu keras.
Dia menganggukkan kepalanya kemudian tampak melihat ke arah Sofia dengan penuh hasrat. Keduanya pun mulai mengobrol dengan saling menatap penuh hasrat.
Sekarang aku tahu bagaimana rasanya menjadi orang ketiga yang tidak ubahnya seperti nyamuk saja yang melihat kemesraan mereka berdua.
Aku memutuskan bahwa aku tidak mau duduk saja di dekat mereka dengan melihat Sofia dan Josh yang tengah bermesraan. Jadi aku pergi untuk menari sebentar. Aku merasa seorang pria mendekat ke arahku dari belakang. Dia langsung menaruh tangannya di pinggangku dan kami mulai mengikuti irama musik. Aku begitu merasa bersenang-senang.
Pria itu terasa mulai mengusap leherku. Dia lantas membalikkan tubuhku untuk melihat wajahku dan kali ini dia mengusap wajahku. Tapi aku masih bisa menikmati hal itu karena sentuhannya terasa begitu hangat. Entah kenapa aku merasa begitu familiar. Tapi aku terlalu mabuk untuk bisa menyadari hal itu.
Aku lantas mencoba melihat ke arah wajahnya agar aku bisa mengenalinya. Namun apa yang aku lihat, benar-benar membuat aku begitu terkejut. Dia juga melihat ke arah wajahku dengan tatapan terkejut yang sama di wajahnya seperti yang aku rasakan.
"Adel?" Ucapnya.
" Hai John." Ucapku saat kami mulai mengenali satu sama lain.
John lantas menarikku ke arah sebuah meja dan mulai duduk bersamaku. Aku pikir bahwa aku akan berlari menjauh, tapi sejujurnya aku merasa bahagia karena melihat dirinya. Ini sudah begitu lama. Aku bahkan tidak menyadari dan juga tidak mengetahui apakah dia tinggal di dekat sini atau mungkin dia hanya tengah liburan di daerah ini.
John duduk di kursi di hadapanku dan menaruh kedua minuman yang dia pesan di atas meja. Dia masih terlihat sama, dengan wajah tampan yang sama, dan tubuhnya yang masih memiliki otot yang sama seperti John yang terakhir kali aku lihat. Dan aku masih merindukannya.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya John dengan meminum bir yang ada di depannya.
__ADS_1
"Baik, aku rasa." Balas ku.
Keheningan menyelimuti kami selama beberapa menit dan membuat suasananya mulai canggung. Padahal hal itu tidak pernah terjadi kepada kami sebelumnya.
"Kenapa kau pergi?" Ucapku bertanya.
John melihat ke arahku dengan tatapan yang terkejut. Aku rasa dia merasa terkejut karena tidak menyangka bahwa aku langsung berbicara kepada intinya. Tapi aku memang sudah begitu lama ingin mengajukan pertanyaan seperti itu dan menunggu dirinya untuk menjawab pertanyaan itu.
"Aku rasa semua itu sudah sangat jelas." Balasnya dengan suara yang terdengar begitu kasar.
"Hmmmm Tidak! Aku pikir kita baik-baik saja saat itu, dan kemudian kau tidak mengunjungi aku saat aku berada di rumah sakit. Dan saat aku keluar dari rumah sakit, kau malah pergi tanpa mengatakan ucapan perpisahan kepadaku secara langsung! Kau malah meninggalkan surat yang tidak berguna itu." Ucapku begitu kesal saat mengingat semuanya.
"Sialan kau Adel. Apakah kau pernah bertanya kepada Jefri mu yang sangat berharga bagimu itu kenapa aku sampai pergi?" Teriak John.
"Jefri? Apa hubungannya dengan semua ini?" Tanyaku dengan bingung.
"Sialan, apa kau lupa bahwa dia berada di atas tubuhmu saat aku pulang ke rumah." Ucap John dengan wajah yang tampak marah.
Aku melihat ke arahnya dengan tidak bisa berkata apa-apa. Dia berpikir bahwa Jefri dan aku bermain api.
'Dia berpikir bahwa aku akan melakukan hal seperti itu kepadanya dan aku melakukan hal itu dengan Jefri?'
"Apakah kau benar-benar sudah gila?" Tariakku kepadanya.
Kami membuat orang-orang lain memperhatikan kearah kami. Tapi aku tidak peduli.
"Kkau benar-benar pria yang sangat tolol. Aku saat itu mengalami kolaps John dan hal itulah yang membuat aku berada di rumah sakit. Sialan kau John." Teriakku kemudian berdiri dan berjalan menjauh darinya.
"Adel?"
Aku melihat ke arah seseorang yang memanggilku dan ternyata itu adalah Sofia yang sudah melepaskan dirinya dari Josh dan mendekat ke arahku.
"Maaf Sofia. Aku akan kembali ke rumah." Ucapku dengan keras agar dia bisa mendengar suaraku.
"Baiklah, aku akan ikut. Tunggu sebentar." Ucap Sofia seraya berjalan mendekat ke arah John dan mengambil segelas minuman dari atas meja dan menyiraminya ke wajah John.
Aku pun mulai tertawa.
"Aku tidak tahu siapa kau. Tapi kau sudah membuat sahabat baikku kesal. Apakah kau mengerti?" Ucap Sofia.
Aku melihat bahwa John mengangguk dan Sofia tersenyum, kemudian dia berjalan menjauh dari John dan mendekat ke arahku.
"Ayo kita pergi. Kau punya pria tampan yang menunggu mu di rumah dan dia juga mencintai dirimu." Ucap Sofia dengan keras sehingga bisa membuat John mendengarnya.
Untuk beberapa saat, aku merasa bersalah karena John bisa mendengarkan hal itu. Tapi aku menghilangkan semua perasaan itu dengan cepat. John lah yang meninggalkan aku, jadi dia tentu tidak peduli dengan hal itu.
****
Kami membuka pintu apartemenku dengan pelan berharap bahwa kami tidak membangunkan semua anak-anak ataupun Justin karena itu sudah jam 03.00 pagi.
"Dari mana saja kalian berdua?" Ucapa seseorang yang terdengar begitu menyeramkan.
Kami berdua, aku dan Sofia berteriak. Kamu hampir saja kencing di celana karena begitu terkejut sekaligus takut. Kami lantas melihat ke arah dari mana asal suara yang datang itu. Kami berdua pun melihat sosok Justin yang tengah duduk di kursi mencoba untuk tidak tertawa.
"Oh ya Tuhan Justin! Kenapa kau melakukan hal seperti itu?" Ucapku kesal.
"Karena kalian berdua sudah lupa waktu sampai melupakan anak-anak kalian. Jadi aku berpikir bahwa aku ingin mengerjai kalian, agar kalian bisa mengingat bahwa kalian adalah seorang ibu dari anak-anak kalian." Ucap Justin tertawa.
"Dasar sialan." Ucap Sofia ucap Sofia yang tengah mabuk.
"Sofia sayangku, kau mabuk ya?" Ucap Justin tertawa.
"Tidak, aku tidak mabuk." Balas Sofia.
Dia lantas mencoba untuk membuktikan bahwa dia tidak mabuk Tapi tetap saja dia hendak terjatuh.
Justin langsung memegang tubuh Sofia sebelum Sofia jatuh ke lantai. Aku tersenyum melihat ke arah mereka berdua.
"Wow Sofia kau benar-benar mabuk." Ucap Justin yang kemudian menaruh tubuh Sofia di atas sofa.
"Iya, kau seharusnya melihat dia menari di klub." Ucapku dengan senang saat mengingat momen saat kami bersenang-senang tadi.
Tiba-tiba wajahku berubah sendu.
"Ada apa Sayang? Apakah Kau tidak bersenang-senang? Apakah sesuatu terjadi disana. Tanya Justin dengan raut wajah khawatir.
"Tidak, semuanya baik-baik saja. Aku hanya lelah." Balas ku.
Bersambung.......
__ADS_1