Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
Lembaran Baru


__ADS_3

Aku melepaskan surat itu ke bawah hingga terjatuh ke lantai. Air mataku jatuh dengan begitu deras. Aku menangis tapi tanpa ada suara keluar dari mulutku. Tak lama kemudian semuanya berubah menjadi tangisan yang begitu tersedu-sedu sampai aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Hatiku begitu terluka. Aku tidak bisa menghentikan semua kepedihan ini. Hatiku benar-benar terluka hingga membuat dadaku merasa begitu sakit. Semua yang bisa aku pikirkan adalah kenapa John bisa pergi? Dan sekarang John sudah pergi.


John pergi untuk kebaikannya. John tidak mencintai aku dan itu semua sudah sangat terlambat bagiku. Aku sudah mencintai dia bahkan sangat mencintainya. Dia mau menikahi aku, tapi dia tidak mencintai aku.


Aku merasa Mama ikut duduk di lantai bersamaku dengan lengan Mama yang melingkar memelukku membiarkan aku menangis dan mengatakan kepadaku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi bagiku semua ini tidak akan baik-baik saja. Kenapa John bisa pergi meninggalkan aku.


'Apakah aku sudah melakukan sesuatu yang salah? Tidakkah dia menyadari bahwa aku mencintainya?'


Aku terus mengatakan kata cinta itu setiap saat. Lalu, kenapa dia tidak bisa mempercayai aku. Dia seharusnya tetap tinggal di sini bersamaku dan kami bisa memperbaiki semua masalah yang ada diantara kami. Aku hanya ingin mencintai dia dan hidup bersamanya.


Jika bukan untuk ketiga bayi kembar ku, aku pasti akan tetap berada di dalam kamarku selama satu minggu ini, menonton film romantis, membaca novel romantis dengan ending yang bahagia yang bisa membuat aku menangis dan juga makan makanan cepat saji.


Tapi menjadi seorang ibu membuat aku menyadari bahwa aku tidak akan bisa melakukan semua itu. Aku harus bangun setiap pagi hari dan menjalani rutinitas normal seperti biasanya. Aku yang harus tetap menyiapkan anak-anak dan juga menyiapkan diriku sendiri. Kami tetap pergi keluar rumah setiap beberapa hari dan aku harus tetap menjalani kehidupanku seperti biasanya.


Aku tidak pernah mendengarkan kabar apapun dari John selama 6 bulan ini. Tidak, memang bukan itu yang aku harapkan ataupun inginkan. Tapi Olivia juga berubah. Olivia dan aku adalah sahabat yang begitu baik sejak lama, bahkan kami sudah seperti keluarga apalagi dengan adanya ketiga anakku.


Tapi sepertinya ikatan keluarga lebih penting bagi Olivia daripada sahabatnya ini. Jadi aku bisa mengerti kenapa aku tidak sering melihat dirinya lagi, mengingat karena saudaranya lebih memilih untuk meninggalkan aku. Dan sampai sekarang aku masih tidak mengerti, apa alasan dia sampai tega meninggalkan aku.


...****************...


"Adel, apa yang tengah kau pikirkan?"


Aku melihat ke arah atas laptopku di mana aku melihat Mama yang masuk melalui pintu depan dengan menatap ke arahku dengan ekspresi yang tampak penasaran di wajahnya.


Aku lantas memperlihatkan laptopku ke arah Mama dan menunjukkan apa yang tengah aku kerjakan. Mama tampak terkejut awalnya dan kemudian raut wajah Mama langsung berubah dengan terlihat begitu bahagia.


"Kau akan mulai berkuliah?" Tanya Mama.


Aku hanya tersenyum melihat Mama.


"Iya Ma." Balasku. "Aku pikir mungkin ini memang sudah waktunya bagiku untuk bisa melanjutkan pendidikan ku. Aku juga sudah mengisi semua formulirnya." Ucapku kepada Mama.


"Tentu saja sayang, itu ide yang sangat bagus. Apapun yang bisa Mama bantu untukmu katakan saja, oke." Ucap Mama.


Aku lantas menganggukkan kepalaku dan kemudian Mama pergi menuju kamarnya.


Aku sudah memutuskan bahwa ini waktunya bagiku untuk move on. Ketiga bayi kembar ku sekarang sudah jauh lebih besar. Mereka sudah berusia dua tahun sekarang. Jadi itu membuat semuanya menjadi lebih mudah bagiku untuk bisa menghadapi semuanya.


Aku sudah mengambil ujian kesetaraan beberapa minggu yang lalu mengingat aku tidak sampai menamatkan sekolahku. Jadi untuk melanjutkan keinginanku untuk bisa kuliah, maka aku harus mendapatkan ijazah kesetaraan lebih dulu.


...****************...


Tiga minggu kemudian....


Aku sekarang tengah berada di sebuah kampus. Aku mengambil Fakultas Ekonomi, dan aku begitu bersyukur karena aku mendapatkan beasiswa yang membuat aku bisa menyewa sebuah apartemen kecil yang bisa aku huni untuk sementara. Aku juga mempunyai sebuah pekerjaan yang bisa membantu aku untuk membayar baby sitter untuk menjaga ke-3 anak-anakku saat aku berada di kelas, dan nama baby sutter itu adalah Sofia.


Sofia berusia sama seperti aku dan dia juga bekerja untuk mendapatkan sertifikat sebagai penjaga anak-anak. Jadi bekerja untuk menjaga ketiga bayi kembar ku itu adalah pekerjaan yang sempurna baginya. Dia juga mempunyai seorang putri yang berusia 1 tahun yang bernama Mila yang juga sering dia bawa datang ke apartemenku.


Apartemenku berjarak sekitar satu setengah jam dari rumah dimana Mama tinggal sekarang, jadi sangat mudah bagiku untuk mengunjungi Mama bersama dengan anak-anak setiap kali aku punya waktu luang.


Aku tengah berjalan menuju kelas dengan membaca buku catatan ku. Namun aku malah berjalan ke arah tembok. Aku benar-benar tidak menyadari hal itu dan menabrak tembok itu. Aku merasa begitu sakit di kepalaku. Aku lantas melihat ke atas dan melihat yang tadinya ku pikir tembok itu, ternyata adalah seorang pria.


"Oh sial. Aku minta maaf." Ucapku tak enak hati.


Dia lantas membantu aku untuk bangun dan menertawakan aku.


"Sepertinya kau mempunyai kepala yang sangat keras." Ucap pria itu.


Entah kenapa aku malah menjadi begitu kesal karena ucapannya itu. Dia seolah mengatakan bahwa aku adalah wanita yang keras kepala. Tapi jika dilihat dari tampangnya, sepertinya dia terlihat tidak seperti seorang pria yang tidak baik.


Aku lantas hanya menatap ke arahnya dengan ekspresi yang terkejut. Aku kembali mengucapkan permintaan maaf dan mulai berjalan menjauh darinya. Namun aku baru saja melangkah dia langsung menarik tanganku lagi. Aku mencoba untuk menarik tanganku kembali, namun dia tidak melepaskan tanganku dan hal itu membuat aku kesal.


" Hei...!" Teriaknya saat aku mencakar lengannya. "Aku hanya bercanda." Lanjutnya.

__ADS_1


Aku pun lantas menghentikan aksiku yang mencakar lengannya dan langsung melihat ke arah matanya.


"Ayolah, aku mungkin bertingkah terlalu berlebihan tadi." Ucapnya.


"Mmmm... Tidak juga, itu semua memang salahku." Balas ku dengan tersenyum.


Dia pun lantas membalas senyumanku.


Dia pria yang memiliki postur tubuh yang tinggi dengan rambut yang tertata rapi dan matanya terlihat begitu menggemaskan bagiku. Dia menggunakan baju kaos warna putih dipadukan dengan celana jeans biru dan jaket sporty berwarna hitam. Kaos yang dia gunakan itu memperlihatkan bentuk dadanya dan itu tampak benar-benar berotot.


"Mmmm.... Hai." Ucapnya dengan tersenyum padaku.


Senyumannya itu terlihat sedikit menggemaskan dan juga tampak seksi.


Setelah itu, aku pergi menuju kelasku. Tapi pikiranku benar-benar tidak fokus kepada mata kuliah yang aku terima saat ini. Aku malah memikirkan tentang pria itu. Aku bahkan tidak mengetahui siapa namanya. Aku tidak yakin kenapa aku malah memikirkan dia. Padahal aku tidak pernah berkencan dengan pria manapun sejak kepergian John dari dalam hidupku. Lagipula, pria mana yang mau berkencan dengan seorang Mama muda seperti aku yang mempunyai tiga anak kembar.


Hanya seorang pria gila yang mau mengencani wanita seperti aku. Aku rasa bahwa aku akan menjadi wanita lajang untuk sepanjang hidupku. Mungkin nantinya aku bisa memelihara kucing untuk bisa menemani aku sampai hari tua nanti.


"Nona Adel....!!! Apakah kau memperhatikan ?" Ucap dosen itu dan aku melihat ke arahnya yang menatapku dengan wajah yang tampak frustrasi.


"Maaf Pak." Ucapku kepada dosen itu.


Dia tampak memutar matanya dan berjalan menjauh dariku dan kembali ke arah depan kelas dan melanjutkan perkuliahannya.


Sepanjang mata kuliahku di dalam kelas saat ini, semuanya berjalan begitu perlahan bagiku dan seiring berjalannya waktu, mata kuliah itu pun berakhir dan aku langsung berjalan pergi. Sebenarnya aku berlari aku mengejar seseorang. Aku melihat sosok lelaki yang sama dengan yang aku tabrak pagi ini.


Dia langsung memegang lenganku saat aku hampir terjatuh. Tapi itu semua hanya sebentar karena dia kehilangan keseimbangannya sama seperti aku, karena kakiku yang terpeleset dan kami berdua pun terjatuh dengan dia yang berada di atas tubuhku.


Aku merasa aneh dan tertekan karena beratnya tubuhnya itu. Setelah itu, dia langsung menyingkir dari tubuhku. Sementara aku masih berbaring di lantai menatap ke arah atap. Pria itu sudah berdiri dan melihat ke arahku, dengan ekspresi ku yang seolah aku tengah marah padanya.


Mungkin sebenarnya aku memang marah. Mungkin aku seharusnya berdiri sekarang, saat dia seolah tengah mencoba untuk membaca pikiranku. Dia lalu memegang tanganku untuk bisa membantu aku berdiri dan aku langsung menerima uluran tangannya itu.


"Terima kasih lagi." Ucapku dengan ceria m.


"Ini adalah kedua kalinya kau menabrak aku." Ucap pria itu.


Dan sebenarnya yang dia katakan itu memang adalah faktanya. Aku pun tertawa dan melihat ke arahnya, dia pun menertawakan aku.


"Iya, aku rasa aku harus mulai melihat ke mana arahku berjalan mulai sekarang." Ucapku tertawa.


Dia terlihat seperti tengah mencoba untuk tidak tertawa dan aku merasa pipiku mulai menghangat.


'Oh Ya Tuhan apakah pipiku merona? Wow hari ini benar-benar aneh.'


Adel, kau adalah seorang ibu dari ketiga bayi kembar dan merona seperti ini seperti seorang gadis yang masih perawan dan itu tidak cocok untukmu.


"Ngomong-ngomong namaku adalah Justin." Ucapnya dengan tersenyum.


"Aku Adel." Balas ku dengan singkat.


"Baiklah Adel. Apakah kau mau aku mengantarmu pulang ke rumah?" Ucapnya.


Aku menolak ajakannya itu. Bagaimana bisa aku membiarkan seorang pria yang tampak begitu keren dan juga tampan yang terlihat begitu menarik bagiku untuk bisa mengantar aku pulang, tapi aku ini sadar bahwa aku tidak cocok untuknya karena aku mempunyai tiga orang anak.


"Kita belum saling mengenal satu sama lain dengan begitu baik." Ucapku.


"Jadi kita bisa saling mengenal satu sama lain nanti di jalan." Ucap Justin, tapi aku masih terus menolak ajakannya.


Aku berpikir jika dia nanti pergi ke apartemenku dan dia melihat anak-anak ku, aku pasti langsung ditertawakan dan diejek olehnya.


"Oke, baiklah." Balas ku.


Dalam perjalanan menuju ke apartemen ku, kami membicarakan tentang banyak hal yang tidak berguna, seperti warna favorit kami dan juga membicarakan tentang superhero mana yang paling hebat antara Superman dan Batman.

__ADS_1


Aku berpikir untuk menceritakan tentang ketiga bayi kembar ku itu. Tapi aku tiba-tiba seolah membeku setiap kali aku ingin mengatakan hal itu.


Kami sudah tiba di pintu gerbang gedung apartemenku saat Justin memegang lenganku untuk membuat aku berhenti berjalan.


"Ada apa?" Tanyaku dengan bingung.


"Aku hanya memikirkan apa sebenarnya yang ingin kau katakan kepadaku sejak tadi?" Tanya Justin padaku.


"Oh...." Hanya itu yang bisa aku katakan.


Dia terus menatapku, seolah menanti aku mengatakan semuanya.


"Oke, baiklah. Masalahnya sepertinya aku menyukaimu dan hal itu tidak pernah terjadi kepadaku sebelumnya dan aku tidak pernah mengatakan kepada orang lain tentang hal ini karena ini adalah bagian dalam hidupku. Aku adalah seorang yang menyendiri dan aku memang benar-benar sendirian." Ucapku panjang lebar.


"Baiklah. Apakah kau seorang pembunuh?" Tanya Justin.


"Oh ya Tuhan, tentu saja tidak." Teriakku.


"Kalau begitu, itu semua tidak mungkin akan jauh lebih buruk dan untuk kau tahu, aku juga sepertinya menyukaimu. Jadi akan lebih sulit untukmu menjauh dariku. Takdir sudah membawa kita bersama, setidaknya sudah dua kali dalam satu hari ini." Ucapnya dengan sedikit tersenyum.


Aku pun tersenyum dengan gugup menatap kearah dirinya.


"Baiklah, aku adalah seorang ibu." Ucapku dengan begitu cepat.


Dia hanya menatapku selama beberapa menit.


"Kau punya anak?" Tanya Justin.


Aku terdiam sesaat.


"Aku punya tiga anak." Ucapku dengan melihat wajahnya yang langsung terlihat kehilangan warna di wajahnya itu.


"Kembar tiga." Ucapku lagi.


" Oh ya Tuhan....!!!" Ucapnya dengan begitu terkejut. "Tunggu sebentar. Aku harus duduk dulu." Ucapnya lagi dengan gemetar.


Dia duduk di depan apartemenku dan aku melihat ke arahnya dengan tatapan khawatir. Setidaknya dia tidak berlari, atau dia memang belum mau berlari.


Perlu beberapa menit bagi Justin untuk bisa terlihat lebih tenang.


Aku bisa mengatakan bahwa berita yang aku katakan kepadanya itu begitu mengejutkan baginya. Aku rasa itu adalah hal yang baik. Tapi tentu saja tidak baik jika dia sampai berpikir bahwa aku adalah wanita yang murahan karena memiliki tiga anak dan tidak memiliki suami.


Aku duduk di sampingnya dan menaruh lenganku di pundaknya. Dia melihat ke arahku dengan tersenyum lemah.


"Jadi tiga anak ya? Bagaimana itu bisa terjadi? Kapan dan siapa saja nama mereka?" Tanya Justin bertubi-tubi.


Dia tampak begitu tulus saat menanyakan semua itu. Aku pun tersenyum dan langsung menariknya ke dalam pelukanku dengan posisi kami yang terduduk dengan begitu dekat. Dia pun membalas pelukanku dan sesaat kemudian, kami melepaskan pelukan itu. Kami pun tertawa bersama.


Secara tiba-tiba, dia mencium pipiku dengan begitu lembut dan dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah diriku.


"Apa kau tidak ketakutan? Apa kau tidak mau berlari karena ketakutan dan juga berteriak?" Tanyaku kepadanya.


Dia melihat ke arahku dengan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Aku lantas tersenyum dan melihat ke arah matanya.


"Baiklah Apakah kau mau mendengar keseluruhan ceritanya atau kau ingin mendengar versi yang di tingkat saja?" Tanyaku.


"Katakan saja kepadaku cerita singkatnya sekarang. Kita bisa membicarakan seluruh ceritanya nanti, oke." Balas Justin.


"Baiklah. Aku punya tiga anak kembar. Sekarang mereka berusia 2 tahun." Ucapku seraya melihat ke arahnya, melihat bagaimana dia bersikap dan aku terkejut melihat dia mendengarkan aku dengan begitu intens dan tetap tersenyum padaku. "Aku mempunyai dua anak perempuan yang bernama Bulan dan Berlian dan satu orang anak laki-laki kecil yang bernama Bintang. Aku berusia 17 tahun saat aku hamil. Aku bahkan tidak menyadari kapan dan bagaimana aku bisa melakukan hubungan itu. Jadi saat dokter mengatakan kepadaku bahwa aku tengah hamil, hal itu sangat menarik bagiku. Aku selalu ingin tertawa mengingat semua kenangan itu. Apa kau tahu, aku bahkan berpikir bahwa dokter saat itu gila.


"Tunggu dulu! Bagaimana kau bisa tidak tahu bahwa kau sudah berhubungan dengan seseorang tanpa mengetahuinya apapun. Pikirkan saja bagaimana kau bisa melakukan sesuatu tanpa mengingat hal itu? Aku begitu terkejut. Maksudku, kau sudah berusia 17 tahun dan di usia yang seperti itu ada banyak wanita yang sudah pernah melakukan hal itu di usia seperti itu." Ucap Justin kepadaku dengan bingung.


Aku tertawa memikirkan bagaimana bodohnya semua yang dikatakan oleh Justin itu, jika didengar dengan baik dan fokus.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2