Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
Bersama John


__ADS_3

Aku berteriak keras dengan kepalan tanganku yang sudah mengayun kedepan. Andai saja dia berada dekat denganku, mungkin aku sudah langsung meninju wajahnya.


Wajahnya sekarang sudah berubah merah, setidaknya malah tampak berwarna ungu.


"Hei jangan seperti ini? Apa sebenarnya yang terjadi? Mama bisa mendengar suaramu sepanjang lorong Rumah Sakit." Teriak Mama kepadaku.


Mama berjalan masuk ke dalam ruangan ku dengan membawa beberapa cup minuman dan juga kue muffin.


"Memangnya apa yang Mama harapkan terjadi diantara kami? Apa Mama berpikir bahwa kami akan saling meminta maaf dan jatuh cinta lagi?" Ucapku dengan kesal.


"Tidak! Tapi Mama berpikir bahwa kalian berdua setidaknya bisa bertingkah sesuai dengan usia kalian. Memikirkan bahwa kalian berdua itu adalah orang tua dari ketiga anak-anak itu membuat Mama ngeri." Ucap Mama menggelengkan kepalanya lalu menaruh makanan dan minuman itu di atas meja yang ada di dalam ruangan ku.


"Aku adalah Ibu yang sangat baik untuk anak-anakku." Ucapku.


"Oh ya, Mama tahu itu." Balas Mama lalu duduk dan menatap ke arahku. "Adel, Mama tidak memprotes apapun atas pilihan yang kau putuskan saat kau ingin terus melanjutkan kehamilan mu. Saat itu Mama pikir bahwa itu hanya satu bayi, tapi ini tiga bayi..."


"Aku hanya berpikir bahwa aku punya dua bayi." Balas ku menyela ucapan Mama.


"Mama membiarkanmu melakukan apa yang kau pikir adalah hal yang baik untukmu." Ucap Mama tidak menghiraukan ucapan ku. "Saat kau ingin pergi dan tinggal jauh dari rumah dan melanjutkan kuliahmu, Mama juga tidak menghentikan mu. Mama hanya bilang bahwa Mama akan melakukan apapun yang kau butuhkan untuk mama lakukan untukmu. Tapi sekarang, kau harus mendengarkan Mama. Kau dan John akan menghabiskan 3 minggu ke depan berdua saja. Mama yang akan menjaga ketiga anak-anak itu." Lanjut Mama yang seolah menjatuhkan bom kepadaku.


Setelah itu Mama kembali melihat ke arah makanan yang di bawa tadi.


"Berapa banyak gula yang kalian mau?" Tanya Mama kepadaku dan John dengan memegang sebuah kantung berisi gula batu.


Mama tidak menghiraukan ekspresi di wajah kami berdua yang sama-sama terkejut dengan mulut yang terbuka lebar setelah mendengar ucapan Mama tadi.


...****************...


Tiga hari kemudian Mama masih terus bersikeras dengan rencana 'Dukung John dan Adel untuk bisa kembali bersama lagi...'


Dan yang membuat semua hal menjadi semakin buruk adalah, Sofia dan Justin sangat sibuk untuk saling jatuh cinta satu sama lain. Mereka berdua di situasi yang seperti ini malah menyadari bahwa mereka saling mencintai. Aku tidak menyangka bahwa mereka berdua bisa seperti itu, terutama Justin. Tapi Sofia mengatakan kepadaku bahwa semua orang pantas untuk jatuh cinta.


'Ah menyebalkan sekali mereka berdua itu. Aku mungkin akan melakukan sebuah rencana untuk sedikit pembalasan kepada mereka nanti. Hahaha....'


Aku sama sekali tidak marah ataupun kecewa jika mereka berdua saling mencintai, karena sejujurnya perasaanku kepada Justin memang bukanlah cinta. Aku hanya menyayanginya sebagai sahabat saja. Tapi tetap saja, aku merasa sedikit canggung dengan hubungan mereka saat ini.


Jadi di sinilah aku sekarang, melihat Mama ku yang tengah mengemasi barang-barang ku, seperti pakaian yang akan aku gunakan selama 3 minggu ke depan yang lebih banyak dibeli oleh Mama bersama dengan Sofia.


Aku tidak diizinkan untuk melihat pakaian itu dan itu membuatku khawatir. Bagaimanapun kami nantinya akan diantar menggunakan mobil Justin ke sebuah tempat yang disebut oleh Sofia sebagai tempat yang akan sangat membuat bahagia dan dia memberi julukan tempat itu sebagai 'sarang cinta.'


Mama mengatakan bahwa tempat itu adalah sebuah rumah kecil yang Mama beli beberapa tahun yang lalu. Tapi Mama tidak pernah punya kesempatan untuk menggunakan tempat itu.


"Ma, sudah aku katakan bahwa aku tidak mau pergi. Aku dan John akan berada di sana selama tiga minggu hanya untuk saling berteriak satu sama lain dan bertengkar." Ucapku kesal.


"Adel, pertengkaran hanya akan terjadi di antara kalian berdua, jika tidak ada satupun dari kalian yang mencoba untuk membuat semuanya menjadi lebih baik. Dengarkan Mama, jika kau tidak mau melakukan hal ini untuk dirimu atau pun John, maka pikirkan tentang ketiga anak-anak kalian itu. Pikirkan tentang bulan berlian dan Bintang mereka sudah tumbuh besar tanpa sosok Papa mereka karena ulah Mama dan Papa mereka juga. Itu artinya kau dan John yang terlalu malas untuk mencoba memberikan kesempatan kepada hubungan kalian." Ucap Mama.


Aku melihat ke arah Mama dalam diam. Mama tidak pernah bicara kepadaku seperti itu. Di saat yang bersamaan, aku merasa bahwa apa yang diucapkan Mama memang benar. Aku menghela nafas. Mungkin kami memang harus memberikan kesempatan untuk hubungan kami kali ini. Jika tidak untuk kami, maka untuk anak-anak.


"Baiklah aku akan mencobanya. Tapi aku tidak mau berjanji untuk John atau apapun itu, bahwa hal ini akan berhasil." Ucapku.


"Kau tahu, itu sangat lucu. Karena itulah apa yang dikatakan John pada Mama." Ucap Mama.


Setelah itu mama pergi meninggalkan kamarku dengan koper yang aku tidak tahu bagaimana isinya dengan ekspresi yang misterius di wajah Mama. Aku hanya bisa menatap ke arah Mama dan kembali menghela nafas.

__ADS_1


Itulah Mama ku....


Aku tersenyum dan keluar dari dalam kamar lalu mengikuti Mama untuk bertemu dengan yang lainnya.


...****************...


3 jam berikutnya....


Aku sudah siap untuk mengikat John di kakinya dan membiarkan para binatang memakan dia hidup-hidup nantinya. Kami bahkan belum tiba di rumah itu dan dia sudah mengendarai mobil seenaknya saja.


Pertama, dia menghidupkan musik yang merupakan musik favoritnya itu.


'Maksudku.... Ayolah.... dia tengah mendengar musik metal. Apa-apaan itu?'


Aku bahkan tidak tahu bahwa ada tipe musik yang seperti itu dan aku berharap bahwa aku tidak akan pernah menemukannya.


Di saat yang seperti ini, Sofia dan Justin yang duduk di bangku belakang tampak terlihat senang. Mereka tertawa karena aku yang merasa tidak nyaman dengan perjalanan ini.


"John, bisakah kau mematikan musik yang menyebalkan itu?" Ucapku. "Aku sudah bosan mendengarnya." Lanjut ku dengan suara yang terdengar begitu kesal.


"Apa maksudmu?" Tanya John dengan wajah bingung.


"Musik itu sangat jelek dan membuat telingaku rusak." Ucapku dangan perlahan.


John melihat ke arahku dengan wajahnya yang tampak terkejut.


"Musik ini sangat keren. Ini namanya musik klasik. Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan bahwa musik membosankan dan jelek." Protes John.


"Itu terdengar seperti...."


Lalu perjalanan di dalam mobil itu mulai hening.


Kemudian John pun menghidupkan radio di mobil yang memainkan beberapa musik lainnya. Aku melihat kearah luar jendela. Pemandangannya berubah dari perkotaan dan sekarang tampak persawahan dan rerumputan juga ada pohon-pohon tinggi. Tampak awan dan juga langit yang biru menyapa di sepanjang perjalanan dan itu terasa sangat damai.


"Berapa lama lagi sampai kita tiba di sana?" Tanyaku kepada Sofia.


"Oh itu hanya sekitar 15 menit atau sedikit lebih lama." Balas Sofia.


Sofia dan Justin memang sudah pernah pergi kesana sebelumnya untuk melihat lokasi tempat rumah itu. Itulah kenapa keduanya menyebut tempat itu sebagai 'sarang cinta.'


Dua puluh menit kemudian, kami akhirnya menepi di depan pekarangan sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu. Ada pohon-pohon yang mengelilingi rumah itu dan juga taman bunga yang berada di sekitar depan rumah kecil itu.


"Sangat indah." Ucapku dengan perlahan pada diriku sendiri, tapi sepertinya tidak terlalu pelan karena John melihat ke arahku dan tersenyum padaku.


Itu bukanlah senyuman yang mengejek yang sering di berikan padaku akhir-akhir ini, tapi senyuman itu adalah senyuman yang selalu dia berikan padaku di masa lalu saat dia mengatakan bahwa dia masih mencintai aku.


Jantungku terasa berhenti berdetak, melihat senyuman indah di bibirnya. Hal itu membuat aku kembali jatuh cinta padanya. Mungkin semua rencana ini akan berhasil dan untuk pertama kalinya sejak waktu yang lama, aku berharap bahwa semua ini memang bisa berhasil untuk memperbaiki hubungan kami. Aku menyadari bahwa aku memang masih jatuh cinta dengan John.


Beberapa saat berlalu....


Aku mencoba bersikap baik kepada John setelah Justin dan Sofia pergi. Tapi dia malah pikir bahwa aku tengah melakukan sebuah rencana bodoh kepadanya. Padahal aku tidak melakukannya. Aku hanya mencoba untuk membuat semua ini berjalan baik saja.


Saat ini aku tengah duduk di teras rumah kecil ini berharap jika semuanya berjalan dengan baik. Bahkan jika aku mencoba untuk melakukan semua ini dengan baik padanya, namun dia sendiri tidak mau mencobanya.

__ADS_1


Maksudku, aku mungkin merusak rencana hidup yang dia inginkan. Dia memang ingin bisa berkeliling dunia untuk bersenang-senang bersama teman-temannya dan bukannya terjebak bersama ketiga anak kembar kami dan dia juga tidak menyukai Mama dari anak-anak kembarnya itu.


Hanya ada satu alasan sampai dia bisa tidur denganku saat itu. Dan itu semua karena dia tengah mabuk. Aku kembali melihat ke masa lalu dan itu selalu memperlihatkan bahwa aku menemukan alasan kenapa kami tidak bisa berhasil saat kami masih bersama dalam hubungan kami dulu. Tapi jika memang itu yang dia inginkan, maka baiklah. Dia bisa mendapatkannya. Aku akan memberikan dia ruang baginya untuk tetap sendiri selama 3 minggu ke depan.


Aku tetap duduk di teras dengan air mata yang jatuh ke pipiku tanpa aba-aba. Aku hanya berharap bahwa aku bisa memutar balikan waktu di saat semuanya baik-baik saja. Aku akan membuat semuanya berjalan dengan baik dan mungkin dia masih bisa mencintai aku seperti dulu.


...****************...


Aku tengah memasak makan malam di malam kedua saat kami dipaksa berada di tempat ini oleh Mama. John tengah keluar rumah. Dia tengah pergi ke sebuah danau yang ada di samping rumah ini sepanjang hari.


Di sanalah dia selalu menghabiskan sepanjang waktunya. Aku terus berharap bahwa dia akan mendekat padaku. Mungkin dia dengan itu dia bisa menyadari bahwa dia masih cinta kepadaku. Tapi dia sama sekali tidak melakukannya.


"Adel!"


Aku mendengar suaranya memanggilku dari pintu depan. Aku lalu pergi melihat apa yang terjadi dan aku mulai tertawa setelah melihat dirinya.


Di sana John berdiri dengan basah kuyup dari kaki sampai ke kepalanya yang juga dipenuhi lumpur.


"Apa yang terjadi kepadamu?" Tanyaku yang masih tertawa.


"Memangnya aku terlihat seperti apa bagimu?" Ucapnya terdengar penuh emosi.


Aku berhenti tertawa bahkan berhenti tertawa dengan begitu tiba-tiba. Aku lupa bahwa dia bukanlah John yang dulu, yang masih bisa aku ajak untuk bercanda.


"Maaf. Makan malam akan segera siap setengah jam lagi, pergilah mandi atau lakukan apapun yang kau inginkan." Ucapku dengan kasar mencoba untuk menghentikan suaraku yang terdengar gemetar.


Aku menahan diriku agar tidak ingin menangis. Dia benar-benar seorang pria yang menyebalkan dan juga pecundang.


Semua yang bisa aku lakukan hanyalah menunggu sampai waktu ini agar segera berakhir. Aku lantas memutuskan untuk kembali ke dapur, namun suaranya kembali memanggil aku.


"Apakah Kau keberatan untuk membantu aku?" Ucapnya.


"Dengan melakukan apa?" Teriakku padanya dengan marah.


"Hmmm.... Sebuah handuk mungkin akan membantu aku saat ini." Balasnya.


"Terserah padamu John pergi saja ambil sendiri handuk mu." Ucapku dengan kesal.


"Hei, aku pikir kau mau melakukannya. Tapi terima kasih atas sarannya." Balas John menyeringai dan dia tampak berjalan ke arah kamar mandi yang membuat lantai dipenuhi dengan lumpur dan juga air.


Aku langsung kembali ke arah dapur. Aku begitu marah karena dia bicara kepadaku seperti itu. Tapi di saat yang bersamaan aku mencoba untuk tidak menangis. Aku merindukan bagian dari diri John dan hubunganku saat bersamanya yang penuh dengan cinta dan juga persahabatan.


Di masa lalu, dia pasti akan meninju seseorang yang bicara kepadaku dengan kasar seperti itu. Tapi sekarang, dia lah orang yang bicara kasar padaku.


Aku lalu kembali melanjutkan memasak makan malam dengan air mata yang jatuh ke pipiku.


"Adel?" Ucap John dengan perlahan dari arah pintu.


Posisiku tengah membelakangi dirinya, jadi aku mencoba untuk dengan cepat bisa mengusap air mataku. Tapi aku merasakan tangannya berada di pinggangku dan dia langsung memutar tubuhku.


Saat dia melihat aku dengan wajahku yang tengah menangis, wajahnya langsung berubah dari bingung menjadi khawatir dengan begitu cepat.


"Ada apa? Apakah kau membakar dirimu sendiri atau hal lainnya?" Tanya John.

__ADS_1


Aku mencoba untuk mendorong dirinya menjauh dariku, tapi dia memegang aku dengan sangat kuat. Aku tidak mau dia melihat air mata atau kesedihan yang terlihat di wajahku.


Bersambung....


__ADS_2