Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
Setuju Menikah


__ADS_3

John menganggukkan kepalanya setelah mendengar ucapanku. Entah kenapa dia seolah tampak sudah mengetahui apa yang akan aku katakan kepadanya.


"John, aku tahu bahwa kita selama ini sama-sama sudah mengabaikan apa yang terjadi pada hari saat badai itu terjadi..." Ucapku lagi.


Aku mencoba untuk membiarkan dia menyiapkan dirinya sendiri untuk apa yang akan aku katakan kepadanya dan aku juga tengah mencoba untuk menyiapkan diriku sendiri karena apa yang akan aku katakan ini, sangat tidak mudah untuk bisa kami bicarakan bersama.


"Tapi...." Aku mulai berbicara lagi. "Aku merasa bahwa kita tidak akan bisa mengabaikan semua ini selamanya John. Aku tahu bahwa aku tidak pernah bertingkah dengan baik, sangat baik malah padamu, atau aku juga mengerti bahwa sebenarnya aku bertingkah seperti orang idiot. Tapi aku hanya terkejut saat itu dan..."


Aku berhenti bicara, tidak tahu apalagi yang akan aku katakan padanya. Aku lalu melihat ke arahnya dan dia hanya melihat kepadaku dengan ekspresi yang tampak kosong di wajahnya.


"John, tolong bicaralah padaku. Aku punya beberapa rencana tentang acara pernikahanku secepat mungkin setelah semua hal bodoh ini selesai kita bicarakan. Aku ingin kau tahu bahwa aku sangat bahagia saat kita tidur bersama dan bagiku, itu semua bukanlah suatu kesalahan. Aku ingin menikah denganmu. Aku benar-benar sangat ingin menikah denganmu lebih dari yang kau bayangkan. Maksudku, aku memang ingin menikah denganmu selama ini, tapi hanya saja aku mempunyai beberapa permasalahan yang harus aku hadapi. Dan sekarang, aku ingin pernikahan kita itu terjadi secepatnya. Itu pun jika kau masih memberikan tawaran itu kepadaku." Ucapku pada akhirnya selesai bicara.


Namun saat aku melihat ke arah wajahnya, dia tetap sama seperti tadi. Ekspresi di wajahnya sama sekali tidak berubah sedikitpun. Dia tampak hanya tetap duduk di sana dengan melihat ke arahku.


"Apakah kau mencintai aku?" Tanya John secara tiba-tiba.


Aku melihat ke arahnya dengan begitu terkejut. Dari sekian banyak kata-kata yang seharusnya dia ucapkan padaku, dia malah menanyakan hal itu. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir bahwa aku tidak mencintai dirinya?


Aku benar-benar ingin marah padanya karena dia mempertanyakan perasaanku padanya. Apakah semua yang aku lakukan selama ini tidak bisa menunjukkan padanya bahwa aku sangat mencintainya?


"Tentu saja aku sangat mencintai dirimu. Bagaimana mungkin kau bahkan tidak bisa mengetahui hal itu?" Ucapku dengan kesal.


Aku dapat mendengar dengan jelas bahwa John tengah menghela nafasnya panjang. Kemudian dia mulai bicara padaku.


"Sebenarnya saat kita sudah tidur bersama kembali beberapa malam yang lalu, aku sudah berpikir bahwa kau mencintai aku. Tapi kemudian, saat aku menanyakan kepadamu, apakah kau mau menikah denganku, kau malah tidak terlihat begitu bahagia. Kau hanya duduk di sana, maksudku setelah semua yang sudah kita lalui selama beberapa tahun ini dan kau hanya duduk di sana tanpa mengatakan apapun. Dan saat kau mulai bicara, kau terdengar bahwa kau seolah tidak mau menerima lamaran dariku itu." Ucap John dengan suara yang terdengar begitu terluka.


Aku melihat ke arahnya dan aku dapat merasakan bahwa dia tengah merasakan rasa sakit yang aku sebabkan kepadanya. Aku jadi merasa begitu bersalah.


Aku lalu berjalan ke arah kursi tempat dimana dia duduk. Aku kemudian duduk berlutut di hadapannya dan menaruh tanganku di atas tangannya dan memegangnya dengan sangat erat. Aku dapat merasakan pada awalnya dia terasa begitu membeku, tapi akhirnya dia bisa merasa santai beberapa menit kemudian.


"John, aku minta maaf, oke. Dengarkan aku sekarang. Bahkan sejak hari di mana kau pulang ke rumahmu untuk tinggal bersama dengan keluargamu, aku sudah menyukai dirimu. Aku jatuh cinta kepadamu hari demi hari berikutnya. Dan aku mengetahui dan menyadari bahwa kau akan pergi dari kota kita saat itu, aku begitu kesal padamu. Aku tidak tahu jika aku sudah jatuh cinta kepadamu saat itu. Tapi melihat dirimu pergi, membuat aku merasa terluka. Aku menyadari bahwa aku jatuh cinta kepadamu saat kau bahkan tidak pernah menelpon aku untuk mengucapkan selamat kepadaku karena melahirkan ketiga bayi kembar kita itu." Ucapku dengan sedih.


Aku berhenti bicara beberapa menit dan mencoba untuk mengumpulkan semua perasaanku untuk aku jadikan sebagai sebuah kata-kata.


"Saat aku menemukan fakta bahwa kau adalah Papa dari ketiga anak-anak kembar ku itu, pada awalnya itu semua membuat aku merasa begitu terkejut. Aku bahkan tidak mengingat sama sekali bahwa kau ada di dalam pesta ulang tahun Olivia saat itu. Tapi saat semua itu berlalu, aku merasa begitu bahagia karena ternyata kau lah Papa dari anak-anakku. Aku tidak tahu kenapa, tapi saat aku memikirkan tentang kita yang akan bersama membesarkan ketiga anak kembar kita, itu semua membuat aku merasa begitu bahagia. Tapi setelah itu, kau pergi begitu saja." Lanjut ku kembali dengan suara yang gemetar.

__ADS_1


Aku mencoba untuk menahan diriku agar tidak menangis. Padahal, dari dalam hatiku, aku benar-benar ingin sekali menangis.


"Aku pergi karena kau bertingkah berlebihan tentang sesuatu yang sangat bodoh yang ada di dalam pikiranmu. Aku menyadari bahwa jika kau memang mencintai aku, maka kau pasti tahu bahwa aku tidak akan pernah, selamanya tidak akan pernah melakukan suatu hal seperti itu kepadamu.


John, kau harus mengerti bahwa aku ingin menikah denganmu dan aku sekarang sudah menghadapi semua hal buruk dan sulit yang sudah kita lalui. Tapi jika kau tidak bisa mempercayai aku seribu persen, maka itu semua tidak akan berjalan baik dan aku tidak yakin bahwa aku bisa menghadapi semua itu dan itu semua tentu saja tidak akan adil bagi keluarga kita dan terutama untuk ketiga anak-anak kembar kita. Tapi aku tetap saja mau menikah denganmu, dan berharap bahwa kita bisa memperbaiki semuanya demi keluarga kecil kita. Aku mencintaimu John, dan aku akan selalu mencintaimu." Ujar ku pada akhirnya selesai bicara.


John melihat ke arahku, ada begitu banyak perasaan yang terlihat di wajahnya. Aku tidak bisa menebak apakah dia dia bahagia, sedih, ataupun marah.


"Padahal kita sudah sama-sama jatuh cinta dengan saling begitu menggilai satu sama lain, namun kita juga saling membenci satu sama lain beberapa saat ini. Semuanya begitu menyakitkan bagi kita, tapi aku hanya mau suatu hal yang lebih serius saat ini. Aku tidak mau hidup kita menjadi gila dan berantakan ataupun membosankan dan penuh kebodohan sepanjang waktu, tapi disaat yang bersamaan aku juga mau semua itu menyatu dalam hidup kita nantinya saat kita sudah bersama.


Beberapa hari ini semua yang terjadi sudah memberikan aku dan juga dirimu suatu pelajaran berharga tentang bagaimana perasaan kita satu sama lain. Dan untuk kau ketahui, semua yang aku inginkan adalah bisa menikah denganmu. Aku akan berlutut sekarang juga dan memohon jika aku memang perlu melakukannya lagi." Ucap John.


Dia lalu bangun dari kursinya dan aku lantas berdiri berharap agar kami bisa sama-sama berdiri dan saling menatap satu sama lain. Tapi kemudian dia berlutut di lantai dan membuat aku terkejut.


Aku pikir jika dia hanya bercanda dengan mengatakan bahwa dia akan berlutut lagi di hadapanku, tapi dia memang benar-benar melakukannya.


"Adel, aku sudah mencintai dirimu sejak beberapa tahun. Jantungku dan juga hatiku terasa begitu sakit selama aku tidak bersama dengan dirimu selama ini. Saat kita bisa bersama, aku hanya ingin jauh lebih dekat denganmu. Aku ingin membangun keluarga kita bersama dan aku juga ingin untuk melihat seperti apa dirimu nantinya dalam lima tahun ke depan. Aku mau melihat anak, cucu kita dan juga cicit cicit kita. Aku bahkan sudah membayangkan bahwa kita akan memiliki beberapa anak lagi.


Tidak ada yang bisa mengambil cintaku untuk menjauh dari dirimu sekarang ataupun selamanya. Sekarang aku ingin tahu, bagaimana tanggapan mu atas permintaanku itu. Maukah kau menjadi istriku?" Ucap John panjang lebar padaku.


Sejak lama, aku membayangkan bahwa ada pria yang akan melamar ku dengan begitu romantis. Setidaknya memberikan aku buket bunga atau kejutan kecil lainnya. Tapi untuk beberapa alasan apa yang dilakukan John, semua itu tampak terasa sangat sempurna bagiku.


Aku lantas melihat ke arahnya dengan tersenyum dan membalas ucapannya.


"Iya, aku tentu saja mau menikah denganmu." Balasku.


Wajah John langsung tampak sumringah. Dia langsung berdiri dan memelukku dengan begitu erat seraya terus membisikkan kata cinta padaku.


"Bagaimana dengan cincinnya?" Tanyaku pada John.


Tiba-tiba wajah John langsung berubah bingung. Aku sengaja mengerjai dirinya dengan mempertanyakan keberadaan cincin itu. Padahal cincin itu tentu saja masih ada bersamaku. Aku hanya penasaran, apakah dia masih ingat dengan terakhir kali dimana dia meninggalkan cincin itu. Atau apakah jangan-jangan dia menyalahkan aku karena aku lah yang terakhir kali memegang cincin itu.


Dia mungkin saja bisa berpikir bahwa aku sudah meninggalkan cincin itu begitu saja di tepi danau.


"Maaf, tapi seingat ku cincin yang sudah aku persiapkan untuk melamar mu waktu itu tertinggal di tepi danau. Dan sekarang, mungkin saja cincin itu sudah menghilang. Tapi, kau tenang saja. Setelah kita bisa keluar dari badai ini, aku akan memberikan mu cincin yang baru. Cincin yang tentu saja akan jauh lebih indah dari cincin yang waktu itu." Ucap John tersenyum.

__ADS_1


Aku lalu mengambil sebuah kotak kecil berisi cincin lamaran yang dipersiapkan John waktu itu dari dalam saku celana jeans selutut yang aku kenakan dan memperlihatkannya pada John. Sontak saja wajah John yang tadinya tersenyum berubah kesal. Dia langsung menatapku seolah dia ingin segera menerkam aku.


"Dasar gadis nakal. Kau mencoba mempermainkan aku ya. Ini hukuman untukmu." Ucap John yang langsung menciumku tanpa aba-aba.


Ciuman yang dia lakukan kali ini terasa begitu kasar. Namun aku benar-benar tidak bisa melepaskan diriku darinya. Dia bahkan dengan sengaja menggigit bibirku dengan kasar. Aku bahkan bisa merasakan darah di dalam mulutku.


Meski aku terus berusaha melepaskan diriku darinya, aku tetap saja tidak mampu. Tenagaku tidak bisa menandingi dirinya. Terlebih karena kakiku yang masih sakit, aku tidak bisa untuk melangkah terlalu jauh untuk bisa melepaskan diri darinya.


Setelah beberapa saat dia pun melepaskan aku.


"Itu hukuman untukmu karena sudah mempermainkan aku." Ucap John menyeringai.


Dia lantas mengambil kotak cincin itu dengan paksa dari tanganku. Dia lantas membuka kotak cincin itu dan kemudian menyematkan cincin itu di jari manis ku dan mencium punggung tanganku. Setelah itu dia menarik aku mendekat padanya dan mencium keningku dengan begitu lembut dan cukup lama.


"Aku mencintaimu Adela Dwitara Lolata." Ucap John kali ini dengan menampilkan ekspresi di wajahnya yang tampak begitu serius.


"Aku juga mencintaimu." Balasku tersenyum bahagia.


...****************...


Malam harinya, kami mulai tidur di kamar yang sama. Tapi, kami berkomitmen untuk tidak melakukan hubungan yang lebih dari pelukan dan ciuman, karena kami ingin melakukan semuanya tepat di malam pernikahan kami nanti.


Sebenarnya kami ingin segera pulang dan memberikan kabar bahagia pada semua orang terutama pada Mama, bahwa kami sudah kembali bersama dan ingin segera menikah secepatnya. Tapi cuaca di luar rumah masih tidak mendukung kami untuk bisa segera keluar dari area itu. Bahkan untuk menelepon Mama atau menghubungi orang lain saja, tidak bisa kami lakukan karena semua akses terputus oleh badai itu.


Hingga hari ini, badai yang terjadi sejak beberapa hari yang lalu masih terus berlanjut. Seumur hidupku, ini adalah kali pertama bagiku dan juga John harus terjebak di dalam badai yang berlangsung begitu lama. Dan yang membuat aku bersyukur, rumah ini bisa selamat dari badai ini.


Aku dan John hanya bisa mendapatkan berita melalui siaran radio yang menyatakan bahwa jalanan terputus, aliran listrik juga terputus. Untungnya di rumah kayu berukuran kecil ini terdapat semua hal yang kami butuhkan termasuk mesin pembangkit listrik skala rumahan. Itulah yang membuat kami bisa bertahan dari sunyi nya malam yang begitu gelap.


Untuk mengisi waktu luang kami di dalam rumah kecil itu, aku dan John mulai membahas tentang bagaimana cara pernikahan kami nantinya diadakan.


Membicarakan semua itu, aku dan John sama-sama berharap bahwa kami bisa segera keluar dari rumah yang berada di area hutan ini agar kami bisa segera langsung mengadakan acara pernikahan kami.


'Tuhan, lancarkan semuanya.' ucapku dalam hati.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2