Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
Kantor Polisi Lagi


__ADS_3

"Justin dan John adalah teman dekat dari kami semua." Ucap Hana.


"Bagaimana aku bisa tidak mengetahui tentang hal ini? Oh ya Tuhan, aku tahu bahwa seharusnya aku tidak keluar malam ini." Ucapku.


Para petugas polisi kemudian datang melewati pintu klab. Mereka langsung menuju ke tempat dimana orang-orang berkerumun untuk melerai perkelahian itu.


Semua orang yang berkerumun mulai berpisah untuk memberikan jalan bagi petugas polisi itu untuk mendekat ke arah Justin dan juga John.


"Sekarang aku akan menghabiskan malam ku di kantor polisi untuk membantu kedua pria idiot itu." Ucapku begitu kesal.


Hana pun tertawa mendengar ucapan ku.


"Iya tentu saja akan seperti itu." Balas Hana tersenyum.


Petugas polisi akhirnya menahan mereka berdua. Justin dan juga John lalu dipisahkan satu sama lain dan kemudian mereka langsung memborgol keduanya.


"Ah sial!" Ucapku seraya mendekat ke arah petugas polisi itu.


"Permisi Pak." Aku memanggil petugas polisi itu.


"Apa ada yang bisa kami bantu Nona?" Tanya polisi itu.


"Aku ingin tahu ke mana kalian akan membawa mereka?" Tanyaku dengan sopan.


"Ke kantor polisi setempat yang berjarak sekitar 5 menit dari sini." Balas polisi itu.


"Bisakah kalian memberikan aku tumpangan?" Tanyaku lagi.


"Apakah kau adalah keluarga atau teman dari mereka?" Tanya polisi itu lagi.


"Sebenarnya yang itu!" Ucapku seraya menunjuk ke arah Justin. "Dia adalah kekasihku dan yang satunya adalah Papa dari anak-anakku." Lanjut ku dengan perasaan sedikit malu.


"Wow, benar-benar terdengar seperti sebuah drama show." Ucap polisi itu seraya melirik ke arah petugas polisi lainnya.


Keduanya tampak menahan senyum setelah mendengar ucapanku.


"kau tidak mengetahui apapun Pak. Tapi bisakah kau memberikan aku tumpangan. Aku tidak punya mobil untuk pergi ke kantor polisi." Balas ku.


Polisi itu saling menatap satu sama lain.


"Baiklah, aku rasa itu berarti salah satu dari kami akan duduk di belakang bersama dengan mereka berdua." Ucap polisi itu padaku.


"Baiklah aku bersedia. Biar aku saja yang duduk dibelakang bersama mereka Pak." Balas ku.


"Ah Nona, apakah kau yakin dengan hal itu? Mungkin akan lebih aman jika salah satu dari kami lah yang duduk di belakang bersama dengan mereka dan kau bisa duduk di kursi depan." Ucap polisi itu.


"Jangan khawatir Pak, mereka berdua tidak akan menyakiti aku. Mereka berdua tidak punya kekuatan apapun sekarang untuk melawanku." Ucapku.


Justin dan John hanya melihat ke arahku dan sepertinya berpikir bahwa aku tengah marah, tapi mereka berdua mengenal aku dengan sangat baik dan aku hanya kesal kepada mereka. Jadi mereka pasti tahu bahwa aku bisa saja untuk membunuh mereka sekarang juga.


Akhirnya polisi itu menyetujui permintaanku dan kami semua pun bergegas pergi ke kantor polisi. Perjalanan ke kantor polisi sangat pendek dan dalam suasana yang penuh keheningan. Baik Justin maupun John, keduanya tak berani melirik ke arahku. Mereka terus menunduk, bahkan aku seolah merasa bahwa mereka seperti menahan nafas mereka saat aku duduk di tengah-tengah keduanya.


Kami pun akhirnya tiba di kantor polisi.


Saat kami masuk ke dalam ruangan kantor polisi, kedua pria idiot itu langsung dimasukkan ke dalam satu sel yang sama, sementara aku dengan cepat menelpon Sofia melalui telepon rumah.


"Halo Sofia, ini aku Adel." Ucapku.


"Hai cantik! Aku tidak menyangka bahwa aku akan mendengar suaramu saat ini juga, mengingat ini masih begitu cepat setelah kau pergi. Apakah kau bersenang-senang?" Tanya Sofia dengan suaranya yang terdengar begitu ceria.


"Jika dengan duduk di kantor polisi juga bisa kau katakan sebagai hal untuk bersenang-senang, maka sepertinya aku memang sangat bersenang-senang." Ucapku tertawa kesal.


"Kantor Polisi? Apa yang sudah kau lakukan dengan Justin sampai kelewatan bersenang-senang hingga membuat kalian berdua bisa berada di kantor polisi?" Tanya Sofia.

__ADS_1


"Tidak begitu bersenang-senang sebenarnya. Hanya saja Justin terlibat perkelahian dengan John. Jadi sekarang aku harus berada di sini karena pemilik bar menelepon polisi." Balasku.


"Waahh... Tunggu dulu, kau bilang bahwa Justin berkelahi dengan John. Apakah John yang kau maksud adalah John yang merupakan Papa dari ketiga anak-anak kembar?" Tanya Sofia dengan suara yang terdengar begitu terkejut.


"Iya siapa lagi kalau bukan dia." Balasku kesal.


"Baiklah kau akan mempunyai malam yang sangat menarik." Ucap Sofia tertawa kecil. "Lalu, apa yang bisa aku bantu?" Tanya Sofia.


"Aku mau kau melihat buku tabungan milikku yang ada di dalam laci meja belajarku, dan membawanya kemari bersama dengan kartu lainnya." Ucapku.


"Apakah kau akan membayar jaminan untuk mereka berdua agar bisa keluar dari sana?" Tanya Sofia.


"Hmmmm.... kelihatannya seperti itu. Aku tahu bahwa keluarga John tidak akan mau melakukannya dan Justin adalah orang yang penuh rahasia. Aku yakin bahwa dia akan menelpon orang asing untuk datang membayar jaminan untuknya agar dia bisa keluar. Tapi bagaimana jika mereka tidak mau melakukannya, karena hal itu akan membuka identitas rahasia yang selama ini terus ditutup Justin." Ucapku dengan kesal.


"Baiklah aku akan berada di sana beberapa saat lagi." Balas Sofia.


"Sampai ketemu nanti dan hati-hati di jalan." Ucapku lalu menutup sambungan telepon.


Aku kembali mengingat terakhir kali saat aku berada di kantor polisi. Ironisnya saat itu, aku juga tengah menjemput John yang juga membuat ulah dengan mabuk di sebuah bar. Dan sekarang aku juga menjemput John. Namun bedanya, kali ini aku harus menjemput dia dengan Justin, kekasihku.


'Oh Tuhan, bisakah hidupku berjalan lebih mudah!' ucapku dalam hati.


Aku kemudian berjalan mendekat ke arah seorang wanita yang berada di balik kaca.


"Permisi, bisakah kau memberitahukan kepadaku Berapa biaya jaminan untuk bisa mengeluarkan John dan Justin? Mereka adalah pria yang baru saja dibawa kemari." Tanyaku kepada wanita itu.


"Tentu saja sayang, biar aku coba untuk melihatnya." Ucap wanita itu kemudian melihat ke arah layar komputer yang ada didepannya itu beberapa saat sebelum dia menemukan berapa jumlah yang harus aku bayar untuk John dan Justin.


"Baiklah, kau harus membayar sekitar lima juta untuk masing-masing setiap orang." Ucap wanita paruh baya itu dengan ramah.


Aku menghela nafas panjang dan mulai menghitung dalam pikiranku. Aku rasa sepertinya aku punya uang dua belas juta yang tersisa di dalam tabunganku. Aku lalu melihat ke arah wanita yang ada di belakang meja itu.


"Aku bisa membayar untuk mereka berdua dan aku hanya harus menunggu temanku yang akan datang membawa buku tabunganku." Ucapku kepada wanita itu.


"Maaf karena aku terlalu lama." Ucap Sofia saat dia melihatku.


"Tidak masalah. Apakah kau baik-baik saja?" Tanyaku.


"Iya aku baik, aku hanya lelah." Ucap Sofia.


"Mama...! Sofia mengatakan ucapan yang buruk." Ucap Bulan yang berusaha mengadu padaku.


"Apakah dia melakukannya sayang?" Balas seraya melihat ke arah Sofia dengan wajah yang sedikit mengancam. "Sofia, apa yang kau lakukan itu tidak baik." Ucapku pada Sofia dengan menyeringai.


"Maaf Adel." Ucap Sofia dengan tersenyum mengejek padaku.


Aku lalu mengambil buku tabunganku dari Sofia dan pergi membayar uang jaminan untuk kedua pria idiot itu dan setelah itu, aku kemudian kembali duduk bersama dengan Sofia dan keempat anak-anak.


"Sebenarnya aku sudah mengatakan kepada anak-anak bahwa ini adalah tempat di mana aku akan mengirim mereka saat mereka membuat aku marah." Ucap Sofia tertawa.


Aku melirik ke arah anak-anak dan melihat bahwa mereka tengah duduk seperti malaikat kecil yang tersenyum ceria kecuali untuk anak Sofia yang mencoba untuk menarik rambut Sofia dengan wajahnya yang tampak cemas dan ketakutan.


"Iya, aku juga menggunakan kata-kata seperti itu terakhir kali saat aku harus datang ke kantor polisi untuk menjemput John." Ucapku dengan kesal. "Aku bingung dengan apa yang harus aku katakan kepada mereka saat John keluar nanti. Apakah aku harus mengatakan, 'hai anak-anak, kalian bisa melihat Papa kalian selama 5 menit.' Lalu kemudian setelah itu, dia akan pergi untuk menghilang tanpa kata-kata apapun lagi" Ucapku menghela nafas.


"Kecuali ada cara untuk membuat anak-anak agar tidak melihatnya atau kita bunuh saja John itu sebelum dia sampai kemari." Ucap Sofia menyeringai.


"Tolong jangan bicarakan tentang pembunuhan di kantor polisi, karena aku tidak akan bisa membayar tagihan untuk mengeluarkan dirimu. Aku sekarang sudah tidak punya cukup uang di dalam tabungan ku lagi." Ucapku.


"Itu sangat menyebalkan." Balas Sofia yang mengetahui bagaimana situasi ku saat ini.


Orang tua tunggal seperti aku membutuhkan uang yang aku dapatkan dari pekerjaanku untuk membiayai kehidupanku dan juga anak-anakku.


"Nona Adel!" Ucap seorang pria dengan suara yang terdengar begitu maskulin.

__ADS_1


Aku lantas melihat ke arah suara itu dan terlihat sosok seorang petugas polisi.


"Iya, itu aku." Balas ku.


"Kami memerlukan dirimu untuk menandatangani beberapa dokumen." Ucap polisi itu.


"Iya, baiklah Pak." Balas ku.


Aku lalu pergi ke ruangan di mana aku harus menandatangani surat-surat yang diminta. Setelah itu, aku kemudian mendengar suara sebuah pintu ruangan terbuka.


"Papa...!" Ucap ketiga anak-anakku dengan suara yang terdengar begitu menggemaskan dari mulut kecil mereka, setelah itu mereka berteriak, "Justin....!"


Aku menghela nafas dan berbalik untuk melihat anak-anakku berlari dan memeluk mereka berdua dan bahkan dari mana aku berdiri saat ini, aku bisa melihat bahwa dari wajah kedua pria itu, mereka tampak bukan seperti penjahat dan hanyalah tampak seperti warga sipil biasa.


Aku melihat ke arah Sofia yang menatap ke arah mereka berdua. Tapi aku kemudian menyadari bahwa tatapannya hanya berfokus kepada Justin.


"Ayo anak-anak waktunya pulang ke rumah." Ucapku.


"Bagaimana dengan Papa dan Justin?" Tanya Bintang.


"Papa kalian dan Justin adalah pria jahat." Ucapku dengan menatap ke arah mereka berdua.


Setidaknya mereka berdua sekarang terlihat malu.


"Mereka akan pergi untuk menemukan jalan mereka pulang ke rumah mereka sendiri." Lanjut ku seraya menekankan bahwa tidak ada jalan bagi Justin untuk bisa pulang ke rumah bersama kami sekarang.


"Tapi Mama, Justin tinggal bersama kita." Ucap Berlian kepadaku.


"Tidak, dia tidak tinggal bersama kita." Balas ku seraya mengumpulkan ketiga anak-anakku. "Ayo, saatnya kita pergi." Lanjut ku lagi.


Setelah itu aku pun berjalan meninggalkan kedua pria itu yang tampak berdiri dalam diam.


Saat berjalan keluar dari kantor polisi, aku melihat bahwa ada air mata yang tampak mengambang di mata Sofia. Aku berpikir untuk apa air matanya itu.


...****************...


Beberapa hari berikutnya, hanya ada hari-hari bahagia bagi para wanita, tentu saja kecuali Bintang. Justin tidak aku izinkan untuk kembali ke rumah dan kami juga menutup sambungan telepon karena John selalu menelpon secara terus-menerus.


Kami begitu bersenang-senang dengan menonton film, memakan lollipop dan bahkan membuat coklat panas untuk anak-anak dan minuman soda untuk para Mama. Waktu yang sangat menyenangkan dan akan selalu teringat bagiku. Tapi sayangnya waktu hebat seperti itu akan segera berakhir.


"Adel...!" Ucap Sofia memanggilku.


Aku melihat ke arah Sofia dan dia terlihat begitu gugup.


"Ada apa Sofia?" Tanyaku dengan penasaran.


"Kau tahu bahwa aku menyayangimu dan kau juga menyayangi aku. Kita ini benar-benar sahabat yang baik, bukan?" Ucap Sofia.


Aku lantas menganggukkan kepalaku perlahan. Aku tidak yakin bahwa aku akan menyukai kemana arah pembicaraan kami ini.


"Ini setidaknya sudah 5 hari sejak Justin tidak ada di sini dan anak-anak juga terus menanyakan tentang Papa mereka. Mereka semua ingin bertemu dengan Papa mereka." Ucap Sofia melihat ke arahku dengan penuh harap.


Aku menghela nafas dan melihat ke arah lainnya.


"Sofia, aku sangat ingin semuanya terasa baik-baik saja dengan mereka berdua yang berada di sini bersama anak-anak. Tapi aku tidak bisa." Ucapku dengan perlahan.


"Aku mengerti itu Adel, aku sangat mengerti. Tapi ini bukan hanya tentang dirimu. Aku selalu berada di rumah untuk menjaga anak-anakmu setiap hari. Sementara kau selalu berada di luar. Aku lah orang yang selalu berada di sini bersama mereka saat mereka merasa kesal. Dan asal kau tahu, mereka mau Mama mereka melakukan sesuatu saat Mama mereka keluar rumah. Mama mereka bisa saja pulang, tapi Mama mereka terlalu sibuk untuk merasa selalu kesal dan tidak mau memberikan kesempatan bagi orang lain atau melihat bagaimana kacaunya semua ini terhadap anak-anak" Ujar Sofia panjang lebar.


Aku melihat ke arah Sofia dengan wajah yang terkejut. Ucapannya membuat aku membeku. Tatapan dari wajahnya memperlihatkan bahwa dia tahu apa yang dia katakan sangat menyakitkan bagiku. Mulutnya terus terbuka dan matanya tampak berair.


"Oh ya Tuhan, Adel. Maaf, aku tidak bermaksud mengatakan hal itu aku..."


"Sudahlah, jangan khawatir tentang hal itu." Balas ku dengan pelan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2