Aku Hamil Anak Siapa?

Aku Hamil Anak Siapa?
Berkemas Untuk Pulang


__ADS_3

Tiga hari pun berlalu, dan badai itu sudah berlangsung selama satu minggu lebih. Meski cuaca diluar sana tengah begitu buruk, tapi semuanya berjalan begitu sempurna bagi kami berdua. John dan aku mulai menghabiskan waktu kami untuk saling mengenal satu sama lain dengan jauh lebih baik lagi.


Hari ini, badai itu pun berlalu. Kami sebenarnya ingin segera pulang. Tapi, puing reruntuhan di luar sana benar-benar memutus akses kami untuk bisa keluar dari rumah ini. Kami hanya bisa membuka pintu rumah dan menatap akses jalanan kami yang terputus karena ada pohon yang cukup besar tumbang.


Saat ini, aku tengah mengobrol dengan John di teras rumah, memikirkan tentang bagaimana kami bisa keluar dari area ini.


"Adel...."


Aku tiba-tiba mendengar suara seseorang memanggil namaku dan saat aku berbalik, aku melihat beberapa anggota tim penyelamat yang tengah membersihkan puing-puing reruntuhan pepohonan yang ada di depan rumah kecil di mana kami berada saat ini dan aku juga melihat Mama tengah berlari dengan cepat mendekat ke arahku dengan wajah yang tampak begitu khawatir.


"Aku baik-baik saja Ma." Ucapku saat Mama langsung memelukku dengan begitu erat.


"Oh ya Tuhan, Mama minta maaf sayang. Mama seharusnya tidak pernah menempatkan kalian berdua di sini hanya sendirian, maksud Mama, apakah mama ini memang sangat bodoh? Saat ini sudah musim untuk datangnya badai dan Mama malah memberikan saran keada kalian berdua untuk tinggal cukup lama disini. Dan saat Mama mendengar tentang berita tentang badai itu, Mama begitu panik. Mama.... Mama...."


"Ma....!" Ucapku menyela bicara Mama dengan suara yang sangat keras agar Mama bisa tersadar untuk mengontrol diri Mama sendiri dibandingkan dengan apa yang Mama tengah alami sekarang ini. "Ma, kami berdua baik-baik saja. Malah sebenarnya kami berdua jauh lebih baik dari sebelumnya. Badai itu tidak membuat kami terluka." Ucapku berbohong.


Aku lantas mengajak Mama berjalan masuk ke dalam rumah di ruang tamu dengan membiarkan pintu tetap terbuka.


Terus terang saja, aku tidak akan mau memberitahukan pada Mama tentang insiden yang menimpa aku kala itu di saat aku tertimpa dahan pohon besar yang disebabkan oleh badai itu. Jika Mama tahu tentang insiden itu, Mama pasti akan jauh lebih panik bahkan histeris juga.


Aku sekilas melirik ke arah tatapan mata Mama yang ternyata tengah memperhatikan cincin yang tersemat di jari manis sebelah kiri ku.


"Oh begitu, Mama tahu bahwa kau dan John, kalian berdua pasti akan bisa kembali berhubungan dengan baik lagi. Tapi ini semua tetap saja sangat buruk, maksud Mama mengenai cuaca yang terjadi di luar sana, itu sangat membahayakan bagi keselamatan kalian. Mama juga pernah terperangkap di sini bersama Papamu dulu satu kali dan....."


'Bla... Bla... Bla... Bla...."'


Aku berhenti fokus mendengarkan ucapan Mama hanya karena aku sudah sangat sering mendengarkan cerita itu beberapa kali. Mama sudah sangat sering menceritakan kepadaku tentang kisah dimana Mama dan Papa yang terjebak badai yang begitu besar di suatu tempat saat mereka berdua tengah berbulan madu. Setidaknya, aku sudah sering mendengarkan tentang kisah itu sejak aku masih kecil. Dan jika bisa aku hitung, mungkin saja Mama sudah menceritakan tentang kisah itu kurang lebih sekitar 128 kali sepanjang hidupku.


'Hahaha, aku sepertinya terlalu berlebihan.'


Sekarang, pandangan ku malah fokus untuk melihat ke arah John. Aku melihat dia tengah berbicara dengan salah satu dari tim penyelamat itu tentang suatu hal.


John selalu terlihat mengagumkan di mataku. Dia tampak tengah menatap ke arahku dari ujung matanya dan tersenyum. Aku merasa begitu menghangat di dalam hatiku, di mana aku tidak pernah merasakan hal itu selama setahun ini. Dan kali ini, aku tahu bahwa apapun yang John dan aku akan lalui nantinya, terutama untuk menikah, semuanya pasti akan segera terjadi dengan lancar. Aku percaya akan hal itu.


"Ngomong-ngomong Adel, Mama benar-benar minta maaf karena sudah menyarankan untuk kalian agar bisa tinggal di tempat ini tanpa memikirkan tentang hal buruk yang bisa saja terjadi pada kalian berdua di sini." Ucap Mama lagi dan lagi.


Aku akhirnya bisa fokus mendengarkan ucapan Mama kembali. Pada akhirnya aku mengalihkan pandanganku dari John untuk melihat ke arah Mama yang tampak tersenyum padaku. Senyuman yang terpancar dari wajah Mama itu, tidak terlihat seperti biasanya. Aku melihat senyuman Mama itu, memang tampak seperti senyuman bahagia. Tapi kali ini terlihat jauh lebih bahagia, seolah Mama itu seperti anak muda yang tengah jatuh cinta.


"Ada apa Ma?" Tanyaku dengan tersenyum kepada Mama.


"Kalian berdua terlihat begitu bahagia dan itu membuat Mama berpikir bahwa mungkin membuat kalian berdua berada di tempat ini adalah suatu ide yang sangat hebat. Tidak peduli dengan apa yang sudah terjadi sebelumya." Ucap Mama dengan menampilkan sebuah senyuman yang sangat lebar di bibirnya.


Aku melihat ke arah Mama dengan penuh rasa curiga. Aku tengah begitu memikirkan tentang apa yang tengah dibicarakan oleh Mama.


"Apa maksud Mama?" Tanyaku dengan bingung.


"Adel, Mama ini adalah Mamamu dan seorang Mama tahu semuanya." Ucap Mama dengan tetap tersenyum kearah ku.

__ADS_1


"Baiklah terserah. Tapi Mama sendiri juga tahu kan, bahwa aku ini juga adalah seorang Mama dari ketiga anak kembar ku dan aku selalu bangga hal itu. Tapi aku selalu saja bingung memikirkan tentang bagaimana mungkin Berlian bisa mengambil lipstik yang aku kunci di dalam laci. Dia selalu mencari cara untuk bisa mengambil lipstik itu." Ucapku seraya memikirkan tentang anak-anakku yang sudah beberapa hari ini aku tinggal bersama dengan Mama.


Memikirkan tentang kejahilan mereka semua, membuat aku tertawa begitu keras. Mereka semua memang anak-anak yang nakal. Aku tidka menyadari bahwa suara tawa keras ku itu malah mengundang perhatian seluruh pria petugas penyelamatan yang tengah sibuk bekerja membersihkan semuanya. Begitu juga John, dia terlihat terus menatap aku yang tertawa lepas.


"Ma, bukankah itu artinya menjadi seorang Mama, belum berarti jika kita bisa mengetahui semua tentang anak kita. Contoh saja aku, dengan kasus yang aku katakan tentang Berlian yang selalu saja membawa dan menyimpan semuanya. Bahkan Mama sendiri juga pernah aku jahili hingga Mama kewalahan. Dan itu sama saja artinya bahwa Mama tidak mengetahui semua tentang anak Mama." Ujar ku panjang lebar.


"Baiklah, terserah kau saja. Oh ya, Mama harus pergi sekarang juga. Ada banyak hal yang akan Mama lakukan. Mama harus bertemu dengan seseorang untuk membahas tentang suatu hal ini dan itu." Ucap Mama seraya mencari kunci mobil di dalam sakunya.


"Baiklah Ma. Apakah semua itu tidak berhubungan denganku?" Tanyaku pada Mama.


"Tentu saja tidak, tidak jika Mama mengetahui semuanya." Ucap Mama penuh tanda tanya lalu memberikan kunci mobil padaku.


Aku hanya bisa tersenyum saat aku melihat Mama berjalan keluar dari dalam rumah ini.


"Oh ya, jangan lupa untuk membiarkan Mama tahu kapan kalian akan mengatur tanggalnya. Mama tentu saja tidak mau untuk melewatkan pernikahan putri Mama, bukan begitu?" Ucap Mama kembali bicara saat Mama berjalan keluar dari pintu rumah ini.


Aku melihat ke arah mama dan tersenyum. Mama ku memang tidak pernah berubah. Aku duduk di sofa dan melihat ke arah semua orang-orang dari tim penyelamat yang tengah melakukan pekerjaan mereka dan juga melihat ke arah John dengan semua hal yang tengah dia lakukan.


Beberapa saat kemudian, setelah satu setengah jam, semua orang dari tim penyelamat itu pun akan segera pergi, setelah mereka semua menyelesaikan pekerjaan mereka membersihkan puing-puing reruntuhan yang menutup akses jalan keluar kamu dari rumah kecil ini.


Setelah kepergian Mama tadi, mereka memang sudah mengatakan kepada John bahwa mereka akan melakukan pekerjaan mereka dengan cepat karena mengingat bahwa badai itu akan kembali lagi dimulai saat malam nanti. Jadi mereka juga menyarankan kepada kami untuk segera meninggalkan rumah itu dan pergi ke area yang jauh lebih aman dari wilayah yang di terjang badai itu.


Aku dan John sekarang kembali hanya berdua di tengah hutan di sebuah rumah kecil ini. Kami berdua masih berdiri di teras, menatap kepergian rombongan tim penyelamat itu.


"Jadi apakah aku harus mulai untuk mengemasi semua barang-barang kita untuk segera pulang ke rumah, atau aku tidak usah melakukannya saja?" Ucapku pada saat John melingkarkan lengannya di pinggangku dan mencium keningku.


"Hmmmm iya, kita memang seharusnya segera berkemas-kemas sayang. Tapi memikirkan tentang aku yang harus terjebak di sini berduaan denganmu, bagiku semua ini bukanlah suatu hal yang buruk." Ucap John.


"Aku tahu apa maksud mu itu. Tapi aku berpikir bahwa Mama pasti sudah memberitahukan kepada Sofia bahwa kita akan segera pulang. Dan Sofia pasti juga sudah mengatakan semuanya kepada Bulan, Berlian dan juga Bintang. Jadi, aku rasa kita memang harus segera pulang sekarang juga. Dan tidak bisakah kau memikirkan tentang anak-anak kita? Mereka semua pasti merasa begitu senang mendengar tentang kabar kepulangan kita yang dipercepat." Ucapku.


" Oh ya Tuhan.... Aku sudah tidak melihat melihat mereka semua untuk waktu yang begitu lama." Ucap John dan berlari masuk ke arah pintu rumah dengan penuh kecepatan.


"Hei...." Teriakku.


Aku lantas berlari mengejar dirinya.


"John, kemana kau akan pergi berlari seperti itu?" Ucapku.


"Aku mau melihat anak-anakku." Ucap John dengan tersenyum.


Dia ternyata berlari ke arah kamar dan kemudian dengan begitu cepat mengambil semua barang-barang kami, lalu memasukkannya ke dalam koper.


Aku hanya bisa berdiri di pintu kamar melihat dia dengan tatapan penuh kekaguman. Aku lalu berjalan masuk ke dalam kamar, namun aku langsung merasa bingung dengan menatap ke arah wajah John yang terlihat berhenti mengemasi semua barang itu dengan begitu tiba-tiba.


John lalu berbalik untuk menatap ke arahku dengan tajam.


"Ada apa?" Tanyaku dengan begitu kebingungan karena memikirkan kenapa dia terus melihat ke arahku dengan tatapan yang seperti itu.

__ADS_1


"Adel, apakah kamu sudah mengatakan tentang semua ini kepada Mama mu?" Tanya John dengan suara yang terdengar pelan.


Aku masih saja bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh John. Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dia maksudkan.


John pun seolah mengerti kebingungan yang terlihat jelas dari ekspresi di wajahku.


"Maksudku, apakah kau sudah memberitahukan kepada Mama mu bahwa aku sudah melamar mu?" Tanya John padaku yang akhirnya membuat aku baru bisa mengetahui apa maksud pertanyaannya yang tadi.


"Oh, tidak. Tapi mama yang melihat cincin ini." Balasku seraya melihat ke arah cincin lamaran yang diberikan John padaku itu. "Memangnya kenapa? Apakah kau tidak mau Mama mengetahui semuanya?" Balas ku dengan penasaran.


"Tentu saja tidak. Hanya saja semua ini karena saat dia pergi tadi, dia mengatakan sesuatu yang membuat aku sedikit bingung. Dan sekarang aku pun bisa mengerti apa yang dia maksudkan itu. Jika dia mengetahui bahwa kita sudah bertunangan, maka mungkin kita akan bisa menghabiskan malam kita di sebuah hotel tanpa diganggu oleh siapapun." Ucap John dengan tersenyum dan tertawa padaku.


"Kenapa seperti itu? Apa sebenarnya maksudmu itu? Memangnya apa yang sudah dikatakan Mama padamu?" Tanyaku dengan khawatir.


Aku tahu bahwa Mama ku dengan semua hal yang bisa saja dia lakukan. Aku bahkan bisa ketakutan dengan apa yang hendak dilakukan oleh Mama ku itu.


"Itu semua sepertinya sudah diatur dan di selesaikan oleh Mamamu. Sepertinya Mama mu memang ingin semua sudah beres saat kita tiba di rumah nanti." Ucap John lagi.


" Oh ya Tuhan.....!!" Ucapku panik. "Mama bisa saja merencanakan sesuatu hal yang aneh." Ucapku dengan perasaan takut.


Aku pun lantas duduk di atas tempat tidur. Aku pun kemudian mulai memikirkan semuanya. Memikirkan kemungkinan hal apa saja yang sudah direncanakan oleh Mama tentang pernikahan ku dan John.


Aku tahu benar bagaimana karakter Mama. Dan memikirkan kemungkinan apa saja yang sudah Mama rencanakan untukku, semua hal itu malah membuat aku mulai tertawa.


"Ada apa denganmu? Apakah kau baik-baik saja?" Tanya John dengan wajah kebingungan. "Kau aneh sekali, baru saja kau terlihat ketakutan, dan sekarang kau malah tertawa seperti itu. Membuatku takut saja. Apa kau tengah kerasukan?" Lanjut John yang tidak berhenti mengoceh.


"Hahahaha....." aku terus saja tertawa, terlebih setelah mendengarkan ucapan John yang sampai berpikir bahwa aku tengah kerasukan.


Aku lantas mengusap air mata yang ada disudut mataku setelah bisa menghentikan diriku agar tidak tertawa.


"Aku hanya saja menyadari bahwa kita sudah berusia dua puluhan tahun, yang sudah berstatus sebagai orang tua dari tiga anak kembar. Tapi kita masih saja takut kepada apa yang akan dilakukan Mama ku." Ucapku kembali tertawa.


Aku lantas melihat ke arah John dan dia pun mulai tertawa setelah menyadari apa yang aku maksudkan.


Beberapa jam berikutnya, kami menghabiskan waktu kami untuk mengemasi semua barang-barang kami dan tak lupa untuk membersihkan semua seisi rumah.


Setelah semuanya selesai, tibalah waktunya bagi kami untuk pergi dari rumah kecil itu. Rumah kecil yang sudah memberikan tempat kepada kami untuk bisa memperbaiki hubungan kami.


"Kita harus kembali kemari bersama dengan anak-anak nantinya." Ucap John saat kami sudah berada di dalam mobil. "Mereka pasti akan suka berada di tempat yang seindah ini." Lanjut John.


"Tentu saja. Tapi ingat untuk tidak datang di waktu musim penghujan. Aku tidak mau lagi terjebak badai, terlebih saat ada anak-anak ikut bersama kita." Balasku.


"Tentu saja sayang." Ucap John lalu mulai menghidupkan mesin mobil.


Mobil pun melaju meninggalkan rumah kecil yang sudah menjadi tempat bagi kami untuk saling memperbaiki diri.


"Aku rasa, rumah itu merupakan tempat yang cocok untuk kita berbulan madu setelah pernikahan nanti. Tempatnya begitu sunyi dan hanya ada kita berdua. Jadi kau bebas berteriak dan aku bebas bereksperimen terhadapmu." Ucap John menyeringai kearah ku.

__ADS_1


"Dasar mesum...." Balasku dengan pipi yang terasa memerah.


Bersambung....


__ADS_2