Aku Kau Jadi Kita

Aku Kau Jadi Kita
Awal Mula dari Segalanya


__ADS_3

Perjalanan cinta yang mulus pastinya menjadi hal yang selalu diidam-idamkan bagi setiap orang. Namun perjalanan cinta yang berkelit mampu memberikan sensasi yang luar biasa dalam sebuah hubungan.


Berawal hanya karena berkenalan, saling memperhatikan, sampai saling merindukan hingga saling berjuang untuk terus bersama. Itulah yang dilakukan oleh Rendra Kasariota dengan Marina.


Mariana kerap disapa Ana, terlahir dari keluarga yang cukup berkecukupan, sifatnya pendiam jika dihadapan khalayak ramai atau bisa dibilang jaim. Memasuki semester dua jurusan ekonomi bisnis membuatnya disibukkan dengan berbagai tugas yang diberikan oleh dosennya.


Ana lebih suka sendiri, tetapi bukan berarti anti keramaian. Ana juga tetap mengikuti organisasi yang ada di kampusnya untuk menambah wawasan pikirnya. Dia lebih suka memendam semuanya sendiri. Baginya tidak ada tempat yang paling indah untuk berbagi selain dengan Tuhannya. Dengan kedua orang tuanya pun terkesan pendiam, mungkin hanya beberapa kali berbicara hanya untuk menanggapi basa-basi orang tuanya saja. Entahlah apa yang ada dipikirannya.


Perjalanan cintanya sangat monoton selama hidupnya. Diumur 19 tahun ini dia masih saja belum menemukan tambatan hatinya alias belum ada yang berhasil masuk kedalam hatinya. Padahal Ana sebagai wanita sangat menarik, rambut yang cokelat bergelombang sebatas punggungnya, tinggi nya yang standar sekitar 160 cm, tubuh yang berisi tetapi tetap terlihat ramping, sexy, bahkan menggoda bagi kaum adam.


Sempat kala itu Ana menjadi incaran salah satu pria terpopuler di SMA nya. Namun sama sekali tak dilirik olehnya. Hatinya terlalu susah untuk disentuh. Aron lelaki terpopuler disekolahnya dulu yang terkenal playboy karena ketampanannya hingga banyak sekali wanita yang mendekatinya dengan sepenuh hati. Hal itu juga yang menjadikan Aron tidak menyia-nyiakan kesempatan, predikat kucing garong melekat di diri Aron.


Drrt Drrt Drrtt…


“Hmmm. Waalaikum salam.”


“Ana kamu berangkat sendiri apa sama babang ojol?” Tanya Olive.


“aku bawa motor sendiri deh kayanya, soalnya nanti mau muter-muter dulu nyari buku buat bahan tugas. Kenapa emang?”


“Biasa An, jemput ya entar aku ikut deh kemana aja kamu pergi siapa tau kamu butuh bantuan kan. Lagi males banget di rumah.”


“ Yaudah bentar masih mau mandi.”


“Ya ampun Ana ini udah jam berapa baru mau mandi dari tadi ngapain aja Ya Tuhan. Jangan bilang baru bangun astagaaaa,” omel Olive teman terdekat Ana atau sahabat Ana.


“Iya bawel ah. Dah ah ku tutup mau mandi tau. Bye.”


“Eh dasar lupa salam.”


Olive merupakan sahabat Ana yang cantiknya sama seperti Ana. Kedua bidadari ini hatinya sama-sama susah untuk disentuh padahal keduanya dalam masalah pasangan tidak memiliki kriteria tertentu di dalamnya, cukup bisa menggetarkan hati mereka saja sudah cukup.


…..


Jam perkuliahan telah selesai, antara Ana dengan Olive mereka berada di kelas yang sama. Sesuai dengan rencana awal mereka berkelana mencari buku untuk dijadikan referensi untuk tugas mereka.

__ADS_1


Entahlah tugas kali ini sangat berat bagi mereka sampai-sampai buku yang dicarinya masih belum mencukupi untuk bahan padahal sudah sekitar 25 buku referensi yang mereka ambil untuk bahan tugas di rumah. Sampai di toko akhir tujuan Ana, Olive menyerah.


Akhirnya Olive beristirahat di kafe terdekat dari toko buku yang hendak didatangi Ana. Padahal mereka memiliki tugas yang sama namun Olive tidak terlalu bersemangat seperti Ana yang mencari banyak referensi dalam pengerjannya.


“Kaya nya aku dapet deh,” gumam Ana seraya melangkah mengambil buku.


Di tempat yang sama ada pria yang juga ikut mengamati rak buku yang sama dengan jarak sekitar 2 langkah dari Ana.


“Akhirnya dapat juga, wuhh,” gumam pria itu.


Tetapi di waktu pria itu mau mengambilnya ia melihat ada tangan lain yang ikut memegang buku yang dipegangnya.


“Ngapaain kamu ikut ikutan ambil juga,” ujar pria itu.


“Kamu yang ngapain orang aku duluan juga. Huuuh aneh dasar,” sahut Ana


“Nggak bisa. Pokoknya aku duluan.” Elak pria itu dengan raut wajah kesal terhadap wanita didepannya ini yang tak mau kalah juga dengannya.


“Mas nya ni aneh deh. Coba liat nih, tanganku duluan yang pegang buktinya tanganku ada di bawah tangan mu. Dimana- dimana yang dibawah itu yang duluan ada ditempat. Jadi aku duluan.” Sambil menghela nafas jengahnya.


“Serah deh bodo amat. Wleek.” Ana berlari menjauh dari pria itu. Tak lama ia menoleh ke belakang untuk melihat apakah pria itu mengejar atau benar-benar membiarkannya. Ternyata dewi fortuna berpihak kepadanya.


“Whhhhuuuuhh syukur deh. Uh buku ku sayang ayo kita pulang.”


Namun siapa sangka.


“ Eh eh eh eh eeeeh. Mau kemana kamu anak pendek.” Ternyata pria tadi mencari jalan lain untuk menangkap Ana.


“Ya mau pulang lah, kan aku udah dapat bukunya,” ucap Ana sambil menunjukkan buku yang dipegangnya dengan senyum devilnya.


“Nggak bisa. Pliiiis banget itu bukunya buat aku aja yaaa. Pliiis banget. Aku bayar berapa aja deh, soalnya aku butuh banget buku itu buat bahan skripsi aku,” mohon pria itu.


“Haaah nggak bisa.” Dengan muka datar Ana lalu berjalan menuju kasir.


“Sial. Udah mohon-mohon juga. Siaaaaal. Aarggh” gumam si pria

__ADS_1


“Mba saya mau ini yaa, berapa harganya?” tany Ana lalu dijawab oleh sang kasir. Tetapi belum sempat ia menyerahkan uangnya terdengar suara dari arah belakang dengan suara hentakan lari seseorang.


“STOOOOOOPP!!”


“Ya Tuhan masih aja pria ini huuuffh,” gumam Ana.


Terjadilah negosiasi antar pria itu dengan Ana. Tak lam kemudian Ana mengelurkan ide cemerlangnya. Kemudian ia menanyakan tentang buku itu kepada sang kasir apakah masih ada stok dari buku itu. Namun nihil buku itu tersisa satu di toko ini dan akn ada sekitar 2 atau 3 bulan lagi. Terlihat raut wajah kecewa dan kesal dari keduanya karena hampir memakan waktu satu jam akibat masalah buku itu.


“Mmmh gimana Mbak sama Mas nya gantian aja bukunya kalo sama-sama butuh. Atau bisa kan ngerjain nya barengan gitu.” Usul sang kasir dan dijawab dengan anngukan oleh pria itu namun dijawab dengan gelengan oleh Ana.


“Gantian ya ya yaa. Kan kamu juga makenya nggak full. Toh pasti gantian juga sama buku yang lain. Oke oke gimana?” rayu si pria.


Tampak Ana masih berpikir tentang tawarannya itu. Ada rasa kasihan terhadap pria itu namun di sisi lain ia berpikir apakah akan baik jika kita bergantian memakai bukunya, pastinya tidak akan fokus takutnya di saat dia nanti tiba-tiba membutuhkan bukunya tetapi bukunya ada di pria itu lalu nanti ide pemikirannya bisa hilang yang bisa menyebabkan kecacatan dari tugasnya.


Ana menolak keras jika hal itu terjadi karena Ana ingin cepat lulus dan wisuda meskipun ia masih semester dua tetapi Ana menjalani perkuliahan nya ini dengan serius agar bisa cepat membantu kedua orang tuanya.


Akhirnya dengan segala tawaran yang diberikan oleh pria itu dan berusaha untuk meyakinkan Ana akhirnya membuahkan hasil, keduanya menyepakati bahwa kapanpun mereka membutuhkan buku itu keduanya harus memberikan kesempatan bagi yang membutuhkan apapun keadaannya.


“Oke deal.” Ucap keduanya.


Setelah itu keduanya memutuskan pergi dari toko itu. Ana menjemput Olive di kafe terdekat dari toko itu. Tadinya Olive ingin menemani Ana untuk mencari bahan tugasnya tapi entah dari mana kemalasan datang begitu saja dan hinggapi tubuh Olive dengan dalih keletihan, hingga akhirnya Olive memutuskan untuk menunggunya di kafe terdekat dari toko yang akan didatangi Ana.


Meskipun begitu Ana tidak marah atau merasa kesal dengan Olive karena sudah terbiasa dengan sikap sahabtnya itu yang malas-malasan.


….


“Maaah aku pulang.”


“Langsung mandi setelah itu turun buat makan malam”


“Hmmm,” sahut Ana.


Menjelang malam Ana baru sampai di rumah. Percakapan dirumah antara Ana dengan kedua orang tuanya sebatas itu-itu saja, tentang bagaimana kuliahnya, pekerjaan papahnya,dan kegiatan mamahnya. Dan Ana hanya menanggapinya dengan kata-kata iya, tidak, enggak, mungkin, lumayan, dan bisa jadi.


Di rumah Ana juga hemat kata-kata bahkan percakapnnya dengan pria menyebalkan tadi siang bisa dibilang Ana mengeluarkan kata-kata yang jumlahnya lebih dari biasanya. Mungkin jika orang terdekatnya seperti kedua orang tuanya atau sahabatnya Olive melihat, akan memberikan reward kepada pria itu yang telah berhasil membuat Ana mengeluarkan kata-kata yang jumlahnya lebih dari kata biasanya. Sungguh di luar dugaan mereka jika mereka menyaksikannya.

__ADS_1


__ADS_2