
Beberapa hari belakangan ini curah hujan cukup besara, hampir setiap hari selalu turun hujan. Di beberapa wilayah sempat tergenang banjir.
Akibat cuaca yang sering hujan membuat udara menjadi dingin. Beberapa orang lebih banyak memilih berdiam diri dalam rumah termasuk Ana. Kalau tak ada kepentingan mendesak ia tak akan keluar rumah, mungkin ia keluar rumah saat jamkuliahnya tiba dan selebihnya ia berada di dalam rumah.
Lusa adalah hari pertama ia untuk ujian semester, tinggal beberapa semester lagi ia akan lulus, mungkin bisa lebih cepat kalau ia memang otaknya mampu.
Hari ini Olive katanya akan berkunjung ke rumah Ana. Semenjak sering turun hujan, Olive memang sering untuk berkunjung ke rumah Ana. Kadang hanya untuk tidur siang, makan, atau hanya sekedar untuk mengobrol dengan mamah Ana.
Kedekatan Olive dengan mamahnya membuat Ana merasa memiliki kakak perempuan yang sudah mampu hidup mandiri. Memikirkan hal itu bagi Ana lucu. Bahkan bisa dibilang Olive lebih dketa dengan mamah nya.
“Eh dah dateng,” kata Ana yang melihat Olive masuk kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Hmm,”sahut Olive yang berjalan menuju kasur Ana dengan wajah lesunya.
“Haaahhh belajarnya ntar malem aja An. Aku ngantuk,” lanjut nya sambil langsug berbaring di kasur.
“Yeeeeee dasar,” Ana mengambil gulingnya dan memukulkannya ke Olive.
__ADS_1
“Kesini cuma mau pindah tidur aja ha,” melihat sahabatnya itu tak bergeming Ana pun ikut membaringkan badannya.
Ana berbaring di punggung Olive yang tertidur dengan telungkup. Ana mengetahui bahwa sahabatnya itu tidak tertidur hanya saja ia malas belajar untuk ujian besok, ia pun akhirnya berbincang dengan Olive mengenai Andra yang belakangan ini tak pernah berkabar meski hanya say hai.
Olive menjawab berbagai pertanyaan Ana sambil memejamkan matanya. Mungkin bagi yang tidak mengetahui bahwa Olive tidak tertidur terlihat seperti Olive sedang mengigau.
“Liv Rendra bentar lagi pergi,” ucap Ana yang mulai bercerita mengenai kegundahan hatinya takut bahwa Rendra akan meninggalkannya.
Ana tak berani mengatakan ketakutannya di depan Rendra. Ia tak mau egois. Ia tahu bahwa Rendra di sana sedang bekerja dan berjuang untuk masa depan mereka, ia tahu itu. Tetapi apa boleh buat jujur saja rasa takut akan kehilangan itu selalu ada.
“Yaudah biar aja An. Percaya sama dia. Dia bakal setia sama kamu. Aku yakin Rendra orang yang setia. Kamu cewek satu-satunya yang dicintai dia. Udah tenang aja,” sahut Olive yang masih bertahan dengan posisinya.
“Huh kebanyakan baca novel lu,” Olive mengambil bantal yang ia gunakan dan melemparkannya ke wajah Ana.
“Positif thinking An. Berdoa kaya gak punya Tuhan aja lu,” lanjut Olive.
“Ahhh gak tau deh rasanya ga tenang aja. Belum aja dia berangkat rasanya udah gini aja,” Ana berkata sambil bangkit untuk minum.
__ADS_1
“Ah lebay lo,” sahut Olive yang merasa jengah dengan keluhan Ana yang itu-itu saja.
Merasa kesal dengan ucapan Olive, Ana pun menaruh gelas dengan dihentakannya di atas meja. Untung saja tidk pecah.
“Lebay lebay. Nggak ngerasain sih gimana rasanya aku sama spupu mu itu. Belum lagi aku ketemu orang tuanya itu gimana, setuju apa enggak sama hubungan kita. Kalo enggak gimana. Ah pusing aku. Kalo tau bakal seribet ini mending gak usah pacaran deh,”
“Ooh jadi nyesel nih pacaran sama spupuku?” sindir Olive.
“Ya enggak gitu maksudnya. Nyesel sih enggak tapi kenapa harus kaya gini coba. Aku juga kesel sama diri sendiri nggak bisa control emosi,” keluh Ana yang langsung berbaring dan memeluk guling.
Terjadi keheningan setelah itu. Olive mengerti keadaan Ana. Siapa ayng tak gelisah, sudah terlanjut cinta tak juga diberi kepastian, belum lagi bertemu dengan orang tuanya yang entah akan menerimanya atau tidak. Keduanya pun akhirnya tidur siang sampai melewatkan jam makan siang.
.
.
.
__ADS_1
**Jangan lupa like, dukungan, kritik dan sarannya ya😊
Terimakasih yang sudah membaca😊**