
Krring..krrring..krriing
Alarm dari jam Ana menunjukkan bahwa ia terlambat. Seharusnya disaat jam itu berbunyi Ana sudah harus keluar rumah menuju kampusnya di saat jam kuliah pagi.
“Ya ampun telat telat telaaaaat”
Ana pun langsung berlari menuju kamar mandi kemudian bersiap dengan menggunakan stelan baju yang telah ia siapkan memang untuk pergi kuliah di hari sebelum-sebelumnya.
Untung saja ia sudah menyiapkan baju nya jikalau tidak mungkin Ana bisa memakai stelan baju seperti jemuran berjalan. Ana melakukan itu memang untuk mengantisipasi kejadian seperti pagi ini.
….
Setelah jam perkuliahan selesai ia berniat pergi ke perpustakaan di fakultasnya untuk menyicil tugasnya agar segera rampung. Akhirnya Ana pun berjalan menuju perpustakaan.
Di sepanjang perjalanan menuju perpustakaan banyak mata memandang akan keindahan ciptaan yang satu itu. Yaitu Ana. Tak sedikit dari mereka memuji akan tubuh Ana, dan ada pula yang tak suka dengan sikap Ana yang sombong katanya. Padahal Ana memang anak yang memang aslinya seperti itu. Pendiam.
Sesampainya di perpustakaan Ana langsung menuju meja paling belakang yang dirasa nyaman bagi Ana.
Hampir dua jam Ana berkutat serius dengan tugasnya akhirnya ia dapat menuangkan kata kata sekitar tiga halaman untuk tugasnya itu. Setelah itu ia bergegas untuk pulang ke rumah karena dirasa tubuhnya sangatlah letih.
Di perjalanan pulang,
“Ih kenapa lah ini kok goyang-goyang siiiih” gumam si Ana. Ternyata saat ia mengecek keadaan motornya dilihatnya ban belakang motor vario kesayangannya itu sangat kempes. Bisa diperkirakan bahwasannya ban belakang motornya itu bocor.
Ia memandang lokasi sekitar dengan harapan ada bengkel yang bisa terlihat dengan jangkauan matanya. Namun,
“Ah nggak ada lagi. Sial”
Dilihatnya bengkel terdekat dari tempatnya sekarang berada sekitar 2 KM lagi baru sampai menuju bengkel terdekat. Ingin menaiki motornya tersebut namun ia tak berani memaksa keadaannya. Takutnya nanti keadaannya semakin parah.
Bukan hanya itu, ia takut mengganggu pengguna jalan lain bahkan bisa saja ia nanti malah mencelakakan pengguna jalan lain. Jadi mau tidak mau ia harus bersabar, dengan sekuat tenaga yang ada ia mulai mendorong motor kesayangannya itu.
Di pertengahan jalan ada tepatnya di depan sebuah tempat makan yang cukup mewah namun sederhana dengan desain tradisionalnya, ada seorang pria yang baru menutup pintu mobilnya lalu menghampirinya.
“Kenapa mbak sama motornya?” Tanya pria itu. Namun Ana belum juga melihat wajah si pria yang bertanya tadi kepadanya.
Pandangan Ana masih lurus kedepan dengan muka yang tertutup masker serta kepala yang masih terbungkus helm. Pandangan Ana bergerak kesamping tetapi bukan melihat wajah si penanya. Ana melihat bahwasannya ia sekarang sekarang tepat berada di depan tempat makan. Dirasa lelah tubuhnya, ia pun memakirkan motornya dengan mendorongnya lalu melepas semua perlengkapan berkendaranya diikuti si pria yang bertanya tadi.
Tiba di mana Ana telah rapi dengan tampang cantiknya lalu menatap muka si pria yang bertanya begitu lembut dan sopan beberapa saat yang lalu tadi kepadanya. Dan…
“Kamu!!!”
Ucap keduanya berbarengan dengan raut wajah terkejut dan saling menunjuk wajah satu sama lain dengan jari telunjuknya.
Author : harusnya nggak usah seterkejut itu juga kali. Biasa aja bro sis. Santai aja kaliii wkwkwk.
“Oh ternyata si pendek to ahahhaa…”
“Serah lo deh serah. Awas awas awas aku mau ngadem dulu.” Ujar Ana lekas meninggal si pria menyebalkan bagi Ana.
“Issh ngapain juga si makhluk satu ini ikutan duduk di sini” gumam Ana dalam hatinya yang dongkol dengan kejadian yang menimpanya hari ini. Ana pun memesan minuman yang diharap dapat menyejukan hati dan fisiknya yang gerah saat ini.
__ADS_1
“Ngapain si di situ sana ah.”
“Terserah aku dong kan nggak ada larangan juga buat duduk di sini.”
“Aku yang larang alias nggk ngebolehin kamu duduk di situ. Sana ah pergi ngerusak suasana aja. Hush husssh huuuuuussh” tangannya mengibas-ngibaskan kea rah si pria seolah ia adalah hewan pengganggu.
“Terserah aku dong. Toh aku juga yang punya tempat. Wleek”
Karena Ana merasa jengah dengannya ia pun menyeruput minumannya dengan sekali sedotan hingga menyisakan tetes terakhir di gelasnya lalu ia pun beranjak pergi ingin meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di tempat ia memakirkan motornya ia pun hendak berkemas untuk melanjutkan perjalanan menuju bengkel terdekat. Bukan hanya karena pria pengganggu itu ia langsung pergi, tetapi karena jam telah menunjukkan pukul petang sebentar lagi matahari akan terbenam.
Tak dapat dibayangkannya jikalau ia mendorong motornya dengan suasana matahari telah terbenam, hanya ada sinar rembulan saja yang menemaninya dan beberapa lampu jalan serta lampu kendaraan yang berlalu lalang. Itu pun kalau ada kendaraan yang melintas. Jikalau tidak mungkin hanya ada suara katak yang menemaninya. Karena daerah itu terkadang sepi.
“Kenapa emang sama motornya ko pake didorong segala si?” Tanya si pria itu alias Rendra.
“Punya mata tu difungsikan dong dengan baik. Masih bagus kan tu mata. Belum jereng kan?” sahut Ana jutek.
“Santai aja kali bu, jan jutek-jutek napa cepet tua lo ntar.”
“Ah berisik sana ah.” Ana mendorong tubuh rendra untuk menjauh dari sekitarnya.
“ Iya iya maaf. Ayok ku antar aja yok. Toh dah mau gelap juga. Emang nggak takut apa dorong motor malem-malem di jalan gede kaya gini sepi juga kadang. Kalo rame juga nggak jamin kesalematan diri juga. Bisa aja ada jambret trus kamu diapa-apain hiiiiihh serem,” Ujar Rendra bergidik ngeri.
“Emang kalo sama kamu keselamatan aku terjamin gitu?”
“Insyaallah An,” jawab Rendra dengan suara dingin enggak lembut juga enggak tapi cukup baik didengar.
Ana pun masih menimbang-nimbang akan tawaran yang diberikan oleh Rendra. Banyak sekali hal negative yang singgah dalam otak kecil Ana jikalau ia tetap melakukan perjalanan ke bengkel dengan mendorongnya.
“Udah ntar pekerja sini aku suruh bawa kebengkel trus bawa kerumahmu. Nggakpapa nggak usah takut kalo bakal dijual tu motor ahahah”
Ana tidak menjawab penjelasan dari Rendra. Ana malah mencebikan bibirnya merasa kesal karena hari ini dia sudah cukup banyak diejek oleh si pria tampan itu.
“Jadi gimana mau dianter nggak mumpung aku masih ada di sini ni?”
“Hmmm iya deh tapi beneran lo ya aman. Trus motor jangan dijual apa dibuang. Kesayangan tau itu!”
“Insyaallah iya An. Yaudah ayok masuk.”
…
“Di mana rumahnya?”
“Di jalan xxx xxxxxx xx”
Di sepanjang perjalanan menuju alamat yang diberitahukan oleh Ana taka da percakap di dalamnya. Keduanya asik dengan pikiran masing-masing hingga sampai di alamat yang ditunjukan oleh Ana.
“Makasih ya Ren udah anter sampai tujuan dengan selamat. Maaf ya ngerepotin terimaksih banyak sekali lagi.” Ucap Ana dengan sopan lain dari biasanya.
“Nah gitu coba dari tadi nggak usah jutek-jutek jadi orang ahaha” gelak tawa dari Rendra terdengan jelas oleh Ana hingga iya memutar bola mata malas dan memasang wajah juteknya kembali lalu meninggalkan Rendra untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Belum sempat membuka pintu gerbang rumah pergelangan tangannya dipegang oleh seseorang.
“Ntar dulu ih gitu aja marah orang kenyataan juga. Hmmm sebenarnya aku mau minjem bukunya tadi mau hubungi kamu tapi kebetulan ketemu yaudah sekalian. Aku mau minjem bukunya dulu kamu kan dah make gantian ya. Ntar kalo kamu butuh lagi hubugni aku aja.”
“Yaudah bentar”
“ Nggak disuruh masuk ni masa nunggu di sini kaya apa aja hehe”
“Yaudah ayok”
Keduanya pun masuk ke dalam rumah Ana.
“Assalamualaikum mah aku pulang” salam Ana
“ Waalaikum salam. Loh siapa ini An?” Tanya Mamah Ana heran. Karena selama ini Ana tidak pernah membawa teman pria ke rumahnya hanya sendiri seperti ini. Biasanya ia selalu membawa teman nya itu rombongan atau ramai-ramai.
“Oh ini teman mah mau ambil buku. Yaudah bentar aku ke kamar dulu ambil bukunya.” Ana pun berlalu meninggalkan ruang tamu yang menyisakan Rendra dengan mamahnya.
“Oya tante saya Rendra tan mau pinjem buku Ana. Kebetulan pas itu saya ketemu Ana dan mencari buku yang sama trus bukunya tinggal satu jadi kita gantan pakainya tan.” Jelas Rendra.
“Oiya. Yaudah duduk dulu. Tante tinggal ya kebelakang.”
“Iya tan.”
Kurang lebih tiga menit Rendra berada di ruang tamu sendirian terdengar suara langkah seseorang mendekat. Ia pun mendongakan wajahnya untuk melihat siapa yang mendekat.
“Cantik” itu yang ada dalam pikiran Rendra tentang Ana yang ada di depannya saat ini yang hanya memakai daster selutut dengan rambut diikat yang mengesankan berantkan tetapi nyaman dipandang.
“Nih. Ntar kalo aku butuh ku hubungi.” Ujar Ana yang membuyarkan lamuman Rendra akan Ana.
“Yaudah. Thanks ya. Kalo gitu aku pulan dulu. Pamit yah assalamualaikum”
“Iya waalaikum salam.”
….
Selepas kepergian Rendra, di kediaman Ana seperti biasanya anggota keluarga berkumpul di meja makan dan makan malam bersama.
Di tengah-tengah mebereskan meja makan Mamah Ana pun bergosip ria tentang Ana kepada sang suami di depan Ana.
“Pah tadi Ana bawa teman pria nya ke sini loo. Ganteng lagi sopan juga.” Cerita si istri kepada suaminya.
Ana pun hanya bisa memelototkan matanya memandang mamahnya itu. Ia tidak menyangka jikalau mamahnya akan bercerita kepada papahnya dan memuji-muji Rendra.
Ia pun hanya mendengarkan tanpa mau menanggapi ocehan mamahnya itu. Hingga pada suatu kalimat dari mamahnya itu yang berhasil membuat Ana menanggapi ucapan mamahnya.
“Gimana kalau kamu jadi sama dia An?”
Ana yang telah tau maksud dari ucapan sang mamah pun langsung kaget dan dengan otomatis ia berdiri dari tempat duduknya lalu menghela nafas atas ketidak percayaan dari apa yang diucapkan mamahnya itu dan ia pun duduk kembali lalu memandang tajam kepada sang mamah dengan kesalnya.
**Jangan lupa like dan komen yaaa..
__ADS_1
Kritik dan saran juga ku tunggu
Like nya jangan lupaa yaa**