
Dua hari setelah Rendra berada di sana, ia benar-benar mengejar target agar bisa cepat kembali ke tempat tinggalnya. Ia sebenarnya sudah sangat rindu dengan kekasihnya itu.
Sudah tiga hari ini setelah Rendra membalas pesan Ana yang mengatakan bawa ia rindu, tak pernah ada balasan lagi setelahnya. Namun Rendra tetap memberi kabar kepada Ana. Semua jadwalnya di hari itu ia kirimkan kepada Ana.
Ia tahu kekasihnya itu marah dengannya, tetapi ia tetap yakin kalau Ana sebenarnya rindu dengannya. Maka dari itu ia tetap memberi kabar kepada Ana meski tak ada balasan.
Yang sebenarnya terjadi Ana memang sengaja mematikan handphone nya.
“Kamu kok susah dihubungin sih An, aku kakn tadi minta jemput mau nebeng,” ujar Olive sesaat ia tiba di kelas.
“Huu dasar, nyariin pas lagi ada maunya aja lu,” jawab Ana dengan pukulan di bahu Olive.
“Habis nya nggak biasanya. Lagi menghindar ceritanya ni ya ahaaha,” ejek Olive.
Ana yang mendengar itu memanyunkan bibir nya. “Huu enak aja,”
“Tapi bisa dibilang gitu sii,” lanjutnya dengan senyuman.
“Parah siiih An. Kasian pujaan hati mu nanti. Udah mikirin kerjaan, mikirin lagi kamu. Dasar nggak ada pengertiannya lu An,” kata Olive.
“Nggak tau deh Liv. Perasaan semenjak ada dia aku jadi berasa bocil banget. Suka nangis nggak jelas, suka males-malesan, suka ngambek juga nggak jelas. Capek tau Liv kaya gitu. Aku nggak mau kaya gitu sebenernya. Tapi nggak tau kenapa kok gitu aja,”
Olive yang mendengar curhatan Ana hanya diam saja tanpa ada niatan untuk menyela.
“Makanya aku matikan hp itu sebenernya buat program diriku biar nggak jadi kaya bocah abg yang suka kegalauan berlebihan. Berharap kaya gitu, aku bisa control perasaan aku. Cape juga ya ngejalani hubungan kaya gini. Ya meski ada senengnya juga,” lanjut Ana.
“Aku si support aja kalo emang kamu mau belajar buat control peraaan. Bagus itu, semangat oke wkwk,” sahut Olive.
Terlihat dosen sudah memasuki kelasnya. Mereka pun menyudahi obrolan nya, termasuk mahasiswa lainnya yang langsung bersiap untuk menyambut ilmu yang akan diberikan dosen itu.
…
Tepat sudah 3 hari Rendra menjalani perjalanan bisninsnya, hari ini ia langsung kembali ke kotanya bersama sekretarisnya namun dengan mobil berbeda. Padahal Rendra hanya dengan sopir, tetapi ia tidak ingin untuk satu mobil dengan sekretarisnya itu. Ia tidak mau sekretarisnya itu mengambil kesempatan di saat sedang bersamaan dengannya. Sebenarnya ia risih dengan sekretarisnya itu yang selalu saja berusaha mengambil perhatian darinya. Tetapi apa boleh buat, sekretaris itu memiliki kemampuan yg berkompeten dalam pekerjaannya. Juga bukan hal yang mudah untuk mencari pekerja yang berkompeten dalam waktu yang sangat singkat.
Keesokan harinya di jam makan siang Rendra bersama sekretarisnya pergi menuju sebuah restoran untuk menemui klien. Setelah didapatkannya sebuah kesepakatan mereka pun melanjutkan pertemuan dengan makan siang.
__ADS_1
Entah memang mereka berjodoh atau memang hanya kebetulan, Ana juga berada di restoranyang sama dengan Rendra. Restoran itu memang cukup jauh dari kampusnya, tetapi berada di jalur perjalanan nya.
Di saat Ana dalam perjalanan pulang entah mengapa mobilnya berbelok ke restoran tersebut dan pikirannya pun setuju dengan itu, ditambah dnegan perut yang memang sudah kosong. Yasudah ia pun turun dari mobil.
Di saat pesanannya sudah datang, matanya tiba-tiba melihat ke sosok lelaki yang sudah dirindukan beberapa hari belakangan ini sedang duduk berdekatan dengan seorang wanita. Bisa Ana tebak bahwa itu adalah sekretarisnya.
Masih dengan tekadnya, yaitu berusaha untuk bisa mengontrol perasaannya ia pun berusaha makan dengan tenang tanpa mengalihkan pandangan dari Rendra.
“Ahhhh kenyang Alhamdulillah,” ucap Ana setelah mengahbiskan pesanan yang dipesannya tadi.
Dilihatnya lagi kekasihnya itu masih dengan sekretarisnya untuk menghabiskan makanan. Kali ini mereka hanya berdua karena klien nya sudah pamit terlebih dahulu.
“Ahhh bodo amat lah,” gumam Ana. Ia kesal karena Rendra tak ada datang untuk menemuinya setelah kepulangannya itu.
Padahal dari jadwal yang dikirimkan Rendra kepadanya, Rendra pulang kemarin setelah terakhir melaksanakan rapat di siang hari. Harusnya di malam hari atau pagi harinya Rendra menemuinya, pikir Ana.
Ana pun akhirnya bangkit menuju kasir setelah memberikan beberapa uang ratusan ribu lalu ia berjalan keluar. Belum sampai memuka pintu untuk keluar dari restoran ada yang memanggilnya.
“Mbaaak,” panggil karyawan restoran itu.
“Ini uangnya kelebihan banyak,” ucap karyawan itu.
“Oooh ambil aja hitung –hitung bonus karena mbak nya ramah dan juga makanan di sini enak,” jawab Ana.
Sesaat Ana membalikan badannya untuk menanggapi panggilan karyawan restoran, Rendra melihat itu.
Deg
“Ana,” gumam Rendra yang melihat ada kekasihnya di sana. Ingin sekali ia langsung berlari menghambur ke Ana dan memeluknya. Tak dipungkiri ia rindu.
Namun belum sempat ia mendekat, Ana sudah keluar dari pintu restoran. Rendra yang melihat itu langsung berlari mengejar Ana dan memanggilnya.
Ana yang mendengar namanya dipanggil pun mengehentikan langkahnya. Ia tahu itu Rendra yang memanggilnya, namun karena tekatnya untuk tidak seperti anak kecil yang suka merajuk ia pun memenuhi panggilan Rendra dengan menghentikan langkahnya.
Sesampainya di dekat Ana, Rendra langsung memeluk kekasihnya itu.
__ADS_1
“Hahh aku kangen banget sama pacar aku,” ucap Rendra yang semakin mengeratkan pelukannya.
Ana yang mendengar ucapan Rendra tersenyum dalam diam, ia tak membalas pelukan Rendra. Merasa ada kesempatan untuk mengeluarkan unek-uneknya ia pun melepaskan pelukan Rendra.
“Ooooh masih ingat punya pacar toh,” sahut Ana dengan menyedekapkan tangan di dadanya.
“A a-ku,”
Baru saja Rendra hendak menjawabi perkataan Ana, sekretarisnya itu langsung menyela duluan dengan mengingatkannya bahwa ada pertemuan setelah ini di kantornya.
Ana yang masih berada di sana langsung menuju mobilnya. Rendra yang melihat Ana akan melangkah meninggalkannya pun mencekal tangan Ana.
“An nanti dulu,” ujar Rendra.
“Udah selesain aja urusan mu. Aku juga punya urusan bukan kamu aja,” sahut Ana sambil melepaskan tangan Rendra dari tangannya dan langsung memasuki mobilnya.
Rendra masih tak patah arang dengan perlakuan Ana, ia mengejar Ana dengan mengetuk kaca jedela mobil Ana.
“An kita bisa bicara dulu baik-baik,” ujar Rendra.
“ An.. Anaaaaa,” teriak Rendra yang mengiringi kepergian Ana.
“Waah dilihat-lihat kalian masih muda. Pasti masih pacaran ya mas,” ucap tukang parkir yang melihat kejadian antara Rendra dan Ana. Rendra yang mendengar itu hanya menatapnya datar.
“Lamar aja deh mas. Pasti nanti nggak ngambek lagi,” lanjut ucap si tukang parker lalu meninggalkan Rendra tanpa menunggu respon dari nya.
.
.
.
**Like, kritik, dan sarannya ditunggu yaa😊
Terimakasih yang sudah baca🤗😊**..
__ADS_1