
Tak terasa telah ber jam jam Ana dan Olive bergelung di kasur. Entah apa yang mereka mimpikan. Terkadang mereka tersenyum, bahkan sampai tertawa. Ana memeluk Olive dengan nyaman. Cuaca di luar sedang hujan di saat waktu memasuki sore hari. Mungkin mereka mencari kehangatan lebih.
Dirasa tubuhnya telah terisi daya penuh, keudanya membuka mata.
“Ahh mandi yuk An,” suara Olive memecah keheningan meskipun terdengar parau.
“Hmm sana duluan. Geli sih kalo mandi barengan,” sahut Ana yang kembali bergelung dengan selimut mencari posisi nyaman.
“Yeeeeee sapa juga yang ngjak barengan,” Olive pun beranjak dari tempat tidur mengambil handuk yang terlihat menggantung dekat lemari pakaian Ana.
“An bajuku di mana?”
Olive memang sering mandi atau hanya berganti pakain di rumah Ana. Tak heran ia menanyakan tempat pakaiannya karena setiap Olive berganti pakaian di sini pakaian kotornya akan dilaundrykan lalu dikembalikan lagi ke sini.
Benar-benar seperti rumah sendiri.
Setelah Ana dan Olive selesai dnegan urusan menyegarkan badan itu, mereka turun ke bawah menuju dapur.
“Oiya tadi Tante pamit nyusul Om katanya,” ucap Olive yang memang dipamiti Oleh mamah Ana saat dirinya terbangun untuk buang air kecil.
“Pantes gak ada yang ngomel,” jawab Ana sambil mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang sekiranya dapat dimakan. Tak dapat disangkal perutnya lapar meskipun kenyang tidur.
“Haah laper,” ujar Ana dengan mendudukan tubuh di kursi yang ada di meja makan.
Diedarkan nya lagi pandangan yang memang tak ada makanan di situ.
“ Mentang-mentang papahnya gak makan di rumah ya gak ada makanan” gerutu Ana dengan jengkelnya.
Dilihatnya lagi di sekeliling dapur. Ia melihat ada bukusan mie instan di lemari kaca.
Melihat tulisan rasa dalam mie instan itu Ana jadi sangat mengingkan rasa yang sebenarnya.
Rasa bakso
“Livy ok keluar ngebaso enak nih kayanya hujan-hujan,” ajak Ana yang mendapat persetujuan dari Olive.
__ADS_1
Dalam perjalanan mereka sedikit terkendala, karena terdapat genangan banjir di beberapa daerah.
Drrrt drrt drrrt…
“Hallo,” sapa Ana kepada si penelpon.
“Dimana yank,” ~Rendra
“Jalan sama Olive,” ~Ana
“Mau kemana emang hujan-hujan?” ~Rendra
“Ngebaso enak kayanya,”~ Ana
“Ikuuuut,” ~Rendra. Ucap Rendra dengan manja.
“Issh yaudah,” ~Ana
“Makan di resto aku aja yaa yang pas itu yank,” ~Rendra
Setelah menutup telepon Ana memberitahu Olive bahwa mereka akan makan bakso di resto Rendra.
Suasana yang pas memang untuk makan bakso. Hangat-hangat, wangi kaldu sapi ditambah wangi bawang goring di atasnya saat hujan hujan begini memang waw. Hah membayangkannya saja sampai berliur.
Kebetulan saat itu Rendra memang sedang berada di restorannya. Jadi setelah mendapat informasi dari Ana ia langsung menyiapkan tempat yang sepi, bisa disebut vip lah ya. Supaya nyaman saja saat menikmati bakso hangat dengan smabal, pasti aka nada keributan tersendiri nantinya yang terjadi.
“Mbak resesrvasi atas nama Rendra,” ucap Ana pada resepsionis.
“Oiya mbak ikuti saja saya,” jawab salah satu karyawan yang memang ditugaskan untuk menyambut Ana.
Setelah masuk ruangan ia disambut pelukan hangat dari Rendra.
“Kangeeen,” ujar Rendra dengan manja.
“Hmm mee to,” Lalu Ana melepaskan dekapan
__ADS_1
Rendra dari tubuhnya dan keduanya pun duduk untuk menikmati bakso yang baru saja tersaji.
“Waaah enak nih apalagi geratis,” ujar Olive dengan mata berbinar.
Hari ini Olive seperti mendapat jackpot. Dari pagi hingga malam semuanya geratis. Sarapan di rumah Ana, makan siang di rumah Ana, tidur siang di rumah Ana, berangkat ke sini memakai mobil Ana, sampai makan bakso pun geratis karena di tempat sepupunya terlepas Ana adalah pacar Rendra tetapi Olive adalah sepupunya.
“Huuuuh pejuang geratisan aja lu kaya orang gs punya aja,” sahut Rendra yang tak heran lagi dengan sikap sepupunya itu.
Olive hanya menanggapi ucapan Rendra dengan menjulurkan lidahnya seolah mengejek sepupunya itu.
“Ayo challenge, banyak banyakan sambel. Mulai dari 3 sendok dulu no tambah kecap,” tantang Ana.
“Okey,” jawab Rendra dan Olive.
Mangkuk ketiganya sudah diberi masing-masing 3 sendok makan sambel. Disuapan ketiga mereka masih bisa menahan.
Ditambahkan lagi satu sendok ke mangkuk masing-masing oleh Ana. Ketiganya mulai mengeluarkan keringat di dahi dan hidung masing-masing.
Rendra telah menghabiskan 2 gelas jus jeruk tetapi masih ada banyak mie di dalam mangkuknya sedangkan ia hanya memakan bakso dengan kuah sambal.
Mangkuk Olive isinya seimbang antara mie dengan bakso. Mungkin tersisa 3 suapan mie dengan 3 butir bakso daging itu. Olive telah menghabiskan satu gelas jus jeruknya seangkan Ana ia memesan jus jeruk dengan segelas air hangat untuk menghilangkan pedas di lidahnya. Dapat dibuktikan Ana lah pemenangnya.
“Haaaaahhhhhh,” Rendra tersiksa dengan pedas yang dirasakannya. Dinginnya ruangan ac ini tak mampu mengurangi rasa panas dilidahnya ini. Sudah tak ada ingatan untuk menjaga image di depan kekasihnya. Ia pun membuang ingus nya di depan Ana.
Srrrooooottt
“Iyek,” ucap Ana mengedikan bahunya yang bergidik ngeri.
.
.
.
**Like, dukungan, kritik dan sarannya ya jangan lupa😊
__ADS_1
Terimakasih yang sudah membaca😊**