Aku Kau Jadi Kita

Aku Kau Jadi Kita
Melepas Satu Untuk Satu yang Lainnya


__ADS_3

Setelah sebulan berlalu antara Ana dan Rendra semakin dekat. Dekat karena deadline tugas juga mendekat jadi keduanya memutuskan untuk mengerjakan tugas bersama karena sebagian besar diambil dari buku yang diperebutkan itu.


“Gimana kalau besok kita hangout bareng. Itung-itung refreshing, kan tugas dah pada selesai juga,” ajak Rendra selepas jam kuliah yang kebetulan berpapasan dengan Ana di parkiran.


“Hah? Mmm ntar deh ku kabarin bisa apa enggaknya.”


“Okedeh. Duluan ya bye An,” lambai tangan Rendra mengiringi kepergiannya.


Selepas Rendra pergi Ana masuk kedalam mobilnya dan menaikkan kedua sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah lengkungan. Entah senang karena mendapat ajakan jalan dari Rendra atau ia telah mendapatkan jackpot banyak hari ini. Kebeteluan pagi tadi hujan jadi Ana memutuskan untuk memakai mobil ke kampusnya.



Sesampainya di rumah, Ana dikejutkan dengan dua orang yang tengah asik mengobrol di ruang tamu.


“Eh dah balik kamu An,” Kata Olive


“Haaaaiii An!?” Sapa Andra.


Ketiganya antara Andra, Ana, dan Olive memang telah berteman sejak sekolah menengah atas dan terpisah karena kepergian Andra yang harus mengikuti kedua orang tuanya.


Sebelumnya Olive dan Andra ingin memberikan kejutan untuk Ana, yaitu dengan datang ke rumah Ana. Dan benar saja Ana merasa terkejut akan hal itu.


“Loh kok bisa udah di sini?” Tanya Ana dengan menunjuk keduanya secara bergantian.


“Bisa lah orang tinggal datang trus masuk ke sini kok repot. Kan udah gede emang anak TK yang nggak tau jalan,” jawaab Olive sedangkan Andra hanya tersenyum untuk menjawab pertanyaan Ana.


“Iya jadi kita kesini kita mau ngajak kamu jalan main kemana kah gitu. Kan dah lama nggak barengan. Temu kangen gitu,” jelas Olive kepada Ana.


“Temu kangen konon. Kamu aja nempel terus perasaan tiap hari sama aku. Kaya pantat ketempelan permen karet,” sahut Ana.


“Ya itu kan sama kamu. Bukan kita bertiga. Udah sih tinggal ngikut An ayooo,” ajak Olive lagi.


“Iya An sekalian aku traktir kaliah es kelapa deh satu-satu sama pentol 5 ribu gimana oke nggak tu?” kata Andra.


Bukannya mendapat jawaban, malahan Andra mendapatkan kejutan dari dua bantal sofa yang dilempar oleh sahabatnya itu.


“Kaya anak SD aja traktirannya gitu doang huuu,” sahut Olive kesal.


“Yang penting kan ilhlas Liv ikhlaaas,” jawab Andra dengan senyumnya.


Keduanya asik melanjutkan pembahasan mengenai traktiran yang dilontarkan Andra, sedangkan Ana hanya diam saja seperti tengah memikirkan sesuatu. Setelahnya berlanjut obrolan seputar kehidupan yang mereka jalani selama tak bersama beberapa tahun ini.


Sudah hamper sejam mereka bertiga asik mengbrol hingga Ana mendapatkan telepon dari seseorang dan meninggalkan kedua temannya di ruang tamu dengan alasan ingin buang air kecil padahal tidak. Untungnya handphone Ana masih dalam mode senyap, jadi kedua temannya tidak mengetahui jika Ana peri sebenarnya untuk mengangkat telepon.


“Hmm kenapa Ren?” jawab Ana dari pertanyaan di seberang sana.

__ADS_1


“Gimana? Oke nggak malam ini?”


“Hmmm gimana yaa bingung aku,” jawab Ana.


“Ayolah An, jam 7 ya. Mau dijemput apa ketemuan langsung di mana gitu,”


“Maksa banget sih,” sahut Ana kesal meskipu dalam hatinya ada rasa membuncah yang ingin dieskpresikan dnegan senyuman namun ditahan.


“hehehe, ayoooku jemput deh nanti aku yang minta ijin sama mamah kamu deh kalo itu yang kamu bingungin gimana?”


“HHhhh, iya deh tapi tunggu aku kabarin dulu baru kamu kerumah loh ya. Awas aja kalo tiba-tiba muncul di rumah tanpa aku suruh. Nggak usah aja jalan sekalian gimana?” ancam Ana.


“Iyadeh tapi harus jadi malam ini,”


“Hmmm diusahain,” sahut Ana


“Ih kok diusahain sih pokonya harus jadi kalo malam-malam besok aku …,” protes Rendra kepada Ana namun belum selesai ia berucap sudah mendapatkan salam dari Ana.


Rendra pun kesal dengan Ana Karena mematikan telepon sepihak tetapi ia juga senang karena akanjalan dengan Ana, sic ewe yang aneh menurutnya. Karena tidak sama dengan perempuan lain yang akan heboh jika bertemu dengannya.


Selepass menermia telepon Ana pun kembali menemui teman-temannya.


“Kok lama banget sih An buang air kecil aja. Kaya sayang banget sama tu air pake lama banget dibuangnya,” cecar Olive kepada Ana.


“Hehe.. kebablasan Liiiv,” sahut Ana dengan tawanya.


“Eh mmmm aku kayanya nggak bisa sekarang. Aku tu capek banget. Masih pengen duduk-dudu aja sumpah capek banget aku hari ini,” jawab Ana. Padahal apa yang ia ucapkan dengan apa yang dirasakan tidaklah sinkron.


“Habis ngangkat balok kah pake capek segala. Berangkat kampus juga nggak jalan kaki juga,” sahut Olive yang merasa tak masuk akal dengan jawaban Ana. Dan tak biasanya Ana berucap seperti itu.


“Yaudah Liv nggakpapa kan kita masih bisa ngobrol di sini. Katanya kan Ana pengen duduk-duduk aja yaudah di sini aja. Ntar aku pesenin makanan kita mabar,” jawab Andra menengahi.


“Hhhh okelah, padahal aku dah pengen menghirup udara AC mall,”


“Heh apa bedanya coba sama AC dirumahku, sama-sama dingin juga huu,” sahut Ana


“Ya beda lah neh. Kalo di mall tu enak banyak yang dipandang. Sejuk di badan, sejuk di hati, sejuk juga di mata,”


“Tapi panas di dompet,” sahut Andra dan mengundang gelak tawa dari ketiganya.


Hampir sejam berlalu, ketiganya telah menyelesaikan makan malam bersama tetapi kedua sahabat Ana seperti betah berada di rumah Ana karena tak juga kunjung pulang dan berlanjut ke dalam obrolan lagi dan lagi.


Sekitar setengah jam berlalu Ana pun bingung harus seperti apa hingga akhirnya dia melakukan strategi akhirnya agar kedua temannya ini segera pulang.


Huuuaaahhh

__ADS_1


“Aku ngantuk banget eh, aku tidur duluan yaa. Kalian kalo masih betah di sini yaudah nggakpapa lanjut aja,” ujar Ana dan menguap lagi Huuuuaaah.


“Ngusir secara halus ini mah An,” kata Olive kepada Andra.


“Eh nggak kok. Tapi beneran aku capek banget hari ini teman-teman, trus habis makan kenyang jadi langsung pengen tidur aja dah ngantuk berat nii. Jalan nya besok aja ya seharian deh janji. Tapi buat malam ini biarin aku buat ngisi tenaga buat besok okeee,” tawaran Ana kepada kedua temannya itu.


“Yaudah nggakpapa besok yaaa, kalo gitu aku pulang dulu deh,” jawab Andra.


“Iya Ndra. Besok deh beneran. Sorry ya buat malam ini, hehe”


“Ya udah deh aku juga balik,” pamit Olive.


“Hehe sorry Olive ku sayang, aku isi tenaga dulu buat besok yaah,”


“Iya deh, dah ya assalamualaikum”


“Waalaikumsalam, hati-hati sayangku emmmuuach,” jawab Ana dengan cium jauh untuk Olive.


“Idih najis,” sahut Olive bergidik ngeri.


Ahahaha…


Setelah kedua temannya dipastikan telah pergi dari rumahnya, Ana pun menghubungi Rendra untuk menjemputnya sesuai dengan perkataannya bahwsannya Rendra yang akan meminta ijin kepada mamahnya. Maka dari itu Ana meminta untuk dijemput oleh Rendra.



Dalam perjalanan pulang Olive masih kepikiran tentang sikap Ana yang lain dari biasanya malam ini. Sebelumnya ia tak pernah seperti ini. Olive merasa ada suatu hal yang sengaja ditutp-tutupi oleh Ana.


Meskipun Ana merasa hanya Tuhan lah yang paling nyaman diajak bercerita tentang keluh kesahnya, namun sedikit banyaknya Ana suka juga bercerita kepada Olive tetapi tidak dengan mamahnya. Oleh karenanya, mamah Ana berpesan kepada Olive agar dapat menjadi teman yang baik untuk Ana dan menceritakan apa saja yang diceritakan Ana kepadanya.


Di perjalanan masih dekat dengan rumah Ana, Olive melihat sebuah mobil hitam yang dirasa ia mengenalanya. Akhirnya ia berhenti dan memeperhatikan mobil itu.


“Ngapain coba malam-malam kesini, perasaan dia nggak punya temen daerah sini deh,”


Dan benar mobil itu sama seperti dugaannya, tetapi apa yang dilakukan si pemilik mobil ke daerah ini. Setelah di perhatikan betul-betul olehnya mobil itu berhenti di dekat rumah Ana menurut perkiraannya.


“Ana?”


“Ngapain tempat Ana coba malam-malam gini.”


.


.


**Jangan lupa like dan komennya!

__ADS_1


Kritik dan saran membangun sangat ku tunggu🤗


Terimakasih yang udah mampir😊**


__ADS_2